“Saya telah mendedikasikan diri di misi pendidikan selama 27 tahun. Dalam pekerjaan, sesungguhnya saya harus menghadapi berbagai masalah yang sangat rumit. Karena itu, setelah menerima nama Dharma ‘Lü Tian’ dari Master, saya secara khusus mencari tahu arti dari ‘tian’ ini. ‘Tian’ menandakan kestabilan batin yang tidak mudah terusik ataupun berubah karena pengaruh kondisi luar,” kata Zeng Xun-yu, Kepala bagian personalia SMA Tzu Chi Terafiliasi Universitas Tzu Chi.

“Saya merasa bahwa setelah melihat data saya, Master pasti berharap saat menjalankan pekerjaan sekolah yang rumit dan aktivitas relawan, saya dapat memiliki pemikiran yang cermat serta menjaga hati tetap tenang dan damai. Dengan demikian, barulah saya dapat melakukan semuanya dengan baik,” pungkas Zeng Xun-yu.

Saya sangat bersyukur mendengar apa yang kalian bagikan. Insan Tzu Chi tidak bersikap perhitungan. Tzu Chi memiliki empat misi. Sebagai insan Tzu Chi, saya harap kita semua dapat senantiasa berpegang pada welas asih dan kebajikan. Apa pun yang kita lakukan, welas asih dan kebajikan harus selalu ada dalam arah tujuan kita.

Dalam pendidikan, kita harus mengajarkan welas asih dan kebajikan serta mengasihi semua insan berbakat di dunia. Kita memiliki tanggung jawab untuk membantu dan mengedukasi murid-murid. Insan berbakat yang bakal menjadi harapan masyarakat membutuhkan bimbingan kita. Mereka merupakan tanggung jawab dalam hidup kita karena kita semua adalah guru.

Tanggung jawab kita ialah berusaha untuk mengajari mereka dengan metode yang tepat. Semua ini bergantung pada kita. Jika kalian bisa menganggap para pelajar sebagai anak sendiri, bagaimana kalian akan mengajar mereka? Bagaimana kalian akan membimbing mereka untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi dunia?

“Saya sudah 30 tahun mendedikasikan diri di Tzu Chi. Master menyalakan sebuah pelita bagi saya yang menuntun saya ke Griya Jing Si dan Tzu Chi. Namun, saya yakin bahwa Master berharap saya juga dapat menyalakan pelita untuk menuntun lebih banyak orang bergabung dengan Tzu Chi,” kata Niu Jiang-shan, Kepala urusan kemahasiswaan Universitas Tzu Chi.

“Saya baru bergabung dengan Tzu Chi belasan tahun, tetapi dapat mengikuti pelatihan relawan bersamanya, saya merasa sangat senang,” kata Niu He-shan, Kepala bagian pengembangan pendidikan sosial Universitas Tzu Chi.

“Saya berharap dalam perjalanan sebagai relawan Tzu Chi, saya dapat mempertahankan tekad awal seperti saat mengikuti pelatihan relawan, menginspirasi lebih banyak orang di komunitas untuk mengunjungi Aula Jing Si kita, serta menggunakan ajaran Master dan nilai budaya humanis untuk membimbing orang-orang. Saya berharap dapat menggalang Bodhisatwa secara luas agar jumlah relawan Tzu Chi terus meningkat,” pungkas Niu He-shan.

Kedua Profesor Niu sudah lama bergabung dengan kita. Hati mereka juga tidak berubah. Yang berubah ialah pengalaman yang makin banyak dan tekad memberikan edukasi yang makin teguh. Mendedikasikan diri di suatu tempat dengan stabil, ini sangatlah berharga. Ini membuat saya merasa bahwa tiada penyesalan dalam hidup saya. Dapat menjalin jodoh baik, saya sangat sukacita.

Akan tetapi, sebagai makhluk awam, pikiran yang bergejolak sulit dihindari. Terkadang, kegelapan batin menutupi hakikat kita yang murni. Saat kegelapan batin timbul, kita mungkin akan merasa tidak puas, bersikap perhitungan, dan sebagainya. Namun, kita tetap harus menganggap semua orang sebagai rekan seperjalanan. Kita sama-sama berada di sini untuk membina diri.

Kami menyebutnya melatih diri, sedangkan kalian menyebutnya membina diri. Sesungguhnya, melatih diri sama dengan membina diri. Dalam melatih diri, apakah yang kita latih? Tindakan, ucapan, dan pikiran kita setiap hari. Ketika membangkitkan sukacita dan niat baik, kita akan bertutur kata lembut dan setiap orang akan terlihat bajik. Dengan demikian, semua orang akan saling memuji. Inilah pelatihan batin.

Saat orang-orang diliputi kegelapan batin, mereka akan mengucapkan kata-kata yang membuat orang bertanya-tanya mengapa mereka berkata demikian. Mengapa dia yang berada di posisi ini bisa mengucapkan kata-kata seperti ini? Mengapa? Mengapa? Mengapa? Saya harap saat melihat orang lain diliputi kegelapan batin, kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya memiliki kegelapan batin seperti ini?”

Saya sering bertanya pada diri sendiri seperti ini. Ini merupakan bagian dari keseharian saya. Saat melihat dan mendengar kisah orang lain, saya sering bertanya pada diri sendiri, “Dia memiliki tekad dan pembinaan diri yang baik serta terus tekun dan bersemangat melatih diri. Apakah saya juga melakukan hal yang sama?” Jika belum, saya akan segera belajar darinya.

Sebaliknya, jika ada yang tidak mengatakan yang seharusnya dikatakan, tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, dan melanggar aturan yang seharusnya tidak dilanggar, saya juga akan merenungkan apakah saya melakukan hal yang sama. Jika tidak, saya akan merasa tenang.

Dengan menginventarisasi kehidupan kita setiap hari, kita akan senantiasa berlapang hati dan berpikiran murni. Tindakan kita pun tidak akan melanggar hati nurani kita. Inilah yang membuat kehidupan kita bernilai. Singkat kata, dengan menginventarisasi kehidupan sendiri, kita akan terbebas dari sikap perhitungan dan kegelapan batin.

Saat menghadapi setiap orang dan hal, kita akan memandang setiap orang sebagai orang baik karena kita bisa bersikap pengertian dan berlapang hati. Dalam interaksi antarmanusia, jika semuanya dapat bersikap pengertian dan berlapang hati, itulah yang paling bernilai.

Bodhisatwa sekalian, mari kita memotivasi satu sama lain. Saya harap kalian juga demikian terhadap murid kalian. Nilai kita di dunia ini terletak pada manfaat yang dapat kita datangkan bagi sesama. Guru dapat membantu murid-murid membentuk karakter dan menjadi orang baik di dunia ini. Inilah jasa kebajikan para guru.

Setelah mengerahkan upaya, mari kita melakukan evaluasi sendiri. Jika apa yang kita lakukan hari ini benar-benar bernilai, kita dapat mencatatnya dalam jasa kita. Jika tidak, kita juga harus membuat catatan untuk memotivasi diri sendiri lebih tekun lagi keesokannya. Singkat kata, kita harus bersungguh hati. Terhadap orang lain, kita bersumbangsih. Terhadap diri sendiri, kita harus lebih sering melakukan inventarisasi. Jika bisa demikian, kehidupan kita akan sempurna.

Saya sangat bersyukur kepada para guru kita. Saya memercayakan misi pendidikan kita pada kalian. Gunakanlah kekuatan cinta kasih untuk membina Bodhisatwa dunia. Kalian harus menggunakan hati Bodhisatwa dan Buddha untuk membina Bodhisatwa dunia. Ini hanya bisa diwujudkan oleh kalian. Inilah permintaan saya terhadap kalian. Saya sangat sukacita dan bersyukur. Saya mendoakan kalian semua.

Mempraktikkan kebajikan dengan cinta kasih agung tanpa pamrih

Membina insan berbakat dengan welas asih, kelembutan, dan kebajikan

Belajar dari insan mulia dengan tekun dan bersemangat

Membimbing umat manusia dengan hati yang lapang dan pikiran yang murni

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 September 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 29 September 2026