“Pementasan kali ini memiliki banyak tantangan. Daya ingat saya pun sudah menurun sehingga setiap kali pulang ke rumah, saya harus melihat kembali gerakannya dan mendengarkan rekamannya setiap hari. Saya berusaha menutupi kekurangan dengan ketekunan. Saya mendapat bagian di Kelompok B Biru yang posisinya agak di belakang. Namun, gerakannya tetap sama dan penuh tantangan. Kali ini, saya tetap bertekad untuk berpartisipasi,” kata Yang Guan-xin, relawan Tzu Chi.
“Banyak orang berkata, ‘Usia Anda sudah lanjut, pindah saja ke Kelompok C.’ Saya tidak mau. Saya berkata, ‘Saya tetap ingin berada di Kelompok B Biru. Saya masih mampu melakukannya.’ Berapa lama pun harus berdiri dan sesulit apa pun gerakannya, saya akan berusaha mengikutinya,” lanjut Yang Guan-xin.
“Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk tampil bersama begitu banyak orang dan menjalin jodoh dengan semua peserta, bahkan dengan orang-orang di seluruh dunia. Saya benar-benar merasa bahwa ini merupakan kesempatan yang sangat langka. Terima kasih, Master,” pungkas Yang Guan-xin.
“Sesungguhnya, sebagian besar anggota Kelompok C adalah lansia. Peringatan 60 tahun Tzu Chi hanya terjadi sekali. Jadi, semua orang menggenggam jalinan jodoh untuk dapat ikut tampil kali ini,” kata Xie Jin-feng, relawan Tzu Chi.
Saya merasa sangat bersyukur karena kita memiliki jalinan jodoh. Saya juga bersyukur karena selama puluhan tahun ini, setiap kali jalinan jodoh datang, kita selalu mampu menggenggamnya dengan baik.
Melalui pementasan yang tertata begitu rapi, keindahan itu dapat disiarkan ke seluruh dunia. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan berkata, “Indah sekali.” Meski tidak ada yang mengetahui siapa saja yang berada di atas panggung, semua orang dapat merasakan keindahan seluruh pemandangan itu dan ikut bersukacita. Dengan begitu, kita telah menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur. Tzu Chi dapat berkembang hingga hari ini berkat kalian semua yang terus mendampingi saya selama puluhan tahun.

Setiap kali datang ke Taichung, saya selalu teringat dengan Gempa 921. Saat itu, kalian semua menjadi kekuatan utama. Di mana pun dibutuhkan, kalian segera memberikan dukungan dan bantuan. Saya merasa bahwa semua ini berawal dari jalinan jodoh yang tumbuh dari dalam. Ibarat sebutir pasir yang jatuh ke dalam air, akan muncul riak yang menyebar ke segala arah. Awalnya hanya satu lingkaran kecil, kemudian meluas menjadi lingkaran kedua, ketiga, keempat, dan terus menyebar tanpa henti. Jadi, saya merasa sangat bersyukur karena Tzu Chi sangat dipenuhi berkah.
Berkat adanya jalinan jodoh, kita dapat bergabung di lingkaran yang penuh berkah ini. Selain itu, dapat berjumpa dengan ajaran Buddha merupakan sesuatu yang sulit. Jika kita sering memperdengarkan lantunan Dharma kepada para tetangga di sekitar hingga dapat didengar oleh seluruh wilayah, itu merupakan sebuah pahala. Buddha berkata, “Ketika mendengar suara Dharma, hati akan terbuka dan dapat memahami maknanya.” Dengan begitu, kebijaksanaan pun akan tersebar.
Saat kita mendengar Dharma, hati akan dipenuhi sukacita. Inilah yang disebut dengan hati yang terbuka. Selanjutnya, ketika kita mendalaminya, itu disebut dengan memahami maknanya. Ketika hati dapat menerima dan pikiran dapat menghayati isi Sutra, inilah yang disebut Dharma menyerap ke dalam hati. Benih-benih Dharma pun akan masuk ke dalam ingatan kita dan meresap ke dalam berbagai lapisan kesadaran hingga ke kesadaran keenam.
Saat ini, kalian semua duduk di sini dan mendengarkan saya berbicara. Saya berbicara dalam dialek Taiwan. Selama kalian memahami dialek Taiwan, tentu kalian dapat mengerti apa yang saya sampaikan. Namun, itu baru satu tahap. Meski kalian sudah mendengarkannya, apakah kalian memahaminya? Jika sudah memahaminya, apakah ajaran itu masuk ke dalam ingatan kalian?

Dalam ajaran Buddha dikenal adanya kesadaran kedelapan. Segala sesuatu tidak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Kesadaran yang menyimpan benih-benih karma ini adalah kesadaran kedelapan dan itu sangat penting. Jika hal-hal buruk tersimpan di dalam kesadaran kedelapan, setiap pikiran dan tindakan yang kita lakukan hanya akan menguntungkan diri sendiri tanpa memberi manfaat bagi orang lain.
Sebaliknya, jika pada kesadaran kedelapan itu kita menyadari bahwa yang seharusnya kita lakukan ialah membawa manfaat dan bukan hanya mengejar kepentingan pribadi, kita harus menyelam ke dalam kesadaran kesembilan, yaitu kebajikan yang merupakan hakikat sejati manusia. Buddha berkata bahwa semua makhluk memiliki hakikat kebijaksanaan Tathagata. Hakikat kebijaksanaan Tathagata itulah kebijaksanaan sejati yang dimiliki setiap orang sejak semula.
Jika tidak demikian, kita hanya berhenti pada kesadaran biasa dan hanya berkata, “Saya tahu dan mengerti.” Semua orang bisa mengatakan bahwa mereka tahu dan memahami arah yang benar, tetapi yang terpenting ialah mampu menyingkirkan hal-hal yang keliru dan terus melakukan hal yang benar dengan tekun. Inilah yang disebut tekun dan bersemangat dalam mempelajari ajaran Buddha. Inilah yang disebut orang yang benar-benar bijaksana.
Sutra Teratai juga menyebutkan tentang orang yang memiliki kebijaksanaan sejati. Jika kita dapat sungguh-sungguh mempelajari ajaran Buddha, itulah arah yang benar dalam meneladan Buddha. Kita semua telah memiliki jalinan jodoh dan memiliki tekad untuk belajar.
“Para relawan senior adalah orang-orang yang paling lama mengikuti Master. Jadi, kali ini justru Kelompok C yang memegang peran sangat penting dalam menyampaikan inti sari Dharma. Jika Kelompok A dan B harus menghafalkan bagian-bagian Sutra tertentu, Kelompok C harus menghafalkan semuanya. Nantinya, mereka akan duduk sehingga lebih mudah,” kata Lü Ci Yue, relawan Tzu Chi.
Kalian mampu mengingat isi Sutra itu adalah hal yang tidak mudah. Kalian benar-benar telah menghafalnya hingga meresap ke dalam hati. Itu sungguh tidak mudah. Teruslah menghafal. Belajar akan membawa kita pada kesadaran. Dengan belajar, barulah kita bisa tersadarkan.

Kita sangat dipenuhi berkah karena memiliki jalinan jodoh. Saudara sekalian, usia kita memang sudah lanjut, tetapi jangan menganggap diri sudah tua. Begitu merasa diri sudah tua, kita akan berpikir, “Saya sudah sering mendengar ajaran Buddha.” Padahal, jika hanya mendengar tanpa mempraktikkannya dan tidak menyimpannya dalam ingatan, semuanya akan menjadi samar.
Ajaran itu tidak lagi tersimpan dengan jelas di dalam benak kita. Yang tersisa hanyalah kenangan bahwa dahulu kita pernah belajar, pernah mendengar, dan pernah bersungguh hati. Semuanya terasa seperti telah berlalu. Jangan biarkan hal itu berlalu begitu saja.
Dalam kehidupan ini, kesadaran itu harus terus hidup. Dalam kehidupan mendatang, kesadaran itu pun harus tetap tersimpan dalam hati kita. Jadi, jangan pernah melupakan ajaran Buddha. Jangan berkata, “Saya sudah tua.” Saya ingin terus mengingatkan kalian bahwa ajaran Buddha tidak pernah menjadi tua. Jangan pernah berpikir, “Saya sudah menjadi relawan senior. Biarlah generasi muda yang bekerja sekarang.”
Selama masih ada yang membutuhkan kita, bergabunglah. Jika ada kesempatan berbagi dengan orang lain, katakanlah, “Saya punya waktu. Apakah masih ada satu kursi kosong?” Pergilah berinteraksi dan sebarkanlah ajaran Buddha. Ketika bisa melakukan itu, kita akan merasa sukacita. Inilah yang disebut dengan sukacita Dharma. Hendaknya semuanya bisa merasakan ini. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik. Terima kasih.
Saya berharap kalian selalu mengingat hal ini dan memahaminya. Ketika kita terus membagikannya kepada orang lain, barulah kita disebut mengerti. Jika kita tidak pernah berbagi, sama saja seperti menutup diri. Hendaknya kita membuka pintu hati untuk terus menyebarkan Dharma dan membawa manfaat. Hanya dengan membuka hati, barulah ajaran Buddha dapat menjangkau banyak orang.
Membangkitkan riak keindahan dan kebajikan
Memiliki hati yang terbuka dan pemahaman di dalam kesadaran
Tekun dan bersemangat untuk belajar dan sadar
Membangun keyakinan, ikrar, dan praktik untuk menyebarkan Dharma dan membawa manfaat
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 04 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 06 Juli 2026