“Setiap tahun, ketika Master melakukan perjalanan untuk menghadiri rangkaian Pemberkahan Akhir Tahun, kami akan kembali ke Griya Jing Si untuk membersihkan selokan. Jalan menuju Griya Jing Si sudah terukir di dalam hati kami sehingga kami tidak takut kehilangan arah untuk pulang ke sana. Tim kami berikrar bahwa pada kehidupan mendatang, kami akan kembali ke Griya Jing Si untuk mengikuti pelatihan jangka pendek. Kami, para murid Master, akan terus meneladan hati Buddha dan tekad Guru. Kami juga akan menunaikan kewajiban untuk membantu pekerjaan di Griya Jing Si,” kata Cai Xi-zhong, relawan Tzu Chi.
“Pada masa-masa awal, Kakak Luo Ming-xian dan Kakak Yang Guan-xin mengajak para relawan Taiwan Tengah kembali ke Griya Jing Si untuk mengikuti pelatihan jangka pendek. Sepuluh tahun yang lalu, saya juga mengikuti pelatihan tersebut dan pulang ke Griya Jing Si untuk membantu pekerjaan di sana. Selama di sana, saya telah melakukan hampir semua jenis pekerjaan, mulai dari membersihkan selokan kecil dan besar, membersihkan aula utama dan dapur, hingga mencabut rumput liar dan memanen kunyit,” kata Chen Wen-xiong, relawan Tzu Chi.
“Kami membersihkan setiap sudut ruangan, baik dalam maupun luar hingga sangat bersih, agar para insan Tzu Chi dari seluruh dunia yang kembali ke kampung halaman batin ini dapat membangkitkan rasa sukacita dan hormat. Di sini, saya berikrar untuk terus melakukan pekerjaan di Griya Jing Si dari kehidupan ke kehidupan. Selama di Griya Jing Si ada kebutuhan, para relawan wilayah tengah akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan,” pungkas Chen Wen-xiong.
Bodhisatwa sekalian, hendaknya kita mengucapkan terima kasih kepada para pelindung Dharma. (Terima kasih.)
Terima kasih karena setiap kali saya kembali, Griya Jing Si selalu bersih dan rapi. Kalian baru mulai bekerja setelah saya berangkat. Jadi, ketika saya pulang, semua terlihat sangat bersih.
Saya benar-benar memahami bahwa kalian mengasihi dan menghormati saya. Kalian telah membersihkan lingkungan Griya Jing Si hingga tampak seperti tanah suci. Kalian semua adalah para pelindung Dharma. Saya sangat berterima kasih.

“Selangkah demi selangkah, kita mempelajari Dharma lewat bercocok tanam. Itulah yang selalu Master ajarkan. Dalam menjalani hidup maupun bekerja, kita harus menyesuaikan dengan musim. Harumnya padi tidak mungkin diperoleh dengan jalan pintas. Semua harus dilakukan selangkah demi selangkah dengan mantap dan mengikuti cara yang diwariskan para pendahulu sesuai dengan pergantian musim. Dengan begitu, Perkebunan Zhixue dapat berkembang menjadi lahan pertanian organik yang alami,” kata Gan Qing-wen, relawan Tzu Chi.
“Pada paruh pertama kehidupan, saya bekerja membangun usaha dan perusahaan bagaikan berjalan di pematang sawah Perkebunan Zhixue. Saya ingin menggenggam kesempatan pada paruh kedua kehidupan ini untuk melangkah di Jalan Bodhi yang lapang,” pungkas Gan Qing-wen.
Inilah bagian dari pelatihan diri yang sangat penting. Ini disebut dengan melatih diri dengan bertani. Meski pekerjaan ini melelahkan, semua orang melakukannya dengan sukarela. Kita melakukan dengan sukarela dan menerima dengan sukacita.
Sesungguhnya, semua orang juga merespons ajakan untuk kembali ke rumah atau ladang pelatihan kita untuk membantu pekerjaan di kebun. Setiap tahun, selalu dibutuhkan banyak orang. Karena itu, dibutuhkan orang untuk membuat perencanaan dan mengolah lahan. Jadi, saya berterima kasih kepada para relawan yang kembali untuk membantu pekerjaan di kebun.
Sesungguhnya, jerih payah di sana adalah bagian dari pelatihan diri. Melalui pengalaman itu, kalian dapat merasakan sendiri betapa beratnya kehidupan para petani. Itulah sebabnya, kita sering mengatakan bahwa sebutir beras berasal dari dua puluh empat tetes keringat. Bahkan, kenyataannya lebih dari itu. Kita harus mengerahkan tenaga dan bekerja di bawah terik matahari hingga bercucuran keringat.
Selain mengerahkan tenaga, kita juga harus memiliki keterampilan serta bisa memahami dan memperhitungkan musim dengan tepat. Semua itu merupakan pengetahuan yang sangat luas. Dengan memadukan keahlian dari berbagai bidang, barulah lahan ini dapat digarap dengan baik dan menghasilkan panen yang melimpah. Semua ini sungguh tidak mudah. Setelah bercocok tanam, barulah kita memahami betapa sulitnya pekerjaan itu.

Sebagai umat Buddha, setiap kali hendak makan, kita harus mempraktikkan Lima Perenungan. Saat kedua tangan beranjali, kita harus merenungkan, “Berkat kerja keras berapa banyak orang, baru saya bisa mendapatkan makanan ini? Apakah diri saya layak untuk mendapatkan makanan ini? Jadikan menjaga pikiran dan menghindari kesalahan seperti ketamakan dan lainnya sebagai prinsip. Pandanglah makanan ini sebagai obat untuk menyembuhkan tubuh yang lemah. Demi pencapaian pelatihan diri, saya menerima makanan ini.”
Ya, ketika makan, hendaknya kita memandang makanan itu sebagai obat yang menyehatkan tubuh. Kita harus menyantap setiap mangkuk nasi dengan penuh rasa hormat karena berkat makanan inilah, tubuh kita memperoleh gizi dan tenaga. Jadi, Lima Perenungan harus terus kita hayati. Sebelum mengangkat sumpit setiap makan, kita harus mempraktikkan Lima Perenungan ini dan menyadari bahwa banyak sebab dan kondisi yang memungkinkan kita untuk makan kenyang. Jadi, hendaknya kita senantiasa bersyukur.
Kehidupan kita tidak pernah terlepas dari jasa para cendekiawan, petani, pekerja, dan pelaku usaha. Mungkin kita sendiri bekerja di bidang perdagangan, tetapi kita tidak mungkin mampu menguasai semua bidang. Yang bisa kita lakukan ialah menekuni salah satunya dengan penuh tanggung jawab dan berterima kasih kepada semua pihak yang memungkinkan kita memiliki semangkuk nasi untuk dimakan, pakaian untuk dikenakan, rumah untuk ditinggali, dan atap untuk berteduh.
Tidak ada satu pun dalam kehidupan ini yang tidak patut kita syukuri. Segala sesuatu layak untuk disyukuri. Saat ini, kita duduk di sini dengan kaki berpijak di atas lantai. Sesungguhnya, lantai ini adalah pelat lantai sebuah bangunan. Membangun gedung bertingkat jauh lebih sulit daripada mendirikan rumah satu lantai. Batu bata, besi beton, dan semen harus dipadukan dengan sangat tepat. Semua ini merupakan hasil jerih payah banyak orang. Jadi, kita harus berterima kasih kepada orang-orang dari berbagai bidang.
Saya menyampaikan semua ini pada kalian dengan harapan para insan Tzu Chi yang juga merupakan umat Buddha dapat senantiasa hidup dalam rasa syukur. Kita dapat hidup nyaman berkat jerih payah begitu banyak orang di dunia. Jadi, kita harus lebih tekun dan bersemangat dalam mempelajari ajaran Buddha, menjalankan misi Tzu Chi, dan membawa manfaat bagi masyarakat. Begitulah seharusnya semua orang saling membantu, saling menyemangati, dan saling berterima kasih. Hendaknya semuanya bersungguh hati.

“Pelaksanaan upacara pemandian rupang Buddha kali ini membuat saya sangat bersyukur. Seluruh relawan dari Nantou bersatu hati dan saling bekerja sama sehingga upacara di ruang terbuka ini dapat berjalan dengan lancar. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar seolah-olah ada Buddha dan Bodhisatwa yang diam-diam memberikan dukungan,” kata Cai Sheng-wu, relawan Tzu Chi.
“Sejak tahap awal perencanaan lokasi, tempat itu sebenarnya hanyalah sebuah lahan kosong di taman yang belum memiliki apa pun. Kami melakukan semuanya dari penataan lokasi, pemasangan saluran air dan listrik, pemasangan penanda, hingga penataan dekorasi altar pemandian rupang Buddha. Setiap relawan bagaikan Bodhisatwa yang mengemban peran berbeda-beda, tetapi semuanya saling terhubung dengan erat,” kata Zeng Li-ling, relawan Tzu Chi.
Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Segala aktivitas Tzu Chi dapat dijalankan karena bantuan kalian. Apa yang ingin saya lakukan, kalian yang bergerak melakukannya. Terutama, dalam setiap peringatan Hari Waisak, begitu banyak orang bersama-sama membentuk formasi yang indah. Jadi, dalam hidup ini, hendaknya kita mengembangkan jiwa kebijaksanaan. Dengan mengembangkan jiwa kebijaksanaan, kita dapat mewujudkan pahala dalam ajaran Buddha. Ini sangat layak untuk dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh semua orang.
Lihatlah, bahkan formasi daun Bodhi itu pun sangat rapi. Apakah kalian hebat? (Ya.) Kehebatan itu milik kita semua. Marilah kita saling memuji, saling berterima kasih, dan saling mendukung pencapaian. Begitulah semangat insan Tzu Chi. Setiap tahun, pemandangan seperti ini disaksikan oleh insan Tzu Chi di seluruh dunia. Di mana pun berada, setiap orang yang melihatnya akan merasa kagum dan benih kebajikan mereka akan bertumbuh. Ini juga termasuk menciptakan pahala. Dengan demikian, kita juga tengah membimbing semua makhluk. Terima kasih.
Menghayati pelatihan diri melalui praktik bertani
Mempraktikkan Lima Perenungan saat makan dengan hati penuh syukur
Saling menyemangati untuk tekun menapaki Jalan Buddha
Mengerahkan potensi bajik demi menyebarkan Dharma
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 05 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 07 Juli 2026