“Guru Yu-feng adalah guru saya saat SMP. Saya sangat senang meski sudah lulus bertahun-tahun, saya tetap menjalin komunikasi dengan beliau. Semua ini berkat jalinan jodoh yang terhubung melalui Tzu Chi. Bimbingan dan ajaran beliau membuat perjalanan saya sebagai guru menjadi lebih lancar,” kata Ye Xiu-xing, Guru SD Jhudong, Hsinchu.
“Saat dia kelas 2 SMP, saya adalah guru bahasa Mandarinnya. Setelah dia lulus dan mulai bekerja sebagai guru, kami kembali menjalin komunikasi. Saat itu, saya menyemangatinya untuk bergabung dalam kegiatan Tzu Chi. Menjelang akhir semester, saya mendapati bahwa pekerjaannya di sekolah tidak begitu lancar. Dia menghadapi berbagai kesulitan,” kata Xu Yu-feng, Anggota Asosiasi Guru Tzu Chi.
“Saya merasa bahwa dia harus mengikuti kamp ini. Saya sungguh berharap dia bisa datang. Selama mengikuti kegiatan ini, saya juga mengamati Xiu-xing dan melihat bagaimana dia belajar. Melalui rangkaian pembelajaran ini, batinnya benar-benar menjadi makin tenang,” pungkas Xu Yu-feng
Hati seorang guru adalah hati Bodhisatwa sekaligus hati orang tua. Menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat luhur. Para guru membina insan berbakat yang dibutuhkan masyarakat. Mereka perlu bersungguh hati dalam mendidik anak-anak agar sejak kecil mendapatkan bimbingan dan terus melangkah menuju arah kehidupan yang cerah.
“Setelah terjun ke dunia pendidikan, saya harus menghadapi berbagai kebutuhan dan emosi anak-anak setiap hari. Terkadang, saya begitu sibuk hingga baru menyadari saat pulang kerja bahwa hari itu saya telah merawat begitu banyak hati kecil, tetapi hampir lupa merawat hati saya sendiri,” kata Chen Cai-ying, Tenaga Pendidik Jiushe Non-Profit Kindergarten.
“Ada satu kejutan istimewa bagi saya dalam kamp kali ini, yaitu bertemu Guru Cai Wen-hui. Beliau adalah guru pendidikan khusus saya di kelas inklusi saat sekolah dasar. Pertemuan ini membuat saya menyadari bahwa sebuah kalimat penyemangat atau sedikit pengertian yang diberikan seorang guru kepada muridnya mungkin terlihat sederhana pada saat itu, tetapi bertahun-tahun kemudian, anak tersebut mungkin masih mengingatnya,” lanjut Chen Cai-ying.
Chen Cai-ying melanjutkan “Saya berterima kasih kepada Guru Wen-hui karena pernah hadir dalam masa kecil saya. Saya juga bersyukur karena bertahun-tahun kemudian, saya masih bisa duduk kembali sebagai peserta dan belajar dari beliau. Dahulu, saya adalah anak yang mendapat cahaya. Kini, saya ingin menjadi orang dewasa yang mampu menyalakan pelita bagi anak-anak.”
“Pendidikan adalah perjalanan yang panjang. Jangan lupakan tekad awal dan teruslah belajar. Rawatlah hati anak-anak, tetapi jangan lupa merawat hati kita sendiri sebagai guru,” pungkas Chen Cai-ying.
“Kali ini, saat bertemu dengannya kembali, saya merasa sangat senang. Saya mendengar bahwa dia menghadapi sejumlah kesulitan dalam pekerjaannya. Saya benar-benar merasa tidak sampai hati. Saya pun berkata, ‘Saya akan menemanimu untuk berjalan bersama’,” kata Cai Wen-hui, Anggota Asosiasi Guru Tzu Chi.

Menjadi guru harus memiliki hati yang teguh selamanya. Ada pepatah, “Guru sehari, orang tua seumur hidup.” Dahulu, ketika kalian bergabung di Asosiasi Guru Tzu Chi, pada saat yang sama juga ada Asosiasi Tzu Ching. Mungkin ada di antara para guru yang dahulu juga merupakan anggota Tzu Ching.
Saya berharap setiap orang tidak melupakan tekad awal. Baik saat menjadi anggota Tzu Ching maupun anggota Asosiasi Guru Tzu Chi, kalian pernah mengikuti kamp musim panas dan kamp musim dingin pada saat itu. Jangan lupakan tekad dan semangat pada masa itu. Kalian memiliki tekad dan ikrar untuk berkontribusi. Kalian telah berikrar untuk menjadi pembimbing bagi masyarakat. Terlebih lagi, semangat dan nilai-nilai ini harus terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap kali bertemu, saya selalu berkata bahwa kita harus menyadari dan menghargai berkah. Saat ini, kita hidup dalam keadaan yang penuh berkah, ketika dunia damai dan kehidupan makmur. Seharusnya setiap keluarga juga hidup dengan damai dan memiliki kehidupan yang baik di Taiwan.
Saya setiap hari berada di sini dan mendengar berita dari berbagai negara. Ada negara yang benar-benar sangat miskin, menderita, dan tidak damai. Jika kita melihat kembali kehidupan kita saat ini, semuanya relatif aman dan dipenuhi berkah. Jadi, saya terus mengingatkan kalian untuk menghargai berkah dan menciptakan berkah.

Dahulu, para guru pasti sering mendengar dan menyampaikan pesan ini kepada murid-murid. Kita harus menyadari dan menghargai berkah yang dimiliki. Inilah yang perlu kita ingatkan kepada masyarakat sekarang. Saya merasa sangat bersukacita karena para guru masih mempertahankan kasih sayang yang telah terbangun sejak dahulu. Saya juga berharap kalian tidak mengendurkan semangat.
Kalian yang dahulu bergabung dalam Asosiasi Guru Tzu Chi hendaknya kembali berkumpul dan menjalin komunikasi satu sama lain. Jika tidak, seiring bertambahnya usia, kita akan makin kesepian. Saya sendiri sering merasa sangat bahagia karena dikelilingi begitu banyak orang yang setiap hari tetap dekat dengan saya. Ada pula kelompok demi kelompok lulusan yang terus kembali. Terkadang, saya merasa bahwa saya tidak kesepian. Ini benar-benar sebuah berkah.
Saya percaya bahwa jika kalian dapat menggenggam jalinan jodoh yang telah terbangun pada masa lalu, kalian juga tidak akan merasa kesepian. Namun, tidak merasa kesepian saja belum cukup. Kalian juga harus berbagi tentang Asosiasi Guru Tzu Chi pada era kalian. Semangat kalian saat mendidik para murid perlu dibagikan kepada generasi muda saat ini. Hendaknya kalian banyak berinteraksi dengan para guru yang lebih muda dan berbagi pengalaman dengan mereka.
Saya merasa bahwa apa pun bentuk hubungan antarmanusia di dunia ini, kita jangan sampai kehilangan jalinan yang pernah terbangun. Dahulu, kita pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan memberikan pendidikan. Semangat ini harus terus kita lanjutkan. Pada dasarnya, hati seorang guru adalah hati Bodhisatwa. Semangat ini harus bertahan selamanya.

Kalian juga perlu terus menyemangati orang lain. Jika kalian mengenal para guru yang telah meneruskan semangat ini kepada generasi berikutnya, sering-seringlah menyemangati mereka. Hal ini bergantung pada kasih sayang kita saat ini. Inilah yang disebut cinta kasih berkesadaran.
Kita sering berkata bahwa semua orang harus memiliki hati Bodhisatwa. Hati seorang guru adalah hati Bodhisatwa, yaitu hati yang memiliki cinta kasih berkesadaran. Cinta kasih ini harus kita praktikkan di dunia dan diwariskan dari generasi ke generasi. Jika tidak, orang-orang zaman sekarang akan makin kehilangan arah. Jadi, kita harus bersyukur karena masih berada di sini.
Bangkitkanlah kembali semangat yang kalian miliki dan wariskan kepada guru-guru yang baru saat ini. Sampaikanlah kepada mereka bahwa menjadi guru itu benar-benar dipenuhi berkah. Saya sering berkata, “Guru sehari, orang tua seumur hidup.” Ketika sekarang saya melihat kalian mengenakan seragam Asosiasi Guru Tzu Chi, saya teringat bagaimana kalian dahulu mengikuti kegiatan dan mengajar. Penampilan kalian begitu berwibawa.
Sebagai manusia, kita perlu berpakaian yang rapi. Tidak perlu berpakaian mewah, yang penting rapi. Jangan berpakaian secara sembarangan dan berantakan. Kalian juga perlu menjaga satu sama lain. Inilah bagian dari karakter.
Membangkitkan kebijaksanaan dan membimbing ke arah yang benar
Membina cinta kasih dengan pendidikan bertahap
Bertekad menjadi guru dan mewariskan misi
Mengembangkan kebajikan dan mengajarkan tata krama dengan cinta kasih berkesadaran
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 20 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 22 Oktober 2026
Bila sewaktu m