“Saya adalah salah satu narahubung Platform Alat Bantu Ramah Lingkungan Tzu Chi Pingtung. Pingtung adalah sebuah kabupaten pertanian. Saat ada yang membutuhkan alat bantu, sebagian besar akan mengajukan permohonan di platform alat bantu kita. Saat angkanya sedang tinggi, permohonan satu hari bisa mencapai 15 atau rata-rata 450 permohonan per bulan. Tahun ini, saya telah berusia 68 tahun. Saya sangat bersyukur masih memiliki tubuh yang sehat untuk melayani orang-orang,” kata Ding Rong-hui, relawan Tzu Chi.

Tzu Chi bermula dari Taiwan dan kita hendaknya sangat menghargai misi Tzu Chi. Tzu Chi bermula dari sebersit niat yang saya bangkitkan pada 60 tahun lalu. Saat itu, saya merasa bahwa banyak orang yang menderita. Dunia ini sungguh penuh dengan penderitaan. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

“Kami membawa ajaran Master ke lapas dan mengadakan kegiatan bedah buku untuk membangkitkan welas asih para penghuni lapas. Banyak di antara mereka yang telah memahami Empat Misi dan Delapan Jejak Dharma Tzu Chi. Di lapas, mereka tidak memiliki uang. Karena itu, mereka berdonasi dengan prangko. Berkat seruan kebajikan Master, kami dapat menjangkau lapas serta membawa ajaran Tzu Chi dan kebijaksanaan Master ke dalam sana. Kami berharap di masa mendatang, orang baik di dunia ini terus bertambah dan orang jahat terus berkurang,” kata Cai Mei-hui, relawan Tzu Chi.

Di saat seperti ini, kita juga hendaknya bersyukur karena diizinkan untuk menjangkau lapas guna menyebarkan Dharma dan membawa manfaat sehingga para penghuni lapas juga dapat mendengar Dharma. Ada sebagian orang yang akar kebajikannya bertumbuh setelah bertemu penyelamat dalam hidup mereka yang pergi ke lapas untuk menyebarkan Dharma. Ada pula yang memiliki jalinan jodoh dan kesempatan untuk mempelajari buku-buku ajaran kebajikan. Insan Tzu Chi juga sangat bersyukur akan hal ini.

Banyak penghuni lapas yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Hanya saja, kegelapan batin dan kekeliruan sesaat telah menimbulkan penyesalan seumur hidup. Dengan hati dan ikrar Bodhisatwa, para relawan kita menjangkau lapas. Asalkan memiliki jalinan jodoh, para penghuni lapas akan mendengarkan relawan kita dan bersedia berubah. Asalkan memiliki jalinan jodoh, kita pasti bisa membimbing mereka.

Setelah keluar dari lapas, mereka bisa memulai hidup baru. Mereka telah bertobat atas kesalahan masa lalu mereka. Setelah menyesal dan bertobat, mereka dapat dengan cepat menyibak kegelapan batin, menuju arah yang bajik, serta tekun dan bersemangat menapaki Jalan Bodhisatwa. Orang seperti ini sangatlah banyak. Saya berharap setiap orang dapat melepas simpul benci dan dendam di jalan ini. Mari kita melepas simpul benci dan dendam, lalu bertobat.

Pertobatan adalah pemurnian. Jangan mengulangi kesalahan yang sama. Hendaklah kita senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Dalam ajaran Buddha dikatakan bahwa kita harus bertobat setiap hari. Jika pernah melakukan kesalahan, kita hendaknya tak hanya bertobat sekali, melainkan senantiasa bertobat dan meningkatkan kewaspadaan agar tak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

Kita yang tahu tentang kegelapan batin yang diajarkan Buddha hendaknya senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan mempraktikkan kebajikan di tengah masyarakat. Inilah yang diajarkan oleh Buddha. Sebagai murid Buddha yang menerima ajaran Buddha, kita harus menapaki jalan ini. Jadi, dapat menapaki Jalan Bodhisatwa, kita sungguh dipenuhi berkah dan jalinan jodoh baik.

Di era sekarang, Tzu Chi memiliki jalinan jodoh baik. Bodhisatwa sekalian, kalian juga memiliki jalinan jodoh yang sangat mendalam dengan Tzu Chi. Kalian sudah lama bergabung dengan Tzu Chi. Selama ini, kita bukan sekadar mendengar Dharma. Bukan hanya demikian. Kita juga menjalin jodoh baik secara luas. Dengan demikian, secara alami jalinan jodoh baik akan terhimpun sehingga kita dapat membimbing orang banyak. Jadi, menapaki Jalan Bodhisatwa bukan hanya membawa manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi orang lain.

Ajaran Buddha harus dipraktikkan secara nyata. Insan Tzu Chi sudah seharusnya menjalankan Tzu Chi. Ini disebut mempraktikkan Jalan Bodhisatwa. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa inilah yang disebut dengan Bodhisatwa. Akan tetapi, bersumbangsih sebagai Bodhisatwa bukan berarti kita akan terbebas dari penyakit ataupun masalah lainnya. Semua itu bergantung pada sebab dan kondisi dari kehidupan lampau.

Saat kondisi buruk datang menghampiri, apa yang harus kita lakukan? Kita harus segera melatih batin kita. Singkat kata, inilah tujuan kita mempelajari ajaran Buddha. Saat mengalami masalah, kita bersyukur bisa menghadapinya dengan pikiran jernih dan mencegah diri sendiri untuk menambah simpul benci dan dendam. Sebaliknya, kita hendaknya segera melepas simpul itu.

Kita sungguh beruntung telah bergabung di Tzu Chi. Kita telah menapaki Jalan Bodhisatwa bersama para Bodhisatwa lainnya. Kita tidak sendirian. Ada begitu banyak orang yang berjalan bersama kita. Mereka adalah partner Bodhisatwa. Kita membentuk kelompok Bodhisatwa dan bersama-sama menjangkau wilayah yang membutuhkan.

“Hujan deras kali ini mendatangkan curah hujan yang sangat tinggi. Hujan mulai turun pada tanggal 25 malam. Keesokannya, Kantor Perwakilan Tzu Chi Chaozhou sudah terendam banjir. Secara keseluruhan, ada 13 desa di 5 kecamatan yang terkena dampak bencana. Yang bisa dilakukan insan Tzu Chi ialah segera mengunjungi daerah bencana atau rumah yang terendam banjir. Setelah memberikan laporan kepada Master tanggal 26, kami langsung mencurahkan perhatian,” kata Huang Li-xiang, relawan Tzu Chi.

“Pada sore hari itu, saya baru mengajukan permohonan 4.300 bingkisan solidaritas kepada Griya Jing Si. Saya sangat bersyukur keesokannya, yaitu tanggal 27, satu kontainer barang berukuran 40 kaki sudah dikirimkan ke Kantor Perwakilan Tzu Chi Chaozhou. Ini membuat saya merasa bahwa Griya Jing Si adalah sandaran seluruh insan Tzu Chi. Saya sungguh sangat bersyukur. Tanpa insan Tzu Chi di seluruh dunia, kami tidak akan bisa melakukan hal seperti ini,” pungkas Huang Li-xiang.

Saya berharap kita dapat menginspirasi lebih banyak Bodhisatwa dunia. Jika ada banyak orang yang menapaki Jalan Bodhisatwa bersama, secara alami keharmonisan akan terwujud. Jika ada banyak orang yang mempraktikkan kebajikan bersama, akan tercipta energi kebajikan dan berkah.

Bencana juga bisa dihalau jika kita mempraktikkan kebajikan dalam keseharian. Karena itulah, saya sering berkata bahwa kita hendaknya memupuk berkah, bukan sekadar mengikis karma buruk. Memupuk berkah harus dilakukan dalam keseharian. Saat melihat orang lain menderita, jika dapat mengerahkan sedikit tenaga, kita dapat meringankan beban mereka. Ini termasuk menjalin jodoh baik. Inilah yang disebut berbuat baik.

Kita semua tahu bahwa kehidupan tidaklah kekal. Ini adalah hukum alam. Kita hendaknya lebih tulus dan senantiasa bersyukur. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa saya tidak memiliki ajaran yang menakjubkan. Yang saya miliki hanyalah rasa syukur. Saya bersyukur kepada banyak orang, terlebih terhadap kalian.

Saya juga bersyukur kepada kalian. Saat saya membangkitkan ikrar, semua orang merespons dan menjalankannya bersama. Karena itulah, saya bersyukur kepada kalian.

Bertobat dan membersihkan noda batin setelah mendengar Dharma

Melepas simpul benci dan dendam serta menuju arah yang bajik

Para Bodhisatwa bersama-sama menolong orang-orang yang menderita

Membimbing orang yang berjodoh dan mewujudkan keharmonisan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 30 Juni 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 02 Juli 2026