“Sebagai personel polisi, waktu luangnya tidak banyak. Beliau selalu memanfaatkan waktu dengan baik. Berhubung tidak bisa libur di akhir pekan, beliau selalu terlebih dahulu memberi tahu saya kapan dirinya libur setiap minggunya sehingga saya bisa mengajaknya untuk mengikuti aktivitas dan beliau selalu berpartisipasi dengan gembira,” kata Lin Yong-cheng, relawan Tzu Chi.

“Suatu kali, saya pulang kerja pukul 4 subuh dan melihat panggilan untuk bertugas. Setelah beristirahat 4 hingga 5 jam, saya pun bangun dan ikut untuk berdoa, melakukan daur ulang, dan sebagainya. Saya sungguh merasa bahwa butuh kesungguhan hati untuk terus bertahan sebagai relawan,” kata Wu Zong-xian, relawan Tzu Chi.

Waktu memiliki angka tetap. Satu jam terdiri atas 60 menit, satu menit terdiri atas 60 detik. Namun, jika hanya menghitung waktu tanpa bersungguh hati, waktu akan berlalu dengan cepat. Berlalunya 86.400 detik berarti berlalunya satu hari. Tanpa disadari, waktu berlalu dengan cepat. Begitu pula dengan kehidupan manusia. Jika kita tidak memikirkan apa-apa, hari demi hari akan berlalu dengan mudah. Namun, mungkinkah kita tidak memikirkan apa-apa?

Orang-orang zaman sekarang sangat sibuk sehingga waktu terasa berlalu sangat cepat. Jarang ada orang yang memiliki waktu senggang. Meski ada, apakah mereka merasa bahwa diri sendiri senggang? Kaum lansia zaman sekarang juga bukan tidak melakukan atau memikirkan apa-apa. Meski sudah lanjut usia, asalkan berniat untuk melakukan sesuatu, mereka tetap akan menggenggam waktu yang ada. Akan tetapi, seiring berlalunya waktu, sesungguhnya kita berbuat baik atau berbuat jahat?

Saat mengikuti rapat, ketika mendengar laporan dari berbagai departemen, saya selalu memuji mereka. Dengan kemajuan teknologi sekarang, sistem medis kita mengalami kemajuan dan menyelamatkan banyak orang. Ini membuat saya merasa bahwa kehidupan saya bernilai.

Belakangan ini, saya juga mengundang para anggota Asosiasi Guru Tzu Chi untuk kembali. Saya bisa melihat para guru yang telah berambut putih dan berusia lanjut. Jika ditanya apa yang mereka lakukan sekarang, ada sebagian yang tetap sangat sibuk. Mereka menerima pendidikan yang sama dan membangkitkan ikrar yang sama. Meski telah membangkitkan ikrar baik, akibat kekuatan karma, mereka tidak bisa bertindak sesuai kehendak diri sendiri. Setiap orang memiliki jalan yang harus ditempuh. Belakangan ini, saya sering merasa demikian. Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Kini, mari kita mulai menginventarisasi kehidupan diri sendiri. Setelah itu, kita hendaknya berhimpun untuk membahas bagaimana memperbaiki metode pengajaran kita. Jangan hanya mempertahankan metode pengajaran lama di era sekarang yang makin hari makin kompetitif. Jika hanya berpegang pada metode pengajaran lama dan berjalan mengikuti arus, dalam waktu singkat, pendidikan kita akan ketinggalan.

Saat ini, kita harus menjaga pendidikan agar tetap murni, bukan demi berkompetisi. Namun, jika tidak berkompetisi, akan kurang energik. Kini, kita harus lebih bersungguh hati. Berkompetisi juga bisa menjadi sesuatu yang positif. Kita harus berusaha untuk mencari jalan yang bisa ditapaki orang-orang dengan damai, tenang, dan sukacita. Inilah yang harus kita usahakan dalam misi pendidikan kita.

Di manakah letak nilai pendidikan kita? Nilai pendidikan terletak pada kesuksesan murid-murid. Saat murid-murid kita bisa membawa manfaat bagi dunia, itu menunjukkan kesuksesan pendidikan kita. Saat ini, di sini duduk beberapa anak muda yang lulus dari sekolah kita sendiri. Saat melihat mereka, saya merasa penuh pencapaian. Coba kalian cari tahu di mana murid-murid kalian sekarang.

Kita hendaknya mengumpulkan para guru yang dahulu mengajar bersama dan meminta mereka untuk mencari murid-murid mereka. Temukanlah murid dan teman sekolah kalian untuk menginventarisasi nilai dari pendidikan kita. Mari kita menilai sendiri manfaat apa yang telah kita datangkan bagi masyarakat. Kita hendaknya membuka dan menapaki jalan ini agar para guru dapat menilai sendiri apakah pendidikan kita bermanfaat bagi masyarakat dan murid-murid. Jika bisa demikian, ini mungkin akan menjadi arah yang baik bagi pendidikan di masa mendatang.

Dalam badan misi kita, ada program Silent Mentor dan donor organ. Di tengah masyarakat, kita hendaknya menyerukan hal-hal yang baik seperti ini agar pikiran orang-orang lebih terbuka.

“Saya harap kehidupannya dapat dilanjutkan dengan cara yang berbeda. Pada saat yang sama, saya juga harap dapat membantu orang-orang yang membutuhkan,” kata keluarga donor.

“Keluarga donor menyetujui donor organ sehingga kehidupan dan cinta kasih bisa terus berlanjut. Ini juga merupakan titik balik dan peningkatan spiritual. Mereka menjadi bagian dari kehidupan baru yang cemerlang,” kata Wu Fang-qian, Kepala departemen layanan sosial RS Tzu Chi Taipei.

“Saya adalah seorang dokter transplantasi. Karena pekerjaan saya di rumah sakit, saya tidak boleh melakukan kontak dengan donor. Namun, saya tetap berharap berkesempatan untuk mengungkapkan rasa hormat terdalam saya terhadap para donor,” kata Chen Da-zhong, Kepala departemen bedah kardiovaskular RS Tzu Chi Taipei.

“Saya mendoakan para Bodhisatwa dan malaikat yang telah menyumbangkan organ mereka. Saya juga berharap konsep donor organ ini dapat dikenal dan diterima oleh masyarakat,” kata Chao You-chen, Kepala RS Tzu Chi Taipei.

Kita membutuhkan orang untuk menggalakkan donor organ. Ini mungkin dapat menyelamatkan banyak orang. Selama beberapa waktu, saya memberi tahu orang-orang bahwa ada banyak benda yang dapat diperpanjang masa penggunaannya. Jika dapat bersungguh hati menerapkan konsep ini dalam pengobatan, orang yang bisa kita tolong akan makin banyak.

Mendengar kalian bersungguh hati dalam ilmu medis, pendidikan, dan pengobatan, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan dalam kehidupan saya sangatlah bernilai. Semuanya bermanfaat bagi dunia. Yang terpenting, pendidikan kita telah membina banyak insan berbakat yang terus berbuat baik bagi masyarakat. Sungguh, banyak orang yang memberi keteladanan. Jadi, Empat Misi dan Delapan Jejak Dharma Tzu Chi sangatlah baik.

Saya berharap kalian dapat membuat catatan sederhana tentang hal-hal bermanfaat yang telah kalian lakukan. Mari kita menulis sejarah Tzu Chi. Sejarah Tzu Chi dapat ditulis oleh murid-murid, juga dapat ditulis oleh para guru. Jadi, setiap insan Tzu Chi dapat menulisnya.

Menggenggam waktu untuk menciptakan karma baik

Berikrar untuk tekun dan bersemangat mengembangkan nilai kehidupan

Melakukan inventarisasi dan menulis sejarah Tzu Chi

Membawa manfaat bagi masyarakat dengan cinta kasih berkelanjutan

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 19 Oktober 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 21 Oktober 2026