“Melalui kegiatan pemandian rupang Buddha, kita diajak untuk kembali pada hakikat yang murni, menjadi pribadi yang membantu banyak orang, dan senantiasa mengingatkan diri untuk kembali pada tekad awal,” kata Cai Xing-jun, Staf ruang pemeriksaan fungsi jantung.
Buddha Sakyamuni berkata bahwa semua orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan. Ini merupakan bentuk pujian bahwa setiap orang memiliki keluhuran seperti ini. Saat ini, teknologi berkembang sangat pesat. Namun, secanggih apa pun teknologi, tetap tidak dapat menggantikan manusia, terutama karakter dan moralitasnya. Jadi, hendaknya kita menjadi manusia yang baik dan memperlakukan kehidupan dengan baik di dunia ini.
Misi Tzu Chi ialah membantu mereka yang menderita di dunia. Penderitaan terbesar di dunia ialah penyakit. Orang yang sangat kaya pun tetap bisa jatuh sakit. Ketika penyakit datang, penderitaan menjadi sesuatu yang sangat berat. Oleh karena itu, saya berharap dapat membangun rumah sakit yang benar-benar tanpa pamrih dalam menyelamatkan manusia.
Pada masa itu, kita sendiri tidak memiliki uang, tetapi setelah menyaksikan penderitaan pasien, kita pun memulainya dari baksos kesehatan dengan turun langsung ke pelosok dari Hualien hingga ke Taitung. Sepanjang wilayah Hualien dan Taitung, kita terus mengadakan baksos kesehatan. Makin banyak pasien yang ditangani, makin banyak pula orang menderita yang kita lihat. Dari sanalah perlahan tumbuh tekad untuk membangun rumah sakit.
Sejak saat itu, saya terus berpegang teguh pada tekad dan mempraktikkan ajaran. Rumah sakit tidak dibangun demi keuntungan, melainkan demi membantu mereka yang menderita. Sama seperti praktik 50 sen di masa lalu. Berapa pun yang kita berikan, semuanya memiliki nilai dalam kehidupan. Semua ini dilakukan dengan penuh sukacita dan kebahagiaan dalam hati karena kita memahami dengan jelas nilai kehidupan kita.

Saya selalu berkata bahwa setiap orang adalah Bodhisatwa. Pencerahan agung berarti kebijaksanaan agung. Setiap orang tahu untuk mengerahkan kekuatan diri sendiri dan mengerti bahwa harta benda bukanlah yang terpenting. Saya sendiri, setiap kali makan, sebenarnya cukup mengambil satu sumpit saja sudah kenyang. Saya makan sangat sedikit. Satu suap nasi saja sudah membuat saya kenyang.
Pakaian yang saya kenakan memang menggunakan kain lebih banyak daripada kalian, tetapi beberapa helai pakaian ini sudah saya pakai puluhan tahun dan masih bagus. Kalian pasti tidak pernah melihat saya memakai pakaian yang robek. Pakaian ini longgar dan ringan sehingga tidak mudah robek. Saya juga tidak berkeringat sehingga tidak perlu sering dicuci. Jadi, saya merasa bahwa ini merupakan berkah dan sudah lebih dari cukup.
Sepanjang hidup saya, saya menghabiskan banyak uang. Saat ini, hanya di Taiwan saja, sudah ada 9 Rumah Sakit dan Klinik Tzu Chi. Di rumah sakit dan klinik kita, selama ada yang menderita, insan Tzu Chi akan hadir untuk melenyapkan penderitaan. Setiap kali saya menyerukan sesuatu, kalian langsung membangun tekad. Seperti sebuah perahu, jika ingin berlayar jauh, tentu butuh air dalam jumlah besar. Kita mengakumulasi tetes-tetes cinta kasih menjadi kekuatan besar untuk bersumbangsih.
Saudara sekalian, saya merasa sangat banyak hal yang harus disyukuri dalam hidup ini. Begitu banyak murid yang mendukung saya. Apa pun yang ingin saya lakukan, semua orang langsung terjun tanpa ragu. Oleh karena itu, kita bisa mencapai keadaan seperti hari ini.

Bodhisatwa sekalian, hingga saat ini, setiap malam saya masih ingin mengetahui keadaan di seluruh dunia. Saya tidak berani beristirahat karena merasa bahwa jika beristirahat, nilai waktu akan hilang. Pencapaian hidup seseorang didukung oleh waktu. Tanpa waktu, saya tidak mungkin bisa menjalankan Empat Misi Tzu Chi. Berkat adanya waktu, saya tidak takut bersusah payah dan selalu menghargai setiap hal kecil. Hingga saat ini pun, saya tetap menghargai setiap hal kecil.
Saya sangat bersyukur atas setiap donasi kecil karena itu berasal dari ketulusan setiap orang. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada setiap orang. Jika saya meneteskan satu tetes air ke dalam guci, di dalamnya akan ada tetesan air saya. Begitulah kita memupuk berkah bersama dan mengerahkan kekuatan cinta kasih.
Saya lebih memilih untuk menciptakan berkah tetes demi tetes. Saya tidak tahu bisa menginspirasi begitu banyak orang, hanya melakukannya dengan keberanian. Praktik donasi kecil ini terus berlanjut hingga sekarang. Jadi, Saudara sekalian, jangan berhenti memberikan donasi kecil. Jika kalian bekerja di kantor, letakkanlah satu celengan bambu dan ajak semuanya untuk menciptakan berkah.
Saat ini, Taiwan membutuhkan setiap orang untuk lebih banyak menciptakan berkah. Setiap hari, semua orang harus hidup dengan tulus dan bersumbangsih dengan cinta kasih. Hanya dengan menciptakan berkah, barulah kita dapat meredam bencana. Semua orang seharusnya memahami apa yang saya katakan. Jadi, mari kita berdonasi tanpa membebani diri sendiri.

Ketika kalian mengajak orang lain, itu adalah berkah. Jika kalian menyerukannya, berarti kalian memiliki tekad; jika ada tekad, berarti kalian memiliki berkah. Jadi, semangat celengan bambu tidak boleh terhenti. Demikianlah silsilah Dharma kita diwariskan lewat praktik celengan bambu ini. Berkah yang kita ciptakan akan membasahi bumi. Ketika bumi terbasahi, semua makhluk dapat tumbuh dengan baik.
Baik rerumputan kecil maupun pohon besar, semuanya membutuhkan tetesan embun. Pada ujung daun pohon pinus, kita bisa melihat tetes demi tetes embun yang bening dan berkilau. Embun itu begitu jernih dan bersih. Tetesan embun itu pasti juga terjatuh dan membasahi bumi.Sungguh, di dunia ini, kita harus saling mendukung dan saling membantu. Jadi, hendaknya kita mengembangkan cinta kasih sekaligus menumbuhkan kebijaksanaan. Bahkan dari setetes embun pun, kita dapat memahami energi kehidupan. Kehidupan di bumi sangat melimpah.
Jadi, Saudara sekalian, hendaknya semuanya bersungguh hati. Jangan sampai bumi kehilangan kelembapannya hingga menjadi kering dan retak. Itu tidak boleh terjadi. Hal ini membutuhkan peran semua orang. Cukuplah menjadi setetes embun. Jika setiap orang bisa menjadi seperti setetes embun di ujung daun pinus, kita bisa membasahi bumi, menciptakan berkah bagi dunia, dan mewujudkan dunia yang damai.
Melihat penderitaan melalui baksos kesehatan dan membangkitkan ikrar agung
Berhemat demi memberikan pelayanan medis kepada mereka yang kesulitan
Menghimpun tetes demi tetes cinta kasih lewat celengan bambu
Mengairi dunia dan membangkitkan energi kehidupan dengan Dharma