“Selama masa pandemi Covid-19, para relawan di Portoviejo, Ekuador mendapati bahwa anak-anak tidak bisa pergi bersekolah dan prestasi mereka menurun. Karena itu, para relawan langsung memutuskan untuk memulai program bimbingan belajar di dua komunitas. Anak-anak ini bukan hanya belajar membaca, menulis, dan mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi juga mempelajari ajaran Master agar bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi masyarakat,” kata Jennifer, relawan Tzu Chi Ekuador.
“Nama saya Scheila. Saya adalah relawan dari Ciudad del Este, Paraguay. Hari ini, saya datang ke sini untuk mengungkapkan rasa terima kasih dari lubuk hati saya. Saya bersyukur dengan segenap jiwa saya, baik di kehidupan ini maupun kehidupan mendatang. Karena itu, saya ingin bertanya, bolehkah saya menjadi murid Master?” tanya Scheila Lin, relawan Paraguay.
Saya selalu berkata bahwa kita harus menghormati dan mengasihi semua agama. Jadi, semua orang dapat menjalankan Tzu Chi. Kita menyediakan ruang yang luas bagi semua orang untuk menjalankan Tzu Chi. Apa pun agama yang dianut, semuanya berpegang pada semangat Tzu Chi, yakni cinta kasih. Kita terjun ke tengah masyarakat untuk bersumbangsih tanpa pamrih.
Sulit untuk terlahir sebagai manusia. Ajaran Buddha sering mengulas tentang jalinan jodoh. Dengan bersumbangsih di tengah masyarakat, kita menciptakan berkah. Di kehidupan sekarang, kita harus menabur berkah untuk kehidupan mendatang. Kita harus menggenggam jalinan jodoh dari kehidupan lampau. Berkat adanya jalinan jodoh dari kehidupan lampau, kalian yang merupakan warga Taiwan bisa pergi ke Brasil.
Di Brasil, kalian memiliki jalinan jodoh istimewa untuk mengenal Tzu Chi dan akhirnya turut menjalankan misi Tzu Chi. Menapaki Jalan Bodhisatwa berarti terjun ke masyarakat untuk membawa manfaat bagi masyarakat dan dunia. Kita memiliki tanggung jawab untuk bersumbangsih. Selain itu, ada kami yang selalu mendukung kalian.

Selama lebih dari 30 tahun ini, waktu terus berlalu dengan cepat. Kini, di sana terdapat sekelompok relawan muda dan paruh baya. Terlihat jelas bahwa mereka penuh cinta kasih. Asalkan kalian menyatukan mereka semua, mereka dapat mengerahkan tenaga dan cinta kasih mereka. Kalian semua tahu jelas bagaimana menjalankan Tzu Chi.
Saya melihat banyak orang yang bergabung di Tzu Chi karena matangnya jalinan jodoh. Saya bersyukur kepada Liang-dai dan Lü Rong. Mereka selalu menggenggam jalinan jodoh dan suami mereka juga melatih diri bersama. Mereka berulang kali menjangkau Brasil, Paraguay, Meksiko, dan negara lainnya. Ini sungguh tidak mudah. Dengan sepenuh hati dan tulus, mereka berulang kali melakukan perjalanan hingga menginspirasi banyak orang untuk bergabung.
Buddha berkata bahwa di dunia ini, orang yang menderita sangatlah banyak. Kita semua adalah orang yang dipenuhi berkah. Meski tidak memiliki kekayaan materi, yang terpenting, kita memiliki cinta kasih yang berlimpah. Cinta kasih merupakan harta yang paling berharga dalam kehidupan manusia. Kita semua memiliki cinta kasih yang berlimpah.
Di Tzu Chi, semua orang yang kita kenal memiliki cinta kasih agung. Jadi, kita memiliki tekad dan jalan yang sama. Orang-orang dapat berhimpun dengan hati yang damai dan sukacita, inilah hal yang paling membahagiakan. Jadi, kita semua dipenuhi berkah.
Sebagai orang yang dipenuhi berkah, saat melihat orang yang menderita, kita harus bertekad untuk membantu mereka. Yang menderita bukan hanya orang yang mengalami kesulitan hidup. Sesungguhnya, orang kaya juga bisa mengalami ketidakharmonisan dengan keluarga dan teman. Saat hubungan antarmanusia tidak harmonis, orang-orang akan sangat menderita.

“Di Kota Meksiko, terjadi ledakan truk tangki gas yang mengakibatkan lebih dari 90 orang terluka dan 31 orang meninggal dunia. Ada 8 orang yang menjalani opname, termasuk 2 bayi. Kali ini, dedikasi para relawan telah menginspirasi saya sehingga saya segera menuju rumah sakit untuk memperhatikan dan membantu keluarga korban,” kata Rodrigo Perez Lozada, relawan Tzu Chi Meksiko.
“Melihat orang-orang yang semula baik-baik saja mengalami tragedi dalam sekejap, dia pun merenung secara mendalam tentang ketidakkekalan hidup. Suatu malam, dia beradu mulut dengan ayahnya. Saat itu, dia dengan tenang memberi tahu ayahnya, ‘Kehidupan sangatlah singkat. Jika hanya menghabiskan waktu untuk cekcok dan perhitungan terhadap hal-hal kecil, itu benar-benar menyia-nyiakan kehidupan.’ Setelah dia berkata demikian kepada ayahnya, cekcok di antara mereka pun berakhir saat itu juga,” kata Hong Liang-dai, relawan Tzu Chi Meksiko.
Inilah yang paling berharga. Inilah ajaran Buddha. Buddha adalah Yang Tercerahkan. Saat kita menghadapi orang yang penuh keluh kesah dengan metode pencerahan, kita akan dapat melenyapkan kegelapan batin dan keluh kesah mereka. Demikianlah kita membimbing orang dengan Dharma. Ini merupakan metode yang baik. Di sinilah letak kebahagiaan.
Kita tidak berkeluh kesah, bahkan bisa melenyapkan penderitaan batin orang-orang. Anda pasti telah menginspirasi ayahmu. Inilah kebijaksanaan. Dengan adanya Dharma, kita tidak akan bertikai satu sama lain dan secara alami akan berinteraksi dengan harmonis. Demikianlah kita menciptakan berkah dalam hidup. Inilah ajaran Buddha.

Ajaran Buddha sangat sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari, semua orang hendaknya berinteraksi dengan gembira dan membantu satu sama lain. Inilah yang disebut kehidupan. Inilah yang disebut Bodhisatwa. Bodhisatwa adalah makhluk berkesadaran. Berkesadaran berarti berpikiran terbuka, tidak bersikap perhitungan dalam segala hal, dan membuat semua orang hidup harmonis. Inilah yang paling penting di dunia ini.
Saudara sekalian, mungkin di antara kalian ada yang menganut agama yang berbeda. Namun, ini tidak menjadi pertentangan di antara kita. Saya menghormati agama kalian dengan sukacita. Agama kalian juga mengajarkan kebajikan, cinta kasih, dan menolong sesama. Semua agama demikian. Tujuan kita ialah menolong orang yang menderita. Kita harus melapangkan hati, baru bisa selamanya merasa sukacita.
Contohnya bunga teratai ini. Meski tumbuh di tengah lumpur, bunga teratai tidak ternoda. Ia tetap murni dan indah.
Ajaran Buddha mengatakan bahwa dunia ini penuh dengan Lima Kekeruhan serta ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan yang merupakan lima racun batin. Lima racun batin ini bagaikan pencemaran batin. Kita melatih diri agar tidak tercemar oleh ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Kita harus menjaga kemurnian hati dan melapangkan hati sesuai ajaran agama masing-masing.
Menjaga keharmonisan antaragama dan bersumbangsih dengan sukacita
Menciptakan berkah dengan jalinan jodoh baik yang menakjubkan
Tersadarkan setelah mendengar Dharma dan mengubah pola pikir
Meneladan bunga teratai yang murni tanpa noda meski tumbuh di tengah lumpur