“Dalam program bantuan untuk Zimbabwe, kami bertanggung jawab untuk pengolahan dan pemuatan pipa air ke dalam kontainer. Pada tahun 2023, satu kontainer hanya berisi 870 batang pipa baja. Berhubung hanya satu kontainer, seluruh pekerjaan ditangani oleh relawan Gangshan. Namun, pada tahun 2024, jumlahnya meningkat menjadi lima kontainer atau sekitar 5.300 batang pipa. Saat itu, saya pun meminta dukungan dari relawan Tainan,” kata Li Zheng-hong, Staf Divisi Umum Yayasan Tzu Chi.
“Saya sangat berterima kasih kepada Kakak Wen-lang dan para fungsionaris lainnya yang begitu mendengar kebutuhan ini, langsung bersedia memikul tanggung jawab tanpa ragu. Sejak saat itu, relawan dari 3 wilayah bekerja sama untuk menyelesaikan misi kebajikan ini bersama-sama. Tahun ini, jumlahnya kembali meningkat berlipat ganda menjadi 15 kontainer dengan total 15.900 batang pipa. Jadi, seluruh relawan wilayah selatan harus dikerahkan,” lanjut Li Zheng-hong.
Li Zheng-hong melanjutkan “Sejak tahun 2023 hingga sekarang, kami telah menyelesaikan pengolahan 27.230 batang pipa baja. Saat ini, proses pengiriman kontainer dibantu oleh Ta Chen International. Sebelum setiap batang pipa dimuat ke dalam kontainer, semuanya harus dibersihkan terlebih dahulu. Membersihkannya merupakan bentuk penghormatan kami.”
“Ada seorang relawan yang sambil mengelap pipa terus berdoa dalam hati, berharap pipa itu dapat tiba dengan selamat di tujuan dan segera mengalirkan air bagi masyarakat di sana. Pipa-pipa ini adalah sarana penyelamat kehidupan. Setiap kali satu kontainer selesai dimuat, para relawan berdiri di depannya dengan beranjali untuk bersama-sama mendoakan Zimbabwe agar setiap sumur yang digali dapat selesai dengan lancer,” pungkas Li Zheng-hong.

Bodhisatwa sekalian, tujuan kita dalam hidup ini ialah bersumbangsih bagi dunia. Dalam keseharian, hidup kita mungkin tampak biasa-biasa saja. Namun, bayangkan jika kita melihat hari-hari biasa itu dalam satu waktu sekaligus. Ketika kita menambahkan warna sedikit demi sedikit, semuanya akan tampak lebih cerah. Biasanya, kita mungkin tidak menyadari keistimewaan dari apa yang telah dilakukan, tetapi ketika seluruh momen dihimpun, barulah kita melihat bahwa ternyata kita telah banyak berbuat, banyak berbicara tentang kebaikan, dan telah memancarkan cahaya yang begitu terang.
Saudara sekalian, hendaknya kita saling mendoakan dan mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri. Beberapa tahun ini, saya sering mengajak semuanya untuk menginventarisasi nilai kehidupan. Pada saat yang sama, saya pun melakukan hal yang sama terhadap diri sendiri. Saya selalu bertanya apakah kehidupan saya sudah benar-benar memberi manfaat bagi dunia dan apakah saya sudah sepenuh hati mendedikasikan diri bagi masyarakat.
Hendaknya kita menginventarisasi kehidupan. Jangan terlalu rendah hati dengan berkata, “Saya tidak melakukan apa-apa.” Seharusnya, kita justru bertanya pada diri sendiri, “Berapa banyak hal yang telah saya lakukan?” Jika direnungkan dengan sungguh-sungguh, ternyata kita telah berbuat cukup banyak. Mungkin tidak lebih banyak daripada orang lain, tetapi kita harus percaya bahwa yang telah mereka lakukan tidak jauh berbeda dengan kita.

Jadi, hendaknya setiap orang menghormati diri sendiri. Namun, dalam berinteraksi dengan orang lain, kita harus tetap rendah hati. Inilah prinsip kehidupan sebagai manusia. Jangan selalu berkata, “Saya tidak berguna.” Jika kita jujur pada diri sendiri, sebenarnya kita tahu tanpa kehadiran kita, banyak hal yang belum tentu dapat terselesaikan. Itulah kenyataannya.
Bayangkanlah sebuah meja berkaki empat. Jika salah satu kakinya lebih pendek sedikit saja, meja itu akan menjadi goyah. Hanya selisih yang sangat kecil pun bisa membuatnya tidak seimbang. Bukan berarti kita berpikir, “Tanpa saya, hasilnya akan jauh berbeda.” Seharusnya kita berpikir, “Karena ada saya, pementasan ini dapat berlangsung dengan baik. Jika saya tidak ikut serta dan menimbulkan sedikit kekurangan, saya akan sangat menyesal.” Inilah pertobatan yang sejati.
Bodhisatwa sekalian, saya ingin memberi tahu kalian bahwa kita harus selalu bertobat, bukan malah membesarkan ego. Usia kita memang sudah lanjut, tetapi yang terpenting ialah tetap berusaha memperbaiki diri. Selama masih ada kesempatan, kita harus terus menambal kekurangan kita. Saya akan terus bertanya pada diri sendiri, “Mengapa dahulu saya ada kekurangan ini? Saya harus memperbaikinya.”
Bukan berarti ketika kita tidak hadir dalam pementasan, kita langsung berpikir, “Karena tidak ada saya, hasilnya menjadi kurang sempurna.” Bukan demikian. Jika ada satu orang tidak hadir, itu adalah tanggung jawab semua orang karena belum mampu saling menjaga sehingga ada satu anggota yang tertinggal. Jadi, hendaknya kita mengintrospeksi diri dalam segala hal. Jika segala sesuatu berjalan dengan indah, kita harus mengucapkan syukur. Berkat usaha dari setiap orang, pementasan ini dapat terlaksana dengan begitu baik.

Saat ini, kita juga sedang “bermain sandiwara”. Namun, ini adalah sandiwara kehidupan yang nyata. Kita sedang memainkan sandiwara kehidupan yang sesungguhnya. Setiap kegiatan yang dilaksanakan, ada kontribusi kita di dalamnya. Jangan berpikir, “Ketidakhadiran saya tidak akan membuat keindahan itu berkurang. Tanpa saya pun, semuanya akan tetap indah.” Hendaknya kita berpikir, “Jika saya tidak ikut, saya akan kehilangan kesempatan menjadi bagian dari keindahan itu.”
Kehidupan ini penuh dengan ketidakkekalan. Berapa kali lagi kalian membutuhkan saya? Berapa kali lagi saya membutuhkan kalian dan kalian hadir untuk saya? Tidak ada yang tahu. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa saya berterima kasih kepada Anda, dia, dan diri sendiri. Semuanya harus menyadari bahwa saya membutuhkan Anda dan Anda membutuhkan saya. Kita harus menjadi seseorang yang dibutuhkan orang lain. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik.
Saya berharap meski hari ini saya hanya menyampaikan sedikit hal, setiap kata yang saya sampaikan bisa menjadi bahan renungan yang mendalam. Hendaknya kita menjadi orang yang tidak pernah absen ketika dibutuhkan. Setiap kali orang lain membutuhkan, kita harus selalu hadir. Jika bisa seperti itu, kehidupan kita benar-benar bermanfaat.
Jika orang lain terus merasa bahwa kita tidak pernah hadir, berarti kesempatan kita untuk membawa manfaat menjadi sangat sedikit. Kita pun akan kekurangan pahala. Kekurangan pahala terjadi karena kita sering tidak hadir ketika ada yang membutuhkan. Hendaknya kalian mengingat kata-kata saya dengan baik.
Membangkitkan potensi bajik dan membawa manfaat bagi dunia
Menginventarisasi diri dan menyadari ketidakkekalan hidup
Menggenggam momen saat ini tanpa ada penyesalan
Menumbuhkan keindahan dan kebajikan dengan memanfaatkan kehidupan saat ini
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 01 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 03 Juli 2026