“Jumlah peserta dan panitia secara keseluruhan ada 194 orang. Di antara para peserta, ada 32 guru yang masih aktif mengajar dan 10 guru yang sudah pensiun. Para peserta ini terdiri dari profesor, kepala sekolah, kepala bagian, dan guru,” kata Zhu Yan-lun, Anggota Asosiasi Guru Tzu Chi.

“Saya pensiun pada bulan Agustus tahun lalu dari sebuah sekolah masyarakat adat. Saya berusaha menerapkan Kata Renungan Jing Si dan mengajar kelas olahraga. Saat itu, ada seorang siswa yang sangat nakal. Dia suka berkata kasar, menduduki kursi guru sehingga guru tidak bisa duduk, bahkan menjadikan meja makan sebagai tempat tidur. Dia juga pernah menghalangi jalan di kelas sehingga guru tidak bisa lewat,” kata Fang Rui-min Anggota Asosiasi Guru Tzu Chi.

“Sekretaris sekolah berkata, ‘Guru Fang, apakah Anda ingin siswa ini pindah sekolah? Kami bisa mengurusnya.’ Saya tertegun saat mendengarnya. Saya berkata, ‘Tidak perlu. Jika dia tetap di sini, kita baru bisa mendidiknya.’ Cinta kasih dan Kata Renungan Jing Si adalah dua resep mujarab dalam Pendidikan,” lanjut Fang Rui-min.

“Anak ini berasal dari keluarga kurang mampu. Saya mengajukan berbagai permohonan bantuan untuk biaya pendaftaran. Pelatihnya juga mengajukan permohonan dana pemenuhan gizi. Para relawan Tzu Chi juga membantu anak ini untuk mengajukan beasiswa. Dengan perhatian dan cinta kasih dari semua orang, sikap anak ini pun berubah menjadi lebih baik. Dalam bidang olahraga yang ditekuninya, dia menunjukkan prestasi yang sangat baik,” pungkas Fang Rui-min.

Mendengar laporan dari semuanya, saya teringat pada masa lalu. Para anggota Asosiasi Guru Tzu Chi sering berbagi cerita tentang anak-anak yang sulit dididik, metode apa yang mereka gunakan untuk membimbing anak-anak itu, dan bagaimana sebuah Kata Renungan Jing Si dapat membuat seorang anak berubah. Hal seperti ini sering terjadi.

“Saat kuliah, guru saya, Guru Rui-mei, mengajak saya bergabung dengan Tzu Ching. Saat itu, saya bukan anak yang terlalu patuh. Namun, ketika beliau mengajak, saya tidak bisa menolaknya karena beliau benar-benar memberikan teladan melalui perbuatan dan perkataan. Saat itu, beliau membimbing kami untuk bergabung dengan Tzu Ching,” kata Chen Jing-wen, Guru Sekolah Menengah Yang Guang, Taoyuan.

“Setiap bulan, kami mengikuti kegiatan sebagai relawan dan berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Ching. Orang tua saya memberi saya banyak cinta kasih dan Guru Rui-mei memberi saya jiwa kebijaksanaan sehingga saya makin dekat dengan Tzu Chi dan ajaran Buddha,” pungkas Chen Jing-wen.

Saat ini, jika ingin hubungan antara guru dan siswa dekat, mungkin sudah tidak banyak jalinan jodoh. Hubungan guru dan siswa hanya sebatas saat pelajaran sehingga kehilangan keakraban di antara mereka. Hubungan yang akrab sangatlah sedikit. Dahulu, ada pepatah, “Guru sehari, orang tua seumur hidup.” Jika pepatah seperti ini disampaikan kepada siswa sekarang, mungkin mereka akan merasa heran dan berpikir, “Ini tidak masuk akal.” Singkat kata, apa pun yang kita lakukan, kita harus bersumbangsih tanpa pamrih.

Namun, dalam mendidik anak, jika benar-benar tidak mengharapkan apa pun, itu juga sulit. Tidak mengharapkan apa pun berarti guru yang tidak bertanggung jawab. Kita tetap harus memiliki harapan. Kita berharap anak yang kita didik dapat mengubah kebiasaan buruknya. Inilah yang kita harapkan. Jika seorang anak tidak giat belajar, lalu setelah kita mendidiknya, ia mulai tertarik pada pelajaran, ini juga merupakan sesuatu yang kita harapkan. Jadi, ada sesuatu yang kita harapkan. Inilah perbedaannya.

Dalam melakukan berbagai hal, kita selalu mengharapkan adanya hasil dan nilai dari upaya tersebut. Bagi seorang guru, kemajuan dan perubahan siswa merupakan hasil yang diharapkan. Ketika seorang siswa mampu memperbaiki dirinya, itulah hal yang paling membahagiakan bagi seorang guru. Jadi, inilah tanggung jawab kita.

Kita bersumbangsih dengan harapan adanya hasil. Namun, apakah segala sesuatu akan selalu berjalan sesuai harapan? Apakah semua siswa yang kita didik akan selalu rajin belajar dan berhasil? Sesungguhnya, kita juga hendaknya mencari tahu, siswa-siswa yang pernah dididik oleh kita, bagaimana pola pikir dan perilaku mereka di tengah masyarakat. Saya merasa bahwa ini layak kita lakukan. Dengan begitu, kita dapat memahami nilai dari pendidikan.

Kita sering berbicara tentang cinta kasih berkesadaran. Dalam ajaran Buddha, cinta kasih berkesadaran yang dimaksud ialah Bodhisatwa. Cinta kasih Bodhisatwa disebut dengan cinta kasih berkesadaran. Saya tidak tahu, ketika kalian mengajar atau murid menerima ajaran kalian, apakah terbentuk jalinan kasih sayang di antara kalian? Ataukah hanya sebatas mengajar siswa sebagai seorang guru? Ini hanyalah kewajiban.

Siswa pun berpikir bahwa Anda adalah guru dan dirinya adalah seorang siswa sehingga sumbangsih Anda memang sudah seharusnya. Dirinya menerima pendidikan dan menjadi siswa yang baik pun sudah seharusnya. Jika hanya seperti ini, nilai yang tercipta tidak begitu besar. Alangkah baiknya jika kita bisa kembali seperti dahulu, ketika guru sangat dihormati dan ajarannya sangat dijunjung tinggi. Guru sehari, orang tua seumur hidup. Jika nilai menghormati guru seperti dahulu dapat kita hadirkan kembali, tentu hubungan tersebut akan terasa sangat bernilai.

Belakangan ini, saya terus berbicara tentang apa yang disebut nilai dalam kehidupan. Saya ingin setiap orang menginventarisasi nilai kehidupan. Setelah itu, kita dapat membagikannya kepada orang lain, lalu menilai kembali apakah kita sendiri benar-benar memiliki nilai tersebut. Jika bisa melakukan hal seperti ini, barulah kita dapat menyaring diri kita sedikit demi sedikit. Ini juga merupakan suatu bentuk pendidikan.

Kita harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Bagaimanakah diri kita? Mari kita menilainya sendiri. Kita mungkin merasa bahwa kehidupan kita bernilai. Namun, ketika dibandingkan dengan orang lain, mungkin kita masih jauh tertinggal. Jika seperti itu, kita hendaknya mengintrospeksi diri dan menyemangati diri sendiri. Semua ini pasti dapat dilakukan.

Saat menyadari bahwa diri kita tidak sebaik orang lain, janganlah kita berpikir, “Dia memang lebih hebat, tetapi itu tidak ada hubungannya dengan saya.” Jika seperti itu, kita sama saja mengabaikan dan menyia-nyiakan kehidupan kita sendiri.

Saya merasa bahwa jika kita dapat saling berinteraksi untuk melihat apakah cara seperti ini layak dilakukan. Kita juga dapat kembali membangun hubungan, baik hubungan guru dan siswa maupun hubungan antarsesama siswa. Dengan berinteraksi dan mengetahui pencapaian satu sama lain, kita dapat menyemangati diri sendiri. Ini juga dapat memberikan manfaat.

Tidak mudah untuk memiliki jalinan jodoh seperti ini. Asosiasi Guru Tzu Chi sudah berjalan selama bertahun-tahun, tetapi kita masih dapat berkumpul seperti ini, duduk bersama, dan berbincang. Kita juga dapat kembali mempererat hubungan. Ini sangatlah baik.

Mengembangkan kebijaksanaan dan hati Bodhisatwa

Mengajarkan kebajikan, membina insan berbakat, dan menakhodai perahu cinta kasih

Menghormati guru, menjunjung ajaran, dan bertumbuh bersama

Membangun kebajikan dan menggarap misi Pendidikan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 28 September 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 30 September 2026