“Saya mengetahui tentang Kelas Bimbingan Belajar Liugui sejak mengikuti kamp mahasiswa yang diadakan Tzu Chi Kaohsiung. Mengapa saya memiliki Kelas Bimbingan Belajar Liugui? Karena saya senang berinteraksi dengan anak-anak dan saya menyukai kegiatan mengajar,” kata Lin Wei-cheng, Anggota Tzu Ching.

“Awalnya, seorang relawan datang menemui saya dan bertanya, ‘Bagaimana jika kita mengadakan kelas bimbingan di akhir pekan?’ Berkat kalian, anak-anak kita dapat terus berkembang dan prestasi mereka juga meningkat,” kata Yu Guo-shan, Kepala bagian urusan akademik SD Longxing.

“Di daerah pedesaan Liugui, tidak ada tempat les. Jadi, anak-anak memang cukup kesulitan dalam belajar. Mengandalkan guru di sekolah saja tentu terbatas sehingga mereka menghadapi sejumlah kesulitan dalam belajar,” kata Wu Yi-xuan, Kepala bagian urusan umum SD Longxing.

“Saya melihat para mahasiswa dari NKNU benar-benar bersungguh hati dalam merancang kegiatan belajar. Mereka membuat kegiatan yang membuat anak-anak merasa penuh pencapaian. Jadi, anak-anak di Longxing sangat menyukai hari Sabtu. Mereka sangat senang dan selalu menantikan untuk mengikuti kelas bimbingan belajar ini,” pungkas Wu Yi-xuan.

Saya merasa sangat bersyukur. Terlebih lagi, ada begitu banyak pihak yang terlibat. Ada kepala sekolah, para kepala bagian, dan para guru yang turut berkontribusi di sana. Selama pendidikan berjalan dengan baik, anak-anak akan memiliki harapan. Jadi, hal yang paling dikhawatirkan dalam masyarakat ialah ketika pendidikan tidak berjalan dengan baik.

Jika pendidikan berjalan dengan baik, harapan anak-anak pun akan makin besar. Dengan pendidikan yang baik, masyarakat pasti akan menjadi lebih baik. Jadi, pendidikan adalah harapan masyarakat dan harapan itu ada pada anak-anak.

“Saya menyisihkan uang sejak taman kanak-kanak,” kata Cai Jia-ying dan Cai Jun-yu saat melakukan penuangan celengan bambu.

Sudah menyisihkan uang sejak taman kanak-kanak? Pantas saja berat.

“Hampir satu kilogram,” ucap Cai Jia-ying.

Saya melihat anak ini membawa celengan bambu dengan kedua tangannya. Sangat berat, hampir satu kilogram. Itu adalah berat dari satu demi satu keping uang yang dikumpulkan. Ketika memikirkan keping demi keping uang ini, saya teringat bahwa 60 tahun yang lalu, Tzu Chi berkembang berkat keping demi keping uang yang dikumpulkan hingga sekarang telah tersebar di berbagai penjuru dunia.

Jangan meremehkan uang yang jumlahnya sedikit. Sedikit demi sedikit uang yang dikumpulkan dapat menjadi jumlah yang besar dan dapat membantu orang-orang di seluruh dunia. Empat Misi Tzu Chi juga terus berkembang berkat semangat yang dimulai dari “50 sen”. Jadi, ini juga merupakan sebuah pendidikan untuk menghargai uang kecil.

Hendaknya kita memiliki rasa syukur, hormat, dan cinta kasih. Kata-kata inilah yang selalu saya jadikan semboyan dalam menyemangati semua orang. Sebagai manusia, hal yang paling tidak boleh kita lupakan ialah rasa syukur. Kita harus bersyukur kepada orang tua, guru, dan segala sesuatu yang ada dalam masyarakat. Kita harus selalu memiliki rasa syukur. Insan Tzu Chi juga demikian.

Saya pun bersyukur setiap saat. Kalian harus tahu bahwa selama rasa syukur selalu tersimpan di dalam hati, hati dan pikiran kita akan terbuka kapan pun. Selama memiliki rasa syukur, hati kita akan dipenuhi kebahagiaan setiap hari. Ketika hati penuh sukacita dan tidak ada noda batin, kita tidak akan lagi dipenuhi keraguan terhadap berbagai hal. Inilah yang disebut dengan hati dan pikiran yang terbuka.

Hari ini, saya benar-benar merasa hati dan pikiran saya terbuka. Saya merasa sangat bersukacita. Saya berharap jauhnya jarak menuju berbagai desa di daerah pegunungan, seperti Liugui dan Jianshan, tidak membuat para tenaga pendidik gentar. Di sana, selalu ada anak-anak yang polos dan memiliki harapan yang besar.

Kita berharap para guru bersedia datang kepada mereka. Ketika guru mengulurkan tangan, akan selalu ada tangan-tangan kecil untuk digandeng. Tangan-tangan yang bergandengan itu bagaikan untaian bacang. Setiap biji bacang begitu harum dan penuh gizi. Untuk membuat bacang, diperlukan butir demi butir beras, daun, dan tali. Intinya, butuh perpaduan berbagai sebab dan kondisi untuk mewujudkan hal ini.

“Saat hujan deras tahun lalu, jalan dari Baolai menuju Taoyuan terputus. Saat itu, beberapa siswa dari SMP Taoyuan tidak dapat kembali ke sekolah sehingga mereka menginap di sekolah kami. Saya bertanya, ‘Apakah kalian punya selimut untuk malam ini?’ Mereka berkata bahwa mereka cukup menggunakan jaket,” kata Yang Mao-qing, Kepala SMA Liugui.

“Sore itu, melalui salah satu jalur komunikasi dengan Tzu Chi, saya menanyakan apakah Tzu Chi dapat membantu menyediakan 27 kantong tidur. Menyediakan 27 kantong tidur dalam waktu singkat tidaklah mudah. Bahkan, bagi sebuah supermarket pun, menyediakan 27 kantong tidur sekaligus bukanlah hal yang mudah,” lanjut Yang Mao-qing.

Yang Mao-qing melanjutkan “Saat itu, seorang relawan Tzu Chi berkata kepada saya, ‘Master berpesan bahwa ketika ada tempat yang membutuhkan bantuan, kami harus segera datang ke sana.’ Lalu, 27 kantong tidur tersebut segera dikirimkan. Mereka juga membawa mi instan, minuman, dan banyak makanan lainnya. Saat itu, saya sangat berterima kasih. Jadi, saya selalu menyampaikan kepada anak-anak tentang tahu berpuas diri, menghargai berkah, dan bersyukur.”

“Sesungguhnya, apa pun bantuan yang diterima anak-anak, mereka harus tahu berpuas diri. Yang lebih penting lagi ialah menghargai berkah, yaitu menghargai semua makanan dan berkah yang dimiliki. Terakhir, mereka harus bersyukur, bersyukur kepada seluruh relawan dan bersyukur atas jalinan jodoh baik yang ada,” pungkas Yang Mao-qing.

Mendengar para kepala sekolah, kepala bagian, dan guru memiliki kepedulian seperti ini, saya merasa penuh harapan dan sangat bersukacita.

Beberapa hari ini, Asosiasi Guru Tzu Chi dan Tzu Ching terus kembali ke sini. Mereka datang secara berkelompok dan semuanya adalah alumni Tzu Ching. Kini, mereka telah berkarya di berbagai bidang. Mereka kembali dan duduk memenuhi ruangan. Dahulu, mereka adalah anggota Tzu Ching; saat ini, mereka adalah guru. Melihat mereka memenuhi ruangan ini dan mendengar berbagai laporan, saya sangat bersukacita.

Di usia saat ini, saya merasa sudah saatnya menginventarisasi apa yang telah dicapai. Belakangan ini, saya merasa sangat bersyukur melihat mereka satu per satu kembali dan berbagi tentang apa yang telah mereka capai. Saya selalu berpesan kepada mereka, “Ingatlah untuk mencatat setiap sejarah agar bisa diterbitkan menjadi sebuah buku.” Saya juga berharap kalian semua menuliskan kisah kalian sendiri.

Saudara sekalian, di bidang pendidikan, jika kalian memiliki pemikiran atau harapan, tuliskanlah. Saya juga menyambut kalian untuk bergabung dalam Asosiasi Guru Tzu Chi. Masyarakat membutuhkan organisasi yang baik. Setiap bidang pekerjaan membutuhkan organisasi yang baik dan murni sebagai tempat berhimpunnya orang-orang baik.

Hal-hal yang baik perlu dihimpun menjadi satu untuk memberi keteladanan bagi masyarakat. Bagi mereka yang belum bergabung dalam kelompok yang baik, ketika melihatnya, hati mereka akan dipenuhi sukacita. Hati dan pikiran mereka pun akan terbuka dan bersedia untuk bergabung. Dengan begitu, kita dapat membentuk kelompok yang memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.

Menghimpun jalinan jodoh baik dan memperoleh pencapaian bersama

Senantiasa memiliki rasa syukur serta hati dan pikiran yang terbuka

Membina setiap murid dan membawa harapan

Mengembangkan potensi bajik dan mendatangkan berkah melimpah

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 07 Oktober 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 09 Oktober 2026