“Dalam tiga tahun terakhir, saya menjalani lima kali operasi karena kanker mulut. Dalam tiga tahun ini, meski tubuh saya mengalami rasa sakit, tetapi batin saya sangat sehat. Mengapa demikian? Karena saya memiliki ajaran Master. Ajaran yang Master berikan selamanya tidak akan saya lupakan. Saya pasti akan mengingat dan menyimpannya di dalam kesadaran kedelapan saya,” kata Lin De-yuan, relawan Tzu Chi.

“Saat berusia kurang dari satu tahun, saya mengidap polio dan mengalami demam tinggi hingga 40 derajat Celsius yang tak kunjung reda selama sebulan. Akibatnya, saya mengalami kelumpuhan dari bagian pinggang hingga kedua kaki saya. Saya sangat bersyukur kedua tangan saya tidak lumpuh sehingga kini saya dapat melakukan begitu banyak hal untuk menyelamatkan orang,” kata Lin Hui-zhen, Dokter TIMA.

“Menyaksikan kisah Dokter Cai Zong-xian di Drama Da Ai, saya sangat tersentuh. Beliau bisa melakukan yang sulit dilakukan dan bersumbangsih bagi orang banyak. Saya seharusnya juga bisa demikian. Karena itu, saya bergabung dengan TIMA dan memulai perjalanan baksos kesehatan saya. Sebelum bergabung dengan TIMA, saya sangat membutuhkan bantuan orang lain dan sangat lemah. Saya bersyukur kepada Tzu Chi dan Master yang membuat kekuatan saya meningkat berkali-kali lipat. Saya juga bersyukur atas cinta kasih dan perhatian dari semua orang,” pungkas Lin Hui-zhen.

Dalam hidup ini selalu ada naik dan turun. Namun, kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa meski kondisi fisik kita akan menurun seiring berjalannya waktu, kita harus menjaga hakikat sejati kita hingga selamanya. Dari kehidupan ke kehidupan, kita harus mempertahankan hakikat sejati kita. Hakikat sejati ini selalu ada, tetapi bagaimana kita menjaganya hingga selamanya? Dengan mempelajari ajaran Buddha.

Buddha berulang kali datang ke dunia ini demi membimbing semua makhluk. Meski datang untuk membimbing semua makhluk, Buddha juga menjalani hidup sesuai hukum alam. Hingga kini, Tzu Chi telah berdiri 60 tahun. Selama 60 tahun berdirinya Tzu Chi, pada tahun keberapakah kalian mulai bergabung?

“Sejarah selama 50 hingga 60 tahun tidak habis untuk diceritakan dalam waktu beberapa menit. Namun, sejujurnya, saya sangat bersyukur. Semua ini berawal dari rekan kerja saya, Bu Guru Huang Yu-nü. Saya merupakan anak ayam pertamanya. Beliau juga yang membimbing saya memasuki pintu Buddha. Hingga kini, saya selalu berpegang pada satu prinsip, yaitu sebagai murid Master, saya tidak boleh mundur. Kini, saya masih menyalin Kata Renungan Jing Si dan melengkapinya dengan gambar untuk menyebarkan ajaran Master,” kata Lin Feng-chao, relawan Tzu Chi.

“Saya mengikuti pelatihan Tzu Cheng hingga dilantik. Saat kembali ke Griya Jing Si, saya merasakan secara mendalam welas asih dan kekhawatiran Master. Kebetulan, saat itu adalah masa pandemi Covid-19 dan orang yang kembali untuk dilantik berkurang drastis. Saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus maju selangkah lagi untuk menjadi komite guna meringankan beban Master dan para bhiksuni Griya Jing Si serta menginspirasi relawan secara luas,” kata Chen Zhen-fang, Dokter TIMA.

“Saya berharap mazhab Tzu Chi dapat terus diwariskan dari kehidupan ke kehidupan. Saya juga berharap dari kehidupan ke kehidupan, saya dapat terus mengikuti langkah Master dan menapaki Jalan Bodhisatwa bersama semua orang,” pungkas Chen Zhen-fang.

Kenanglah masa lalu seperti ini. Kapan kita bergabung dengan Tzu Chi? Hal-hal apa saja yang pernah kita alami di Tzu Chi? Kalian memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan harapan saya ini.

Saya telah lanjut usia dan tidak tahu berapa sisa waktu saya. Kini, saya ingin memberi tahu kalian bahwa berhubung kita semua telah bergabung di Tzu Chi, kita harus menginventarisasi semua yang telah kita lihat dan rasakan. Pikirkanlah, apa yang telah kita lakukan di kehidupan ini dan kita sendiri merasa bahwa itu bermakna. Jadi, mari kita menulis kisah kehidupan masing-masing ataupun kisah perjalanan kalian di Tzu Chi. Kalian harus menulis semua yang kalian ketahui. Ini merupakan tanggung jawab kita.

Kita terlahir di alam manusia karena jalinan jodoh yang kita miliki. Di kehidupan lampau, kita memiliki jalinan jodoh dengan orang tua, jalinan jodoh dengan anak cucu, dan yang terpenting, jalinan jodoh dengan Bodhisatwa. Semua hadirin di sini sekarang adalah Bodhisatwa. Dengan kesatuan hati dan tekad, kita bersumbangsih tanpa pamrih. Demi umat manusia, kita bersedia menapaki Jalan Bodhisatwa. Jalan Bodhisatwa tidaklah jauh dari kita. Janganlah kita berpikir bahwa Jalan Bodhisatwa hanya ada di era Buddha. Bukan demikian.

Tzu Chi berawal dari saya. Mengapa saya mendirikan Tzu Chi? Karena pesan guru saya untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk. Bagaimanakah saya menjalankannya? Saya berpegang pada ajaran Buddha, yakni cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Saya menyederhanakan semangat dari keempat poin ini menjadi “Tzu Chi” yang berarti menyelamatkan dunia dengan welas asih.

Setiap orang hendaknya membina cinta kasih dan welas asih. Buddha datang ke dunia demi satu tujuan agung, yaitu mengajari orang-orang untuk menyelamatkan dunia dengan welas asih dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Hanya beberapa kata yang sederhana ini. Apakah kita memahami kata-kata ini dengan jelas? Jika belum, kita harus mendalaminya. Di dalamnya terkandung banyak prinsip kebenaran. Asalkan bersedia menyelaminya, kalian dapat mempelajari banyak prinsip kebenaran.

Kalian mempraktikkan semangat Tzu Chi dengan bersumbangsih di tengah masyarakat lewat misi amal, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis. Semua ini diajarkan dalam Sutra Makna Tanpa Batas. Jadi, kalian harus lebih bersungguh hati menulis kisah kehidupan kalian. Jika tidak bisa menulisnya sendiri, mintalah anak cucu kalian untuk menulisnya.

Jika anak cucu kalian sibuk dan tidak sempat menulisnya, kalian bisa meminta orang lain untuk melakukannya. Donatur kita dan yang lainnya pasti juga bersedia membantu. Saat kalian berbagi kisah dengan mereka dan mereka membantu menulisnya, mereka mungkin akan terinspirasi. Jadi, bagikanlah kisah nyata kehidupan kalian.

Demikianlah jiwa kebijaksanaan diwariskan hingga selamanya dari generasi ke generasi. Demikianlah kalian mewariskan praktik Bodhisatwa dalam keluarga kalian dan mewariskan kebajikan kepada anak cucu kalian. Inilah keluhuran kalian. Kalian bersumbangsih dengan cinta kasih bagi masyarakat. Inilah jasa kebajikan.

Kita giat bersumbangsih dan memperoleh kebajikan. Saat kita bersumbangsih dengan giat, yang kita peroleh ialah kebajikan. Kitalah yang akan memperoleh pencapaian. Dengan memberi, kita sendiri akan memperoleh kebajikan. Dalam dialek Taiwan, pelafalan “kebajikan” dan “memperoleh” terdengar sama. Dengan memberi atau bersumbangsih, kita akan memperoleh kebajikan.

Karena itulah, saya sering berkata bahwa siapa yang menabur, dialah yang akan menuai. Jasa kebajikan akan kembali pada orang yang menciptakannya. Setelah kita bersumbangsih dengan giat, kebajikan itu akan menjadi milik kita. Tanpa kebajikan, kalian tidak akan bersumbangsih. Berkat adanya kebajikan, kita tidak tega melihat makhluk lain menderita sehingga bersedia bersumbangsih. Dengan bersumbangsih, kita menciptakan dan memperoleh jasa kebajikan.

Menjaga hakikat sejati dan menapaki jalan menuju kebuddhaan

Bersungguh hati menginventarisasi kehidupan dan mewariskan jiwa kebijaksanaan

Melenyapkan penderitaan dan membawa kebahagiaan bagi umat manusia

Giat bersumbangsih dan memperoleh jasa kebajikan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 08 Juli 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 10 Juli 2026