“Saya ingin melaporkan kepada Master bahwa kami semua di sini adalah para penggerak program Toko Cinta Kasih. Bolehkah saya meminta semua yang hadir mengangkat tangan agar Master dapat melihat? Tangan-tangan inilah yang digunakan untuk menebarkan cinta kasih. Tangan-tangan ini pula yang membawa celengan bambu ke berbagai took,” kata Fang Han-wu, relawan Tzu Chi.
“Sesungguhnya, sejak kecil, saya sering melihat ibu saya menonton Da Ai TV. Ketika melihat relawan datang ke toko sebelah, saya berpikir, ‘Mengapa ada pasangan yang begitu berwibawa datang ke toko sebelah?’ Saya berkata kepada relawan tersebut, ‘Bukankah bulan lalu Anda juga datang ke toko sebelah?’ Beliau bertanya, ‘Bagaimana Anda bisa ingat?’ Saya menjawab, ‘Karena saya sangat terkesan dengan kalian berdua.’ Begitulah jalinan jodoh kami dengan Tzu Chi dimulai,” kata Zhuang Ji-wei, Pemilik Toko Cinta Kasih.
“Ketika relawan ingin meletakkan celengan bambu, beliau langsung menjawab, ‘Boleh. Ini adalah perbuatan yang baik.’ Selain itu, kami juga sedang menggalakkan pendataan donor sumsum tulang dan sangat membutuhkan banyak peserta. Saya pun berdiskusi dengannya,” kata Huang Qiu-na, relawan Tzu Chi.
“Saya berkata, ‘Saya membawa brosur dan spanduk. Di tempat kalian ini, setiap pagi selalu ramai antrean. Bolehkan kami memasangnya di sini?’ Beliau menjawab, ‘Tentu boleh. Kalian sudah berusia, jangan naik tangga.’ Lalu, beliau mengambil tangga dari dalam toko dan memasang spanduk itu untuk kami. Setelah itu, saya mengajaknya lagi, ‘Xiao Zhuang, Anda begitu penuh cinta kasih. Maukah Anda ikut mendaftar?’ Beliau menjawab, ‘Baik. Saya juga akan mengajak yang lain.’ Saya merasa sangat tersentuh,” pungkas Huang Qiu-na.

Semua orang harus ingat bahwa setiap hari, setiap kali bertemu dengan orang lain, kita harus saling menyapa dan berbincang tentang Tzu Chi. Itulah cara kita bertutur kata baik dalam kehidupan. Ketika kita membuka mulut untuk menciptakan berkah, berkah pun akan datang dengan sendirinya. Jika hanya memohon berkah tanpa melakukan kebajikan, dari mana berkah itu akan datang? Jadi, kita harus bersungguh hati. Melakukan perbuatan yang benar, itulah yang disebut berkah.
Tahun ini, Tzu Chi telah genap berusia 60 tahun. Perjalanan selama 60 tahun ini membuat saya merasa sangat puas. Saya sering merenungkan, apa sebenarnya tujuan hidup manusia? Hari demi hari terus berlalu. Meski melatih diri adalah sebuah cita-cita, tetapi bagaimana agar tetap dapat membawa manfaat bagi masyarakat. Karena itulah, saya memilih menjalani kehidupan sebagai monastik untuk melatih diri dengan sungguh-sungguh dan menjalin jodoh baik.
Saya sering berpikir, mengapa dalam kehidupan ini bisa ada begitu banyak orang yang merasa sukacita ketika mendengar nama saya dan bertemu dengan saya? Semua itu pasti karena pada kehidupan lampau, saya telah menjalin banyak jodoh baik. Jika saya menyerukan sesuatu, semua orang bersemangat untuk menciptakan berkah bagi dunia. Dalam kehidupan ini, saya tidak memiliki penyesalan apa pun.
“Setiap kali keesokan harinya saya akan mengambil dana kebajikan dari toko-toko, pada malam sebelumnya saya selalu berikrar di hadapan Buddha dan Bodhisatwa. Saya berharap sepanjang perjalanan dapat bertemu dengan jalinan jodoh baik yang baru sehingga makin banyak pemilik usaha bersedia bergabung menjadi Toko Cinta Kasih. Ke depannya, saya akan terus mendorong penggalangan dana melalui celengan bambu. Saat ini, saya juga secara bertahap mengajak para pemilik toko untuk menjadi donatur jangka panjang,” kata Chen Yu-qin, relawan Tzu Chi.
“Terakhir, saya ingin menyampaikan pesan dari suami saya, ‘Master sudah sangat bersusah payah. Usia Master pun sudah lanjut dan kondisi kesehatan sudah tidak sekuat dahulu. Kami semua berharap Master tetap berada di Hualien dengan tenang, tanpa harus bepergian ke berbagai tempat,” pungkas Chen Yu-qin.

Sesungguhnya, setiap kali melakukan perjalanan, saya merasa sangat senang. Dalam hidup ini, kebahagiaan berarti bertumbuhnya jiwa kebijaksanaan. Jika seseorang menjalani kehidupan tanpa melakukan apa pun atau membiarkan satu pikiran menyimpang hingga melakukan keburukan, keburukan itu akan terus terakumulasi. Sebaliknya, jika kita menumbuhkan satu niat baik dan semua orang turut mendoakan, jiwa kebijaksanaan kita akan makin bertumbuh.
Dalam melatih diri, kita harus ingat bahwa yang ingin kita pelihara ialah jiwa kebijaksanaan, yaitu kehidupan yang penuh dengan kebijaksanaan. Jangan sampai menjalani hidup dengan kebingungan, melewati hari-hari tanpa makna, dan mendatangkan bencana bagi dunia.
Selama 60 tahun perjalanan Tzu Chi, saya terus berusaha bersumbangsih bagi masyarakat dengan tanpa pamrih. Namun, ketika melihat begitu banyak orang merespons, saya merasa sangat bersyukur. Saya sering berkata bahwa kita harus bersumbangsih tanpa pamrih dan senantiasa bersyukur. Saya mendoakan semuanya. Inilah berkah dalam hidup saya. Jadi, saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh, terutama pada saat seperti ini. Melihat begitu banyak orang merespons, saya merasa sangat bersyukur.
Selama sesuatu itu benar, lakukanlah. Kalian semua adalah orang-orang yang memiliki kebijaksanaan. Ketika mendengar kebajikan, kalian langsung tahu bagaimana cara merespons. Inilah sukacita karena dapat menciptakan berkah dan kebajikan bagi dunia. Saya merasa sangat bersyukur.

Saya berharap semua orang dapat terus mendoakan kedamaian bagi kota serta daerah tempat kita tinggal. Dengan begitu, daerah kita akan senantiasa diberkahi dengan cuaca yang bersahabat dan seluruh negeri dapat hidup dalam kedamaian. Inilah harapan terbesar saya. Jika kita semua mampu menjadi teladan bagi orang lain, setiap perkataan kita akan dihormati dan direspons. Jadi, hendaknya semuanya menjalankan misi Tzu Chi. Inilah yang disebut dengan melatih diri dan menjalin jodoh baik.
Semua orang memiliki hakikat kebuddhaan. Yang diperlukan hanyalah membangkitkan hakikat kebuddhaan tersebut. Dengan begitu, suatu tempat akan dipenuhi oleh orang-orang yang berhati baik dan secara alami tempat itu akan menjadi damai. Usia saya sudah lanjut. Namun, saya tetap merasa sukacita karena masih dapat berjalan dengan tegap. Saya juga bersyukur atas perjalanan hidup selama 90 tahun ini. Kehidupan saya terasa tidak ada yang kurang.
Kita semua memiliki jalinan jodoh antara guru dan murid. Kita melatih diri di jalan yang sama, serta menjalani tekad dan ikrar yang sama. Saya hanya membimbing kalian untuk melangkah masuk ke jalan ini, lalu kita menyatukan hati dan misi untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Ini merupakan jalinan jodoh yang luar biasa. Saya sangat berterima kasih kepada kalian semua.
Misi amal Tzu Chi dapat terus berjalan berkat dukungan kalian semua. Dukungan ini harus terus diwariskan. Generasi penerus saya ialah kalian; generasi penerus kalian ialah anak-anak kalian. Hendaknya kita mewariskan semangat ini dari generasi ke generasi. Dengan demikian, kita dapat hidup dalam kedamaian. Hendaknya semuanya bersatu untuk membangkitkan tekad dan meneguhkan ikrar dalam menapaki Jalan Bodhisatwa.
Menjalankan misi Tzu Chi demi membawa manfaat bagi semua makhluk
Menjalin jodoh baik secara luas untuk mendatangkan berkah
Menumbuhkan jiwa kebijaksanaan dan menapaki jalan agung dengan sukacita
Mewariskan ikrar Bodhisatwa dari generasi ke generasi
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 01 Agustus 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 03 Agustus 2026