“Berkat bimbingan Bibi Huang Xiu-wen dari TIMA, saya dapat melangkah dari mendampingi kelas bimbingan belajar, ikut menyosialisasikan tentang donor sumsum tulang, hingga akhirnya berpartisipasi dalam pementasan adaptasi Sutra pada hari ini. Beliau membuat saya memahami bahwa untuk membantu orang lain, tidak harus memiliki harta yang melimpah. Tetes demi tetes kebaikan yang dihimpun dapat menyelamatkan banyak orang,” kata Xiao Bo-xian, Dokter pengobatan tradisional Tiongkok.

“Saat mengikuti latihan pementasan, saya melihat begitu banyak pemimpin perusahaan dan pengusaha besar di sekitar saya melepaskan status untuk bersama-sama mementaskan adaptasi Sutra ini. Momen itu benar-benar menggugah hati saya. Saya pun menyadari bahwa mementaskan adaptasi Sutra berarti menyerap Dharma ke dalam hati,” lanjut Xiao Bo-xian.

“Kini, saya memahami bahwa pengetahuan saya tentang ajaran Buddha masih sangat dangkal. Saya masih harus terjun ke tengah masyarakat untuk terus melatih diri dan belajar. Saya berikrar, di masa depan, saya akan ikut serta dalam TIMA dan mengabdikan ilmu serta semangat saya dalam bidang pengobatan tradisional Tiongkok untuk memikul tanggung jawab dalam masyarakat,” pungkas Xiao Bo-xian.

“Alasan terbesar saya bisa mengenal Tzu Chi ialah karena kakek dan nenek saya. Sejak kecil, Nenek sudah mengajak saya mengikuti kegiatan bantuan bencana di permukiman sementara. Saya juga pernah menjadi relawan cilik dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Tiga tahun lalu, saya masih ingat bahwa kakek saya ikut berpartisipasi dalam pementasan adaptasi Sutra. Pementasan ini membangkitkan kembali kenangan ketika Kakek dan Nenek mengajak saya bergabung dalam Tzu Chi. Melihat ketulusan mereka yang begitu dalam juga sangat memengaruhi diri saya,” kata Yang Jun-liang, relawan muda.

“Tahun ini, kakek saya berusia 88 tahun dan nenek saya berusia 83 tahun. Saya ingin membawa semangat mereka untuk bersama-sama berpartisipasi dalam pementasan adaptasi Sutra tahun ini,” pungkas Yang Jun-liang.

Demi mengikuti pementasan adaptasi Sutra, setiap orang benar-benar bersungguh hati. Baik hanya belajar maupun terlibat secara langsung, bukankah semuanya sedang menapaki Jalan Bodhisatwa dengan tulus dan tekun? Ada yang masih belajar sambil mengajar orang lain. Semua orang berubah dari yang semula tidak mengerti menjadi makin terbiasa. Ketika sudah mampu, mereka kemudian membimbing orang-orang yang datang setelahnya.

Jejak langkah serta gerakan tangan dan kaki kalian akan memengaruhi mereka yang kalian bimbing sehingga semuanya dapat bergerak dengan selaras. Kalian harus tahu bahwa setiap kali kalian berlatih, saya selalu melihatnya. Ketika kalian terus tekun dan bersemangat, saya pun akan terus mendampingi kalian. Semua orang melakukannya dengan hati yang tulus dan tanpa pamrih.

Setiap gerakan dilakukan dengan kesungguhan hati dan ketekunan. Semuanya memiliki semangat misi. Namun, yang saya rasakan ialah semua orang memiliki satu tekad yang sama, yaitu ingin berbuat sesuatu agar saya merasa sukacita. Inilah yang disebut dengan ketulusan. Kalian menggunakan Dharma sebagai persembahan. Dahulu, saya sering mengatakan tentang mempersembahkan Dharma.

Lihatlah, setiap gerakan yang dilakukan merupakan perwujudan Dharma. Ketika satu orang mampu bekerja sama dengan satu atau lebih dari tiga orang lainnya, hal itu benar-benar tidak mudah. Hal ini menunjukkan ketulusan. Semuanya saling menyempurnakan. Saya merasa sangat bersyukur.

Ci Yue telah bekerja sangat keras. Beliau harus berkeliling ke begitu banyak tempat. Tentu saja, ada pula beberapa orang yang selalu mendampinginya. Mereka tidak takut bersusah payah dan terus bersumbangsih. Inilah yang disebut dengan usaha atau jasa yang dicurahkan dengan penuh ketulusan. Semuanya dilakukan demi menghadirkan keindahan, itulah kebajikan.

Ketika keduanya digabungkan, itulah pahala atau jasa kebajikan. Ini bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka yang luhur akan memperoleh pencapaian. Kita memperoleh kesempatan untuk berkumpul bersama dengan penuh sukacita. Semua ini terjadi karena kita memiliki jalinan jodoh. Mempelajari praktik Bodhisatwa memerlukan jalinan jodoh. Jalinan jodoh membuat kita bisa berkumpul bersama.

Setiap Buddha yang datang ke dunia ini untuk melatih diri, kapan bisa mencapai kebuddhaan? Ketika semua makhluk yang memiliki jalinan jodoh telah berhasil dibimbing. Setelah semuanya dibimbing, barulah dapat mencapai kebuddhaan. Oleh karena itu, ada ungkapan, “Walau semua makhluk telah terselamatkan, ikrarku tetap tidak akan berakhir.”

Meski semua orang yang berjodoh dengannya telah dibimbing, beliau akan tetap berikrar untuk datang kembali. Inilah sebabnya Buddha tidak pernah meninggalkan semua makhluk dari kehidupan ke kehidupan. Sekalipun satu generasi telah dibimbing, Buddha tetap bertekad untuk membimbing generasi berikutnya. Jadi, Buddha akan terus datang dari kehidupan ke kehidupan. Inilah prinsip kebenaran dalam meneladan Buddha.

Apa yang saya sampaikan kepada kalian adalah Dharma, yaitu prinsip kebenaran sejati. Kalian akan memahami bahwa semua yang kalian lakukan ialah menapaki Jalan Bodhisatwa. Saya mengucapkan terima kasih kepada kalian dengan hati yang sangat tulus. Kalian telah memberikan persembahan dengan cinta kasih yang tulus. Kalian mempersembahkan ajaran Buddha dengan ketulusan dan mendedikasikan diri dengan kesungguhan hati. Semua ini juga merupakan cara membimbing manusia.

Sekarang, mulailah mengajak lebih banyak orang untuk datang menyaksikan latihan pementasan adaptasi Sutra. Mungkin saja orang-orang yang datang menonton itulah yang kelak akan menjadi peserta latihan berikutnya. Jika kalian berlatih dengan tekun, suatu hari nanti, kalianlah yang akan membimbing para donatur kalian untuk berlatih. Jadi, tidak ada yang selamanya hanya menjadi murid. Setiap orang dapat menjadi guru.

Saya berharap kalian memandang semua makhluk dengan hati Bodhisatwa. Setiap orang yang kalian temui adalah seseorang yang harus kalian bimbing. Inilah yang dimaksud dengan mempelajari Jalan Buddha untuk membimbing semua makhluk, dari satu menjadi tiga, dari tiga menjadi banyak. Tiga orang atau lebih disebut sebagai kelompok. Jadi, saya berharap setiap orang dapat terus mengembangkan kekuatan cinta kasih.

Saya berharap semangat kalian terhadap Tzu Chi dapat berubah menjadi cinta kasih yang tulus, yaitu cinta kasih agung. Saya mendoakan kalian semua. Semoga kalian dapat menapaki Jalan Bodhisatwa dengan mantap. Saya berterima kasih karena kalian telah bersama-sama menyukseskan pementasan ini dan menghafalkan Sutra Makna Tanpa Batas. Ketika kita mendengarkan, semerbak Dharma itu pun meresap ke dalam hati. Ketika semerbak Dharma meresap ke dalam hati, berarti tubuh dan pikiran juga telah menerimanya.

Jika kalian ingin tampil di Taipei Dome, sejak latihan ini, kalian sudah harus menggunakan keenam indra dengan baik. Mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh harus digunakan dengan baik. Mata harus melihat dengan saksama; telinga harus mendengar dengan cermat; napas harus diatur dengan baik. Saat bernyanyi, gunakan energi perut bawah agar bertenaga. Lidah juga harus bergerak agar suara dapat keluar. Tanpa lidah yang bergerak, suara tidak akan muncul. Demikian pula dengan pikiran. Gerak tubuh dan pikiran harus dijaga dengan baik. Inilah yang harus kita latih setiap hari.

Keenam kesadaran indra harus diperkuat melalui kesadaran ketujuh agar Dharma benar-benar tertanam kuat. Kemudian, kesadaran kedelapan akan menyimpannya di dalam batin kita untuk selamanya. Jadi, irama Dharma akan terus bergema dalam pikiran. Apakah kalian merasakannya? Setelah terus berlatih, apakah irama itu selalu hadir di dalam benak kalian? Jika ya, itulah cara kerja keenam indra dan kesadaran.

Semuanya telah tertanam di dalam tubuh, hati, pikiran, dan kesadaran kita. Dengan demikian, segala kekhawatiran akan sirna. Hati akan menjadi tenang, tenteram, dan bebas. Inilah yang disebut melatih diri. Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Ketika kekuatan cinta kasih terhimpun, itulah yang disebut tanah suci Bodhisatwa, yaitu dunia para Bodhisatwa. Terima kasih, Saudara sekalian.

Memasuki Jalan Buddha dengan hati yang tulus dan hormat

Bertemu dalam Dharma dan bersatu dalam keharmonisan

Meneladan Bodhisatwa dengan bersumbangsih tanpa pamrih

Kebajikan dan ketekunan tertanam dalam kesadaran kedelapan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 17 Juli 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 19 Juli 2026