Bumi membutuhkan kita semua untuk menyayanginya. Kita juga harus membantu Bumi. Mengapa dikatakan membantu Bumi? Bumi merupakan bagian dari alam, tetapi hukum alam tetap berjalan. Sementara itu, jumlah manusia terus bertambah hingga sekarang batas kapasitas Bumi sudah mulai menunjukkan respons kepada kita.

Saya sering mengingatkan semuanya bahwa kehidupan ini tidak kekal. Kita harus menghargai waktu, menggenggam waktu, dan meningkatkan kewaspadaan diri. Apakah meningkatkan kewaspadaan saja sudah cukup? Kita juga harus tekun dan bersemangat. Tidak cukup hanya waspada, kita harus tahu bagaimana bersikap hati-hati, yaitu dengan melakukan tindakan nyata secara berkelanjutan.

Kondisi ekologi dunia saat ini sudah tidak punya banyak waktu lagi. Sudah sejak lama saya memberi tahu semuanya bahwa kita sudah kehabisan waktu. Waktu untuk sekadar menyampaikan peringatan pun sudah hampir terlambat. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Dunia membutuhkan kalian. Kalian telah mengenal saya. Percaya kepada saya, dan telah dilantik sebagai relawan Tzu Chi. Kalian semua telah membangkitkan tekad dan ikrar untuk mengemban tanggung jawab Tzu Chi. Kita semua telah berikrar menjadi Bodhisatwa dan melangkah di Jalan Bodhisatwa dengan bersumbangsih bagi makhluk yang menderita. Jadi, saya berbicara dengan nada yang lebih tegas bahwa kita sudah kehabisan waktu.

Jika setiap hari saya menyerukan, “Kita sudah tiada waktu lagi,” kalian tentu akan merasa cemas. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa kita memang tidak boleh tidak cemas. Kita benar-benar harus bertindak secara nyata. Setiap satu perbuatan baik akan menghadirkan satu energi keberuntungan. Jika energi ini saja tidak ada, kehidupan manusia akan dipenuhi noda batin, kegelapan batin, dan ketidaktahuan yang bercampur aduk.

Selama ini, sudah begitu banyak hal yang kita perbuat di dunia. Ada orang yang melakukan begitu banyak perbuatan buruk akibat diliputi kegelapan batin. Semua ini bukan hanya dilontarkan lewat perkataan, tetapi juga karena ada orang yang mencurahkan pikiran dan upaya untuk melakukannya. Berbagai pertikaian dan persoalan di dunia setiap hari telah membentuk kegelapan batin.

Sesuai namanya, kegelapan batin itu membuat kita tidak dapat melihat dengan jelas. Kita tidak mampu melihat apa yang ada di depan. Bayangkan, ketika kabut turun dan sangat tebal, kita tidak dapat melihat jalan di hadapan kita. Jadi, saat berkendara dalam kabut, kita harus berhati-hati dan mengurangi kecepatan. Sama prinsipnya dengan ini, ketika kegelapan batin muncul dalam diri, kita tidak dapat melihat apa yang ada di depan. Jadi, kita harus senantiasa berhati-hati dan mawas diri.

Ketika kegelapan batin muncul dalam hati, kita harus terus mengingatkan diri agar waspada. Saya selalu memberi tahu kalian untuk terus membangkitkan hati yang penuh rasa syukur. Rasa syukur mengajarkan kepada kita untuk bersikap penuh pengertian dan berlapang dada. Saya terus mengingatkan tentang rasa syukur karena saya ingin kalian bersikap penuh pengertian dan lapang dada. Bagaimana kita bisa bersikap penuh pengertian?

Ketika seseorang berbicara dengan suara keras, mungkin kita berpikir, “Jika tidak membalas dengan suara keras juga, bagaimana saya bisa mengalahkannya?” Inilah kegelapan batin. Ketika menghadapi suatu keadaan, hati kita akan diliputi kegelapan batin. Ketika kegelapan batin bertemu kegelapan batin lainnya, itu seperti kabut tebal di depan kita, sementara kita sendiri terburu-buru dan ingin bergerak cepat. Keadaan ini tentu menjadi lebih berbahaya. Jadi, hati kita harus tenang.

Prinsipnya sama ketika kita menghadapi perubahan iklim. Kita harus menghormati kondisi alam. Jika kabut sangat tebal, kita harus lebih tenang. Alam sedang memberikan pelajaran kepada kita sehingga kita harus memperhatikannya. Begitu pula ketika seseorang berada di hadapan kita dan sedang diliputi kegelapan batin, kita harus mengingatkan diri sendiri untuk tetap waspada. Mungkin kita berpikir, “Dalam keadaan seperti ini, bagaimana saya bisa menahan diri?” Karena itulah, saya memberi tahu kalian untuk bersikap penuh pengertian, bersyukur, dan berlapang dada.

Selama puluhan tahun, saya terus menyampaikan tiga hal ini. Kalian tentu sudah sering mendengarnya. Mungkin ada banyak perkataan yang tidak harus terlalu diperhatikan, tetapi tiga hal ini harus selalu kalian ingat ketika memperlakukan orang lain. Dengan hati yang penuh rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih, barulah hati kita dapat tenang. Ketika kegelapan batin datang, kita dapat segera menyingkirkannya. Untuk itu, kita harus memiliki hati yang lapang.

Selama ini, kalian sudah banyak mendengar ajaran saya. Hari ini, hal yang ingin saya sampaikan ialah hal-hal tersebut. Semuanya sangatlah penting. Terlebih lagi, setelah puluhan tahun berlalu, sekarang saya melihat perubahan iklim terus terjadi. Hendaknya kita meningkatkan kewaspadaan diri. Jadi, marilah kita terus mengingat ajaran yang baik.

Hendaknya kita sering bertutur kata yang baik. Ketika menyampaikan ajaran, saya berkata, “Demikianlah yang telah saya dengar,” karena yang saya sampaikan merupakan perkataan Buddha. Apa yang kita dengar harus kita yakini. Ajaran Buddha bukan sekadar menceritakan masa lalu. Ajaran itu menggunakan peristiwa masa lalu untuk mengingatkan kita agar waspada pada masa sekarang. Jadi, hendaknya kita bersungguh hati dan percaya pada ajaran tersebut.

Sekarang, kita berada di awal era kemunduran Dharma. Kita telah memasuki masa ketika perang, perselisihan antarnegara, dan berbagai konflik antarmanusia mulai bermunculan. Ini baru permulaan. Ke depannya, hal-hal seperti ini bisa makin banyak terjadi. Bagaimana kita dapat meredam keadaan tersebut? Kurangi sikap saling perhitungan dan kurangi pertikaian.

Saya sering mengingatkan kalian agar tidak terlalu bersikap perhitungan. Hal seperti ini dapat menciptakan karma buruk. Kita harus lebih banyak menasihati orang lain. Ketika kegelapan batin muncul dalam hati seseorang, kita dapat menggunakan berbagai ajaran untuk menasihatinya. Inilah yang disebut pengajaran melalui perumpamaan.

Saat menyampaikan ajaran, kita perlu menggunakan perumpamaan. Saya sering membabarkan Sutra. Kalian pun dapat menyampaikan kembali ajaran yang saya sampaikan kepada banyak orang. Inilah yang disebut menyebarkan Dharma dan membawa manfaat bagi semua makhluk. Kalian telah melakukannya dengan sangat baik dan saya sungguh berterima kasih.

Mendengar kalian kembali untuk berbagi kisah, saya merasa sangat bersukacita. Sekarang, saya sudah jarang bepergian. Usia saya sudah makin lanjut dan tenaga sudah berkurang. Saya berharap ketika kalian datang menemui saya saat saya sedang melakukan perjalanan, kalian dapat menceritakan pengalaman kalian kepada saya.

Ketika banyak orang berkumpul, kalian juga dapat berbagi cerita dengan mereka. Inilah yang disebut pengajaran yang benar agar ajaran benar dapat menjangkau lebih banyak orang. Jadi, hendaknya kita sering bertutur kata yang baik.

Perubahan dunia menuntut kita untuk selalu waspada

Menyingkirkan kegelapan batin dengan bersikap pengertian dan berlapang dada

Menjaga ketenangan hati dengan tekun, bersemangat, dan bersyukur

Ajaran benar menjangkau semua orang dan membawa kebaikan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 25 Oktober 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 27 Oktober 2026