“Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, saya harus menjalani cuci darah setelah melahirkan. Saat itu, saya sungguh tidak bisa menerimanya. Saya tidak rela dan terus bertanya-tanya mengapa harus saya. Namun, akhir tahun lalu, saat dokter memberi tahu saya bahwa tumbuh tumor di hati saya, suasana hati saya sama sekali tidak terpengaruh. Jadi, saya mendapati bahwa Dharma memberi saya kekuatan yang sangat besar,” kata Zhang Shu-hui, relawan Tzu Chi.

“Dengan ajaran Master sebagai sandaran, saya tak gentar menghadapi penderitaan penyakit. Saat menjalani cuci darah, saya tetap menjalankan tugas. Pagi hari, saya pergi ke perpustakaan sekolah, berbagi Kata Renungan Jing Si sebagai Daai Mama, dan mempromosikan pelestarian lingkungan di SMP. Asalkan kondisi fisik dan waktu saya mendukung, saya pasti akan pergi bersumbangsih,” lanjut Zhang Shu-hui.

“Saya sangat bersyukur kepada Master. Berkat ajaran Master, saat menghadapi ketidakkekalan, saya bisa menerimanya dengan lebih tenang. Tentu saja, saya juga pernah merasa putus asa. Namun, saya selalu teringat akan ajaran Master sehingga bisa mengatasi semua rintangan,” pungkas Zhang Shu-hui.

Bodhisatwa sekalian, kita mungkin pernah berpikir, “Mengapa harus saya?” Sebagaimana benih yang ditabur, demikianlah buah yang dituai. Setiap orang hendaknya memahami tentang benih sebab, kondisi, buah, dan akibat. Dalam ajaran Buddha, inilah jawabannya.

Saat ini, kita tengah menuai buah dari benih masa lalu dan giat menabur benih kebajikan untuk masa mendatang. Jika ingin menuai buah yang baik, kita harus tekun bersumbangsih sekarang. Mentransformasi kesesatan menjadi kesadaran, inilah yang terpenting.

Penderitaan yang kita alami sekarang berasal dari benih yang kita tabur di masa lalu. Kita hendaknya melakukan dengan sukarela dan menerima dengan sukacita. Jika bisa menerima dengan sukacita, kita pasti akan kembali melakukan dengan sukarela. Jadi, kita harus menerima segala kondisi dengan sukacita dan bersungguh hati bersumbangsih untuk masa mendatang.

Mari kita lebih bekerja keras dan senantiasa mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Sungguh, kita harus mengakumulasi kebajikan untuk masa mendatang. Kita harus yakin akan hal ini. Dalam hidup ini, berkeluh kesah tidak ada gunanya. Hadapilah dengan sukarela dan kita akan merasa lebih lega. Intinya, kita harus benar-benar memahami kebenaran. Jika tidak memahami kebenaran, kita hanya akan mengejar kenikmatan tanpa berpikir untuk bersumbangsih.

Beras dalam tempayan juga akan habis seiring waktu. Beras itu tidak akan selalu ada setiap kali kita membuka tutup tempayan. Jika kita tidak mengisikan beras ke dalamnya, tempayan itu akan kosong suatu hari nanti. Jadi, kita harus melakukan dengan sukarela, menerima dengan sukacita. Kita harus benar-benar bersumbangsih, baru bisa mengakumulasi berkah.

Kehidupan penuh dengan ketidakkekalan dan ketidakkekalan ini pasti akan berlalu. Kita akan menuai berkah yang kita ciptakan sendiri. Dengan bersumbangsih, kita secara alami akan bertemu dengan penyelamat dalam hidup kita. Kita harus bersungguh hati memahami kebenaran, menjaga arah kita, dan melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Dengan berpegang teguh pada arah yang benar, kita tidak akan menyimpang.

Waktu terus berlalu tanpa henti. Kita hendaknya senantiasa mengingatkan diri sendiri untuk waspada terhadap setiap ucapan, perbuatan, dan langkah kita. Kita harus waspada dalam segala hal. Dalam hidup ini memang terdapat penderitaan dan kebahagiaan. Jika ingin memperoleh kebahagiaan, kita harus bersumbangsih dengan mempraktikkan ajaran Buddha. Dengan demikian, kita bisa dengan mudah mentransformasi penderitaan menjadi kebahagiaan. Jadi, kita harus tahu untuk memanfaatkan ajaran Buddha.

Kehidupan memang penuh dengan penderitaan. Tanpa karma yang membawa penderitaan, kita tidak akan terlahir di alam manusia. Kita harus memanfaatkan kehidupan yang terdapat penderitaan dan kebahagiaan ini. Jika menciptakan berkah di dunia, kita tentu akan dipenuhi berkah. Namun, jika kita enggan menerima buah dari karma buruk masa lalu, kita akan makin menderita. Karena itu, kita harus sangat waspada.

Ada orang yang berkata, “Saya telah berubah. Mengapa saya masih begitu menderita?” Ini karena mereka belum berintrospeksi dan bersumbangsih dengan sukarela. Jadi, janganlah kita mengeluh, “Saya telah bersumbangsih. Mengapa saya masih begitu menderita?” Berhubung enggan menerima buah dari karma buruk masa lalu, keluh kesah itu tetap ada. keluh kesah itu tetap ada. Jika kita bersedia menerimanya dan terus bersumbangsih tanpa pamrih, penderitaan itu secara alami akan berlalu. Jadi, kita harus memahami kebenaran hukum sebab akibat.

“Kami merasa sangat beruntung dan bersyukur penyakit kami dapat diketahui saat kondisi kesehatan kami masih termasuk baik dan menjalani operasi setelah itu. Hari ini, suami saya datang secara khusus untuk berterima kasih kepada Master. Berhubung telah bergabung dengan Tzu Chi, menghirup keharuman Dharma setiap hari, dan memperoleh manfaat dari Dharma, kami mengerti bahwa inilah ketidakkekalan,” kata Zheng Mei-zhu, relawan Tzu Chi.

“Kami juga sangat bersyukur atas ketidakkekalan yang menyatukan hati seluruh keluarga kami. Karena ketidakkekalan ini juga, para saudara se-Dharma makin aktif mengemban tanggung jawab. Terhadap Tzu Chi, yang ada hanyalah rasa syukur. Kami tak pernah menyesal bergabung dengan Tzu Chi,” pungkas Zheng Mei-zhu.

Hubungan darah hanya bertahan satu kehidupan, sedangkan hubungan saudara se-Dharma bertahan dari kehidupan ke kehidupan. Kita memiliki jalinan jodoh untuk saling menjaga, bersama-sama menapaki jalan yang baik dan mengucapkan kata-kata yang baik, serta memperhatikan satu sama lain. Inilah Jalan Bodhisatwa yang sesungguhnya. Jika bukan Bodhisatwa, kita tidak akan berhimpun di sini sekarang. Jadi, kita harus mengasihi satu sama lain.

Hari ini, saat berkunjung ke Aula Jing Si Zhongzheng, saya melihat banyak relawan muda. Di sana, saya juga melihat para relawan seumur kalian yang memperhatikan orang-orang di sekeliling mereka dengan kasih sayang ibu. Saya sungguh merasa bagai menghadiri persamuhan Dharma di Puncak Burung Nasar.

Saat saya berkunjung ke sana tadi pagi, Master Ming Guang juga pergi bersama saya. Melihat ke bawah dari lantai atas, seluruh Puncak Burung Nasar terlihat jelas. Layarnya sangat besar dan gambarnya terlihat sangat nyata. Saat berdiri di lantai atas dan melihat ke bawah, Puncak Burung Nasar terlihat terus mendekat. Saya merasa bahwa para insan Tzu Chi bagaikan bersama-sama menghadiri persamuhan Dharma di Puncak Burung Nasar untuk mendengar Buddha membabarkan Dharma.

Saya ingin mengingatkan kalian bahwa Sutra Makna Tanpa Batas bisa dibaca kapan pun meski hanya satu kalimat atau satu syair. Dalam Sutra dikatakan bahwa jika hati kita tulus, setiap kalimat dan syair dapat membimbing kita ke Jalan Bodhi. Sutra ini dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sutra ini mengajarkan bagaimana bertutur kata, bagaimana berjalan, dan bagaimana melakukan segala sesuatu. Sutra ini mengandung ajaran yang berkaitan dengan jiwa dan raga kita.

Asalkan bersungguh hati dan tekun mempelajarinya, kalian pasti akan memahaminya. Berapa banyak yang dipelajari setiap hari bukanlah masalah. Satu atau dua kalimat pun boleh. Setiap kalimat dan syair membimbing kita mencapai Bodhi.

Menghadapi segala kondisi dengan sukarela dan menerima dengan sukacita

Mentransformasi kesesatan menjadi kesadaran dan tekun bersumbangsih

Sutra Makna Tanpa Batas mengajarkan arah yang benar

Berhimpun di Puncak Burung Nasar dan mencapai Bodhi

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 15 Juli 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 17 Juli 2026