Saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh. Saya berterima kasih kepada seluruh anggota Sangha. Kita semua adalah murid Buddha. Dapat hidup pada masa yang sama dan berada di dunia ini bersama-sama merupakan sebuah keberuntungan.

Enam puluh tahun yang lalu, Tzu Chi bermula dari sebersit niat. Berkat jalinan jodoh, saya dapat memasuki pintu Buddha. Terlebih lagi, saya memiliki jalinan jodoh istimewa, yaitu bertemu dengan guru pembimbing saya. Beliau selalu dengan penuh perhatian mengingatkan dan berpesan, “Sebagai bhiksuni, ingatlah untuk bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk.”

Beliau juga berkata bahwa kami memiliki jalinan jodoh guru dan murid yang sangat dalam sehingga saya harus menjalankan tekad demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk. Kalimat itu pun saya simpan sangat dalam di hati. Saya mengubah sesuatu yang tidak berwujud menjadi sebuah tanggung jawab yang harus dipikul.

Meski tanggung jawab ini melebihi kemampuan saya sendiri, tetapi saya selalu bersyukur atas budi luhur Buddha. Saya tidak ingin mengecewakan harapan semua makhluk. Jadi, sejak adanya jalinan jodoh tersebut, saya selalu mengingat pesan guru saya untuk bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk.

Misi Tzu Chi bukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh satu orang saja, dibutuhkan kekuatan dan dukungan dari Tiga Permata. Berkat budi luhur Buddha, saya dapat masuk ke jalan Buddha dan terus berikrar untuk berbuat sesuatu bagi ajaran Buddha. Namun, tidak dapat dikatakan demi ajaran Buddha sepenuhnya karena semua ini juga demi diri sendiri yang tidak mengukur kemampuan diri sendiri. Saya telah membangun ikrar dan memikulnya sendiri di atas bahu.

Tentu saja, perjalanan ini sangat berat. Namun, saya juga merasa sangat beruntung. Setiap kali bertemu orang, saya selalu berkata, “Terima kasih.” Selain bersyukur atas budi luhur Buddha dan pesan yang diberikan oleh guru saya, saya juga berterima kasih kepada tokoh Buddhis dan anggota Sangha yang terus memberikan dukungan. Berkat dukungan mereka, ajaran Buddha dapat benar-benar didengar oleh banyak orang.

Saya sering merasa bahwa mungkin di kehidupan lampau, saya pernah menjalin jodoh baik dengan banyak orang sehingga di kehidupan ini, begitu banyak orang merasa bahagia ketika mendengar dan bertemu saya. Saat kita bertemu dan berinteraksi, semuanya dipenuhi dengan sukacita. Dengan hati yang penuh sukacita, orang lain pun rela berbuat dan menerima kondisi yang ada.

Menapaki jalan di tengah masyarakat bukanlah hal yang mudah. Di dunia ini, ada begitu banyak orang dengan beragam pendapat dan suara yang harus didengar, terlebih lagi di zaman yang penuh perubahan seperti sekarang ini. Segala sesuatu harus dijalani dengan penuh kewaspadaan. Tanggung jawab yang dipikul pun makin besar. Namun, saya tidak pernah menyesal sedikit pun.

Budi luhur Buddha sungguh sulit untuk dibalas. Saya merasa telah memperoleh jalinan jodoh yang baik sehingga harus membalas budi luhur Buddha. Demikian pula kepada guru pembimbing saya. Sejak pertama kali bertemu, setiap kali melihat beliau, hati saya dipenuhi sukacita.

Saat mereka melantunkan Syair Pertobatan Kaisar Liang, saya pun ikut berlutut, bersujud, dan melantunkannya bersama-sama. Sejak saat itu, setiap pagi sebelum fajar menyingsing, saya akan berkata kepada seorang nenek yang membantu keluarga kami, “Nenek tolong bangun lebih awal. Jika saya keluar rumah, tolong bantu untuk menutup pintu.”

Setiap hari sekitar pukul 4 pagi, saya pasti sudah berada di Vihara Ci Yun untuk mengikuti kebaktian pagi. Bertahun-tahun saya menjalani kehidupan seperti itu, berangkat pagi-pagi sekali. Dari sanalah, jalinan jodoh saya dengan ajaran Buddha mulai terbentuk. Demikianlah saya memasuki pintu Buddha.

Tentu saja, masa-masa itu tidaklah mudah. Terlebih lagi, saya harus meninggalkan rumah. Perasaan untuk melepaskan semua itu sangatlah sulit. Sedikit demi sedikit, saya mencoba mengungkapkan isi hati kepada ibu saya. Saya mengatakan bahwa hati saya sudah tidak lagi terikat pada kehidupan keluarga. Proses itu sangat rumit. Begitulah kehidupan yang saya lalui.

Pada zaman dahulu, mempelajari agama Buddha sangatlah sulit. Orang-orang zaman sekarang memiliki kebebasan. Jadi, generasi sekarang sangatlah beruntung. Dalam hidup ini, sesuatu yang sulit diperoleh justru lebih layak untuk dihargai. Orang-orang zaman sekarang bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan dengan mudah dan bebas.

Saya selalu mengingatkan semua orang, “Hendaknya kalian menghargai kesempatan ini. Memasuki pintu ajaran Buddha bukanlah hal yang mudah. Ketika seseorang memasuki pintu Buddha, itu adalah sebuah berkah yang sangat besar.”

Hendaknya kita menghargai jalan ini dan menghargai tekad di dalam batin. Jalan yang ada di hadapan kita harus kita buka, lebarkan, dan ratakan sendiri. Kita harus berjalan dengan baik dan aman di atasnya. Dengan begitu, orang-orang yang di belakang kita juga dapat menapaki jalan dengan lebih mudah. Inilah yang ingin terus saya sampaikan kepada semuanya.

Berhubung kita telah dipenuhi berkah dan dapat hidup dengan tenang di lingkungan vihara, hendaknya kita menjadi teladan melalui tindakan nyata. Apabila ada generasi berikutnya yang ingin menempuh kehidupan seperti kita, orang tua mereka pun akan merasa bahagia ketika mengantarkan mereka ke vihara.

Jika dapat melakukannya, berarti kita sedang membuka jalan yang lapang bagi generasi-generasi berikutnya. Inilah yang selama ini terus saya upayakan, yaitu agar makin banyak orang mengenal ajaran Buddha dan memahami bahwa ajaran Buddha adalah jalan yang luhur tiada tara. Ajaran Buddha bukanlah jalan kemunduran, melainkan jalan untuk terus bertumbuh. Inilah ajaran Buddha yang sesungguhnya.

Ketika melihat para anggota Sangha, hati saya sungguh dipenuhi rasa syukur dan hormat. Para anggota Sangha dan Guru Ming Guang bersedia pergi ke berbagai penjuru dunia untuk menyebarkan Dharma. Ini menciptakan pahala yang tak terhingga dan membuat jalan yang akan kita tempuh makin terbuka. Ke mana pun kita pergi, masyarakat akan menyambut dengan baik. Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada para anggota Sangha.

Mengikuti ajaran guru demi semua makhluk

Menjalankan ikrar dengan dukungan Tiga Permata

Menjalin jodoh baik dengan sukacita di jalan kebajikan

Menyebarkan Dharma secara luas dan membawa manfaat bagi dunia

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 20 Juni 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 22 Juni 2026