“Pada bulan Oktober tahun lalu, saya beruntung bisa kembali ke Griya Jing Si bersama teman saya. Sesungguhnya, saat itu saya datang untuk mendampingi teman saya memahami lebih dalam tentang kehidupan praktisi murni. Namun, selama proses itu, ada banyak hal yang menyentuh hati saya,” kata Chen Bao-yi, Staf Divisi Kerohanian Tzu Chi.

“Selama ini, semua yang saya lakukan hanya untuk mencari uang, lalu membelanjakannya untuk diri sendiri. Begitulah siklus kehidupan saya. Saya merasa tidak mendapatkan sesuatu yang berarti. Dibandingkan dengan kita, di dunia ini masih ada begitu banyak orang menderita yang menantikan bantuan kita. Pada tanggal 20 Januari tahun ini, saya kembali ke Griya Jing Si bersama teman saya yang sekarang telah menetap, yaitu Kakak Ji Shi-li,” pungkas Chen Bao-yi.

Saya sering mengatakan kepada kalian semua agar dapat menginventarisasi kembali niat awal masing-masing. Seberapa dalam pun saya menginventarisasi niat tersebut, pada akhirnya saya merasa semuanya sungguh berharga. Kehidupan saya sekarang sangat berharga. Yang kita pilih ialah Buddha dan Dharma yang abadi. Mengenai ikrar, hal yang paling penting bagi kita ialah memanfaatkan setiap saat dengan baik. Dengan demikian, barulah niat awal kita dapat bertahan selamanya.

Sama seperti ketika memilih meninggalkan keduniawian, saya pun menetapkan arah hidup ini, yaitu meneladan Buddha dan menapaki Jalan Bodhisatwa. Jalan yang harus ditempuh dalam meneladan Buddha ialah Jalan Bodhisatwa di tengah masyarakat. Bukan sekadar menjadi Bodhisatwa dalam ucapan, melainkan benar-benar menjalankannya melalui tindakan nyata.

Sejauh apa perjalanan ini? Dari kehidupan ke kehidupan, tanpa batas waktu. Sekarang, usia saya sudah lebih dari 90 tahun. Berapa lama lagi waktu yang tersisa? Kita bahkan tidak tahu apakah masih ada hari esok atau lusa. Berapa tahun lagi yang tersisa pun tidak diketahui. Jadi, saya berpikir, selama sekitar 90 tahun ini, berapa banyak hal yang telah saya alami dan berapa banyak yang telah saya lakukan? Rasanya cukup banyak.

Namun, sebanyak apa sebenarnya? Bagaimanapun, kita harus menyebutkan suatu angka. Jika dipikirkan kembali, memang harus ada angka. Secara garis besar, kita menyebutnya Empat Misi Tzu Chi. Sudah berapa lama misi amal dijalankan? Misi amal telah berjalan 60 tahun. Apakah itu cukup? Tentu saja, saya akan berkata bahwa itu belum cukup. Berapa lama lagi kita harus menjalankannya? Dari kehidupan ke kehidupan dan dari generasi ke generasi.

Dimulai dari saya, lalu murid saya, murid dari murid saya, dan generasi berikutnya. Apakah cukup dengan cara seperti ini? Kita harus menunggu mereka menjadi kaum monastik. Namun, berapa banyak yang akan menjadi kaum monastik? Karena itu, ini tidaklah cukup.

Ada orang yang memiliki tekad untuk melatih diri, tetapi lingkungannya tidak memungkinkan. Namun, kita dapat membimbing mereka untuk terlebih dahulu membangkitkan tekad melatih diri. Sebutan mereka mungkin berbeda, tetapi hakikatnya sama. Jadi, saya membuka sebuah pintu baru, yaitu praktisi murni.

Kehidupan monastik disebut sebagai kehidupan yang murni. Namun, sebutannya berbeda-beda, ada kaum monastik, anggota Sangha, atau guru Dharma. Sesungguhnya, semua itu merupakan wujud di dunia. Ada bentuk dan nama yang dikenal di tengah masyarakat.

Saya membuka sebuah pintu pada pagar pembatas agar jalur ini menjadi lebih luas. Jadi, saya membuka jalur praktisi murni bagi para umat perumah tangga. Mereka menjalani kehidupan dan memiliki tekad seperti kaum monastik. Itulah yang disebut praktisi murni.

“Master mengatakan bahwa jika ingin menjalani kehidupan sebagai praktisi murni, harus bersedia masuk ke dalam tungku besar. Mereka harus bersedia ditempa di dalamnya, dibakar, ditempa, dan dibentuk. Tidak hanya itu, setelah semua unsur yang tidak murni itu disingkirkan, barulah bunga teratai merah dapat mekar di tengah kobaran api,” kata Chen Si Dan, Praktisi murni Griya Jing Si.

“Bunga teratai merah tidak hanya menghasilkan biji yang bisa dimakan, tetapi juga akar teratai yang bisa dikonsumsi dan bunga yang dapat digunakan sebagai bahan obat. Seluruh bagian teratai dapat dimanfaatkan. Saya percaya bahwa inilah makna dari melatih diri, yaitu menyingkirkan noda dan mempertahankan esensi yang murni di masyarakat,” lanjut Chen Si Dan.

“Kita harus terus menempa diri, terus bersumbangsih, dan terus mendedikasikan diri. Ketika menghadapi berbagai keadaan dan ujian, kita harus tetap mengingat dengan jelas arah dan tujuan hidup kita. Saya percaya bahwa inilah ikrar yang dimiliki para praktisi murni,” pungkas Chen Si Dan.

Para praktisi dalam agama Buddha juga bekerja demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk, serta menjadi penuntun bagi kehidupan manusia. Kalian yang mewariskan silsilah Dharma Jing Si juga dapat mendedikasikan tubuh dan pikiran demi masyarakat. Kita harus menjalankan peran ini dengan baik agar masyarakat menghormati kita. Kita harus mampu membimbing orang lain memasuki pintu Buddha. Kaum monastik menjadi saksi bagi semua orang bahwa para praktisi murni berperan sebagai penuntun bagi masyarakat.

Kita harus melatih diri menjadi manusia yang baik dan menyempurnakan karakter diri. Dengan begitu, barulah kita mampu membimbing orang lain menjadi orang baik dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia. Secara alami, dunia akan menjadi harmonis dan damai. Jika kita tidak terjun ke tengah masyarakat untuk membimbing orang-orang menjadi baik, dunia akan terus dilanda gejolak dan ketidakstabilan. Jadi, kalian harus memahami bahwa tanggung jawab kalian sangatlah besar.

Kita harus menjangkau hati masyarakat agar mereka melihat bahwa praktisi murni adalah orang-orang yang murni dan tulus. Kita berbicara dengan penuh kebenaran, menjalankan apa yang mereka ajarkan, dan bersedia bersumbangsih bagi masyarakat. Dengan sendirinya, orang-orang akan mengikuti kita dan kita pun dapat membimbing mereka untuk bergabung. Kehadiran praktisi murni juga merupakan cara untuk membimbing masyarakat. Inilah hal yang sangat penting.

Hari ini, saya ingin menyampaikan kepada kalian bahwa karakter yang pertama-tama harus dilatih oleh seorang praktisi murni ialah terjun ke tengah masyarakat dan menjadi teladan. Ketika mendekati masyarakat, kalian tidak boleh bersikap sembrono, melainkan harus bersikap tenang. Setiap perkataan yang disampaikan pun harus sesuai dengan ajaran sehingga dapat membimbing orang lain memahami semangat ajaran Buddha.

Terutama bagi kita yang ada di Griya Jing Si dan mewarisi silsilah Dharma Jing Si, kita harus membuat orang lain memahami bahwa praktisi murni itu meneruskan sila murni di Griya Jing Si. Saya sering memberi tahu kalian bahwa silsilah Dharma Jing Si adalah giat mempraktikkan jalan kebenaran; mazhab Tzu Chi adalah Jalan Bodhisatwa di dunia. Kedua kalimat ini harus kalian hafalkan di dalam kehidupan. Keduanya ibarat dua tangan dan dua kaki kita.

Kaki kita harus melangkah di jalan ini, sedangkan tangan kita harus terulur untuk menginspirasi setiap orang menapaki jalan ini. Dengan begitu, kita dapat membantu mereka naik satu tingkat demi satu tingkat dan maju selangkah demi selangkah untuk memahami semangat ajaran Buddha. Jadi, langkah kita harus mantap dan tangan kita harus terulur untuk menginspirasi semua makhluk. 

Menggenggam setiap momen dan menjaga niat awal

Menjaga sila, disiplin, dan menjalankan praktik murni

Mendedikasikan tubuh dan pikiran untuk mewariskan silsilah Dharma

Menginspirasi semua makhluk dan menyebarkan mazhab Tzu Chi

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 28 Oktober 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta

Ditayangkan Tanggal 30 Oktober 2026