“Awalnya, bibi saya mengajak saya melakukan daur ulang,” kata Lu Jian-yu.

“Jika dia ada di sisi saya, saya merasa lebih tenang. Saya tidak ingin dia terpengaruh hal-hal buruk,” kata Lu Yu-xia, Bibi Lu Jian-yu.

“Setelah ayah saya meninggal dunia, tidak ada yang mengatur saya. Saat itu, saya bergaul dengan orang yang tidak baik. Saya melakukan apa saja yang mereka suruh meski saya tahu bahwa itu tidak baik. Namun, memiliki teman membuat saya merasa bahwa saya bisa melalui segalanya,” kata Lu Jian-yu.

“Dahulu, setiap bulan, dia harus pergi menemui jaksa. Beliau tahu bahwa insan Tzu Chi tengah membimbingnya. Kemudian, saya membawanya ke Taichung untuk memulai kehidupan baru. Saya mewariskan keterampilan padanya. Kini dia dapat mengerjakan semuanya, baik saluran air, listrik, maupun pendingin ruangan. Dia khusus memberikan pelayanan untuk ‘jantung’ sistem pembekuan dan pendingin ruangan,” kata Huang Ming-cun, relawan Tzu Chi.

“Kakak Ming-cun mendapati bahwa kehidupan sehari-hari Jian-yu kurang disiplin. Karena itu, beliau meminta Jian-yu untuk tiba di tempat kerja setengah jam lebih awal setiap hari serta menonton Da Ai TV dan mengikuti ceramah Master. Beliau berharap dengan demikian, Jian-yu bisa lebih disiplin dalam keseharian. Beliau juga menyemangati Jian-yu dengan berkata, ‘Jika kamu mulai belajarnya belakangan, kamu harus lebih tekun daripada orang lain.’ Jian-yu telah dilantik pada akhir tahun 2024. Kami semua sangat gembira dia bisa mengemban misi Buddha bersama kami,” kata Jiang Shu-li, relawan Tzu Chi.

Buddha Sakyamuni datang ke dunia ini dengan satu harapan, yaitu membimbing semua makhluk di Dunia Saha ini. Apakah Beliau melakukannya sendirian? Bukan. Yang pernah dibimbing-Nya di kehidupan lampau adalah orang-orang yang memiliki jalinan jodoh dengan-Nya. Pada masa itu, jalinan jodoh juga terbentuk di antara kita. Karena itulah, kini, dengan jalinan jodoh dari masa itu, kita datang lagi ke dunia ini.

Berhubung datang untuk membimbing semua makhluk, sebelum semua makhluk terbimbing, Buddha akan terus menyertai semua makhluk. Ini disebut menyertai semua makhluk ke dunia ini untuk membimbing mereka. Jadi, mereka bagaikan anak yang digandeng oleh orang tua, tetapi melepaskan tangan dan kabur. Orang tua harus segera mengikuti dan mengejar mereka, lalu kembali merangkul dan membimbing mereka. Demikianlah hendaknya kita membimbing orang-orang di dunia ini.

Demi anak-anak ini, kita harus menguras pikiran serta menggenggam waktu dan jalinan jodoh. Jadi, kita harus terus-menerus membimbing mereka. Jalinan jodoh antara Buddha dan semua makhluk masih terus berlanjut. Karena itulah, Buddha datang ke dunia ini.

“Kita menyebarkan inti sari Dharma di lapas. Kita harus mencari Dharma dengan rasa hormat. Karena itu, setiap kali, sebelum kami tiba, mereka selalu mengelap lantai hingga sangat bersih dan melepaskan alas kaki. Setiap kali kegiatan bedah buku berakhir, mereka akan melakukan pelimpahan jasa dengan dipimpin oleh sesama napi. Setiap kali, kami memberikan sebuah topik pada mereka. Lalu, mereka akan bertobat untuk menghapus noda batin, berikrar untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, mengikis karma buruk lama sesuai jalinan jodoh, dan tak lagi menciptakan karma buruk baru,” kata Shen Si-tong, relawan Tzu Chi.

Saya mendengar insan Tzu Chi Hualien bertekad dan berikrar untuk menjangkau lapas guna menyebarkan Dharma. Relawan kita membawa ajaran Buddha ke dalam lapas dan membimbing para napi dengan cinta kasih. Kini, para napi juga mempelajari keterampilan. Mereka bersungguh hati membuat ukiran kayu. Bukankah kehidupan kita juga demikian? Buddha datang untuk mengukir kita. Bukankah kita terlihat sangat mirip dengan Bodhisatwa?

Kita memberi penghormatan kepada rupang kayu Buddha hingga merasakan bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Apakah memberi penghormatan kepada rupang Buddha berarti memberi penghormatan kepada Buddha? Itu bergantung pada pikiran kita. Jika kita bersungguh-sungguh, berarti kita memberi penghormatan kepada Buddha. Orang yang tidak memiliki keyakinan tidak akan berjodoh dengan Buddha. Orang yang tidak berjodoh dengan Buddha tidak akan tersadarkan. Jika kita tidak merasa bahwa diri sendiri adalah praktisi Buddhis, kita tidak akan mengecilkan ego.

Saat melihat rupang dari kayu ataupun tanah liat, kita tidak akan membangkitkan rasa hormat. Jika kita melatih diri, hakikat kita akan makin dekat dengan Buddha. Saat melihat kata-kata ini, kita secara alami akan membangkitkan rasa hormat. Demikianlah awal timbulnya “kesadaran“. Bagaikan anak-anak, agar “kesadaran” timbul, kita harus “belajar“. Dengan belajar untuk tersadarkan, kita secara alami akan mencapai kebuddhaan. “Kesadaran” ini sangatlah jernih.

Saat ini, kita semua disebut praktisi Buddhis. Kalian mempelajari ajaran Buddha, saya juga mempelajari ajaran Buddha. Kalian memanggil saya “Master” karena saya belajar lebih awal dari kalian. Selain itu, saya juga memiliki jalinan jodoh istimewa. Di kehidupan sekarang, saya mengundang kalian untuk menjalankan Tzu Chi bersama saya.

Buddha mengajari kita untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Kita menapaki Jalan Bodhisatwa demi semua makhluk. Kita melakukannya dengan sukarela. Karena itu, kita tidak takut bersusah payah. Kita melakukan dengan sukarela dan menerima dengan sukacita. Contohnya saya. Sangat sulit bagi saya untuk berbicara. Jika saya berhenti dan beristirahat sekarang, tetapi stamina saya tidak bisa pulih seperti sediakala, bukankah saya menyia-nyiakan waktu saya hari ini? Karena itu, saya harus menggenggam waktu yang ada.

Saya menjalani hidup dengan damai. Setiap hari, saya harus berusaha untuk menyelaraskan empat unsur tubuh dan penyakit saya. Saat karma saya berakhir, jalinan jodoh saya di kehidupan sekarang juga berakhir. Setelah kehidupan ini berakhir, saya berharap dapat datang lagi di kehidupan mendatang. Banyak makhluk di era kemunduran Dharma ini yang belum terbimbing. Karena itu, saya akan datang lagi di kehidupan mendatang. Jadi, saya tidak berani bermalas-malasan.

Saya berharap di kehidupan sekarang, saya dapat menjalin lebih banyak jodoh berkah dan menginspirasi lebih banyak orang. Orang-orang yang menggandeng tangan saya telah saya bimbing ke ladang pelatihan untuk menapaki Jalan Bodhisatwa. Terhadap mereka yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berkata, “Ingatlah untuk menggandeng tangan saya.” Saya harus menunggu hingga jalinan jodoh mereka matang. Setelah saya pergi, jangan membiarkan saya pergi ke jalan lain.

Saya berharap setiap orang dapat mengerahkan kekuatan untuk membimbing saya menapaki Jalan Bodhisatwa. Jadi, kalian harus memahami ajaran saya dan menggandeng saya dengan erat. Meski saya telah tiada, kalian pun harus ingat bahwa saya ingin kalian membimbing saya. Demikianlah hendaknya kita saling membimbing dari generasi ke generasi.

Lihatlah, orang yang menapaki Jalan Bodhisatwa untuk menyucikan hati manusia terus meningkat dari generasi ke generasi. Makin banyak Bodhisatwa yang menyucikan hati manusia, dunia ini akan makin jernih hingga akhirnya semua makhluk terbimbing dan mencapai Bodhi. Untuk itu, kita harus bersungguh-sungguh membimbing semua makhluk.

Kembali ke Dunia Saha untuk membimbing semua makhluk secara luas

Belajar hingga tersadarkan dengan keyakinan dan pemahaman

Menjalankan ikrar agung tanpa bermalas-malasan

Mempererat jalinan jodoh Dharma dari kehidupan ke kehidupan