“Setelah pandemi Covid-19, di bawah laporan warga dan dokter, kami telah menerima 148 kasus di Sandakan. Mereka sangat menderita. Mereka tidak memiliki status kewarganegaraan, juga tidak pernah mengenyam pendidikan. Mereka menderita akibat kelaparan dan penyakit. Akumulasi semua itu membuat mereka sangat menderita,” kata Huang Shou-fen, relawan Tzu Chi.

“Ada dokter yang pernah bertanya, ‘Begitu banyak kasus, mengapa Tzu Chi masih bisa terus memberikan bantuan?’ Master pernah berkata bahwa kita harus membantu jika ada jalinan jodoh. Kita tak bisa membantu semua orang yang ingin kita bantu. Saat seseorang memiliki jalinan jodoh, barulah kita dapat membantunya,” pungkas Huang Shou-fen.

Setelah menerima laporan, kita harus melakukan survei. Setelah kita melakukan survei, mereka akan tertolong. Saya sangat bersyukur kepada semua relawan Tzu Chi. Janganlah kita melewatkan satu orang pun. Para insan Tzu Chi menapaki Jalan Bodhisatwa dengan hati Bodhisatwa. Dengan melakukan kunjungan, barulah kita bisa menjangkau orang yang membutuhkan.

Wilayah Malaysia sangat luas dan penduduknya sangat banyak. Ajaran Buddha harus disebarluaskan di Malaysia. Karena itu, galanglah lebih banyak Bodhisatwa dunia dengan kesungguhan hati dan cinta kasih. Saya sungguh berharap kita dapat menginspirasi lebih banyak Bodhisatwa dunia. Dunia ini membutuhkan Bodhisatwa. Hanya di alam manusialah kita bisa menjadi Bodhisatwa. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Kita harus melatih diri hingga benar-benar memahami semangat dan filosofi ajaran Buddha. Hanya memahami saja tidaklah cukup, kita juga harus mempraktikkannya. Kita harus mempraktikkan Dharma untuk membimbing semua makhluk secara luas. Inilah tujuan terpenting dari ladang pelatihan kita. Bodhisatwa sekalian, saya harap kalian bisa menjadi Bodhisatwa dunia yang tekun dan bersemangat. Mewujudkan ladang pelatihan Bodhisatwa di dunia, inilah yang paling saya harapkan.

Sesungguhnya, Taiwan dan Malaysia terpisah oleh jarak yang sangat jauh, tetapi hati kita selalu berdekatan. Bodhisatwa sekalian, saya tahu bahwa kalian mengasihi saya. Karena itulah, saya berkata bahwa hati kita berdekatan.

Di Malaysia, kalian harus ingat untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan dan membimbing orang yang ingin saya bimbing. Di dunia ini, hanya Bodhisatwa yang dapat menyucikan hati semua makhluk. Karena itu, kita harus menganggap setiap orang sebagai orang yang ingin kita bimbing. Jika bisa demikian, saat melihat setiap orang, kita akan selalu membangkitkan rasa sukacita.

Akan tetapi, dunia ini sangatlah rumit. Terkadang, kita mungkin tidak sengaja mengucapkan kata-kata atau menunjukkan ekspresi yang menyinggung orang lain dan membuat kita disalahpahami. Karena itu, kita harus sangat waspada dan bersungguh hati. Ini juga merupakan bagian dari pelatihan diri, bagian yang sangat penting. Kita harus selalu menjaga ucapan dan sikap kita.

Tujuan saya datang ke dunia ini ialah terjun ke tengah masyarakat untuk membimbing semua makhluk. Kalian telah bertekad dan berikrar untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan. Karena itulah, saya berkata bahwa hati kita berdekatan.


“Untuk upacara pemandian rupang Buddha kali ini, ada banyak tim fungsional yang merupakan alumni Tzu Ching. Dahulu, kami adalah anak-anak yang hanya ikut melangkah di belakang relawan lain. Master, kali ini giliran kami mengemban tanggung jawab untuk memimpin sekelompok orang. Inilah para alumni Tzu Ching yang turut mengemban tanggung jawab kali ini. Lihatlah, kami telah berusia 30-an hingga 40-an tahun. Tanpa disadari, kami telah mencapai usia memiliki orang tua dan anak. Tiga generasi dalam keluarga kami bersama-sama menjalankan Tzu Chi,”
 kata Shi Jia-yan, relawan Tzu Chi.

Kalian yang dahulu masih anak-anak, kini telah tumbuh sebesar ini. Kalian juga harus melakukan pewarisan kepada generasi mendatang hingga 50 ataupun 60 generasi. Semangat kalian harus terus diwariskan.

“Tahun ini adalah ulang tahun Tzu Chi yang ke-60 sekaligus ulang tahun Master yang ke-90. Berhubung berkesempatan untuk mengadakan upacara pemandian rupang Buddha di sebuah stadion, kami membangkitkan ikrar agung untuk mengajak lebih banyak orang menghadiri persamuhan Dharma ini. Karena itu, upacara yang semula hanya satu sesi berubah menjadi dua sesi, yaitu sesi pagi dan malam,” kata Chen Wei-han, relawan Tzu Chi.

“Jumlah partisipan yang kami undang pun meningkat dari 10 ribu orang menjadi 20 ribu orang. Jadi, upacara pemandian rupang Buddha kami dihadiri oleh puluhan ribu orang. ‘Mendatangkan puluhan ribu berkah’ merupakan slogan dan ikrar kami untuk upacara pemandian rupang Buddha kali ini,” pungkas Chen Wei-han.

Selama 60 tahun Tzu Chi berdiri, kita telah menginspirasi banyak orang untuk melihat nilai sesungguhnya dari agama dan menjalin jodoh baik dengan orang-orang. Inilah nilai-nilai yang dipegang oleh insan Tzu Chi. Mengenai agama, jika kita memiliki kemelekatan, jalan kita akan menjadi sangat sempit. Kita hendaknya membuka pintu hati untuk merangkul semua agama. Inilah yang diajarkan oleh agama kita.


Secara keseluruhan, kami mengadakan 11 sesi sosialisasi upacara pemandian rupang Buddha demi mengajak puluhan ribu orang menghadirinya. Ini juga untuk menggalang Bodhisatwa dunia dan sebagai hadiah ulang tahun untuk Master. Setelah berkunjung ke pasar, para relawan juga pergi ke kuil Hindu dan stasiun MRT untuk berbagi tentang Tzu Chi. Jadi, kami membimbing semua orang,” kata Wei Rong-zhen, Staf Divisi Pengembangan Misi Tzu Chi.

“Para staf kami juga sangat bekerja keras. Pada jam istirahat siang atau pulang kerja, kami membawa poster dan brosur ke stasiun MRT, pasar, dan sebagainya untuk mengajak orang-orang. Intinya, kami terus berbagi tentang Tzu Chi,” pungkas Wei Rong-zhen.

“Setelah upacara pemandian rupang Buddha, kami mengadakan tur setengah hari Aula Jing Si. Selesainya upacara pemandian rupang Buddha yang dihadiri puluhan ribu orang bukanlah akhir, melainkan permulaan untuk menjalin jodoh dengan Tzu Chi. Dalam tiga hari, kami mengadakan empat kali tur yang diikuti oleh 1.168 orang. Mereka memasuki Aula Jing Si untuk mengenal ajaran kebajikan Tzu Chi,” kata Li Xin-yi, Kepala Divisi Pengembangan Misi Tzu Chi.

Kalian harus ingat untuk memperluas kekuatan cinta kasih Tzu Chi. Mazhab Tzu Chi adalah Jalan Bodhisatwa di dunia yang dapat dipraktikkan oleh setiap orang. Jangan terbelenggu oleh kemelekatan terhadap agama. Hendaklah kita melapangkan hati kita. Apa pun yang kita lakukan, kita selalu berpegang pada kekuatan cinta kasih tanpa memandang perbedaan suku. Inilah yang disebut cinta kasih agung. Cinta kasih agung tidak terintang oleh apa pun. Inilah cinta kasih agung.

Tanpa kebajikan, agama tak akan bisa menyatukan orang-orang. Setiap agama harus mengajarkan kebajikan, baru bisa menyatukan orang banyak. Selama suatu agama memiliki sejarah kebajikan, kita harus menghormatinya. Jika bisa saling menghormati, semua orang akan berhimpun dalam cinta kasih agung tanpa pamrih. Dengan demikian, kita tidak perlu menekankan keyakinan kita. Yang menjadi keyakinan kita ialah cinta kasih.

Para insan Tzu Chi juga menganut agama yang berbeda-beda. Kalian semua tahu bahwa insan Tzu Chi menganut agama yang berbeda-beda. Namun, saat mengenakan seragam biru putih, semua orang sama-sama adalah insan Tzu Chi.

Tzu” berarti cinta kasih dan welas asih. Selain itu, juga ada sukacita dan keseimbangan batin. Kita harus melepas semua kemelekatan, baru bisa membangkitkan cinta kasih agung. Kita selalu menjalankan Tzu Chi dengan cinta kasih. Dengan jalinan kasih sayang, kita baru bisa bersatu hati. Tanpa jalinan kasih sayang, kita tak akan bisa bersatu hati. Jadi, kita harus memperpanjang jalinan kasih sayang.

Saya sering berkata bahwa kita harus memperpanjang jalinan kasih sayang dan memperluas cinta kasih. Dengan adanya jalinan kasih sayang yang tak berujung dan cinta kasih yang tak terbatas, kita akan bersatu tanpa membeda-bedakan.

Membawa manfaat bagi dunia dan melindungi semua makhluk dengan Dharma

Menjaga ucapan dan sikap untuk menjalin jodoh baik

Menyatukan orang banyak dengan kebajikan dan memperluas cinta kasih

Bersatu hati untuk menjalankan Tzu Chi dan memperpanjang jalinan kasih sayang

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 17 Juni 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 19 Juni 2026