“Saat mengikuti pementasan adaptasi Sutra, sesungguhnya kita tengah membabarkan Dharma. Agar tempat penyebaran Dharma dapat terlihat agung, kita harus mengandalkan penanda posisi ini. Penanda tersebut dibuat berdasarkan garis-garis acuan. Hal ini mengingatkan saya pada ajaran Master, ‘Sutra menunjukkan jalan dan jalan harus dipraktikkan.’ Penanda-penanda itulah yang menjadi jalan bagi seluruh tim pementasan. Agar para Bodhisatwa yang mengikuti pementasan tidak kehilangan arah, setiap penanda harus dipasang dengan sangat jelas dan teliti,” kata Huang Tai-kui, relawan Tzu Chi.

“Kali ini, saya bertugas sebagai ketua tim pemasangan kanvas di area lautan Dharma. Tanpa melewati satu hal, kebijaksanaan kita tidak akan bertambah. Awalnya kami mengira pekerjaan ini hanya mengikuti garis acuan lalu ditempel saja. Ternyata, setiap detail kecil harus benar-benar diperhatikan. Jika terlalu fokus pada satu sisi, sisi lainnya bisa menyimpang. Ketika satu sudut sudah tepat, sudut yang lain justru menjadi tidak sejajar. Setelah semuanya dipasang, selisihnya bisa mencapai 6 hingga 7 sentimeter. Itulah hal yang paling saya sesali,” kata Wang Zhao-xing, relawan Tzu Chi.

“Pada pemasangan kedua, kami bekerja dengan sangat teliti dan tidak berani lengah sedikit pun. Semua orang bekerja dengan penuh kesungguhan. Ada yang bertugas mengangkat kanvas dan ada yang menempelkan perekat. Setelah setiap titik dipastikan sejajar, kami masih meminta tim pemeriksa untuk mengecek berulang kali. Setelah dipastikan tidak ada masalah, barulah semuanya dipasang,” lanjut Wang Zhao-xing.

“Jujur, menggambar rancangan dan memasangnya tidak semudah yang kami bayangkan. Dari pengalaman ini, saya benar-benar memahami arti kesatuan dan keharmonisan. Bukan karena kehebatan seseorang yang membuat semuanya bisa selesai, melainkan kerja sama dari semua orang yang membuat pekerjaan dapat selesai dengan sempurna,” pungka Wang Zhao-xing.

Saya sangat bersyukur karena Tzu Chi memiliki begitu banyak relawan. Banyak relawan yang bergerak untuk pementasan ini, tetapi mereka bukan baru berkumpul sekarang. Sejak dahulu, kita memang sudah terbiasa berkumpul. Jadi, saya merasa sangat bersyukur. Insan Tzu Chi sejak awal telah memiliki semangat kesatuan dan gotong royong.

Berbicara tentang kesatuan hati, saya sering menggunakan gestur kedua tangan. Ketika kedua tangan disatukan seperti ini, jari-jari dirapatkan, lalu ditarik ke sini, aksara Tionghoa apa yang terbentuk? (Bersatu.) Ya, bersatu. Hendaknya kita menyatukan hati. Ada ribuan, bahkan puluhan ribu tangan yang melakukan gerakan yang sama. Tidak boleh ada selisih satu detik pun. Mengikuti irama musik yang sama, hampir 10 ribu orang menyatukan kedua telapak tangan, menyejajarkan kedua ibu jari, lalu mendekatkannya ke hati. Hati kita berada di sini. Gerakan ini berarti menyatukan hati.

Hendaknya kita semua bersatu hati dan harmonis. Kita juga harus saling mengasihi dan bergotong royong. Kalian dan saya selalu bekerja sama dengan harmonis. Begitu banyak orang mementaskan adaptasi Sutra dengan gerakan yang sangat rapi. Semua bergerak di waktu yang sama, tanpa selisih waktu sedikit pun. Kekuatan yang lahir dari kesatuan seperti ini sungguh indah. Yang dapat dilihat semua orang ialah kekompakan gerakan kita. Ini semua lahir dari kerja sama yang baik.

Dalam interaksi antarsesama, kita harus bisa bekerja sama dengan baik. Semua gerakan ini mengandung makna yang sangat dalam. Ketika semua ini disiarkan, insan Tzu Chi di seluruh dunia akan menyaksikan keindahan Tzu Chi. Jadi, saya sering mengatakan bahwa semuanya membutuhkan ketulusan hati dari setiap orang. Semuanya telah belajar dengan sungguh-sungguh dan mengekspresikannya melalui pementasan. Kesungguhan hati kalian akan terlihat oleh seluruh insan Tzu Chi di berbagai belahan dunia. Hati yang tulus itu harus kita tampilkan agar semua orang dapat melihatnya.

Di manakah letak keindahan itu? Keindahan terletak pada kerja sama yang harmonis yang selama puluhan tahun terus dipraktikkan oleh insan Tzu Chi. Kita ingin memperlihatkan kepada insan Tzu Chi seluruh dunia, bahkan kepada mereka yang bukan insan Tzu Chi. Ketika Da Ai TV menayangkannya, orang yang sebelumnya tidak mengenal Tzu Chi mungkin tanpa sengaja melihatnya dan berkata, “Wah, mengapa ada begitu banyak orang yang dapat bergerak begitu kompak? Indah sekali.”

Dari keindahan itu, mereka akan terus bertanya, “Ini stasiun televisi apa? Acara apakah ini? Bagaimana bisa orang-orang ini begitu kompak?” Ketika ada yang bertanya, akan ada yang menjelaskan. Inilah yang disebut menyebarluaskan. Semangat kesatuan dan keharmonisan ini disebarkan melalui kebenaran, kebajikan, dan keindahan dari pementasan adaptasi Sutra ini.

“Saat satu tangan bergerak, seribu tangan ikut bergerak. Saat satu mata memandang, seribu mata ikut memandang.” Inilah keindahan Tzu Chi. Keindahan itu terletak pada tangan yang saling bergandengan dan hati yang saling terhubung. Kita bukan hanya memperlihatkannya kepada orang lain, tetapi juga benar-benar mewujudkannya. Semua ini merupakan hasil dari 60 tahun kesatuan hati, keharmonisan, dan kerja sama seluruh insan Tzu Chi. Dengan satu tekad yang sama, kita menyebarkan kekuatan cinta kasih Tzu Chi ke seluruh dunia. Itulah sebabnya keindahan ini dapat terwujud.

Bodhisatwa sekalian, kata orang, pementasan 10 menit di atas panggung membutuhkan waktu latihan berapa lama? (Sepuluh tahun.) Ya, 10 tahun waktu latihan. Kini, pementasan ini baru mulai memperlihatkan bentuk awalnya. Bagi kalian yang terlibat langsung, pasti tahu berapa lama proses yang dibutuhkan untuk mencapai hasil seperti ini.

Sementara, bagi orang awam yang hanya menonton, mereka akan merasa sangat indah. Padahal, mereka baru melihat sebagian kecil saja. Nanti, ketika seluruh pementasan ditampilkan, semua orang akan menyaksikan keindahan yang sesungguhnya. Semua ini terwujud karena kalian terus mempraktikkan kebenaran dan kebajikan. Kalian telah menumbuhkan kebajikan selama puluhan tahun.

Dalam Empat Misi Tzu Chi, kalian semua turut berpartisipasi. Setiap hari, kalian melakukan pelayanan misi amal dan mempraktikkan nilai-nilai budaya humanis. Insan Tzu Chi telah melatih diri sehingga dalam memperlakukan orang lain pun selalu memancarkan keindahan. Saya merasa sangat tersentuh dan bersyukur. Kini, setiap langkah kaki dan gerakan tangan kalian mengandung jejak ketulusan yang telah kalian curahkan kepada Tzu Chi. Semua itulah yang membentuk keindahan yang kita lihat ini.

Beberapa puluh tahun yang lalu, dunia ini sering dilanda bencana. Bagaimana kita memberikan bantuan? Saat dunia dipenuhi dengan penderitaan, bagaimana kita menjalankan misi amal? Setiap gerakan yang kalian tunjukkan sekarang adalah akumulasi dari apa yang telah dilakukan selama ini. Saya merasa sangat bersyukur.

Bersatu hati dan bergotong royong dalam satu tekad

Mewujudkan keagungan dengan ketulusan dan keselarasan

Membina batin dan menjaga perilaku hingga kebajikan terpancar

Menyukseskan pementasan adaptasi Sutra demi menyebarkan Dharma

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 Juni 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 01 Juli 2026