“Awalnya, saat membuat gantungan 50 sen ini, ada 70 hingga 80 orang yang datang untuk belajar. Saat itu, semuanya datang dengan penuh semangat. Namun, setelah mulai membuatnya, barulah kita menyadari bahwa dibutuhkan kesabaran. Kalau tidak sabar, kita tidak akan bisa menyelesaikannya dari awal hingga akhir. Mata juga harus dalam kondisi baik karena benang yang digunakan sangat halus. Kalau penglihatan kurang baik, akan sering salah merangkai sehingga harus dibongkar dan diulang Kembali,” kata Xie Jin-feng, relawan Tzu Chi.

Ini sungguh tidak mudah. Saat ini, totalnya ada berapa orang?

“Ada lebih dari 30 orang yang datang secara rutin. Yang paling tua berusia 85 tahun,” ucap Xie Jin-feng.

Sangat hebat.

“Saat mengikuti ceramah Master secara daring, saya pernah mendengar Master menyampaikan bahwa pada peringatan 60 tahun Tzu Chi, Master ingin berterima kasih kepada insan Tzu Chi seluruh dunia dan berharap dapat memberikan sebuah kenang-kenangan 60 tahun yang sarat makna,” kata Huang Mei-xue, relawan Tzu Chi.

“Ketika mengetahui bahwa kenang-kenangan itu berupa gantungan 50 sen, saya pun berikrar bahwa saya harus ikut menjalin jodoh yang begitu istimewa di peringatan 60 tahun ini. Jadi, ketika ada ajakan dari komunitas, saya pun ikut berpartisipasi. Memang benar, asalkan ada ikrar, maka ada kekuatan,” pungkas Huang Mei-xue.

“Dari setiap wilayah Taiwan Tengah, selalu ada orang yang datang ke Kantor Tzu Chi Xintian. Tidak ada yang menjemput ataupun mengantar mereka. Mereka datang dengan usaha sendiri. Ada yang mengendarai sepeda motor, ada yang naik bus, lalu melanjutkan dengan MRT, kemudian naik bus antar jemput. Jadi, sesungguhnya, semuanya datang dengan sukarela dan penuh sukacita untuk mengerjakannya,” kata Xie Jin-feng, relawan Tzu Chi.

Ini sungguh tidak mudah. Dengan kesatuan hati dan tekad, tidak peduli betapa sulitnya perjalanan, kalian tetap mengatasinya.

“Semua orang berpikir bahwa Master sangat membutuhkan ini. Jadi, kami datang untuk mengerjakannya,” pungkas Xie Jin-feng.

Selama saya membutuhkannya, kalian akan mengerjakannya.

“Benar,” ucap para relawan Tzu Chi.

Saya sangat dipenuhi berkah. Kalian telah mengikuti saya untuk bersumbangsih dan mengatasi begitu banyak kesulitan. Kita selalu berusaha untuk melakukan segalanya hingga berhasil. Ingatlah untuk mengikuti langkah saya dari kehidupan ke kehidupan. Saya merasa sangat bersyukur. Jika kalian terus mengikuti saya, kalian akan selalu sibuk dari kehidupan ke kehidupan.

“Kami bersedia melakukannya,” ungkap para relawan Tzu Chi.

Saya merasa sangat beruntung. Hanya dengan menyampaikan satu pesan, kalian langsung berusaha dengan tekun. Begitu memegang benda ini, kita sudah bisa mengetahui betapa banyak keterampilan dan usaha yang diperlukan. Terlebih lagi, setelah kalian menjelaskan prosesnya, kita makin menyadari betapa sulit dan berharganya keterampilan ini. Dengan kesungguhan hati dan kekuatan cinta kasih, kalian berusaha menyelesaikan sesuatu yang saya butuhkan. Ini sungguh tidak mudah.

Sekarang, saya memahami bahwa kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati agar saya dapat memberikan kenang-kenangan ini kepada banyak orang. Saya bisa merasakan kesungguhan hati kalian. Bahkan, mereka yang sudah lansia dan penglihatannya kurang baik pun tetap berusaha mencari cara untuk menyelesaikannya dengan bantuan kaca pembesar. Ini lebih tidak mudah lagi.

Saya merasa tidak sampai hati melihat kalian mengerjakannya di siang hari, kemudian kembali melanjutkannya di bawah cahaya lampu pada malam hari. Kalian harus menjaga tenaga dan penglihatan agar dapat terus bersumbangsih. Untuk menjalankan misi Tzu Chi dalam jangka panjang, kalian harus bersungguh hati.

Kali ini, ketika saya berada di Kaohsiung, sejak pagi sekali, saya sudah duduk di sana dan mendengar bahwa insan Tzu Chi di sana juga sama seperti kalian, semuanya mengerahkan segenap hati dan tenaga. Menggalang donatur juga bukan hal yang mudah. Mereka merespons seruan saya untuk menapaki Jalan Bodhisatwa meski itu sangat sulit. Inilah yang disebut dengan melatih diri.

Demi satu pesan yang saya sampaikan, semuanya memahami bahwa inilah praktik melatih diri. Para relawan benar-benar percaya pada apa yang saya sampaikan. Mereka pun mengubah pola pikir mereka, termasuk bagaimana memperlakukan orang lain dan sebagainya. Seorang relawan berkata bahwa dia telah berubah sepenuhnya. Ketika hatinya bergejolak, dia akan teringat dengan pesan saya tentang bagaimana melapangkan hati sehingga dapat merangkul banyak orang. Pola pikir mereka telah berubah.

Kini, dapat kita melihat semua orang dengan sukacita saling bergandengan tangan dan berjalan bersama. Ini juga merupakan suatu bentuk kebajikan, kita memperoleh pengakuan banyak orang. Aksara Tionghoa “kebajikan” terdengar sama dengan aksara “memperoleh”. Orang yang memiliki kebajikan akan memperoleh sesuatu. Kedua aksara Tionghoa ini memiliki pelafalan yang sama.

Ketika kita bersumbangsih secara nyata, kita pun akan memperoleh sesuatu. Meski kita mengalah pada orang lain agar dia merasa senang, sebenarnya yang memperoleh sesuatu ialah kita sendiri. Itu karena kita sudah memahami bahwa dahulu kita saling tidak mau mengalah. Kini, demi membuat orang lain senang, saat berpapasan dengan orang lain pun kita segera mengalah agar mereka dapat lewat dahulu. Inilah sikap saling mengalah. Saling bergandengan tangan juga merupakan wujud kasih sayang.

Dahulu, setiap kali saya pergi ke Kaohsiung, ketika berjalan menuju aula, saya harus melewati rampa. Di sepanjang jalan, terdapat berbagai kisah sejarah kita. Di Hualien juga ada rampa seperti itu. Jika kalian pernah pergi ke Hualien, kalian pasti tahu bahwa kita memiliki rampa yang sama.

Mereka berkata, “Master, kami adalah bidadari kebersihan.” Tempat itulah yang menjadi tempat mereka bekerja. Karena itulah, mereka menyebut diri mereka “bidadari pembersih”. Ketika bekerja di sana, mereka selalu dipenuhi sukacita dan kebahagiaan. Tempat itu selalu dipenuhi suara tawa. Itulah yang disebut dengan ladang pelatihan yang penuh sukacita. Inilah ladang pelatihan insan Tzu Chi.

Dalam melatih diri, ada berbagai cara. Kita melatih diri hingga hati dan pikiran kita terbuka. Yang paling penting ialah pikiran dan niat kita. Dari semua yang telah kalian bagikan, inilah yang paling saya ingat. Setiap kali pikiran bergejolak, ingatlah sekelompok “bidadari pembersih” yang tengah bekerja dan membuat semua orang merasa sukacita. Jika dipikirkan, semuanya terasa penuh sukacita. Di mana-mana adalah tempat untuk melatih diri.

“Hal yang paling saya banggakan dalam hidup ini ialah mengajarkan Kata Renungan Jing Si. Saya selalu berkata kepada anak-anak, ‘Mengucapkan sepatah kata baik, bagai menyebarkan semerbak bunga teratai; mengucapkan sepatah kata buruk, bagai menyemburkan racun ular berbisa.’ Mereka biasanya langsung terkejut, lalu ada yang tertawa dan merasa senang. Sejak saat itu, mereka tidak berani lagi berkata-kata buruk,” kata Kakak Xie Xing-hui, nomor komite 775.

“Tentu saja, setiap hari, saya selalu menuliskan satu Kata Renungan Jing Si di agenda mereka untuk diperlihatkan kepada orang tua di rumah. Saya mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari para orang tua dan rekan kerja. Mereka juga mengikuti saya untuk mengajarkan Kata Renungan Jing Si dan kemudian bergabung menjadi donatur Tzu Chi. Oleh karena itu, jumlah donatur yang saya ajak pun bertambah dengan sangat cepat,” pungkas Kakak Xie Xing-hui.

Inilah sukacita. Bagaimana mungkin saya tidak bahagia setiap harinya?

Jalan Bodhisatwa sangat mudah ditempuh. Makin menapakinya, makin banyak berkah dan jalinan jodoh yang akan kita dapatkan. Semua ini merupakan jalinan jodoh yang akan membawa kita pada kebuddhaan kelak. Inilah salah satu bagian dari proses tersebut. Saya sangat berharap kalian dapat berjalan bersama saya di zaman ini. Apa pun yang saya lakukan, kalian semua membangkitkan tekad untuk terus mendukung.

Saat ini, saya sangat menantikan agar setiap tahun, bulan, dan hari yang kita jalani menjadi bagian dari sejarah nyata Tzu Chi di Taiwan. Hendaknya kita mewariskan semangat Tzu Chi tanpa henti. Bukan sekadar berkata kepada anak-anak, “Ini adalah warisan keluarga,” melainkan, “Inilah warisan Tzu Chi yang diwariskan dari generasi ke generasi.”

Kisah kalian juga merupakan bagian dari sejarah. Apa yang kalian ceritakan sekarang juga merupakan sebuah kisah. Kalian membuat gantungan ini sehingga begitu banyak orang di seluruh dunia dapat menerimanya. Ini juga merupakan kisah yang sangat besar.

Menghimpun kekuatan untuk menuntaskan misi

Tekun melatih diri serta memperbaiki hati dan pikiran

Mewariskan kebajikan dan keindahan di dalam keluarga

Menjalin jodoh baik di ladang pelatihan yang penuh sukacita

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 09 Agustus 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 11 Agustus 2026