“Saya merasa sangat bersyukur bisa bergabung dalam keluarga besar Tzu Chi, terutama dalam tim pengusaha. Semuanya saling bersatu dan harmonis. Beberapa waktu yang lalu, saya tinggal di sini selama setengah bulan. Semua anggota tim pengusaha juga kembali untuk membuat bakpao panjang umur. Ada yang mengambil giliran lebih dari 10 hari, ada yang 1 minggu, ada juga yang 3 sampai 5 hari. Waktu itu terasa tidak panjang, tetapi juga tidak singkat. Kami sudah melakukannya terus-menerus selama 18 tahun. Apa arti dari 18 tahun ini?” kata Fang Han-wu, relawan Tzu Chi.

“Saya ingin melaporkan kepada Master bahwa semua murid Jing Si memiliki tekad yang teguh. Selama 18 tahun ini, kami telah membuat lebih dari 1 juta bakpao panjang umur. Kami ingin menggenggam jalinan jodoh untuk menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Jadi, kami selalu memegang teguh ajaran Master, mempraktikkannya di masyarakat, dan terus belajar bersama,” lanjut Fang Han-wu.

“Kami sangat berterima kasih kepada Master karena telah memberikan lingkungan dan kesempatan kepada kami untuk belajar. Kami melakukannya dengan penuh sukacita,” pungkas Fang Han-wu.

Melihat ketulusan hati kalian seperti ini benar-benar membuat saya sangat tersentuh dan bersyukur. Tzu Chi adalah milik kita semua. Perjalanan selama 60 tahun ini sangatlah berharga. Tzu Chi bisa mewujudkan berbagai misi di Taiwan hingga tersebar ke seluruh dunia.

Selama 60 tahun ini, setiap detik dan menit yang berlalu merupakan akumulasi cinta kasih dan kekuatan dari semua orang. Semua yang kita lakukan itu nyata dan cinta kasih itu pun tulus adanya. Jika kalian sering mendengarkan Radio Da Ai atau menonton Da Ai TV, kalian akan melihat apa yang dilakukan Tzu Chi di Taiwan telah menyebar ke dunia internasional. Banyak orang merasa tersentuh ketika melihatnya dan merasakan bahwa Taiwan memiliki banyak orang baik. Saya merasa sangat bersukacita. Hendaknya kalian juga bersukacita.

Tzu Chi dibangun bersama oleh Anda, mereka, dan saya. Begitu banyak hal menyentuh yang dimulai dari kita. Kita disebut dengan generasi pertama Tzu Chi. Saya dan kalian disebut generasi pertama Tzu Chi. Hal yang paling membuat saya bersukacita ialah ketika melihat anak-anak kecil yang begitu menerima uang langsung ingin memasukkannya ke celengan bambu. Mereka berkata, “Saya ingin memberikannya kepada Kakek Guru untuk membantu orang lain.” Hati anak-anak ini begitu murni. Inilah ketulusan yang sesungguhnya. Sejak kecil, mereka sudah ditanamkan benih berkah yang sangat jelas.

Ajaran Buddha mengajarkan kepada kita untuk bersikap tulus, memiliki cinta kasih, dan menabur benih kebajikan. Inilah ajaran paling mendasar yang diajarkan Buddha. Jadi, setiap orang perlu membangkitkan niat baik, terutama anak-anak kecil yang hatinya masih murni. Jika kalian bisa membimbing anak-anak sejak kecil untuk memegang uang koin dan menaruhnya ke dalam celengan bambu, benih kebajikan itu akan tertanam di dalam ladang batin mereka sejak dini. Inilah yang disebut dengan pendidikan.

Saya berharap setiap keluarga dapat menaburkan benih kebajikan bagi generasi-generasi berikutnya. Saya sangat berharap Taiwan dapat selamanya menjadi ladang berkah yang subur. Ini membutuhkan kerja sama semua insan Tzu Chi. Kalian bisa berkata, “Saya mendengar Master berkata bahwa harapannya tahun ini ialah semua orang di Taiwan menjadi insan Tzu Chi.”

Saat ini, saya melihat banyak Toko Cinta Kasih. Saya selalu berkata bahwa cinta kasih ada di toko-toko. Saat ini, anggota komite Tzu Chi selalu pergi ke toko-toko untuk menaruh celengan bambu. Ini sangatlah baik. Bukan karena ingin meminta uang, tetapi karena saya ingin semua orang mengenal Tzu Chi dan mengetahui apa yang dilakukan Tzu Chi.

Selama ada yang menjelaskan kepada mereka, maka yang berbicara akan mendapatkan pahala dan yang mendengarkan juga mendapat pahala. Keduanya berjalan bersama untuk menciptakan berkah. Jika bisa demikian, itulah berkah abadi bagi Taiwan. Dengan adanya energi berkah, iklim dan cuaca akan bersahabat dan kehidupan akan damai dan tenteram.

Saya sangat berterima kasih kepada kalian yang telah sepenuh hati kembali dengan membawa ketulusan dan cinta kasih. Kalian menempuh perjalanan yang begitu jauh hanya untuk bertemu saya dalam waktu yang singkat. Saya sangat berterima kasih kepada kalian. Saya selalu memberi tahu kalian bahwa dahulu saya yang menggandeng tangan kalian untuk bergabung ke dalam Tzu Chi. Saat ini, saya ingin memberi tahu bahwa di masa mendatang, justru saya yang membutuhkan kalian untuk menggandeng tangan saya.

Berhubung kita memiliki semangat Tzu Chi dan jalinan jodoh dengan Tzu Chi, kita tidak akan pernah meninggalkan Tzu Chi selamanya. Dari kehidupan ke kehidupan, kita tetap harus mewujudkan misi Tzu Chi di dunia. Buddha datang ke dunia untuk membimbing kita masuk ke pintu Buddha. Dalam kehidupan ini, kita membangun Tzu Chi dan bekerja demi masyarakat. Di mana ada kemiskinan, penderitaan, dan bencana, Bodhisatwa akan hadir mendengar suara penderitaan dan menolong. Inilah Bodhisatwa Avalokitesvara.

Bodhisatwa Avalokitesvara senantiasa datang dari kehidupan ke kehidupan untuk membimbing manusia. Setiap orang bisa menjadi perwujudan Bodhisatwa. Jadi, kalian harus percaya bahwa jika mempelajari Jalan Bodhisatwa tanpa mempraktikkannya, bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi Bodhisatwa? Jadi, meneladan Bodhisatwa berarti berproses untuk menjadi Bodhisatwa.

Meneladan Buddha berarti berjalan untuk mencapai kebuddhaan. Hendaknya kita bersungguh hati. Tzu Chi telah berdiri dan stabil. Terlebih lagi, dunia internasional sudah mengetahui bahwa Taiwan memiliki Tzu Chi. Jadi, hendaknya kita menjaga dan menjalankannya dengan baik. Terutama di Aula Jing Si Kaohsiung, terdapat begitu banyak dokumentasi perjalanan Tzu Chi. Jika ada pengunjung datang, setiap hari selalu ada relawan yang memandu mereka. Ini sangatlah baik.

Setiap kali saya datang dan berjalan di lorong itu, saya selalu melihat setiap foto dengan penuh rasa haru dan syukur. Namun, jika foto-foto di lorong itu sesekali diperbarui dengan kegiatan terbaru, orang-orang akan terus tertarik datang melihat hal-hal yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa kekuatan cinta kasih kita terus mengalir, seperti air hidup yang selalu mengalir. Hal ini sangat kita perlukan dan kalianlah yang harus meneruskannya.

Saya sangat berharap insan Tzu Chi memahami bahwa misi Tzu Chi bersifat abadi, bukan hanya untuk kehidupan ini atau mendatang, melainkan dari kehidupan ke kehidupan. Kita harus senantiasa menapaki Jalan Bodhisatwa. Inilah yang ingin saya serukan kepada kalian.

Enam puluh tahun menolong dunia dengan cinta kasih dan welas asih

Menanam benih berkah yang murni di ladang hati

Menggalang cinta kasih dengan celengan bambu dan menjaga kebajikan

Menapaki Jalan Bodhisatwa demi misi abadi