Pada momen seperti ini setiap minggunya, saya mendengar para staf muda dari Divisi Kerohanian Tzu Chi memberikan laporan. Sesungguhnya, berapa banyak yang telah Tzu Chi lakukan? Kita tidak perlu membahas 60 tahun, cukup membahas “kemarin”. Dalam sehari, apa saja yang Tzu Chi lakukan dan berapa banyak orang yang memperoleh manfaat?
Setiap minggu, saya berkata bahwa kita harus menginventarisasi kehidupan masing-masing. Pikirkanlah, terlahir sebagai manusia, sesungguhnya apa yang kita lakukan dalam hidup kita? Kita hendaknya memikirkan dengan sungguh-sungguh bagaimana mewariskan sejarah Tzu Chi. Saya tetap berharap setiap orang dapat bertekad untuk melakukannya. Asalkan seseorang membangkitkan tekad, dia pasti akan mulai mengenang masa lalu dan mencatat sejarah.
Saya yakin bahwa orang yang mencatat sejarah juga terlibat dalam sejarah tersebut. Karena itu, mereka dapat membagikan pengalaman dan pemahaman mereka yang pastinya sangat menarik. Kini, kita harus menyebarkan Dharma. Kita menyebarkan Dharma dengan menjadi saksi nyata. Dahulu, kita mungkin pernah hidup di era yang sama dengan Buddha dan menjadi pelindung Dharma Buddha dari kehidupan ke kehidupan.

Saat berbicara, kita membutuhkan pendengar. Bukankah saya pernah mengulas tentang “demikianlah yang aku dengar”? Saat membabarkan Dharma, Buddha membutuhkan enam kondisi pendukung, seperti tempat, waktu, dan orang-orang. Secara keseluruhan, dibutuhkan enam kondisi pendukung. Jadi, setiap persamuhan Dharma pasti tak luput dari enam kondisi pendukung ini.
Jika kalian ingin mempelajarinya lebih dalam, dengan kemajuan teknologi sekarang, kalian cukup mendengarkan kembali ceramah saya dahulu. Penjelasan saya dahulu tentang enam kondisi pendukung ini layak untuk didengarkan kembali. Kini, kita tengah meninjau kembali era Buddha. Sesuai isi Sutra, saya berusaha menyelami kondisi pada era Buddha.
Era kita sekarang berjarak lebih dari 2.500 tahun dari era Buddha. Tempat, waktu, dan orang-orang, semuanya berbeda dengan dahulu. Saat ini, kita berada di Griya Jing Si, waktunya adalah waktu sekarang, dan orang-orangnya adalah kalian dan saya. Semuanya berbeda dengan era Buddha.
Namun, Buddha berkata bahwa kita dapat menjangkau seluruh alam semesta dalam sekejap. Seluruh alam semesta, baik masa lalu, masa kini, maupun masa depannya, semuanya dapat dijangkau dengan sebersit niat yang tulus. Belakangan ini, setiap kali datang ke sini, saya berbagi dengan kalian tentang waktu, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa depan yang disebutkan pada era Buddha adalah masa kini kita.

Saudara sekalian, mengenai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, saya mengandalkan kalian untuk mengetahuinya. Saya berharap di Tzu Chi, kalian dapat membangkitkan tekad. Saya juga senantiasa bersyukur. Selama 60 tahun ini, pikiran utama saya ialah membalas tiga budi luhur, yakni budi orang tua, guru, dan Buddha. Jadi, banyak hal yang harus saya lakukan untuk membalas budi.
Manusialah yang dapat membabarkan Dharma. Akan tetapi, ini tidak bisa dilakukan sendirian. Jika hanya sendirian, akan sangat kesepian. Tzu Chi telah berdiri selama 60 tahun. Enam puluh tahun yang lalu, saya masih sendirian. Saat itu, saya mengajak 30 orang ibu rumah tangga untuk menyisihkan 50 sen setiap hari. Saya telah mendedikasikan diri bagi Tzu Chi dengan segenap jiwa dan raga sepanjang hayat.
Kini, saya telah lanjut usia. Namun, saya tetap menggenggam waktu yang ada. Kini, saya harus menyeret tubuh ini dan menguras energi untuk mengeluarkan suara. Saudara sekalian, hendaklah kita menghargai waktu. Saya tidak ingin menyia-nyiakan sisa waktu saya di kehidupan sekarang. Setiap menit dan detik tidak akan saya sia-siakan. Jadi, Bodhisatwa sekalian, mari kita dedikasikan segenap jiwa dan raga kita.
Sering kali, kalian berada dalam kondisi tertentu, tetapi tidak tahu apa yang ada di dalamnya, bahkan tidak tahu namanya. Hendaklah kita lebih bersungguh hati. Setiap pagi, kita hendaknya menggerakkan pikiran kita untuk mengenang masa lalu sekilas. Janganlah kita melupakan masa lalu. Jangan pula kita melupakan peristiwa Tzu Chi. Kita harus selalu mengingat hal yang benar. Waktu tidak menunggu siapa pun. Hendaklah kita senantiasa bersungguh hati.

Saat ini, relawan di seluruh dunia terhubung secara daring. Insan Tzu Chi Taiwan Tengah berbagi tentang pelayanan alat bantu di Houli. Apakah alat bantu itu? Kita harus memikirkan apakah alat bantu itu. Setelah mengumpulkan alat bantu, kita harus memperbaiki dan membersihkannya.
Saat ada keluarga yang membutuhkan, meski ada di wilayah pegunungan, anggota Tzu Cheng kita tetap akan bergerak untuk mengantarkan alat bantu dengan kendaraan, lalu mengangkatnya ke rumah yang membutuhkan. Kita bisa melihatnya lewat rekaman video. Saya sangat bersyukur kepada para relawan 3 in 1 atau relawan dokumentasi yang tidak takut bekerja keras demi mendokumentasikan sejarah kita. Jadi, kita hendaknya bersyukur atas segala hal.
Saudara sekalian, hendaklah kalian belajar dari saya. Dengan belajar bersyukur saja, kalian akan sukses menjadi orang yang baik. Jika tidak memiliki rasa syukur, akan sangat sulit untuk bekerja sama secara harmonis dengan orang lain. Jika bisa bersyukur, barulah kita bisa bekerja sama secara harmonis dengan orang-orang.
Menyebarkan Dharma dengan menjadi saksi nyata dan mendokumentasikan sejarah
Butuh enam kondisi pendukung untuk menyebarkan Dharma
Tulus bertekad untuk mendedikasikan segenap jiwa dan raga
Mempraktikkan ajaran dan membina rasa syukur
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 12 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 14 Oktober 2026