“Berhubung ibu saya diundang oleh Kakak Ying-li, kami sekeluarga, yakni 8 orang dari tiga generasi, ikut datang ke Hualien pada bulan Mei untuk menemui Master,” kata Xu Tian-en, Pengusaha.

Terima kasih. Kita memang berjodoh. Jarak antara Taiwan dan Filipina tidak terlalu jauh. Kalian khusus datang ke Taichung untuk menemui saya, saya sangat sukacita dan bersyukur.

Guru saya berkata pada saya, “Kamu telah meninggalkan keduniawian dan kita memiliki jalinan jodoh sebagai guru dan murid. Ingatlah bahwa tujuanmu meninggalkan keduniawian ialah ‘demi ajaran Buddha, demi semua makhluk’.” Meninggalkan keduniawian adalah tekad saya. Guru saya berpesan pada saya untuk bersumbangsih di tengah masyarakat. Ini adalah harapan beliau terhadap saya.

Saya sendiri juga menyadari bahwa untuk mengembangkan nilai kehidupan, kita harus bersumbangsih bagi orang-orang. Kaum monastik hendaknya memberi tahu orang-orang bagaimana menapaki jalan kehidupan. Kita harus membimbing orang menapaki jalan yang benar. Kehidupan bukan hanya tentang menghasilkan uang dan mencari kekayaan. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Menghasilkan uang hingga menjadi kaya, ini bisa dilakukan oleh semua orang. Namun, selain menghasilkan uang, kita juga harus peduli terhadap orang-orang yang menderita di dunia. Ini sangatlah penting.

“Saya baru kembali dari daerah bencana. Di sana telah terjadi gempa dahsyat. Kami telah membagikan bantuan kepada lebih dari 1.300 keluarga dalam sehari. Dari Davao, kami harus berkendara lebih dari enam jam, baru bisa tiba di daerah bencana. Karena itu, pada pukul 4 pagi, kami sudah berangkat dari Davao. Hingga pukul 12 malam, kami baru pulang,” kata Cai Tian-bao, relawan Tzu Chi.

“Kami telah melakukan dua kali survei bencana dan satu kali pembagian bantuan. Jadi, kami telah pergi ke sana tiga kali. Berdasarkan pendataan, ada 960 keluarga yang terdampak bencana. Semoga mereka dapat melewati kesulitan ini,” pungkas Cai Tian-bao.

“Pada momen seperti ini, sangat penting untuk membuat mereka merasa didampingi. Kehadiran Tzu Chi sendiri merupakan dukungan mental yang sangat besar. Kalian membuat kami tahu bahwa kami tidak sendirian di tengah bencana ini,” kata Jason John A. Joyce, Wali kota Jose Abad Santos.

Karena ada orang-orang yang menderita seperti ini, barulah kita berkesempatan untuk memberikan bantuan. Kita harus tahu bahwa hidup ini penuh dengan penderitaan yang tak terkira.

Mengapa Buddha meninggalkan keduniawian? Sebagai seorang pangeran, Beliau hidup penuh kenyamanan di istana. Namun, saat keluar dari istana, Beliau melihat orang yang menderita di mana-mana. Orang yang menderita sangatlah banyak. Melihat mereka, Beliau pun menyadari penderitaan.

Beliau berkata, “Aku hendak membantu mereka, tetapi kekuatanku tidaklah cukup. Meski mengeluarkan semua harta kerajaan untuk membantu orang-orang, itu tetap tidak cukup. Itu pun hanya bisa membantu mereka sekali, bukan selamanya.” Materi yang berwujud akan habis terpakai.

Beliau merasa harus menyelamatkan orang-orang dengan prinsip kebenaran. Dengan membagikan prinsip kebenaran, orang-orang akan memahami kebenaran serta tahu untuk menaati aturan dalam kehidupan dan bersumbangsih bagi orang-orang. Beliau merasa harus membimbing orang untuk berbuat baik serta memahami bahwa orang yang jatuh sakit dan miskin membutuhkan sandaran. Untuk itu, Beliau harus membimbing semua makhluk.

Semua makhluk memiliki cinta kasih. Semua orang memiliki cinta kasih, tetapi cinta kasih ini bukanlah cinta kasih yang Buddha berikan kepada semua makhluk. Buddha datang ke dunia dengan harapan semua makhluk dapat membina cinta kasih. Cinta kasih ini adalah cinta kasih berkesadaran. Setelah mencapai pencerahan, Buddha membimbing semua makhluk untuk membina cinta kasih yang tulus.

Melihat kalian, saya juga belajar dari kalian. Saya berkata, “Stephen Huang, berhubung sudah kaya, janganlah Anda terbuai dalam kesenangan sesaat. Anda harus segera menolong sesama. Ini merupakan berkah bagi Anda.” Sekitar 30 hingga 40 tahun lalu, begitu mendengar kata-kata saya, beliau langsung tersadarkan. Beliau mulai berfokus menyebarkan Dharma ke berbagai tempat dan membimbing orang-orang agar memahami apa yang tengah Tzu Chi lakukan. Beliau melakukannya dengan tulus.

Jadi, dalam hidup ini, orang yang menderita sangatlah banyak. Kita dipenuhi berkah karena telah menciptakan berkah di kehidupan lampau. Jadi, kita terlahir di kehidupan sekarang dengan membawa benih berkah dari kehidupan lampau. Di kehidupan sekarang, kita menerima buah dari benih berkah tersebut.

Kita sering berkata, “Anda sungguh dipenuhi berkah.” Berkah ini berasal dari perbuatan baik di kehidupan lampau. Sebagian orang terlahir di lingkungan yang sejahtera dan memiliki orang tua yang sangat baik. Inilah berkah mereka. Setelah tumbuh besar, mereka dapat menerima pendidikan yang baik. Ada pula yang memiliki jalinan jodoh baik untuk menjalankan bisnis. Bisnis apa pun yang dijalankan, semuanya menghasilkan uang. Ini karena mereka terlahir dengan membawa berkah. Akan tetapi, berkah juga bisa habis. Karena itu, kita yang dipenuhi berkah hendaknya segera menciptakan berkah.

Kita yang dipenuhi berkah harus segera menciptakan berkah. Asalkan memiliki kemampuan, kita harus menolong sesama. Kita harus mengajari orang-orang bahwa berkemampuan untuk menolong orang yang menderita merupakan berkah yang sesungguhnya. Dengan demikian, barulah kita dapat benar-benar membantu dan melenyapkan penderitaan orang-orang.

Saat itu, Stephen Huang menyerap ajaran ini ke dalam hati. Demikianlah beliau mulai bersumbangsih.Sudah lebih dari 30 tahun, beliau menggantikan saya menjangkau berbagai negara. Beliau pergi ke berbagai negara dengan mengeluarkan biaya sendiri untuk berbagi tentang Tzu Chi. Beliau melakukannya dengan sukacita selama 30 hingga 40 tahun ini. Demikianlah beliau menjalani hari-harinya.

Beliau pergi ke mana-mana bukan untuk menjalankan bisnis, melainkan untuk menjalin jodoh baik dan berbagi tentang Tzu Chi dengan orang-orang. Beliau bukan pergi demi bisnis. Ini merupakan salah satu kontribusinya bagi Tzu Chi. Saya tidak memintanya untuk berdana. Beliau telah mempraktikkan dana lewat perbuatannya. Begini juga sangat baik.

Filipina dan Taiwan sangat berjodoh. Kita hanya dipisahkan oleh selat dan sangat mudah bagi kalian untuk datang ke sini. Intinya, kita memiliki jalinan jodoh. Jika kalian merasa bahwa kalian berjodoh dengan Tzu Chi dan dapat menerima ajaran saya, kita akan bersama-sama menjadi bagian dari keluarga besar Tzu Chi.

Membawa manfaat bagi semua makhluk dan menolong orang yang menderita

Makhluk berkesadaran bersumbangsih dengan cinta kasih yang tulus

Segera menciptakan berkah dan menyebarkan Dharma

Mendedikasikan diri dan menjalin jodoh baik dengan welas asih dan kebijaksanaan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 Juli 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 05 Juli 2026