“Nenek membesarkan saya dan adik perempuan saya sejak kecil. Pada saat itu, relawan Tzu Chi mulai datang mencurahkan perhatian kepada kami. Ada seorang bibi yang begitu lembut dan anggun, yaitu Bibi Qiu Hua-zhen. Beliau datang ke rumah dan terus mendampingi kami sehingga masa kecil kami menjadi jauh lebih hangat,” kata Lin Yue-xue, Perawat ICU penyakit dalam.

“Beliau mengetahui bahwa nenek saya tidak mengenal huruf dan harus mengandalkan barang daur ulang untuk membesarkan kami. Kondisi tempat tinggal kami relatif kurang layak dan cukup berantakan. Kemudian, beliau membuka kelas bimbingan belajar di Kantor Perwakilan Tzu Chi Dingxi, Yonghe sehingga kami memiliki tempat yang lebih terang untuk belajar,” lanjut Lin Yue-xue.

“Program beasiswa juga mendorong kami untuk belajar dengan lebih giat. Berkat begitu banyak orang baik yang selalu membantu kami, saya dan adik saya dapat tumbuh dengan baik tanpa menempuh jalan yang salah. Kini, kami pun perlahan dapat bertumbuh dan turut membantu orang lain,” pungkas Lin Yue-xue.

Sejak awal, Tzu Chi bergerak untuk bersumbangsih bagi masyarakat. Orang-orang dari berbagai bidang profesi pun turut berkontribusi. Terutama, ketika mendengar program beasiswa Xinya, saya selalu merasa penuh harapan. “Xinya” (tunas baru) melambangkan ditemukannya insan-insan berbakat yang akan menjadi harapan bagi masa depan. Jadi, saya sangat bersyukur atas adanya program ini.

Tentu saja, mereka masih membutuhkan bimbingan dari kita. Mereka adalah generasi penerus. Meski mereka masih muda, kita sudah dapat melihat kemampuan mereka dan hati mereka yang tulus. Saat ini, anak-anak muda memahami arah perkembangan masyarakat dan memiliki cita-cita yang berbeda. Namun, semua cita-cita itu merupakan talenta yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Memikirkan hal ini benar-benar membuat saya merasa bahagia.

Empat Misi Tzu Chi diawali dengan misi amal yang dijalankan demi dunia. Di negara mana pun, kesenjangan antara kaya dan miskin tidak dapat dihindari. Jadi, misi amal menjadi poros utama Tzu Chi untuk membantu mereka yang hidup dalam penderitaan. Selain itu, kita juga menemukan adanya banyak lansia yang menjadi masalah utama dalam masyarakat.

Sesungguhnya, saya sendiri tidak ingin mengatakan bahwa lansia adalah sebuah masalah. Namun, kenyataannya saat ini, persoalan tersebut memang makin serius, terutama karena makin banyaknya lansia yang hidup sebatang kara. Mereka adalah orang-orang yang dahulu telah bekerja keras membangun masyarakat. Jika bukan karena generasi lansia ini, tentu masyarakat tidak dapat berkembang seperti sekarang. Ketika mereka memasuki usia senja, kita perlu memikirkan bagaimana mendampingi mereka.

Sering kali, mereka bukan sedang menderita penyakit fisik, tetapi mengalami kesepian karena renggangnya hubungan atau karena tinggal berjauhan dengan keluarga Keadaan seperti ini makin lama makin sering terjadi. Di setiap RS Tzu Chi, pelayanan medis selalu dilandasi oleh cinta kasih. Kita mencurahkan perhatian khusus kepada para lansia yang hidup sebatang kara. Kasus-kasus seperti ini akan dilaporkan kepada relawan Tzu Chi agar mereka segera bergerak memberikan pendampingan. Ini membutuhkan kerja sama antarbadan misi.

Saya merasa sangat bersyukur mendengar bagaimana para dokter dan perawat memberikan perhatian dan perawatan seperti itu. Tidak peduli apakah pasien itu keluarga kita atau bukan, apakah kita mengenalnya atau tidak, atau apakah ia kaya atau miskin, sistem pelayanan medis Tzu Chi selalu memberikan cinta kasih yang sama kepada setiap orang tanpa membeda-bedakan. Jadi, saya sangat bersyukur.

Saat ini, persoalan lansia sangat banyak. Saya berharap para dokter dan perawat dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kehidupan para lansia yang hidup sebatang kara. Cobalah mengumpulkan lebih banyak kasus seperti ini agar kita dapat memikirkan langkah-langkah yang dapat dilakukan.

“Bidang yang saya tekuni ialah pelayanan kesehatan lansia di rumah dan kedokteran geriatri. Pengobatan terbaik ialah mencegah penyakit sebelum muncul. Jadi, kami memberikan pelayanan kepada semua kelompok usia. Untuk generasi muda, kami memberikan edukasi mengenai berhenti merokok; bagi usia paruh baya, kami mendorong penerapan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami juga terus mempromosikan pengobatan tradisional Tiongkok agar konsep mencegah lebih baik daripada mengobati dapat makin tersebar di dunia,” kata Dokter Wang Yu-fang, Dokter Departemen Pengobatan Tradisional Tiongkok.

“Saya ingin berbagi tentang salah satu kasus pasien yang kami dampingi di rumah. Beliau adalah seorang kakek yang berulang kali dirawat di rumah sakit dan memiliki riwayat strok sehingga harus terbaring di tempat tidur dalam waktu yang lama. Tim pengobatan tradisional Tiongkok rutin datang ke rumahnya untuk memberikan perawatan. Berhubung beliau terus berbaring, kami menganjurkan keluarganya agar lebih sering mengajak beliau keluar rumah, berjalan-jalan, dan berjemur di bawah sinar matahari supaya kondisi mentalnya menjadi lebih baik,” lanjut Dokter Wang Yu-fang.

“Pada akhirnya, penyakit beliau memang telah memasuki tahap akhir. Kami menyadari bahwa pengobatan tidak lagi dapat mengubah perjalanan penyakitnya. Jadi, fokus kami ialah membantu beliau menjalani setiap harinya dengan penuh makna,” pungkas Dokter Wang Yu-fang.

Saya merasa sangat bersukacita dan bersyukur. Mendengar pengalaman para dokter muda ataupun dokter yang lebih senior seperti ini sungguh menyentuh hati saya. Pelayanan medis yang kita jalankan bukanlah demi mencari keuntungan. Kita benar-benar terjun ke tengah masyarakat dengan tekad untuk melindungi kehidupan dan kesehatan dengan cinta kasih.

Mendengar hal ini membuat saya merasa sangat hangat. Apa yang kita dengarkan hari ini bukanlah laporan mengenai keuntungan dokter. Yang kita dengar ialah semangat untuk menghargai kehidupan dan melindungi kehidupan. Semuanya mengembangkan keahlian profesional untuk melindungi kehidupan. Saya merasa sangat terhibur. Inilah nilai sejati pelayanan medis. Di sana pulalah letak nilai kehidupan manusia.

“Pasien yang saya tangani adalah seorang pria berusia 34 tahun. Pada awal bulan Maret di tahun ini, saat berada di instalasi gawat darurat, ia tiba-tiba mengalami henti jantung. Setelah menjalani CPR selama 14 menit, akhirnya sirkulasi darahnya kembali pulih. Akibat henti jantung tersebut, ia juga mengalami gagal napas, infark otak multipel, serta cedera ginjal akut. Ia kemudian dirawat di ICU dan tim pengobatan tradisional Tiongkok ikut menangani,” kata Dokter Wei Meng-jun, Dokter Departemen Pengobatan Tradisional Tiongkok.

“Pada awal perawatan di ICU, pasien sama sekali tidak memberikan respons. Tidak hanya ketika dipanggil, bahkan saat menjalani terapi akupunktur pun ia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Setelah satu minggu terapi pengobatan tradisional Tiongkok, meski kesadarannya belum pulih sepenuhnya, ia mulai menunjukkan respons terhadap rasa nyeri. Saat menjalani akupunktur, ia mulai mengerutkan dahi dan menggerakkan kepala,” lanjut Dokter Wei Meng-jun.

“Menjelang akhir bulan Maret, mulai tampak perkembangan yang berbeda. Ia mulai menunjukkan gerakan spontan, kaki kirinya dapat bergerak dengan leluasa, bahkan mampu mengangkat kaki melewati pembatas tempat tidur. Selanjutnya, kondisi pemulihannya berjalan dengan baik. Sebelum keluar dari rumah sakit, ia sudah mampu berdiri sambil berpegangan pada sisi tempat tidur dan mulai berjalan. Saat ini, ia sudah dapat melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana secara mandiri,” pungkas Dokter Wei Meng-jun.

Setelah mendengar berbagai laporan dari badan misi kesehatan kita, saya merasa bahwa dokter pengobatan tradisional Tiongkok terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Mereka tidak hanya mempertahankan cara-cara lama dalam pengobatan tradisional, tetapi juga terus mengembangkan pendekatan baru yang memanfaatkan teknologi modern. Dengan memadukan yang lama dan baru, pengobatan tradisional Tiongkok dapat terus dijaga dengan baik.

Masih ada banyak hal yang perlu dipelajari, diteliti, dan terus kita tingkatkan. Pada masa lampau, ketika pengobatan Barat belum ada, pengobatan tradisional Tiongkok telah menyelamatkan banyak nyawa dan melindungi kehidupan. Kini, dengan hadirnya pengobatan Barat, keduanya dapat berjalan berdampingan.

Sejak awal saya bertekad membangun rumah sakit, saya berharap pengobatan tradisional Tiongkok dapat terus dikembangkan dan dilestarikan. Tentu, kemajuan teknologi medis modern juga harus didorong agar dapat membawa manfaat bagi masyarakat. Jadi, memadukan kedua pengobatan ini merupakan arah yang harus kita tempuh bersama. Badan misi kesehatan Tzu Chi akan terus mengembangkan kedua bidang tersebut secara seimbang dan saling melengkapi.

Membangun tekad dan ikrar untuk melindungi kehidupan

Tim medis memberikan kehangatan dan membina tunas baru

Meneruskan semangat dalam mewariskan ilmu pengobatan

Mengerahkan potensi bajik dalam menjalankan pengobatan tradisional Tiongkok dan Barat

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 12 Juli 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 14 Juli 2026