“Pada 42 tahun yang lalu, saat saya pertama kali bertemu Master, Master berkata pada saya, ‘Ajaklah suamimu untuk menjalankan Tzu Chi. Kamu tidak akan menyesal.’ Sungguh, selama 42 tahun ini, saya tak pernah menyesal. Bahkan, saya dipenuhi rasa syukur setiap hari,” kata Lin Rui-yun dengan nama Dharma Jing Zang dan nomor komite 385.

“Master yang kami hormati dan kasihi, saya memiliki tiga anak. Sejak mereka masih kecil, saya mengajak mereka mengunjungi warga kurang mampu pada hari libur agar mereka menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Saya sungguh sangat bersyukur,” lanjut Kakak Lin Rui-yun.

“Dalam keluarga saya, ada lima relawan yang telah dilantik. Saya berharap bisa lebih banyak. Master mengimbau kita mewariskan semangat Tzu Chi hingga 50 generasi,” pungkas Kakak Lin Rui-yun.

“Saat itu, RS Tzu Chi Hualien mulai dibangun. Master selalu sibuk menggalang dana pembangunan RS. Saya merasa sangat tidak tega. Karena itu, saya menggalang dana dari rekan kerja saya dan mengajak mereka berkunjung ke Griya Jing Si. Pada tanggal 24 Juli 1985, Kakak Sheng-sheng merekomendasikan saya untuk menjadi anggota komite,” kata Liu Yue-e dengan nama Dharma Jing Zong dan nomor komite 563.

Para hadirin di sini sudah sangat senior. Kita semua telah lanjut usia. Meski kita tidak melekat pada apa yang telah kita lakukan, tetapi setiap langkah pasti meninggalkan jejak. Itulah jejak langkah kita.

Sulit untuk terlahir sebagai manusia.  Berhubung telah terlahir sebagai manusia, saya merasa bahwa dunia ini membutuhkan kita untuk terus membimbing orang-orang. Di kehidupan sekarang, kita bukan hanya bersumbangsih, tetapi juga membimbing sesama. Hitunglah berapa banyak orang yang telah kalian bimbing. Orang yang kalian bimbing juga kembali membimbing orang lain. Jadi, berapa banyak orang yang telah terbimbing? Dengan berapa banyak orang kalian telah menjalin jodoh?

Saya berharap mulai sekarang, kalian dapat mengenang masa lalu dan mempertahankan jejak sejarah kita. Ini bukan hanya untuk diri kalian, tetapi juga untuk Tzu Chi. Dengan demikian, Tzu Chi akan memiliki sejarah. Berkat kalian, barulah sejarah ini ada. Kalian semua harus ingat bahwa sejarah ada berkat kalian. Saya sendiri pun berpikir demikian. Ada kita, baru ada sejarah. Tanpa kalian, saya tidak akan bisa menulis sejarah. Tanpa mereka, kalian juga tidak bisa berbagi pengalaman.


“Pada akhir tahun 1983, sebelum dilantik, saya di bawah bimbingan Kakak Ketiga. Saat itu, hanya ada 10 tim. Saya mengikutinya menghadiri rapat di rumah Jing Ying. Saat Master datang menghadiri rapat, saya membantu Kakak Ketiga membuat catatan,” 
kata Qiu Qiong-yu dengan nama Dharma Ci Bi dan nomor komite 635.

“Saya dilantik pada awal tahun 1985 dan pada tahun 1988, Kakak Ketiga berkata pada saya, ‘Ci Bi, kamu bisa membentuk sebuah tim sendiri.’ Demikianlah jalinan jodoh. Saat itu, Tim 17 hanya ada 11 anggota komite dan 1 anggota Tzu Cheng. Kemudian, kami perlahan-lahan membina relawan baru hingga dilantik,” pungkas Qiu Qiong-yu.

“Terhadap Tzu Chi, saya hanya memiliki rasa syukur. Saat Kakak Ketiga mewariskan tanggung jawab ketua tim pada saya, saya baru berusia 30-an tahun. Beliau berkata, ‘Kamu bisa membimbing orang dan sangat ramah. Yang terpenting, kamu memiliki semangat Tzu Chi’’ kata Wu Bi-tao dengan nama Dharma Jing Shu dan nomor komite 229.

“Saya menganggap Kakak Ketiga sebagai ibu saya. Pada tiga hari raya setiap tahunnya, saya pasti mengumpulkan para Bodhisatwa lansia di tim kami untuk mengunjungi Kakak Ketiga. Jalinan kasih sayang antarsaudara se-Dharma ini tidak bisa dibeli dengan uang,” lanjut Wu Bi-tao.

“Sungguh, berkah terbesar saya dalam hidup ini bukanlah banyaknya uang yang saya hasilkan, melainkan bisa memiliki guru yang bijaksana dan menerima ajaran Buddha yang benar. Terima kasih banyak. Saya sangat bersyukur kepada Master,” pungkas Wu Bi-tao.

Kita harus bersyukur kepada orang yang mendukung kita. Jika berjalan di depan, kita bisa bersyukur kepada orang yang mendorong kita dari belakang. Saat ada yang mendorong kita, kita akan mengalami kemajuan. Saat kita membimbing orang lain, barulah kita bisa berkata bahwa kita tengah mengangkat tali untaian bacang. Jadi, mereka ada karena kita. Ini berkat diri kita yang membimbing mereka. Singkat kata, Anda, saya, dan dia, semuanya adalah satu kesatuan yang membimbing satu sama lain.

Saya sangat bersyukur kepada kalian. Kalian juga hendaknya bersyukur kepada orang yang kalian bimbing. Berkat jalinan jodoh untuk datang ke alam manusia, barulah kita dapat menjalankan praktik Bodhisatwa. Buddha memberi tahu orang-orang tentang “eksistensi menakjubkan di balik kekosongan”. Yang terpenting ialah “eksistensi menakjubkan”. Jika tidak bersumbangsih, kita benar-benar tidak memiliki apa-apa. Jika kita benar-benar bersumbangsih, itu disebut “eksistensi menakjubkan” di balik “kekosongan sejati”.

Kini, saya terus mengingatkan kalian untuk mengenang masa lalu. Inilah eksistensi menakjubkan. Jika kalian tidak membagikan kisah masa lalu, tidak akan ada yang mengetahuinya. Apa yang terjadi di masa lalu, orang-orang zaman sekarang tidak tahu. Dahulu, akses transportasi tidak memadai. Saat itu, ketika kalian hendak kembali ke Hualien, apakah kalian ingat bagaimana kalian membeli tiket? Saat itu, Jing Yang butuh upaya keras untuk membeli tiket. Dia harus mengantre sangat lama, bukan sebentar. Dia bersusah payah demi membeli tiket kereta. Demikianlah dia mengenal kepala stasiun, Bapak Chen. Saya sangat bersyukur.

Saat itu, kita membimbing banyak orang. Di antara kalian, juga ada yang tersentuh setelah pergi ke Hualien, lalu bergabung dengan Tzu Chi setelah pulang. Karena itulah, saya ingin setiap orang membagikan kisah dan pengalaman masing-masing. Jika kita tidak mencatat sejarah Tzu Chi sekarang, orang-orang di belakang kita tidak akan tahu betapa sulitnya Tzu Chi dahulu. Jadi, kita harus melakukan pewarisan, bukan hanya kepada 50 generasi mendatang.

Sejarah Tzu Chi harus terus diwariskan. Kini, 50 relawan yang ada di sini sangatlah tekun dan bersemangat. Lima puluh relawan yang tekun dan bersemangat ini harus terus menyebarluaskan Tzu Chi dan mewariskannya kepada generasi mendatang, seperti anak dan cucu kalian. Saat ini, ada sebagian relawan yang telah memiliki generasi keempat. Keturunan kalian terus bertambah.

Perbuatan kita benar atau salah, yang melihat paling jelas ialah keluarga kita. Jika keluarga kalian mendukung kalian, bukan hanya pasangan kalian yang akan bergabung, anak dan menantu kalian juga akan turut bergabung. Inilah ketulusan. Inilah kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Perbuatan kalian menunjukkan keindahan dan membuat orang memuji kalian. Anak dan menantu kalian juga bersukacita mendengarnya.

Saat mereka menyadari bahwa perbuatan orang tua mereka menuai pujian orang-orang, mereka secara alami akan mengikuti langkah kalian. Saat kita melakukan hal yang benar dan orang-orang berkata, “Kalian telah melakukan hal yang benar dan luar biasa,” itu belum cukup. Ketika anak cucu kita juga memuji kita dan mengikuti langkah kita, itu baru keluarga yang benar, bajik, dan indah. Jadi, kita harus lebih bersungguh hati agar anak, menantu, dan kerabat kita bersukacita dan memuji perbuatan kita serta turut bergabung dan mewarisi semangat Tzu Chi. Inilah pewarisan yang terbaik.

Saya sangat bersyukur pada kalian. Saya bersyukur atas anak kalian yang menyaksikan dedikasi kalian dan menantu kalian yang mewarisi semangat Tzu Chi. Saya sangat kagum dan sukacita.

Bodhisatwa menjalankan ikrar yang mendalam

Membimbing orang banyak dan menjalin jodoh baik

Meninggalkan sejarah yang bagai eksistensi menakjubkan di balik kekosongan

Mewariskan kebenaran, ketulusan, keindahan, dan kebajikan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 19 Juni 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 21 Juni 2026