“Tzu Chi Eswatini bermula dari Tzu Chi Afrika Selatan. Di bawah sebatang pohon, kami berbagi tentang kebenaran, cinta kasih, dan welas asih. Sejak saat itu, dengan berbagi tentang cinta kasih, Tzu Chi terus bertumbuh hingga menginspirasi hampir 200 relawan dan lebih dari 20 dokter relawan yang terkadang datang membantu saat kita mengadakan baksos Kesehatan,” kata Simon Kabuye, Dokter TIMA Eswatini.
“Baksos kesehatan telah menjadi proyek unggulan Tzu Chi Eswatini. Baksos kesehatan baru mulai kita jalankan pada tahun 2024. Sejak tahun 2024 hingga sekarang, kita telah mengadakan 22 kali baksos kesehatan dan memberikan pelayanan medis bagi hampir 8.000 pasien,” pungkas Simon Kabuye.
“Kami juga memperluas pelayanan medis kami ke daerah terpencil dan menggunakan kendaraan medis keliling untuk membawa dokter spesialis ke sisi pasien. Namun, bantuan ini bukan tanpa syarat. Sebagai gantinya, kami berharap para pasien ini dapat bersumbangsih dalam baksos kesehatan kita,” kata Thys Lourens, Dokter TIMA Eswatini.
“Terakhir, saya ingin berkata bahwa perubahan satu orang dapat menginspirasi orang lain, satu relawan dapat membina lebih banyak relawan, dan satu aksi welas asih dapat menjadi gerakan cinta kasih,” pungkas Thys Lourens.
Saya bersyukur kepada setiap orang yang kembali dari berbagai negara yang jauh. Ada lebih dari 400 anggota TIMA yang mengesampingkan kesibukan sehari-hari mereka dan menggenggam kesempatan setahun sekali ini untuk kembali ke sini. Saya sangat tersentuh dan bersyukur.
Saya bukan hanya bersyukur atas kedatangan kalian, tetapi juga atas pelayanan medis yang selalu kalian berikan dengan cinta kasih tanpa pamrih. Dengan cinta kasih seperti ini, setiap ucapan dan tindakan kita akan dilandasi ketulusan. Ini telah kalian lakukan dalam jangka panjang.

“Dua puluh tahun yang lalu, sebagai anggota Tzu Ching, saya berpartisipasi dalam baksos kesehatan di Pulau Batam bersama para relawan. Kini, sebagai dokter anak, saya berpartisipasi dalam baksos kesehatan luar negeri di Sri Lanka, Filipina, dan Kamboja. Saya mengubah keprofesionalan menjadi aksi cinta kasih,” kata Huang Zhi-min, Dokter TIMA Singapura.
“Beberapa hari lalu, Kepala RS Chien berkata, ‘Melayani pasien dalam baksos kesehatan bukanlah hak istimewa kita, melainkan berkah kita.’ Saya lalu menyadari bahwa saya sungguh dipenuhi berkah karena dapat berpartisipasi dalam baksos kesehatan dan melayani pasien dengan peran yang berbeda-beda,” pungkas Huang Zhi-min.
Tahun ini, TIMA telah berdiri 30 tahun. Sebelum TIMA didirikan, yakni lebih dari 30 tahun yang lalu, ada 3 hingga 4 dokter dari Filipina yang kembali setiap tahun. Saat itu, ada Wakil Kepala RS Leh Siu Chuan yang mengenal Tzu Chi lewat ibu Dokter Qua. Jadi, Dokter Qua, Dokter Leh, dan Dokter Sy sering kembali ke sini.
Setiap tahun, pada tanggal 15 bulan 8 Imlek, mereka selalu kembali ke sini untuk bersama-sama memperingati Festival Kue Bulan. Saat itu, para anggota TIMA berhimpun di sini untuk menikmati pemandangan bulan dengan gembira. Inilah yang terjadi 30 tahun lalu. Sejak 30 tahun lalu hingga sekarang, anggota TIMA selalu kembali pada momen seperti ini.
Kini, kita memiliki Aula Jing Si. Kita bisa melihat semua orang berhimpun di Aula Jing Si yang memiliki ruang yang luas dengan meja bundar dan kursi yang tersusun rapi. Semua orang berhimpun dengan gembira. Hati semua orang tetap sama. Yang berbeda ialah orang yang hadir makin banyak. Mereka yang bergabung sejak awal, seperti Dokter Qua, tekad mereka tidak pernah mundur.

“Sejak kembali ke Griya Jing Si pada tahun 1996, kami kembali setiap tahun untuk memperingati Festival Kue Bulan bersama Master. Kini, begitu banyak anggota TIMA dari berbagai negara yang memperingati Festival Kue Bulan bersama kita. Saya sungguh sangat gembira,” kata Josefino Qua, Dokter TIMA Filipina.
“Perasaan saya saat pertama kali datang ke sini, saya merasa happy. Karena saya benar-benar diberikan kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman TIMA dari seluruh dunia dan juga bisa berpulang ke kampung halaman batin di Hualien,” kata Rahayu Dokter TIMA Indonesia.
Saya berharap Konferensi Tahunan TIMA dapat diadakan di sini setiap tahun dan selalu semeriah sekarang. Meski memiliki permintaan seperti ini, tetapi saya telah lanjut usia. Sesungguhnya, berapa lama lagi saya bisa melihat Konferensi Tahunan TIMA seperti ini? Saya berharap para anggota TIMA kita dapat kembali ke Hualien untuk berhimpun bersama pada bulan 8 Imlek setiap tahunnya. Saya berharap para dokter dari berbagai negara dapat kembali ke sini.
Saya sering berkata bahwa dokter adalah “Tabib Agung”. Saat saya menyebut kalian sebagai “Tabib Agung”, itu berarti saya menganggap kalian sebagai Buddha hidup. Dengan cinta kasih Buddha, kalian bersumbangsih bagi orang-orang yang menderita di dunia. Para dokter memiliki hati Buddha. Dokter bukan hanya menangani pasien demi uang.

Para dokter TIMA kita selalu kembali pada momen seperti ini. Kalian bersedia mengesampingkan kesibukan kalian serta menghabiskan waktu dan biaya untuk kembali ke sini. Kalian kembali ke Taiwan dan berhimpun dengan gembira karena kalian semua memiliki kesatuan tekad. Sungguh tidak mudah untuk memiliki kesatuan hati, tekad, dan ikrar serta menghimpun kekuatan cinta kasih. Ini sungguh tidak mudah.
Dengan kesatuan hati, tekad, dan ikrar, kalian menjadi penyelamat dalam kehidupan orang-orang yang jatuh sakit. Inilah yang disebut Tabib Agung. Saya menghormati semua orang yang bersumbangsih dengan cinta kasih tanpa pamrih. Kalian sungguh bagaikan Buddha hidup.
Saya sangat bersyukur kepada para anggota TIMA kita. Saya berharap kalian dapat kembali setiap tahun. Meski bukan momen Festival Kue Bulan, kapan pun kalian memiliki waktu luang, kalian tetap dapat kembali ke sini dengan mengajak keluarga kalian.
Tempat ini adalah kampung halaman batin kita. Aula Jing Si Hualien adalah rumah kita bersama. Rumah jiwa kebijaksanaan ini adalah rumah kita bersama. Saya berharap kalian dapat menganggap tempat ini sebagai rumah kalian dan sering-seringlah kembali.
Mengenang masa lalu pada momen Festival Kue Bulan
Menyambut kepulangan anggota TIMA dengan sukacita
Bersumbangsih tanpa pamrih untuk melenyapkan penderitaan akibat penyakit
Mempertahankan dan menjalankan ikrar dengan kesatuan hati
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 01 Oktober 2026