“Kami membantu para relawan pelestarian lingkungan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Tujuan utamanya ialah agar para lansia ini tidak hanya bersumbangsih dalam kegiatan daur ulang, melainkan juga tetap menjaga kesehatan mereka sendiri,” kata Cao Mei-chang, relawan Tzu Chi.
Menjadi tua adalah jalan yang pasti dilalui setiap manusia. Jadi, kita harus memberi perhatian pada persoalan lanjut usia. Sesuai dengan hukum alam, ketika seseorang memasuki usia lanjut, ia memerlukan orang lain untuk merawatnya. Bertambah tua adalah proses yang alami, itu bukanlah masalah. Namun, jika manusia membuat orang yang lanjut usia menjadi tersisih, itulah masalah yang besar.
Anak muda zaman sekarang, ketika para lansia hendak memberikan nasihat, mereka pasti berkata, “Anda sudah tua. Anda tidak mengerti apa-apa. Zaman sekarang sudah berbeda.” Inilah pola pikir anak muda zaman sekarang. Para lansia sering dianggap sebagai sebuah masalah. Padahal, mereka bukanlah masalah. Pikiran mereka masih sangat jernih.
Oleh karena itu, saya pernah berkata kepada kalian bahwa jangan selalu mengatakan bahwa diri sendiri sudah tua. Jika usia kalian sudah di atas 50 tahun, anggap saja 50 tahun itu dititipkan kepada saya. Jika melihat usia kita saat ini, kita sebenarnya telah mengumpulkan banyak pengalaman. Justru sekaranglah saatnya untuk mengembangkan dan membagikan pengalaman tersebut. Selama kita mau mengembangkan potensi, semuanya masih sangat berguna.
Anak muda hendaknya jangan berkata, “Anda sudah berusia 50 hingga 60 tahun, Anda tidak mengerti keadaan masyarakat sekarang.” Jangan berpikir demikian tentang kaum lansia. Generasi muda haruslah menghormati pengalaman para lansia dan memberi mereka kesempatan untuk terus berperan. Inilah yang disebut dengan menghormati yang tua.

Sungguh, kita harus menghormati kaum lansia. Tentu saja, terhadap generasi muda, kita juga harus menaruh harapan. Sejak dini, mereka perlu belajar memikul tanggung jawab. Mereka harus diberi kesempatan untuk memahami tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat. Dalam proses itu, kaum paruh baya dan lansia tetap dapat mendampingi mereka. Hendaknya kita saling menghormati dan saling mengasihi. Dengan demikian, kesehatan fisik dan batin setiap orang dapat tetap terjaga.
Seseorang yang berusia 50, 60, bahkan 70 tahun seharusnya masih dapat hidup dengan tubuh dan batin yang sehat. Jadi, kita harus memberi mereka ruang untuk terus berkembang. Itulah tujuan adanya pusat perawatan. Adakalanya kondisi fisik seseorang melemah karena sakit sehingga membutuhkan perawatan. Namun, jika mereka masih sehat, mereka perlu tetap aktif.
Saya teringat kepada guru saya. Setiap kali datang ke wilayah tengah Taiwan, saya selalu menyempatkan diri untuk menjenguk beliau. Saya pernah berkata kepada beliau, “Master, di dalam hati kami, Anda adalah pohon besar yang menopang jiwa kebijaksanaan kami. Anda adalah pohon besar tempat kami bersandar, bagaikan sebuah hutan.”
Beliau kemudian berkata, “Saat ini, saya hanya menjalani kehidupan dengan tenang.” Saya menjawab, “Selain hidup dengan tenang, Master juga memikul tanggung jawab dengan bahagia. Master masih sangat memperhatikan sudahkah generasi muda menjalankan tugas dengan baik dan sudahkah kami bersumbangsih bagi masyarakat.” Bagi kami, dorongan dan semangat dari beliau sangatlah penting.
Beliau kemudian menceritakan sebuah kisah kepada saya. Beliau berkata, “Apa yang kamu katakan memang benar. Lihatlah pohon-pohon sawo mentega di belakang.” Di Vihara Miaoyun, di belakang kamar guru saya memang terdapat sehamparan kebun buah yang ditanami pohon sawo mentega. Beliau sering berjalan-jalan ke sana. Jika buahnya sudah bisa dipanen, beliau akan memetiknya.
Buah itu jarang dibiarkan matang sepenuhnya di pohon, melainkan dipetik terlebih dahulu, kemudian diperam hingga matang, seperti memeram pisang. Proses pemeraman itu memerlukan sedikit kehangatan agar buah dapat matang dengan baik. Beliau memetik buah-buah itu. Hasil panen pertama sangat beliau hargai. Beliau berkata, “Kita harus membawa kehangatan bagi mereka.”

Kehidupan manusia dan makhluk lain itu saling bergantung. Buah-buahan menyediakan makanan bagi manusia, sedangkan manusia harus merawat mereka dengan penuh kasih. Bahkan, melalui hal sederhana seperti itu pun beliau dapat menyampaikan Dharma. Manusia harus mengasihi dan melindungi segala sesuatu di Bumi ini.
Bagi saya, itulah Dharma yang paling bermanfaat sepanjang hidup saya. Inilah hukum kehidupan. Kita harus memandang penting ekosistem semua makhluk dan sungguh-sungguh memahami semua ekosistem. Jadi, hendaknya kita melindungi hutan. Perlindungan terhadap alam tidak boleh berhenti.
Jumlah penduduk terus bertambah, demikian pula orang-orang yang hanya mengejar kenikmatan hidup. Ketika menikmati hidup, banyak orang tidak memikirkan bagaimana bumi menyediakan semua kebutuhan itu atau bagaimana seharusnya kita menyayangi bumi. Sebagai orang yang terus mengonsumsi sumber daya, kita harus mulai belajar menghargai berkah. Jika setiap orang dapat lebih menghargai berkah, meski sedikit saja, konsumsi pun akan berkurang sedikit demi sedikit.
Konsumsi yang berlebihan adalah sumber kerusakan. Makin banyak kita mengonsumsi sumber daya, makin besar pula kerusakan yang kita timbulkan, terlebih lagi dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Jadi, kita harus benar-benar memahami hal ini.
Sebelum makan, kita harus beranjali terlebih dahulu dan mengingat Lima Perenungan. Hitunglah berapa banyak jasa di balik makanan ini; renungkanlah dari mana ia berasal. Kita harus menyadari bahwa setiap hidangan di meja makan merupakan hasil jerih payah begitu banyak orang.

Hendaknya kita mengukur kebajikan diri sendiri. Kita perlu merenungkan sesungguhnya apa sumbangsih kita bagi dunia? Kebajikan apa yang kita miliki sehingga layak menerima makanan yang diperoleh dari jerih payah begitu banyak orang? Jadi, hendaknya kita mengukur kebajikan diri sendiri dan berpikir apakah kita layak menerima itu semua.
Sesungguhnya, kita merasa belum layak menerima hasil kerja keras begitu banyak orang. Ketika menikmati makanan tersebut, apa yang bisa kita berikan? Ketika menikmati nasi, sayur, dan minyak, apa yang bisa kita berikan sebagai balasannya? Jika kita belum mampu bersumbangsih, setidaknya kita bisa menjaga pikiran.
Jadikan menjaga pikiran dan menghindari kesalahan seperti ketamakan dan lainnya sebagai prinsip. Sumber utama berbagai kesalahan manusia ialah ketamakan. Jadi, hendaknya kita sungguh-sungguh menjaga pikiran. Inilah arah kehidupan yang harus kita tempuh. Beginilah seharusnya manusia menjalani kehidupan.
Pandanglah makanan ini sebagai obat untuk menyembuhkan tubuh yang lemah. Ketika melihat sepiring makanan, kita harus menerimanya dengan penuh hormat. Perlakukan makanan sebagai obat. Selama makanan itu layak dimakan, jangan terlalu memilih-milih. Kita makan demi menjaga kesehatan tubuh. Itulah makna dari “pandanglah makanan ini sebagai obat untuk menyembuhkan tubuh yang lemah”.
Tubuh jasmani ini memerlukan makanan agar dapat bertahan hidup. “Demi pencapaian pelatihan diri, kami menerima makanan ini.” Kita makan agar dapat melatih diri dengan baik. Jika tidak makan, kita tidak dapat hidup. Kita harus makan agar memiliki kehidupan yang sehat sehingga mampu terus melatih diri dengan baik.
Menebarkan kehangatan kebajikan dengan menghormati lansia dan menyayangi generasi muda
Menghormati langit, mengasihi bumi, dan menghimpun jalinan jodoh berkah
Mengingat Lima Perenungan sebelum makan dengan penuh rasa syukur
Menjaga tubuh sebagai sarana pelatihan diri
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 Agustus 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 05 Agustus 2026