“Karena kekeringan parah, saya meninggalkan kampung halaman. Kelaparan dan kekeringan memaksa saya datang ke sini bersama anak saya,” kata salah seorang pengungsi, Somalia.
“Saat ini, 1,8 juta anak mengalami malagizi akut. Di antara mereka, lebih dari 480 ribu anak mengalami malagizi akut yang berat. Saat anak-anak mengalami malagizi yang parah, mereka akan jatuh sakit karena imunitas tubuh mereka menjadi sangat lemah. Mereka tak hanya membutuhkan nutrisi, tetapi juga pengobatan darurat,” kata Mohamud Mohamed Hassan, Supervisor Save the Children Somalia.
Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, Buddha keluar dari istana dan melihat penderitaan hidup. Karena itulah, Beliau secara alami mencari jalan untuk melenyapkan keraguan di dalam hati orang-orang. Bagaimana melenyapkan keraguan orang-orang? Bagaimana melenyapkan ketamakan orang-orang? Bagaimana melenyapkan kegelapan batin orang-orang? Bagaimana membebaskan orang-orang dari penderitaan karena lahir dan mati? Semua ini belum bisa dilenyapkan secara tuntas. Penderitaan seperti ini selalu ada hingga kini.
Sungguh, di dunia ini terdapat banyak penderitaan dan bencana. Belakangan ini, banyak bencana yang terjadi di dunia. Jadi, penderitaan pada lebih dari 2.500 tahun yang lalu dan penderitaan masa kini hampir sama. Akan tetapi, penderitaan masa kini makin banyak. Mengapa demikian? Dengan kemajuan teknologi sekarang, suara penderitaan lebih cepat terdengar.
Kehidupan ini tidaklah kekal. “Ketidakkekalan” ini bisa diucapkan dengan enteng, tetapi begitu ketidakkekalan datang, orang-orang akan merasakan penderitaan tak terkira, bahkan meneteskan air mata pun sudah tak sanggup. Penderitaan mereka sungguh tak terkira. Entah apa yang harus saya katakan untuk menolong mereka.

Interaksi Tzu Chi dengan agama lain selalu sangat harmonis. Karena itu, saya sering mengingatkan orang-orang untuk bekerja sama dengan harmonis. Tzu Chi juga bekerja sama dengan organisasi-organisasi dari agama yang berbeda. Saat mereka mengalami kesulitan, kita membantu mereka. Saat kita membutuhkan dukungan, mereka juga membantu tanpa ragu. Jadi, semuanya saling membantu.
Sebagai organisasi keagamaan, kita sama-sama berpegang pada semangat keagamaan. Yang berbeda hanyalah budaya masing-masing. Negara Barat memiliki budaya Barat, negara Timur memiliki budaya Timur, begitu pula dengan negara-negara di Selatan dan Utara. Setiap negara memiliki budaya yang berbeda-beda. Di Tzu Chi, istilah “budaya” ini kita ubah menjadi “budaya humanis”.
Perlu diketahui bahwa kehidupan penuh penderitaan. Orang yang memahami kebenaran hendaknya memiliki rasa empati yang lebih tinggi dan bisa mengerahkan kekuatan yang lebih besar untuk menolong sesama. Jika tidak, orang yang kekurangan dan menderita akan makin kehilangan kekuatan. Setelah menyaksikan penderitaan, kita hendaknya membuka gembok yang mengunci pintu hati kita. Hati kita telah tergembok.
Kita harus membuka pintu hati tanpa membeda-bedakan kaya atau miskin. Kita hendaknya menggalang donasi dari semua orang. Lima puluh sen atau satu dolar pun boleh. Ada orang yang berkata, “Master, mereka sudah begitu kekurangan. Bagaimana Master tega menggalang donasi dari mereka?” Saya berkata, “Nilainya tidak perlu besar, 50 atau 10 sen sudah cukup.” Kita menginspirasi mereka memberikan donasi kecil demi menabur benih-benih kebajikan.

Lihatlah penanaman padi. Pertama-tama, kita menyemai benih padi. Setelah benih-benih itu bertumbuh menjadi semai, kita memisahkannya menjadi masing-masing 3–5 batang untuk dipindahkan ke sawah. Saat memanen padi, setiap kali kita memotong batang padi, ada berapa malai padi di dalamnya? Jadi, satu benih bertumbuh menjadi tak terhingga.
Setiap orang memiliki ladang batin. Hanya saja, kita tidak menggarap ladang batin kita. Ladang batin kita tidak dibajak dan tidak diairi. Selain mengairi, kita juga harus membuat pematang sawah, baru bisa memindahkan bibit padi. Semua ini sudah pernah saya lakukan. Saya juga ingin insan Tzu Chi memahami bagaimana cara bercocok tanam. Dari manakah asal nasi yang kita makan? Dari manakah datangnya biji-bijian?
“Kali ini, kita memindahkan bibit padi ke 10 hektare sawah. Kemudian, juga ada pembajakan musim semi. Ini adalah penanaman padi tahap pertama yang merupakan perkara besar tahun ini,” kata Wu Shao-min, relawan Tzu Chi.
“Akar-akarnya ada di sini. Kami menekannya ke dalam tanah, lalu menutupinya lagi dengan tanah agar bisa bertumbuh. Semua orang bekerja sama dengan harmonis bagaikan satu keluarga. Karena itu, saya sangat suka datang ke sini. Meski harus bekerja keras dan sangat lelah, saya tetap merasa sangat menyenangkan. Kami merasa seperti saudara seperjuangan,” kata Zheng Cai-zu, relawan Tzu Chi.
“Setelah lulus SD, saya sudah tidak bercocok tanam. Pengalaman memindahkan bibit padi ini membuat saya teringat akan masa kecil saya,” kata Chen Jin-mei, relawan Tzu Chi.

Perlu diketahui bahwa setiap kali hendak makan dan memegang mangkuk, kita harus mempraktikkan Lima Perenungan dan menghafalnya dengan baik. Saat hendak makan, kita harus berkata pada keluarga kita, “Ayo, mari kita bersyukur bersama.”
Bersyukur atas apa? Kita bersyukur atas semua makanan di atas meja kita. Bukan hanya beras yang mengandung jasa para petani. Sayuran juga merupakan hasil dari bercocok tanam. Minyak juga berasal dari tanaman, bahkan harus melalui proses ekstraksi. Jadi, bukan hanya beras, semua makanan kita tidak diperoleh dengan mudah. Dalam proses ini, juga ada dukungan mesin.
Tahukah kalian apa yang saya konsumsi saat mulai melatih diri? Saya mengonsumsi dedak padi yang biasanya digunakan sebagai pakan. Saat itu, makan nasi putih sangatlah sulit. Saat melatih diri, yang saya makan ialah dedak padi. Mengonsumsi dedak padi juga tidak mudah. Dedak padi harus ditumis terlebih dahulu, lalu diseduh dengan air untuk diminum. Inilah yang saya alami saat memulai pelatihan diri di Luye. Sungguh, saya telah mengalami semua ini.
Kini, kita tidak perlu mengalami kesulitan seperti itu. Namun, kita tetap perlu mengetahui kesulitan di masa lalu dan memetik pelajaran darinya untuk berbagi dengan orang-orang. Kondisi kehidupan dahulu penuh kesulitan. Kini, kita membahas makanan yang dikonsumsi saat itu bukan karena kita tidak memiliki makanan, melainkan untuk mengenang masa lalu dan mengetahui apa yang dimakan orang-orang dahulu.
Sesungguhnya, dahulu, juga terdapat kemanisan di tengah kepahitan. Hanya saja, orang-orang masa kini mengabaikannya dan tidak menggunakannya, padahal terkandung Dharma di dalamnya. Bagaimana kehidupan orang-orang zaman dahulu, itu juga merupakan Dharma. Jadi, kita harus tahu untuk mengumpulkan Dharma, menggunakan Dharma, dan membagikannya kepada orang-orang.
Membangkitkan ikrar penuh welas asih setelah menyaksikan ketidakkekalan
Memupuk berkah dan pahala dengan menggarap ladang batin
Melatih diri dan mempraktikkan Lima Perenungan saat makan
Membina pikiran bajik dengan kebijaksanaan dan Dharma yang menakjubkan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 06 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 08 Juli 2026