“Saya dilantik menjadi komite Tzu Chi pada tahun 1986. Hingga kini, saya telah menapaki Jalan Bodhisatwa selama 40 tahun. Selama 40 tahun ini, segala yang telah saya lakukan bagi Tzu Chi merupakan bagian kehidupan yang paling bermakna,” kata Kakak Wu Qing-yun, relawan Tzu Chi dengan nomor komite 749.

Bapak Wu telah bergabung di Tzu Chi sejak masih berada di kantor yang lama. Setelah pindah ke tempat ini, beliau tetap mendukung Tzu Chi dengan tulus dan terus mendampingi saya. Setiap kali saya datang ke Taichung, beliau tidak pernah absen sekali pun. Oleh karena itu, saya selalu mengingat beliau. Kini, beliau telah menyelesaikan jalinan jodohnya di kehidupan sekarang. Saya berharap beliau dapat kembali lagi untuk terus menapaki Jalan Bodhisatwa.

Hendaknya kita mendoakan beliau dengan hati yang tulus. Jalinan kasih sayang beliau dengan kita akan selalu ada selamanya. Bagi saya, beliau seakan-akan masih berada di sisi saya dan di tengah-tengah kalian semua. Jadi, selain mendoakan beliau, kita juga harus berdoa agar seluruh umat manusia di dunia senantiasa hidup dalam kedamaian dan memohon agar empat unsur alam bersahabat.

Belakangan ini, perubahan iklim makin ekstrem. Situasi di berbagai belahan dunia membuat saya sangat khawatir. Saya sering mengingatkan semuanya untuk terus memelihara hati yang tulus. Hendaknya kita bersyukur setiap saat dan mendoakan dunia dengan tulus. Lihatlah, kebakaran hutan terus meluas. Lahan yang hangus terbakar membutuhkan puluhan, bahkan ratusan tahun agar pepohonannya dapat tumbuh rimbun kembali.

Bencana memang dapat terjadi dalam sekejap, tetapi pemulihannya membutuhkan waktu ratusan tahun. Jika kita tidak sungguh-sungguh melindungi alam, pepohonan dan sumber daya alam di dunia akan rusak. Ini berkaitan dengan kita semua. Inilah yang disebut karma kolektif manusia. Bencana besar seperti ini, meski terjadi sangat jauh dari tempat kita, tetap akan membawa dampak bagi kita semua. Kebakaran hutan dalam skala besar berkaitan erat dengan kondisi iklim. Makin luas hutan yang terbakar, cuaca akan menjadi makin panas.

Ketika suhu udara terus meningkat, angin dan hujan menjadi tidak menentu. Ketika bencana datang, kekuatannya pun makin besar. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kebakaran yang terjadi jauh di sana tidak ada hubungannya dengan kita. Semua ini berkaitan dengan semua makhluk. Bukan hanya berkaitan dengan Anda dan saya, melainkan dengan semua kehidupan di dunia. Inilah yang disebut dengan energi. Energi akan terus mengalir mengitari seluruh dunia.

Jadi, saya sering mengingatkan semuanya untuk berdoa dengan tulus agar dunia terbebas dari bencana. Apa pun agama yang dianut seseorang, selama berdoa sesuai dengan ajaran kebenaran, doanya pasti membawa manfaat. Apa pun agamanya, yang penting ajarannya benar. Yang patut dikhawatirkan ialah ajaran sesat yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap bencana di dunia.

Ketika bencana besar melanda, meski seseorang telah melakukan kebaikan, ia tetap akan ikut terdampak oleh karma kolektif. Kekuatan kita sebagai individu memang sangat kecil. Yang kita perlukan ialah kekuatan kebajikan dari banyak orang. Dengan begitu, barulah orang-orang di sekitar dan diri sendiri bisa hidup damai. Ketika melihat semua orang berdoa dengan tulus, saya merasa penuh harapan dan makin meneguhkan arah yang tulus.

Bodhisatwa sekalian, saya berharap semuanya senantiasa memiliki hati yang tulus. Seiring berjalannya waktu, kita harus makin giat menyerukan kebajikan. Makin lantang suara yang menyerukan tentang pikiran benar, pandangan benar, pengetahuan benar, dan arah yang benar, makin terasa pula kedamaian di tengah masyarakat. Apa pun yang terjadi, saya tetap ingin memberi tahu kalian bahwa misi Tzu Chi adalah jalan yang benar. Kita harus benar-benar merasa tenang. Yang membuat kita khawatir ialah bencana, tetapi itu berada di luar kendali kita.

Selain memberikan doa, kita juga harus mengingatkan diri sendiri untuk tidak goyah. Hendaknya kita semua berpegang pada keyakinan dengan tulus dan teguh. Cinta kasih tidak pernah membawa dampak buruk. Apa pun agama yang kita anut, kita harus senantiasa membina cinta kasih. Selama cinta kasih itu disertai rasa hormat, cinta kasih tersebut akan tersebar luas. Jadi, kita harus menjaga ketulusan cinta kasih yang ada.

Cinta kasih agung kita mencakup welas asih, kasih, dan rahmat. Jika rahmat diwujudkan secara menyeluruh, itulah cinta kasih agung. Begitu pula jika kasih dan welas asih diwujudkan secara sempurna, itulah cinta kasih agung. Disebut “agung” karena mencakup segala sesuatu. Langit dan bumi itu sangat luas. Seluruh dunia dan alam semesta pun dapat dirangkul dengan cinta kasih itu. Jadi, hendaknya kita mengembangkan cinta kasih agung.

Cinta kasih agung sangatlah penting. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa cinta kasih agung tidak membeda-bedakan agama dan tidak terbatas. Itulah cinta kasih agung. Hendaknya kita sungguh-sungguh mencurahkan perhatian bagi dunia dan semua makhluk.

Bodhisatwa sekalian, saya ingin menyampaikan kepada kalian bahwa tekad saya akan terus ada dari kehidupan ke kehidupan. Saya berharap kalian dapat mendengarkan kata-kata saya. Kita bisa melakukan sesuatu karena kita memiliki tubuh dan kehidupan. Yang terpenting ialah kita harus memiliki pengetahuan benar, pandangan benar, dan pikiran benar. Inilah yang paling penting. Apa pun agama yang kita anut, hendaknya kita memiliki pengetahuan benar, pandangan benar, dan cinta kasih agung. Cinta kasih agung mampu merangkul segala sesuatu. Ini sangatlah penting.

Kembali dengan ikrar dan mempertahankan jalinan kasih sayang hingga selamanya

Menghimpun kebajikan agung dan berdoa bagi ketenteraman serta kesehatan semua makhluk

Menjaga keteguhan hati dalam pengetahuan dan pandangan yang benar

Membawa manfaat bagi semua makhluk dengan cinta kasih tanpa batas

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 07 Juli 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 09 Juli 2026