“Saat mengumpulkan isi celengan bambu, itulah momen kita menumbuhkan kebijaksanaan dan membina perhatian benar. Kita juga sangat bersyukur kepada tim kita yang sering menyediakan Kata Renungan Jing Si, Buletin Tzu Chi, dan berbagai jenis suvenir lainnya untuk dibagikan kepada orang-orang. Dalam setiap kunjungan, kita mempererat jalinan jodoh. Saat mengumpulkan isi celengan bambu, kita selalu menjalin jodoh dengan orang-orang dengan cinta kasih, ketulusan, dan kesabaran,” kata Chen Zhen-yin, relawan Tzu Chi.

Saya berharap setelah terlahir di dunia ini, kalian dapat melakukan satu perkara besar, yaitu membimbing semua makhluk. Kalian telah mendengar ajaran saya hingga penuh sukacita, menyerapnya ke dalam hati, dan menggunakannya untuk menggarap ladang batin diri sendiri.

Tentu saja, kalian harus menabur benih kebajikan dan menjadi petani yang terus menjaga ladang batin kalian dengan baik. Saya hanyalah kondisi pendukung, bagai cuaca yang bersahabat. Air hujan turun dengan jumlah yang pas saat dibutuhkan, matahari pun memancarkan cahayanya saat dibutuhkan. Jadi, saya hanya menyediakan kondisi yang mendukung.

Bodhisatwa sekalian, saya sangat berharap kalian dapat tekun dan bersemangat mempraktikkan kebajikan. Waktu benar-benar terbatas. Belakangan ini, saat menginventarisasi kehidupan sendiri, saya mendapati bahwa saya tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Karena itulah, sebutir benih di Tzu Chi dapat bertumbuh menjadi tak terhingga seperti sekarang, bagai sebatang pohon berusia seribu tahun. Ini berkat adanya jalinan jodoh. Berkat jalinan jodoh inilah, kita dapat berhimpun di Tzu Chi.

Mari kita mengajak orang-orang ke Tzu Chi untuk melihat dan mendengar kisah Tzu Chi. Belakangan ini, saya sering mengimbau untuk membagikan kisah kalian. Himpunan kisah kalian adalah kitab sejarah Tzu Chi. Kisah setiap keluarga adalah bagian dari buku silsilah Tzu Chi. Buku silsilah Tzu Chi juga merupakan kitab sejarah.

Di era sekarang, Tzu Chi telah melakukan banyak hal bagi dunia. Begitu banyak hal, siapakah yang melakukannya? Para insan Tzu Chi. Setiap keluarga memiliki buku silsilah. Berhubung sudah lanjut usia, saya akan terus membabarkan ajaran saya kepada para bhiksuni Griya Jing Si agar mereka dapat mengingatnya di dalam hati. Saya yakin mereka akan meneruskan ajaran saya.

Jadi, Bodhisatwa sekalian, bergegaslah. Tidak mudah untuk hidup pada era yang sama dengan saya, menjalankan Tzu Chi bersama saya, dan bersumbangsih bagi dunia bersama saya. Kita bersumbangsih sendiri dan membimbing orang untuk bersumbangsih bersama.

“Kami berdua bersama-sama mengunjungi tokonya. Beliau menyerahkan celengan bambunya dan berkata, ‘Celengan bambu Anda ada di sini.’ Saat saya menerimanya, celengan itu terasa sangat berat. Saya berpikir, ‘Bulan ini sepertinya agak berbeda.’ Saya lalu berkata kepada pemilik toko, ‘Nyonya Bos, celenganmu ini menerima banyak cinta kasih masyarakat bulan ini. Anda sungguh dipenuhi berkah’,” kata Liu Yu-qi, relawan Tzu Chi.

“Beliau lalu berkata pada saya bahwa selain cinta kasih masyarakat, di dalam itu juga ada uang ibunya yang disisihkan sedikit demi sedikit ke dalam celengan pribadi semasa hidupnya. Beliau memberi tahu saya bahwa beberapa hari sebelumnya, mereka menandatangani persetujuan donor tubuh. Beliau berkata bahwa melihat perbuatan baik insan Tzu Chi di seluruh dunia, dirinya sangat tersentuh. Karena itu, beliau juga ingin bersumbangsih semampunya,” lanjut Liu Yu-qi.

“Saya merasa bahwa dengan celengan bambu yang kecil ini, langkah demi langkah kita bagaikan seutas benang panjang yang membentuk jalinan jodoh antara para pemilik toko dan Tzu Chi,” pungkas Liu Yu-qi.

Toko Cinta Kasih adalah program yang sangat saya perhatikan sekarang. Demikianlah kita menorehkan sejarah.

Pada masa awal berdirinya Tzu Chi, saya mengimbau orang-orang menyisihkan 50 sen untuk melakukan kebajikan besar. Saat membeli sayuran, mereka berkata, “Saya ingin mengurangi 50 sen belanjaan saya. Untuk apa 50 sen itu? Untuk menolong orang. Lima puluh sen sudah dapat menolong orang? Kalau begitu, saya juga mau.” Semua ini merupakan kisah nyata. Inilah yang mendukung perjalanan Tzu Chi hingga kini.

Selama 60 tahun, praktik celengan bambu terus dijalankan hingga kini dipadukan dalam program Toko Cinta Kasih. Kalian mengunjungi toko-toko dan setiap toko penuh cinta kasih. Setiap Toko Cinta Kasih penuh dengan cinta kasih. Saat masuk ke dalam toko-toko, kita dapat merasakan cinta kasih. Cinta kasih mendatangkan berkah. Menginspirasi orang-orang untuk menciptakan berkah, inilah yang dilakukan para Bodhisatwa.

Bodhisatwa datang ke dunia demi menciptakan berkah bagi dunia. Kalian mengunjungi toko-toko untuk menginspirasi para pemilik toko membangkitkan niat baik dan cinta kasih. Apa yang kalian lakukan di era sekarang membuat saya sangat sukacita. Saya bisa melihat para insan Tzu Chi menjangkau toko-toko dan pasar untuk membangkitkan cinta kasih orang-orang. “Jika menyisihkan 50 sen dapat menolong sesama, saya juga mau.” Kalimat ini sangatlah penting. Kini, kalian menjangkau toko-toko juga demi menginspirasi orang-orang.

Tadi, saya mendengar gemerincing uang logam yang jatuh ke dalam celengan bambu. Merdu sekali. Nilainya tidak perlu besar. Saat menaruh celengan bambu di sebuah toko, masukkanlah sekeping uang logam ke dalamnya agar orang-orang dapat mendengar bunyi gemerincing itu. Jika bisa demikian, ini sama seperti yang dahulu saya katakan, “Saat membeli sayuran di pasar, sampaikanlah bahwa Anda ingin menghemat 50 sen.” Menghemat 50 sen uang belanja tidak akan memengaruhi makanan di atas meja. Prinsip keduanya sama.

Kini, menyisihkan uang ke dalam celengan bambu tidak akan memengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Sebaliknya, kita malah memperoleh rasa sukacita. Sukacita adalah berkah. Jadi, kita memperoleh kesempatan menciptakan berkah. Bunyi gemerincing adalah tanda datangnya berkah.

“Terima kasih,” ucap celengan bambu yang bisa mnegucapkan terima kasih.

“Bunyi gemerincing pertama, sebab dan kondisi baik ada di sini. Bunyi gemerincing kedua, para Buddha dan Bodhisatwa ada di sini. Bunyi gemerincing ketiga, harta kekayaan memenuhi ruangan. Semoga Kakek Guru selalu sehat, damai, dan semua harapan terwujud,” kata Huang Yu-qiao, relawan cilik Jing Si Books & Café.

“Dalam liburan tahun ini, saya sangat senang menerima hadiah dari Bibi, yaitu sebuah celengan yang bisa mengucapkan ‘terima kasih’. Ini membuat saya teringat bahwa saat guru TK saya memberi saya stiker anak patuh, keluarga saya akan memberi saya 5 atau 10 dolar NT. Saya semula ingin menabungnya untuk membeli sesuatu. Setelah Nenek menceritakan kisah celengan bambu dan memotivasi saya untuk memasukkan 5 atau 10 dolar NT yang berkilau ke dalam celengan bambu yang bisa mengucapkan “’erima kasih’, saya merasa gembira setiap hari,” lanjut Huang Yu-qiao.

“Kakek Guru, hari ini saya memiliki jalinan jodoh untuk mempersembahkan celengan bambu ini. Semoga Kakek Guru, para bhiksuni Griya Jing Si, serta para paman dan bibi Tzu Chi selalu sehat, damai, dan dipenuhi berkah. Terima kasih. Tahun ini, saya akan masuk kelas 1 SD,” kata Huang Yu-qiao.

Kelas 1 SD?

“Saya akan tetap menjadi relawan cilik pada hari Sabtu,” pungkas Huang Yu-qiao.

Bagus. Mari menggalang lebih banyak relawan cilik. Ajaklah teman-teman sekolahmu untuk bergabung. (Baik.) Saya mendoakanmu. Bimbinglah gurumu sekaligus.

Toko Cinta Kasih membangkitkan niat baik

Menumbuhkan benih yang tak terhingga dengan menggarap ladang berkah

Himpunan tetes demi tetes pahala membentuk lautan

Tekun, bersemangat, dan menghargai jalinan jodoh untuk membimbing diri sendiri dan orang lain

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 21 Oktober 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 23 Oktober 2026