“Bodhisatwa lansia yang berusia 81 tahun ini sangat membuat saya kagum dan hormat. Kakak Tan Ah Kow adalah koordinator pelestarian lingkungan yang sangat ramah. Biasanya, beliau selalu datang paling awal dan pulang paling akhir,” kata Tee Ng Lee, relawan Tzu Chi.
“Kakak Tan Ah Kow adalah orang yang baik. Beliau juga baik dalam mengelola depo ini. Saat kami pulang, beliau masih belum pulang dan selalu menjadi orang terakhir yang pulang,” kata Tai Kwee Fah, relawan.
“Dahulu, saya tidak pernah memegang sapu di rumah. Sejak bergabung dengan Tzu Chi dan melakukan daur ulang, saya banyak berubah. Setiap hari, saya datang ke depo pelestarian lingkungan. Saya datang lebih awal untuk membuka pintu dan pulang paling akhir,” kata kata Tan Ah Kow, relawan Tzu Chi.
“Saya menganggap tempat ini sebagai rumah kedua saya. Saya merasa bahwa melakukan daur ulang sangat baik bagi kesehatan tubuh. Selain itu, tidak banyak gosip yang dibicarakan. Relawan Tzu Chi terasa seperti sebuah keluarga besar. Setiap hari, kami datang untuk melakukan daur ulang demi menciptakan berkah bagi generasi mendatang,” lanjut Tan Ah Kow.
Tan Ah Kow melanjutkan “Saya melepaskan usaha mahjong yang telah saya jalankan selama 35 tahun. Ini semua karena saya mengikuti pementasan adaptasi Sutra. Setelah itu, saya menyadari bahwa kita harus melakukan hal baik dan tidak lagi melakukan hal buruk. Menjalankan usaha mahjong bukanlah pekerjaan yang benar. Setiap hari, perkataan yang keluar bukanlah perkataan baik, melainkan perkataan yang buruk.”
“Setiap kali pergi ke sekolah untuk menyosialisasikan pelestarian lingkungan, saya ikut berperan dalam sebuah drama. Anak-anak merasa senang dan saya pun ikut bahagia. Saya bisa memperagakan gerakan-gerakan sederhana kepada anak-anak sambil menjelaskan kepada mereka bahwa menjaga kebersihan harus dimulai dari sumbernya dan memberi tahu barang-barang apa saja yang dapat didaur ulang. Sejak bergabung dengan Tzu Chi, saya merasa sukacita. Saya melakukannya dengan penuh kerelaan dan menerima hasilnya dengan sukacita,” pungkas Tan Ah Kow.

Bodhisatwa sekalian, hendaknya kalian bersungguh hati, tetapi tetap perlu mawas diri. Jangan sampai pikiran kita menyimpang. Sekalipun ada orang yang mengatakan sesuatu, entah itu perkataan yang benar atau salah, jika memang ada kesalahan dan masih sempat diperbaiki, kita harus segera meluruskannya. Jika sudah terlambat, kita harus mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jika ada hal-hal yang belum saya dengar, tetapi kalian masih mendengar orang membicarakan hal yang tidak benar, kalian harus meluruskannya. Inilah yang disebut mewariskan Dharma.
Ketika Buddha hadir di dunia, ada begitu banyak orang yang memfitnah-Nya. Namun, tetap ada murid-murid-Nya yang berusaha meluruskan semuanya. Hendaknya kita terus mewariskan Dharma. Di dunia ini, kejadian seperti ini terus berulang. Orang yang gemar bergosip akan terus membicarakan hal-hal yang tidak benar. Orang yang tidak memiliki jalinan jodoh dengan saya tetap akan terus melontarkan fitnah. Orang yang memiliki jalinan jodoh dengan saya akan terus berusaha untuk meluruskannya.
Kita bukan hanya perlu meluruskan berbagai hal dalam kehidupan saat ini, tetapi juga perlu menyampaikan kebenaran kepada generasi mendatang. Saya berharap setelah mendengar penjelasan kalian, generasi berikutnya dapat mengubah arah mereka, menempuh jalan yang benar, dan bertutur kata yang baik. Mereka juga dapat menjadi orang yang mewariskan Dharma demi masa depan masyarakat. Jadi, hendaknya orang baik melakukan perbuatan baik.
Kita harus terus menyampaikan kebenaran. Jangan menunggu sampai masa depan baru melakukannya. Kita tidak tahu seperti apa masa depan nanti, bahkan kita pun tidak tahu apakah kita masih memiliki kesempatan di masa depan. Kita harus terus meluruskan hal yang salah. Dahulu, saya sering berkata bahwa biarlah generasi mendatang yang meluruskan kesalahpahaman. Namun, sekarang saya juga harus mengoreksi diri sendiri.
Kalian perlu tahu berbagai “angin kegelapan batin” yang menerpa Tzu Chi pada masa lalu. Kalian perlu mengingatnya kembali. Semua itu tidak sesuai dengan kenyataan. Kalian pernah bekerja bersama saya sehingga memahami situasi tersebut dengan jelas. Cobalah renungkan kembali gejolak akibat angin kegelapan batin pada masa itu. Ketika sekarang mengingatnya kembali, itulah bagian dari peristiwa dalam kehidupan manusia.

Buddha sendiri pun terus meluruskan berbagai hal. Semua itu berkaitan dengan kegelapan batin dan fitnah yang muncul. Beliau terus berusaha meluruskannya. Jadi, kita harus memperbaiki perilaku diri sendiri serta meluruskan apa yang Tzu Chi lakukan. Jiwa kebijaksanaan Tzu Chi merupakan tanggung jawab semua orang. Hendaknya kita mewariskan Dharma dengan baik, menjaga jiwa kebijaksanaan, dan menghargai diri sendiri. Apa yang sedang kita lakukan saat ini, itulah cara kita mewariskan jiwa kebijaksanaan.
Ketika melihat penderitaan di dunia, kita memiliki sekelompok orang yang akan terus bersumbangsih. Ada orang-orang yang tidak memahaminya dan justru menentangnya. Dalam keadaan ini, kita harus segera meluruskannya. Inilah bagian dari upaya kita untuk mewariskan Dharma yang benar. Jadi, hendaknya kita mewariskan Dharma.
“Saat melihat seragam yang kalian kenakan, saya tahu bahwa kalian sering melakukan pekerjaan amal. Kita juga terlibat untuk memberikan dukungan, seperti membersihkan rumah warga yang terkena banjir,” kata Rodziah Bt Ishak, warga.
“Saya melihat banyak orang yang memberikan bantuan dengan penuh semangat. Saya senang melihat setiap orang dapat ikut terlibat. Meski bantuan yang diberikan kecil, tetap bisa membantu banyak orang. Dahulu, sepertinya hanya orang kaya yang bisa melakukan kebajikan. Sekarang, meski hidup dalam kekurangan, kita tetap bisa bersumbangsih,” kata Lim Siow Hong, relawan.

Terima kasih, Bodhisatwa sekalian.
Saya selalu menyebut kalian sebagai Bodhisatwa. Janganlah kita meremehkan diri sendiri. Kita harus menghormati Bodhisatwa pada masa lalu dan belajar dari semangat mereka. Kita juga harus menghormati orang-orang baik dan Bodhisatwa yang ada saat ini. Jadi, hendaknya kita saling menyemangati.
Jadi, Saudara sekalian, hendaknya kita menghormati satu sama lain. Kita juga harus menghormati jiwa kebijaksanaan diri sendiri. Hal inilah yang belakangan ini sering saya sampaikan. Saya pun menghormati jiwa kebijaksanaan saya sendiri. Hendaknya kita menginventarisasi kehidupan. Jika kita telah melakukan sesuatu yang benar, bagikanlah pengalaman tersebut kepada orang lain. Dengan begitu, Dharma dapat diwariskan dari satu orang ke orang berikutnya, seperti mata rantai yang saling terhubung.
Saudara sekalian, waktu berlalu begitu cepat. Seiring berlalunya waktu, usia kehidupan pun berkurang. Kita harus menggenggam waktu untuk menginventarisasi hal-hal yang telah dilakukan di masa lalu dan mempertahankan hal-hal benar yang perlu dilakukan di masa depan. Genggamlah waktu hari ini karena hari ini akan menjadi kenangan untuk hari esok. Saya mendoakan kalian semua untuk dapat terus menyebarkan kisah-kisah kebaikan.
Kehidupan kita yang bernilai juga perlu terus dicatat. Tuliskanlah pengalaman kalian untuk dapat saling menyemangati. Inilah hal yang sangat penting. Kita perlu membangkitkan kebijaksanaan melalui tulisan. Sejarah dan kisah Tzu Chi perlu diwariskan kepada generasi mendatang. Jadi, hendaknya kalian terus menyebarkan kisah-kisah kebaikan dan berterima kasih atas segala kontribusi para Bodhisatwa di masa lalu. Semoga kita senantiasa berada di tengah orang-orang baik dan para Bodhisatwa. Hendaknya semuanya saling menyemangati. Terima kasih.
Membedakan hal yang benar dan salah dengan kesadaran
Meluruskan kekeliruan dan membimbing mereka yang berjodoh
Tekun melatih diri dan menjaga jiwa kebijaksanaan
Mewariskan ajaran baik dengan saling berinteraksi dan menginventarisasi kehidupan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 23 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 25 Oktober 2026