“Kakak Huang Qiu Bi-xia telah berusia 80-an tahun, tetapi staminanya selalu sangat baik. Selain bersumbangsih di komunitas, beliau juga membantu bercocok tanam di Griya Jing Si saat memiliki waktu luang. Saat program peningkatan keselamatan di rumah dijalankan, tim kami memberitahunya bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati karena bagaimanapun, kami telah lanjut usia. Jadi, beliau pun menyetujuinya,” kata Song Fang-wa, relawan Tzu Chi.
“Sehari sebelum Hari Ayah tahun lalu, kami pergi ke rumahnya untuk memasang pegangan. Pada paruh kedua tahun lalu, beliau perlahan-lahan merasa bahwa kepalanya pusing dan jalannya tidak stabil. Ditambah dengan radang pada lutut, beliau tidak leluasa berjalan,” pungkas Song Fang-wa.
Kita perlu memasang pegangan. Saat hendak duduk, kita mungkin akan terjatuh. Jika ada pegangan, kita bisa menariknya dan memiliki tumpuan. Kita juga akan lebih leluasa dalam beraktivitas.
“Hari ini, saya datang untuk bertobat. Para relawan terus menasihati saya untuk memasang pegangan di rumah, tetapi saya merasa bahwa saya tidak membutuhkannya karena masih bisa keluar masuk dengan leluasa. Mereka berulang kali membujuk saya hingga akhirnya saya setuju. Untung saya menyetujuinya. Suatu kali, saat pergi ke kamar mandi, saya hampir terjatuh. Beruntung, ada pegangan yang bisa saya Tarik,” kata Shi Dian-zi, relawan Tzu Chi.
Kehidupan penuh dengan penderitaan. Usia tua dan penyakit membuat orang makin menderita. Sebagian besar orang yang membutuhkan alat bantu ialah kaum lansia, orang yang sakit, atau orang yang mengalami kesulitan ekonomi. Yang mereka butuhkan ialah Bodhisatwa. Saat Bodhisatwa menjangkau mereka, mereka tentu akan tertolong. Orang-orang mungkin akan mengunjungi mereka dan memberikan sedikit bantuan. Namun, bantuan seperti itu hanya ala kadarnya.
Saya berharap para Bodhisatwa dunia kita dapat menganggap kaum lansia seperti kerabat atau teman sendiri. Terlebih lagi, Buddha datang ke dunia juga demi membimbing semua makhluk menapaki Jalan Bodhisatwa. Dalam hidup ini, jika dapat mendengar nama Bodhisatwa, kita hendaknya menapaki Jalan Bodhisatwa. Para Buddha dan Bodhisatwa senantiasa ada di dalam hati kita.

Saat kita bersumbangsih, Buddha dalam hati kita akan terbangkitkan. Hakikat kebuddhaan dan praktik Bodhisatwa ada di dalam hati kita. Dengan bersumbangsih hari ini, berarti kita adalah Buddha dan Bodhisatwa hari ini. Ini bisa dilakukan dengan mudah dan hati kita akan dipenuhi rasa sukacita. Hendaklah kalian mencobanya. Kalian akan dipenuhi sukacita dalam Dharma. Ini bisa dilakukan oleh setiap orang.
Meski hanya memasang sebuah pegangan atau membantu membawa sebuah pegangan ke sana, itu termasuk melakukan kebajikan. Dari manakah datangnya alat bantu seperti ranjang itu? Dari cinta kasih orang-orang. Sangat disayangkan jika barang-barang itu dibuang. Ada sebagian yang hanya digunakan beberapa waktu. Insan Tzu Chi mengumpulkannya karena tidak tega menyia-nyiakannya. Setelah barang-barang itu dikumpulkan, akan ada banyak orang yang bergerak untuk membersihkannya. Setelah dibersihkan, barang-barang itu sangat bermanfaat.
Saat warga di pegunungan membutuhkan, relawan kita akan mengantarnya ke sana. Kita membangkitkan cinta kasih dan mengerahkan kekuatan untuk mengantarkan alat bantu ke berbagai tempat. Semua tindakan ini berlandaskan kebajikan dan cinta kasih. Orang-orang yang bersedia mengulurkan tangan, mengerahkan tenaga, dan membangkitkan tekad seperti ini sungguh telah menciptakan pahala yang tak terhingga. Inilah kekuatan cinta kasih.
Ada orang yang bersumbangsih dengan uang, ada yang bersumbangsih dengan uang dan tenaga, ada juga yang tidak bisa bersumbangsih dengan uang, tetapi dapat mengerahkan tenaga. Mereka sangat bersedia untuk bersumbangsih. Bagi orang yang tidak dapat melakukan semuanya, dengan memuji perbuatan baik ini, mereka juga dapat menciptakan pahala.

Perbuatan baik hendaknya dilakukan bersama. Ada yang tugasnya berat, ada yang tugasnya ringan; ada yang menggerakkan tangan, ada pula yang menggerakkan mulut. Semuanya merupakan orang baik yang penuh cinta kasih. Jika setiap orang di komunitas bisa demikian, dunia akan damai dan tenteram.
Jadi, Saudara sekalian, jika ingin dunia damai dan iklim bersahabat, dibutuhkan banyak orang untuk mempraktikkan kebajikan bersama. Ini disebut karma baik kolektif semua makhluk. Namun, jika melihat orang lain berbuat baik, tetapi tidak turut berpartisipasi ataupun memuji mereka, malah berkata bahwa mereka hanya berpura-pura, itu akan sangat menyakitkan. Yang lebih penting, orang yang berkata demikian akan merusak keluhuran diri sendiri. Janganlah kita berbuat demikian.
Saat melihat dan mendengar kebajikan, kita hendaknya turut bersukacita. Dengan turut bersukacita, memberikan pujian, atau turut mengerahkan tenaga, kita juga termasuk orang baik yang berhati baik. Ini dapat menciptakan energi kebaikan. Orang-orang baik mengerahkan tenaga untuk berbuat baik. Ada pula yang berbuat baik lewat ucapan. Mereka mungkin berkata, “Kalian sangat baik hati. Mereka akan sangat bersyukur pada kalian. Kami yang melihat juga bersyukur pada kalian.” Tutur kata baik seperti ini juga menciptakan pahala.
Buddha mengajarkan bahwa asalkan yang kita lakukan bermanfaat bagi orang-orang, maka setiap ucapan dan perbuatan kita adalah ucapan dan perbuatan baik yang mendatangkan pahala. Menciptakan pahala sangatlah sederhana.

“Setelah bergabung dalam tim, saya mendapati bahwa saat menjalankan tugas, saya selalu merasakan sukacita. Rasa sukacita ini belum pernah saya peroleh saat melakukan pekerjaan di luar sana. Setelah berpartisipasi dua kali, saya pun mengikuti pelatihan relawan. Selama liburan musim panas anak saya, saya juga mengajak anak saya untuk bersumbangsih. Saya ingin menyebarkan pesan cinta kasih padanya agar di dalam hatinya tertanam sebutir benih kebajikan,” kata Lin Zeng-xiang, relawan Tzu Chi.
“Saya bersyukur kepada tim di Keelung yang menjalankan program ini bersama saya. Sesungguhnya, saya adalah generasi kedua Tzu Chi. Master, saya adalah generasi kedua Tzu Chi. Inilah ibu saya, A-bao. Kami mengenal Tzu Chi dari pelestarian lingkungan. Ayah saya adalah Lin Mu-fa. Master, saya memiliki empat kakak perempuan. Kata Master, kita harus membangkitkan ikrar agung. Saya lalu berkata pada ibu saya bahwa kami sekeluarga hendaknya bergabung menjadi relawan Tzu Chi karena dengan demikian, barulah siklus kebajikan akan tercipta,” kata Lin Shi-hao, relawan Tzu Chi.
Lakukan dengan sukarela, terima dengan sukacita. Saya sangat bersyukur kepada kalian yang selalu menjalankan Tzu Chi. Pertahankanlah tekad kalian. Makin banyak orang, makin besar energi yang tercipta. Jika kita menjalankan misi amal dengan baik, makin banyak yang kita lakukan, makin banyak orang yang tertolong dan makin besar pula energi berkah yang tercipta. Jika ada banyak orang baik, energi berkah yang tercipta akan sangat besar. Dengan demikian, secara alami orang-orang akan tenteram.
Jadi, Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati dalam membina cinta kasih. Jika mampu, bersumbangsihlah dengan cinta kasih. Ini disebut menciptakan berkah. Mari kita saling memotivasi dan mendoakan. Inilah yang harus kita lakukan dalam keluarga besar Tzu Chi.
Menjalankan program peningkatan keselamatan di rumah bagi warga lansia dan warga kurang mampu
Memperpanjang usia barang dan menciptakan siklus kebajikan
Menjalin jodoh berkah dan menciptakan energi kebaikan
Mewariskan semangat sukarela dan sukacita
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 19 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 21 Juli 2026