“Setiap kali tubuh saya terasa tidak enak, saya mulai sesak napas. Sesaknya terus berlanjut hingga membuat saya sangat menderita,” kata nenek, salah satu pasien RS Tzu Chi Dalin.
“Stenosis katup aorta berat sebenarnya merupakan salah satu ‘pembunuh senyap’. Nenek ini sudah berusia lanjut dan 30 tahun yang lalu, beliau pernah menjalani operasi jantung. Jika kali ini harus menjalani operasi lagi, risikonya tentu sangat tinggi,” kata Zhang Jian-hua, Kepala Departemen Bedah Jantung.
“Tantangan kami ialah bagaimana menangani penyakit yang berbahaya pada pasien yang berisiko tinggi ini sehingga beliau dapat menjalani operasi dengan lancar dan masalah kesehatannya dapat teratasi,” pungkas Zhang Jian-hua.
“Apakah Anda merasa takut sebelum menjalani operasi?”
“Takut, tetapi mau bagaimana lagi? Saya hanya berbaring saat didorong masuk ke ruang operasi. Setelah keluar, saya sudah sadar dan bisa berbicara. Rasanya nyaman dan seperti tidak ada masalah apa-apa,” jawab nenek.
“Apakah dokter memperlakukan Anda dengan baik?”
“Sangat baik,” ucap nenek.
“Bagaimana dengan para perawat?”
“Mereka juga sangat baik,” ungkap nenek.
“Seperti apa baiknya?”
“Mereka sangat memperhatikan saya, berbicara dengan ramah, dan merawat saya dengan sepenuh hati. Mereka seperti sedang merawat ibu sendiri. Sungguh, semuanya sangat baik,” ungkap nenek.
“Sejak menjalani operasi hingga sekarang, apakah Anda merasakan perbedaannya?”
“Tentu ada,” ucap nenek.
“Bagaimana perbedaan pada kondisi kesehatan Anda?”
“Berbeda sekali. Sekarang saya sudah tidak punya keluhan lagi. Saya bisa makan dengan baik dan bisa bekerja. Saya adalah seorang petani. Mari datang ke rumah saya untuk makan buah,” pungkas nenek.

Nenek ini sangat optimis. Saya sangat terkesan. Sosok beliau selalu terbayang di benak saya. Beliau sangat mengagumkan. Sesungguhnya, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda tentang nenek ini. Namun, bagi saya, beliau akan selalu tersimpan di dalam ingatan. Apakah keberadaan beliau di dalam ingatan saya memiliki makna? Ya, ada satu hal yang sangat berarti.
Di Dalin yang merupakan daerah pedesaan ini, kalian melayani masyarakat setempat. Ketika nenek ini mengalami sakit, kalian hadir untuk merawatnya. Beliau begitu mengagumkan sehingga kisahnya pun muncul dalam laporan yang kalian sampaikan. Bahkan, saya yang tidak memiliki hubungan dengannya pun merasa bahwa kisah beliau bisa menjadi sebuah pelajaran dan pengingat.
Mungkin sampai sekarang, nenek itu sendiri pun tidak tahu bahwa kita masih terus membicarakannya. Namun, di dalam hati saya, beliau memiliki nilai yang sangat berharga. Nilai itu lahir karena ada Dharma yang hidup di dalam hatinya. Itulah sebabnya hingga sekarang kita masih membicarakan beliau. Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki Dharma dalam dirinya.
Beliau membutuhkan kita untuk bersandar dan kita pun memiliki tanggung jawab untuk merawatnya. Hubungan antarmanusia seperti inilah yang harus terus dijalin dengan baik. Kehidupan di dunia ini sangatlah bermakna. Dunia ini dapat tampak kosong, tetapi begitu menakjubkan. Jika tidak ada Dharma, manusia tidak akan mampu menjalani kehidupan. Nenek itu dapat melewati semua ini karena memperoleh bimbingan Dharma.
Ketika para pasien akan menjalani operasi, mereka biasanya berkata, “Saya memiliki dokter penanggung jawab.” Saya akan berkata, “Bukan hanya dokter penanggung jawab saja yang berjasa. Memang dokter tersebut memegang peran utama, tetapi sejak operasi dimulai hingga Anda keluar dari ruang operasi, ada lebih dari 30 orang yang terlibat.”
Saya bahkan memasukkan petugas ruang sterilisasi dalam hitungan tersebut. Mereka mensterilkan setiap alat satu demi satu dan mengemas semuanya dengan sangat bersih. Jadi, hal yang tampaknya kecil sesungguhnya membutuhkan peran begitu banyak orang. Itulah sebabnya saya selalu mengingatkan semuanya agar senantiasa memelihara hati yang penuh syukur.

“Kemarin, saya kembali mengunjungi komunitas. Selama kondisi saya memungkinkan, saya akan terus turun ke komunitas karena jumlah penderita demensia makin meningkat. Jumlah pasien yang saya tangani juga terus bertambah. Saat ini, saya memiliki 5 manajer kasus, masing-masing mendampingi 200 keluarga dengan anggota yang menderita demensia. Jadi, setiap tahun, saya menangani sekitar 1.000 keluarga di wilayah Chiayi,” kata dr. Cao Wen-long, Direktur Pusat Demensia RS Tzu Chi Dalin.
“Dalam penanganan demensia, yang paling penting sebenarnya ialah keluarga pasien. Jadi, setiap kali praktik, saya meluangkan banyak waktu untuk berdiskusi dengan anggota keluarga mengenai cara merawat penderita demensia. Saya menganggap hal ini sebagai tanggung jawab dan saya pasti akan terus melakukannya. Inilah tugas dan misi yang saya tetapkan bagi diri sendiri,” pungkas dr. Cao Wen-long.
Ketika melihat dr. Cao datang dan hendak duduk, saya menyadari bahwa beliau tampak kesulitan. Inilah tubuh manusia. Meski merupakan seorang dokter, beliau tetap dapat mengalami sakit. Saya berharap rekan-rekan dokter dapat memberikan perhatian lebih kepada beliau.
Tentu saja, ketika mengalami sakit, jangan mudah berkata, “Saya ingin pensiun saja dan beristirahat.” Jangan berpikir seperti itu. Jika seseorang langsung berhenti begitu saja, yang tersisa dalam hidupnya hanyalah memikirkan penyakitnya. Sebaliknya, jika masih mampu berkarya, selama masih memiliki semangat, masih ada pasien yang membutuhkan kita sebagai dokter. Hal itu akan menjadi dorongan yang besar bagi diri sendiri. Jadi, kehidupan ini sangatlah berharga. Terlebih lagi, ketika kita masih memiliki kemampuan. Itulah nilai kehidupan yang kalian miliki.
Saya sendiri juga sangat bersyukur kepada diri sendiri. Jika saya tidak menjalankan misi Tzu Chi, mungkin saya tidak akan memiliki kemampuan apa pun. Saya pun tidak akan merasakan bahwa hidup saya bernilai. Justru karena adanya jalinan jodoh ini, sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran Buddha, saya bisa bertemu dengan begitu banyak orang. Hal ini membuat saya merasa bahwa tanggung jawab ini tidak boleh saya lepaskan. Jadi, kekuatan dalam diri saya selalu bangkit kembali.
Mungkin kita merasa bahwa usia sekarang sebenarnya sudah sangat lanjut, bahkan bisa dikatakan termasuk usia yang panjang. Namun, kita merasa masih memiliki tanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab itu sendiri, kita juga melihat masih ada begitu banyak orang yang menderita dan mereka memiliki kaitan dengan kita. Oleh karena itu, kita bisa menjadi lebih kuat dan mampu bertahan menghadapi segala kesulitan.

Kunjungan saya ke sini kali ini justru kembali meneguhkan tekad saya. Saya tidak ingin hanya saya sendiri yang merasakannya. Saya harus memberi tahu semuanya bahwa kondisi saya sekarang memang sudah seperti ini. Dalam kehidupan ini, kesempatan saya mungkin sudah sangat terbatas. Jika memikirkan hal itu, saya justru teringat dengan Cai Kuan. Tahun ini, usianya sudah mencapai 107 tahun, jauh lebih tua daripada saya, tetapi kondisi kesehatannya lebih baik daripada saya. Saya merasa bahwa kita harus benar-benar memanfaatkan tubuh ini dengan baik.
Setiap kali melihat beliau, saya membayangkan bahwa perjalanan dengan mobil tentu sangat melelahkan baginya. Namun, begitu melihat beliau hadir di sana, semangat saya justru kembali bangkit. Jadi, menjadi tua juga memiliki keindahannya. Kita dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa di usia lanjut pun seseorang masih bisa hidup sehat. Dengan begitu, kita dapat saling menyemangati.
Saya sangat berterima kasih kepada dr. Cao. Jagalah kesehatan dengan baik. Saya juga berharap kalian semua ikut menjaga beliau. Beliau adalah aset berharga bagi dunia medis kita. Hendaknya semuanya merawat beliau dengan baik. Hal ini juga menjadi teladan yang baik bagi kita semua.
Saya sangat berterima kasih kepada setiap dokter. Ketika melihat kalian semua, saya merasakan suasana yang sederhana. Jadi, hendaknya semuanya terus bekerja dengan hati yang tenang, penuh sukacita, dan memaksimalkan potensi bajik yang dimiliki. Inilah yang disebut nilai kehidupan. Saya berterima kasih kepada para dokter dan Bodhisatwa sekalian.
Bergotong royong demi menyelamatkan kehidupan
Menyembuhkan penyakit dengan tangan terampil dan kemurahan hati
Semangat yang sederhana membangkitkan kekuatan
Mengerahkan potensi bajik dan menjadi teladan dalam dunia medis
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 Juni 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 29 Juni 2026