“Hari ini, saya sangat bahagia. Semua orang kembali dari berbagai daerah ke kampung halaman batin untuk mengikuti pertemuan tahunan ini. Saya masuk jurusan kedokteran tahun 1994 dan merupakan lulusan angkatan pertama, Zhang En-ting,” kata Zhang En-ting Ketua Program Studi Kedokteran Universitas Tzu Chi.
“Saat ini, terdapat 3.295 alumni yang mengabdi di empat badan misi Tzu Chi. Jumlah terbesar berada di badan misi kesehatan, yaitu sekitar 84 persen. Jika kita melihat perkembangan sejak Master mendirikan Akademi Keperawatan Tzu Chi dan mulai menerima mahasiswa pada tahun 1989 hingga sekarang, telah ada lebih dari 30 ribu lulusan yang dihasilkan. Rata-rata, setiap tahun terdapat sekitar 100 alumni yang memilih untuk mengabdikan diri dalam empat badan misi Tzu Chi,” kata Zhang Qun-ming, Ketua Ikatan Alumni Universitas Tzu Chi.
Saya sangat tersentuh melihat anak-anak kita. Sekarang, mereka bukan lagi anak-anak. Waktu berjalan begitu cepat, tetapi waktu juga mampu mewujudkan banyak hal. Seperti awal mula Tzu Chi, semuanya dimulai dari praktik 50 sen. Enam puluh tahun telah berlalu, praktik 50 sen itu masih diwariskan hingga saat ini. Kini, kita telah berhasil mengukuhkan Empat Misi Tzu Chi. Selain Empat Misi Tzu Chi, ada pula Delapan Jejak Dharma. Ini semua telah memberikan kontribusi besar bagi dunia.
Belakangan ini, saya sering menginventarisasi kehidupan. Kehidupan ini penuh dengan ketidakkekalan. Hidup dan mati hanya berjarak satu tarikan napas. Menyadari ketidakkekalan ini, hendaknya kita menghargai kehidupan. Setiap orang hendaknya menginventarisasi kehidupan. Jika kita hanya datang ke dunia untuk menjalani hidup tanpa melakukan apa-apa, berarti kita hanya mengonsumsi sumber daya tanpa menciptakan nilai apa pun. Padahal, kesempatan terlahir sebagai manusia sangatlah langka.
Kalian semua bergabung dalam ikatan alumni. Saya pernah berpesan kepada rektor bahwa kegiatan alumni seperti ini perlu terus diadakan. Jangan pernah melupakan pendidikan yang kalian terima di Hualien pada masa itu. Saat itu, fasilitas kesehatan sangat terbatas di wilayah timur Taiwan sehingga saya melakukan hal di luar kemampuan saya. Kehidupan saya sendiri saat itu juga penuh kesulitan, tetapi saya tetap bertekad untuk membangun rumah sakit.

Ketika pembangunan rumah sakit dimulai, saya berpikir, “Dari mana para perawat akan datang?” Kemudian, diadakanlah peletakan batu pertama untuk Akademi Keperawatan Tzu Chi. Kemudian, jalinan jodoh yang sederhana menuntun saya untuk mendirikan Sekolah Tinggi Kedokteran Tzu Chi. Saya pun berpikir, “Dari mana para dosen akan diperoleh?” Saya sangat berterima kepada Profesor Fang dan Profesor Li Ming-liang. Saat itu, saya sangat berterima kasih kepada Profesor Li Ming-liang dan beberapa profesor lainnya.
Saya berharap kalian semua yang pernah menjadi murid beliau dapat sering berkunjung dan menjenguknya. Saya berharap semuanya memiliki hubungan yang baik. Bagi saya, hubungan ini adalah hubungan saudara se-Dharma. Bagi kalian, ini adalah hubungan antara guru dan murid. Hubungan seperti ini harus dijaga dengan baik.
Saya berterima kasih kepada para profesor yang bersedia datang ke Hualien. Mereka bahkan menetap dalam jangka waktu yang panjang. Jika tidak demikian, akan sulit bagi kita di wilayah timur. Jika seorang profesor hanya datang untuk satu tahun akademik, lalu pergi, saya akan sangat kesulitan untuk mencari pengajar yang baru. Syukurlah, semuanya bersedia datang ke sini dan terus bertahan. Oleh karena itu, pendidikan Tzu Chi dapat berkembang dengan sangat stabil.
Anak-anak muda yang lulus hendaknya ingat bahwa Tzu Chi adalah almamater mereka. Hendaknya ada kedekatan terhadap almamater ini. Jika hubungan seperti ini terus diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, angkatan berikutnya pun akan memiliki kedekatan dengan kalian. Dari angkatan ke angkatan, hubungan itu terus diwariskan dan terus terjalin erat.

Sebagai manusia, saya sering berkata bahwa ketidakkekalan terus terjadi seiring waktu. Namun, kita perlu menjaga cinta kasih berkesadaran. Cinta kasih ini berlandaskan kebijaksanaan dan terbangkitkan saat kita memberikan bimbingan dan pendampingan. Hendaknya semuanya menjaga cinta kasih ini.
Ada begitu banyak hal yang patut disyukuri. Tentu saja, saya sungguh berterima kasih kepada para Ibu dan Kakak Yi De. Para Ibu Yi De dan Ayah Tzu Cheng telah menjalankan peran dengan sangat baik. Saya sering mendengar kisah yang mereka bagikan ketika kembali ke sini tentang betapa dekatnya hubungan mereka dengan para mahasiswa. Anak-anak dari para alumni pun memanggil mereka “Kakek” dan “Nenek“.
Saat Tahun Baru Imlek, mereka pun membawa anak-anak mereka berkunjung ke rumah Ibu Yi De dan Ayah Tzu Cheng. Saya ingin memberi tahu kalian bahwa kasih sayang yang diberikan Ibu Yi De dan Ayah Tzu Cheng tidak kalah dari kasih sayang orang tua kandung kalian. Mereka benar-benar memperlakukan kalian seperti anak mereka sendiri.
Setiap kali datang berbagi pengalaman, mereka selalu berkata, “Anak kami memiliki prestasi yang sangat bagus. Kami sangat bersukacita.” Jika ada seorang mahasiswa yang mengalami kesulitan, mereka akan datang dan berkata, “Master, saya sangat khawatir karena anak kami kurang bersungguh-sungguh. Anak kami sedang mengalami masalah kesehatan.” Kekhawatiran mereka sangat tulus. Cinta kasih yang tulus ini disebut dengan cinta kasih agung. Selama 60 tahun ini, saya terus menjaga agar semangat ketulusan dan cinta kasih agung tersebut tidak hilang.

Kini, kalian semua telah meraih berbagai pencapaian di masyarakat. Saya berharap kalian dapat mengerahkan cinta kasih agung di dalam kehidupan. Ketika kalian mengingat Tzu Chi dan mengungkapkan apa yang kalian rasakan, saya dapat merasakan kasih sayang dan kedekatan kalian dengan Tzu Chi. Ini membuat saya merasa bahwa segala upaya sangat bernilai. Kami tidak menuntut apa pun dari kalian. Yang kami harapkan hanyalah kalian berhasil dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Setiap kali mendengar bahwa kalian telah berkontribusi bagi masyarakat, saya merasa sangat sukacita. Tidak semua orang harus bekerja dalam sistem Tzu Chi, tetapi jalinan kasih sayang ini harus tetap ada. Namun, saya sangat berharap ada yang bersedia mengemban misi Tzu Chi. Jadi, hendaknya semuanya bersungguh hati membina generasi berikutnya agar estafet ini terus berlanjut dari generasi ke generasi. Ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan misi Tzu Chi. Hendaknya semuanya memiliki tekad yang sama.
Meski kalian tidak bekerja di lingkungan Tzu Chi, saya berharap kalian tetap mengingat pesan yang selalu saya sampaikan tentang cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin, ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Nilai-nilai inilah yang menjadi pedoman hidup dan cahaya bagi jiwa kebijaksanaan saya.
Jadi, Saudara sekalian, kalian semua adalah lulusan badan misi pendidikan Tzu Chi. Hendaknya kalian memegang teguh semangat Tzu Chi di mana pun kalian melayani. Apa pun profesi yang kalian jalani, berpeganglah pada semangat Tzu Chi. Dengan begitu, orang lain akan merasakan bahwa kalian memiliki hubungan dengan Tzu Chi dan ditempa oleh pendidikan Tzu Chi. Jika demikian, saya akan merasa sangat puas.
Empat Misi Tzu Chi terwujud melalui pencapaian bersama
Membina insan berbakat dengan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin
Menjadikan ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan sebagai pedoman utama
Mempersembahkan keahlian untuk membawa manfaat bagi masyarakat