Pada tanggal 15 dan 1 Imlek setiap bulannya, saat pagi-pagi berjalan ke luar, saya selalu merasa bahwa lingkungan sekitar dan suara yang terdengar sangatlah indah. Terlebih saat subuh, ketika duduk tenang di dalam, saya bahkan bisa mendengar bunyi napas bumi. Bumi juga bernapas. Selain itu, jauh di bawah tanah, terdapat bunyi yang sulit untuk dideskripsikan. Ini tidak bisa disebut sebagai bunyi napas bumi saja.
Bumi memang bernapas, bumi juga memiliki energi. Ada energi langit, energi bumi, dan energi manusia. Udara dan segala sesuatu di sekeliling kita, semuanya sangat hidup dan penuh vitalitas. Justru karena bumi dan langit penuh vitalitas, kita bisa melihat tumbuhan, seperti rumput dan pohon, yang bertumbuh subur. Jika tidak dicabut, rumput itu akan tumbuh besar dalam waktu beberapa hari.
Para relawan kita yang penuh dedikasi selalu kembali ke Griya Jing Si secara berkala untuk memotong ranting dan rumput. Saat waktunya tiba, mereka akan kembali dan mengerjakan semuanya hingga sangat bersih dan rapi. Mereka juga merapikan pohon-pohon hingga memiliki berbagai bentuk dan membuat orang merasa damai dan sukacita melihatnya.

Saat melihat pemandangan yang indah, saya selalu menarik napas dalam-dalam dan membangkitkan rasa syukur dengan tulus. Segala sesuatu di lingkungan sekitar saya membuat saya dipenuhi rasa syukur. Saat memandang sekeliling kita, ada banyak benda yang bahkan kita tidak tahu namanya. Ini menunjukkan bahwa kita belum memahami semua kebenaran di dunia secara menyeluruh.
Buddha datang ke dunia dan telah sepenuhnya memahami kebenaran tentang seluruh alam semesta. Namun, berapa banyak yang saya pahami? Saat bertanya pada diri sendiri, saya merasa malu. Memahami dan mempraktikkannya sungguh sangat sulit. Buddha membabarkan Dharma di dunia dengan harapan semua orang dapat mendengar Dharma, menyerapnya ke dalam hati, dan memahaminya secara menyeluruh. Ini sungguh tidak mudah. Memahami apa yang bisa kita lihat dan sentuh saja sudah sangat sulit.
Semua orang tahu tentang bencana yang melanda Nepal pada bulan Agustus. Kita bisa melihat besarnya dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam dalam sekejap. Bagaimana para korban bencana dapat mengungkapkan penderitaan mereka? Semuanya terjadi begitu cepat. Bagaimana saya mendeskripsikan penderitaan itu? Karena itulah, belakangan ini, saya sering berkata bahwa sulit untuk dideskripsikan. Sangat sulit untuk mendeskripsikannya dengan kata-kata.

Saudara sekalian, mari kita membangkitkan ketulusan terdalam. Gunakanlah hati yang tulus dalam memberikan penghormatan kepada para Buddha dan Bodhisatwa. Semoga para Buddha, Bodhisatwa, dan makhluk pelindung Dharma dapat melindungi umat manusia dengan welas asih. Kita juga harus segera berikrar. Janganlah kita menciptakan karma buruk lagi.
Kita hendaknya segera berikrar dan bertobat atas kesalahan masa lalu kita. Atas ketidakselarasan pikiran kita semenit yang lalu, kita juga harus segera bertobat. Adakah kita menyinggung orang lain di masa lalu? Adakah kita melakukan kesalahan di masa lalu? Kita hendaknya senantiasa berintrospeksi. Renungkanlah apa yang telah kita lakukan. Jika ada, kita harus segera berintrospeksi. Pernahkah kita terlibat konflik ataupun adu mulut dengan orang lain?
Mulai hari ini, mari kita renungkan baik-baik. Jika kita pernah beradu mulut dengan orang lain, saat melihatnya, kita hendaknya segera meminta maaf padanya atas apa yang kita katakan sebelumnya. Kita harus segera bertobat atas kesalahan masa lalu kita dan saling meminta maaf. Ini disebut mengurai dendam dan membuka simpul. Janganlah kita membuat simpul baru lagi.

Kita hendaknya segera bertobat untuk menghalau bencana. Dengan demikian, barulah bencana alam bisa berkurang dan bumi bisa damai dan tenteram. Bumi dan segala isinya pun dapat bernapas dengan lancar. Saat bernapas, mereka dapat menghirup udara yang segar serta menyerap energi bumi, embun pada malam hari, dan sinar matahari pada siang hari. Dengan demikian, siklus bumi pun bisa berjalan dengan lancar. Untuk itu, mari kita menjaga keharmonisan antarmanusia dengan memulainya dari diri sendiri.
Kita hendaknya senantiasa mengingatkan diri sendiri untuk menjaga keharmonisan antarmanusia. Jika ingin dikasihi orang lain, kita harus terlebih dahulu mengasihi orang lain. Yang saya sampaikan pada kalian ialah kebenaran sejati. Inilah ajaran yang selalu saya praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, harap kalian dapat mengingat ajaran yang saya sampaikan pada kalian. Inilah kebenaran sejati di dunia. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)
Mari kita mengurai dendam, membuka simpul, menjalin jodoh baik dengan orang-orang, dan mendoakan satu sama lain. Apakah kalian mengerti kata-kata saya? (Mengerti.) Bisakah kalian menjalankannya? (Bisa.) Selamat. Mulai hari ini, kita harus menyucikan hati diri sendiri. Kita harus terus melakukannya setiap detik dan menit di masa mendatang. Inilah yang disebut pelatihan diri agung.
Kondisi batin yang hening dan jernih mendatangkan sukacita
Bertobat dengan tulus dan membangkitkan welas asih
Mengurai dendam dan membuka simpul untuk menjaga ketenteraman
Menyucikan hati diri sendiri dan menjalin jodoh baik
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 30 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 02 Oktober 2026