“Pengembangan ini sebenarnya dimulai ketika Wakil Kepala RS Xu pertama kali mengajak saya datang ke Griya Jing Si. Di hadapan Master, saya menyampaikan bahwa saya ingin mengembangkan sebuah kotak obat cerdas. Master saat itu langsung berkata, ‘Baik. Jika ini bisa membantu para relawan, maka harus dikerjakan.’ Pada tahun 2025, kita meraih Penghargaan Inovasi Nasional. Saya mengembangkan tiga jenis kotak obat dan tidak mengecewakan Master. Ketiganya berhasil meraih penghargaan,” kata Xu Ren-jun, Kepala Pusat Kanker RS Tzu Chi Hualien.

Sangat kreatif. Terima kasih.

Saya selalu mengatakan bahwa saya tidak memahami hal-hal medis. Namun, setiap kali mendengar laporan kalian, saya merasa sangat bersyukur dan tersentuh.

Misi kesehatan Tzu Chi adalah salah satu impian saya. Dari misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, hingga misi budaya humanis, semuanya merupakan harapan yang saya bangun. Terutama misi kesehatan, karena bidang ini berhubungan langsung dengan kehidupan manusia. Empat fase hidup manusia, lahir, tua, sakit, dan mati berkaitan erat dengan pelayanan medis. Jadi, saya selalu bersungguh hati memikirkan bagaimana membuat misi kesehatan menjadi lebih baik.

Yang saya maksud “lebih baik” itu seperti yang baru saya sampaikan, yaitu ketika pelayanan kesehatan benar-benar dapat berdialog dengan pasien. Ada begitu banyak pasien dan begitu banyak pelayanan, tetapi belum tentu pasien benar-benar dapat berdialog dengan dokter.

Sering kali ketika pasien datang berobat, dokter hanya memeriksa, memberikan resep obat, dan meminta pasien meminumnya di rumah. Pasien sendiri mungkin tidak memahami penyakit apa yang sedang dihadapinya dan bagaimana seharusnya menyikapi penyakit tersebut. Jadi, kita harus mengajari pasien untuk berdialog dengan penyakitnya sendiri.

Saya juga sering berkata bahwa bertemu dokter yang baik adalah berkah bagi pasien. Demikianlah hubungan antara dokter dan pasien. Orang-orang sering menyebut berobat ke dokter. Dokter harus bisa membangun jalinan jodoh baik dengan pasien.

Saat ini, manusia tidak boleh kalah dari AI. Kita harus terus berusaha dengan tekun dan bersemangat. Manusia harus bisa memanfaatkan AI, bukan sebaliknya.

“Salah satu hal yang paling ditakutkan oleh perawat di rumah sakit ialah ketika pasien tiba-tiba mengalami henti jantung dan harus segera mendapatkan penanganan ACLS. Meski pelatihan dilakukan setiap dua tahun sekali, tetapi satu kesalahan kecil saja dapat menyebabkan pasien mengalami mati otak. Bahkan, risiko kematiannya sangat tinggi,” kata Xu Ren-jun, Kepala Pusat Kanker RS Tzu Chi Hualien.

“Ini adalah sebuah aplikasi yang ketika terjadi keadaan darurat, kami cukup menekan tombol ‘mulai’. Seluruh langkah penyelamatan akan ditampilkan di dalam aplikasi. Dokter dan perawat hanya perlu mengikuti petunjuk yang tersedia. Sistem akan memberikan arahan secara otomatis. Alat ini akan mengeluarkan obat yang dibutuhkan. Setelah seluruh proses selesai, sistem akan secara otomatis merekam catatan. Dari sana, kami dapat mengetahui jumlah obat yang telah digunakan,” kata Zhong Hui-jun, Kepala Departemen Keperawatan.

“Selanjutnya, tim medis akan meninjau kembali hasil penanganan tersebut, termasuk apakah pasien berhasil diselamatkan. Setelah seluruh proses selesai dicatat, data penggunaan obat akan langsung dicocokkan dengan bagian farmasi untuk proses verifikasi obat yang digunakan,” pungkas Zhong Hui-jun.

Ini hasil pengembangan kita sendiri?

“Ya, benar,” jawab Zhong Hui-jun.

Saat ini, apakah baru kita yang memiliki sistem ini? Apakah masih terus disempurnakan?

“Ya, kami masih terus menyempurnakannya karena perangkat saat ini masih sangat besar. Kami berharap dapat membuatnya menjadi lebih ringkas sehingga ketika terjadi keadaan darurat, sistem ini bisa segera digunakan. Kami ingin seluruh sistem ini menjadi lebih praktis dan mudah digunakan agar siapa pun yang membutuhkan dapat memakainya,” pungkas Zhong Hui-jun.

Zaman sekarang adalah zaman kesadaran. Belakangan ini, kalian sering melihat tulisan “belajar” dan “sadar“. Saya sering kali membahas ini, tetapi rasanya tidak pernah habis untuk dibicarakan. Dalam hidup, manusia harus terus belajar. Dari belajar hingga mencapai kesadaran, masih ada perjalanan yang panjang. Mencapai kebuddhaan sangatlah sulit. Jadi, bagaimana caranya? Kita harus menapaki Jalan Bodhisatwa. Di Jalan Bodhisatwa ini, kita menjalin hubungan baik dengan semua makhluk.

Pasien dan dokter pun harus dapat saling berdialog. Kita harus membimbing mereka untuk berdialog. Dokter harus menjalin jodoh baik dengan pasien, berbicara dengan tutur kata yang baik, dan membimbing mereka agar memahami cara menghadapi penyakitnya. Ada pepatah mengatakan, “Hidup sampai tua, belajar sampai tua.” Artinya, sejak lahir hingga akhir hayat, manusia harus terus belajar. Belajar adalah proses yang tidak pernah selesai. Jadi, hendaknya kita bersungguh-sungguh.

Belakangan ini, saya sering mengatakan bahwa kita harus bersungguh-sungguh menjadi manusia. Saat ini, berhubung teknologi terus berkembang, kita harus terus belajar, saling berbagi, dan terus menjalin komunikasi dengan sesama.

Di Tzu Chi, para dokter sangatlah tekun. Kita dapat mengajak mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Keperawatan Universitas Tzu Chi atau mereka yang memiliki tekad yang sama untuk mencurahkan perhatian kepada warga suku asli dengan memberikan pendidikan kesehatan. Kita juga bisa mengajak warga suku asli yang belajar tentang keperawatan untuk bergabung. Singkat kata, kita dapat bergabung dengan mereka.

Bagi mereka yang masih sehat, kita perlu memikirkan bagaimana membimbing mereka agar lebih memperhatikan pola hidup dan pola makan. Saya merasa bahwa Lü Fang-chuan sangat bersungguh hati dalam upaya ini. Beliau sering menjangkau komunitas suku asli, berinteraksi langsung dengan warga, dan membimbing mereka untuk berhenti minum minuman keras. Hasilnya sangat baik.

Terkadang, beliau kembali ke sini untuk berbagi pengalaman. Program pendampingan berhenti minum minuman keras telah membuahkan hasil yang nyata. Begitu pula dengan upaya menghentikan kebiasaan mengunyah buah pinang. Saya merasa bahwa inilah pendidikan yang paling menyeluruh karena benar-benar menjaga kesehatan mereka.

Saya selalu memikirkan bahwa karena berada di Hualien, kita harus berusaha untuk bersumbangsih bagi Hualien. Kalian yang datang ke Hualien juga berharap dapat melindungi kehidupan dan kesehatan dengan cinta kasih. Inilah harapan yang membawa saya ke wilayah timur Taiwan. Kalian adalah orang-orang di garis terdepan yang dapat mewujudkannya.

Untuk melindungi kehidupan dan kesehatan, diperlukan pelayanan medis dari para dokter. Jadi, hendaknya kita memiliki ikrar yang sama untuk melayani wilayah Hualien dan Taitung. Tim medis kita harus berusaha untuk mewujudkannya. Mari kita memikirkan dan merencanakannya terlebih dahulu, lalu bekerja sama dalam kesatuan dan keharmonisan. Hendaknya semuanya bersungguh hati.

Wujudkanlah apa yang sering saya katakan. Melindungi kesehatan dan kehidupan dengan cinta kasih. Melayani dengan rasa syukur, hormat, dan cinta kasih. Benar. Hal ini tidak sulit untuk dilakukan. Untuk melayani dengan rasa syukur, hormat, dan cinta kasih, kita harus terlebih dahulu melindungi kesehatan dan kehidupan dengan cinta kasih. Semua ini dapat kita jalankan.

Kita juga bisa bekerja sama dengan TIMA dari wilayah lain. Jika TIMA juga bisa bekerja sama, itu akan sangat baik. Para dokter yang memiliki cinta kasih yang sama dan pengalaman yang baik hendaknya sering berkumpul bersama. Sebagai bagian dari kelompok Bodhisatwa, kita memiliki cinta kasih berkesadaran. Cinta kasih ini harus terus dipertahankan. Inilah jalinan jodoh berharga dalam Tzu Chi.

Membangun tekad awal untuk berinovasi dengan welas asih

Dokter berinteraksi dengan pasien untuk menjalin jodoh baik

Mempromosikan pendidikan kesehatan dengan tekun

Menghimpun keahlian bajik untuk melindungi Hualien dan Taitung