“Tahun ini merupakan peringatan 60 tahun Tzu Chi dan kebetulan juga menjadi peringatan 20 tahun Kompleks Tzu Chi Sanchong. Kami sangat bersyukur karena selama ini selalu didampingi oleh relawan senior. Selain itu, para relawan di Kompleks Tzu Chi Sanchong selalu bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan bergotong royong. Inilah yang memungkinkan kami melangkah hingga 20 tahun. Saya merasa sangat bersyukur,” kata Luo Mei-zhu, relawan Tzu Chi.

“Dalam peringatan 20 tahun ini, para relawan senior berbagi kisah tentang perjalanan mereka yang penuh tantangan. Banyak juga generasi muda yang mendedikasikan diri secara aktif. Selama 20 tahun terakhir, kami dapat menyaksikan keterlibatan tiga generasi, mulai dari generasi muda, paruh baya, hingga lansia,” kata Yang Mei-feng, relawan Tzu Chi.

“Ayah saya, Gao Quan-de, dan ibu saya, Li Rui-ying, sudah bergabung dalam misi Tzu Chi sejak saya duduk di bangku SMP. Karena itu, sejak kecil saya telah tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai Tzu Chi. Ayah saya memiliki 10 saudara kandung. Dalam keluarga besar ini, ada 10 keluarga yang turut bergabung dalam Tzu Chi. Jika dihitung bersama kerabat dan teman yang ikut terlibat, jumlahnya mencapai lebih dari 150 orang. Di antaranya, sekitar 54 orang telah dilantik dan tahun ini ada 6 orang yang mengikuti pelatihan,” kata Gao Da-zheng, relawan Tzu Chi.

“Saya sangat berterima kasih kepada Master karena telah menciptakan Dunia Tzu Chi yang penuh dengan kebajikan dan cinta kasih sehingga keindahan dapat menjadi bagian paling alami dari kehidupan sehari-hari,” pungkas Gao Da-zheng.

Saya merasa sangat bersukacita. Yang terpenting ialah mempraktikkan ajaran dan mewariskan cinta kasih. Kita dapat melihat bahwa Tzu Chi adalah satu keluarga besar. Selain menjaga keharmonisan di dalam keluarga masing-masing, kita juga harus menjalin hubungan yang baik dengan saudara se-Dharma. Tzu Chi benar-benar merupakan satu keluarga. Inilah yang paling membahagiakan saya.

Bukankah tujuan Buddha datang ke dunia juga demikian? Beliau memahami bahwa penderitaan di dunia sangatlah banyak. Jadi, Buddha mulai menyebarkan Dharma di berbagai tempat. Banyak orang mendengar, memahami, dan bertekad untuk menyebarkan ajaran-Nya. Dalam Sutra Teratai, Buddha mengajarkan bahwa setiap murid harus mewariskan ajaran kepada 50 orang. Namun, saya sendiri memaknainya sebagai pewarisan 50 generasi.

Saya sangat berharap kalian yang mendengarkan hari ini tak hanya mewariskan ajaran Buddha kepada 50 orang saja, melainkan hingga 50 generasi seperti ini. Bukan hanya 50 orang, melainkan 50 generasi. Jika benar-benar dilakukan seperti ini, seharusnya ajaran Buddha saat ini akan berkembang dengan sangat pesat. Jika ajaran Buddha hanya disebarkan di satu generasi, seiring berjalannya waktu, orang-orang di generasi ini akan terus berkurang.

Namun, jika ajaran diwariskan kepada generasi penerus, ketika orang-orang di generasi ini berkurang, akan bertambah banyak orang di generasi berikutnya. Jadi, gugur satu, tumbuh seribu. Satu berkurang, puluhan ribu bertumbuh. Ketika pewarisan terus dilakukan, ajaran akan berkembang luas. Jadi, setiap orang memiliki tanggung jawab ini.

Sekarang, ketika saya berbicara, tidak lagi semudah dahulu. Kini, keadaan sudah berbeda. Setiap kata harus saya ucapkan dengan mengerahkan tenaga yang besar. Dahulu, saya hampir tidak perlu mengerahkan tenaga. Sekarang, rasanya seperti memikul beban yang sangat berat. Jadi, saya berharap kalian semua dapat membangun tekad dan ikrar untuk mewakili saya memikul bakul beras dunia.

Dahulu, saya sering berkata kepada anggota Tzu Ching, “Setelah lulus kelak, kalian harus membangkitkan hati seorang insan Tzu Chi untuk mewariskan semangat Tzu Chi dan memikul bakul beras dunia.” Dunia ini penuh dengan penderitaan. Hendaknya kita memikul bakul beras agar setiap orang memiliki makanan. Makin banyak jumlah insan Tzu Chi, makin banyak pula keluarga kurang mampu yang kehidupannya menjadi lebih baik.

Selama puluhan tahun ini, apakah Tzu Chi telah membawa pengaruh bagi masyarakat? Apakah Tzu Chi telah membantu masyarakat? (Ya.) Kita harus memiliki keyakinan bahwa Tzu Chi telah membawa banyak bantuan bagi dunia ini.

Lihatlah bagaimana Bapak Lee Shou-chuan membawakan lagu di konser. Setiap kali menghadiri suatu acara, satu lagu yang dinyanyikannya bisa membuat begitu banyak orang menyanyikannya bersama. Saat menyanyikan lagu itu, orang-orang pasti akan teringat dengan Tzu Chi karena lagu tersebut dipelajari bersama di lingkungan Tzu Chi. Begitu menyanyikan lagu itu, mereka akan teringat pada ladang pelatihan itu.

Nyanyian seperti itu sesungguhnya bukan sekadar lagu biasa, melainkan seperti syair Dharma yang mengandung ajaran Buddha. Lagu yang baik akan tersimpan dalam ingatan dan masuk ke dalam kesadaran kedelapan kita. Hingga usia lanjut pun, lagu itu tetap ada dalam ingatan. Meski seiring waktu kenangan menjadi samar, tetapi ketika mendengar seseorang menyanyikannya, mungkin kita akan bernyanyi lebih lantang karena kenangan itu telah terbangkitkan kembali. Jadi, lagu-lagu Tzu Chi juga perlu diwariskan. Hal ini tidak sulit untuk dilakukan.

Di rumah, saat keluarga berkumpul, kakek bisa mengajarkan sebuah lagu kepada cucunya dan nenek bisa mendampingi cucunya bernyanyi. Dengan begitu, suasana Tzu Chi akan hadir kembali di dalam keluarga. Jika setiap keluarga memiliki semangat, nilai-nilai, dan kenangan tentang Tzu Chi, keluarga tersebut pasti akan hidup dalam keharmonisan.

Sesungguhnya, ketika seseorang memiliki semangat Tzu Chi, ia akan mengajak keluarganya untuk bergabung di Tzu Chi. Ketika datang ke Tzu Chi, relawan akan bertutur kata baik dan membelai kepala anak-anak. Begitulah cara relawan Tzu Chi memberikan doa kepada mereka. Anak-anak yang tumbuh di dalam keluarga Tzu Chi umumnya akan lebih patuh. Jadi, hendaknya kalian mewariskan semangat Tzu Chi di dalam keluarga.

Saya sangat bersukacita melihat keluarga Bapak Gao. Begitu banyak anggota keluarganya yang hadir di sini. Inilah yang disebut pendidikan keluarga yang baik. Beliau memberi teladan melalui tindakan nyata. Pada masa lalu, beliau pernah tinggal di Griya Jing Si dan menjalani kehidupan sebagai praktisi. Hendaknya kita menjadi teladan yang baik di dalam keluarga Tzu Chi dengan terus membimbing anak cucu. Inilah yang disebut pendidikan keluarga Tzu Chi. Hendaknya kita membimbing generasi muda dengan baik.

Memikul bakul beras untuk menolong mereka yang menderita

Meneruskan cinta kasih yang penuh kesatuan dan kasih sayang

Menjadi teladan melalui tindakan nyata

Menanam benih Bodhi dan mewariskan silsilah Dharma

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Juni 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 25 Juni 2026