“Selama bertahun-tahun bekerja di bidang perdagangan, saya mengira komunikasi adalah hal yang sangat sederhana. Namun, ternyata tidak semudah itu. Ketika mendengar istilah ketidakkekalan dan Jalan Bodhisatwa, pikiran saya benar-benar kosong. Jadi, saya memberi tahu ketua tim bahwa sepertinya saya tidak sanggup mengemban tugas ini,” kata Yang Jia-xin, relawan Tzu Chi.

“Namun, ketua tim memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar dan terus menyemangati saya. Para relawan juga terus menyemangati dan mendampingi saya hingga sekarang. Di sini, saya berikrar untuk terus memperdalam ajaran Buddha, serta menyampaikan nilai budaya humanis dan cinta kasih agung Tzu Chi melalui bahasa ke berbagai penjuru dunia,” pungkas Yang Jia-xin.

Saya berterima kasih kepada tim bahasa asing. Ketika saya berbicara dalam dialek Taiwan, apakah kalian dapat mengerti? (Mengerti.) Namun, ketika kalian berbicara dalam bahasa asing, banyak di antaranya yang tidak saya mengerti. Meski begitu, saya yakin bahwa kalian mendengarkan perkataan saya dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, kalian dapat menerjemahkan perkataan saya ke dalam berbagai bahasa.

Saat ini, Tzu Chi dapat berkembang hingga ke taraf internasional berkat kehadiran kalian sebagai tim bahasa asing. Kalian menerjemahkan apa yang saya sampaikan. Meski tidak selalu secara langsung, kalian terus menerjemahkan perkataan saya secara bertahap. Dengan begitu, semua orang memahami semangat dan prinsip Tzu Chi. Mereka juga dapat mengetahui organisasi apakah Tzu Chi dan apa yang dilakukan oleh Tzu Chi.

Berkat terjemahan kalian, semua orang dapat memahami apa yang Tzu Chi lakukan dan mengenalkannya hingga ke berbagai negara. Berkat itulah, aktivitas Tzu Chi di berbagai negara dapat berkembang. Internasionalisasi misi amal benar-benar dilakukan dengan langkah yang mantap. Ke negara mana pun relawan pergi, mereka akan menjalankan misi Tzu Chi di sana. Dengan begitu, barulah Tzu Chi dapat berkembang secara internasional. Jadi, tim bahasa asing memiliki peran yang sangat penting.

Saya berbicara dalam dialek Taiwan. Meski semua orang mengenal Tzu Chi, belum tentu mereka memahami apa yang saya sampaikan. Terlebih lagi, generasi muda sekarang makin sulit memahami bahasa ini. Kalian semua mengetahui apa yang Tzu Chi lakukan di tengah dunia ini karena kalian juga merupakan insan Tzu Chi. Hal-hal yang bernilai dan bermanfaat bagi dunia layak untuk kita teruskan. Jadi, kita membutuhkan tim bahasa asing.

Relawan bahasa asing sekalian, kalian sangat penting bagi saya. Saya sangat berharap agar semangat ini dapat benar-benar dipraktikkan. Saat ini, hal yang paling saya perhatikan ialah generasi penerus. Kalian harus lebih sering kembali ke Griya Jing Si untuk beraktivitas dan berinteraksi dengan para bhiksuni. Bagaimanapun, saya sangat ingin terus tinggal di dunia ini lebih lama. Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Batas usia manusia juga sudah makin dekat. Bisa mencapai usia 90 tahun saja sudah lebih dari cukup. Jadi, saat ini, kita harus mulai memikirkan masa depan.

Saya telah mendengar tekad dan ikrar kalian untuk menyebarkan semangat Tzu Chi dalam berbagai bahasa agar dapat didengar oleh semua orang. Namun, ingatlah bahwa inti dari silsilah Dharma harus senantiasa kalian jaga dan perkokoh. Dengan begitu, Jalan Bodhisatwa dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Buddha telah mewariskan ajaran kepada umat manusia. Kita harus bersatu dengan berlandaskan semangat ajaran Buddha. Ajaran Buddha sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia. Bodhisatwa sekalian, kalian dalam tim bahasa asing juga harus mendalami Sutra, tidak hanya terbatas pada teks Sutra yang biasa dilantunkan, melainkan juga perkataan yang telah saya sampaikan selama puluhan tahun.

Hendaknya kalian mengambil materi tersebut, membacanya dalam bahasa Mandarin, lalu membacakannya dalam dialek Taiwan hingga menguasainya, setelah itu kalian dapat menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Dengan begitu, ajaran tersebut dapat disebarluaskan ke dunia internasional. Inilah yang sangat saya harapkan saat ini.

Belakangan ini, setiap kali insan Tzu Chi kembali ke sini, saya selalu menyampaikan hal ini kepada mereka. Saudara sekalian, tim bahasa asing sangatlah penting. Kalian harus memperhatikan peran ini karena kalian juga tengah menyebarkan ajaran Buddha dan semangat Buddha di dunia. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Masih banyak yang ingin saya sampaikan. Jika kalian lebih sering kembali, saya dapat terus berbagi dengan kalian secara bertahap. Hari ini, kebetulan Gary Ho juga datang. Saya juga sangat berterima kasih kepadanya atas Kata Renungan Jing Si yang dikumpulkannya. Berkat beliau dan Gao Xin-jiang pada masa itu, perkataan saya yang panjang dapat dirangkum menjadi kalimat pendek untuk dibaca oleh semua orang. Hanya dalam waktu satu detik, orang-orang dapat memahaminya. Pada masa itu, buku “Kata Renungan Jing Si” membantu banyak orang mengenal Tzu Chi. Jadi, saya merasa sangat bersyukur.

Hari ini, saya melihat begitu banyak orang yang patut saya syukuri. Saya merasa sangat bersukacita karena jiwa kebijaksanaan dalam ajaran Buddha dapat terus diwariskan.

“Dahulu, ketika saya mengajaknya untuk mengikuti pelatihan, suaminya bahkan ingin memukul dan membunuh saya. Setiap kali menghadapi hal seperti itu, saya membuka buku ‘Kata Renungan Jing Si’. Di sana, Master kembali mengingatkan saya melalui kalimat, ‘Ketika orang yang menderita tidak bisa keluar, orang yang dipenuhi berkah harus menjangkau mereka.’ Mendampingi mereka sungguh tidak mudah, tetapi Master meminta saya untuk terus berusaha. Bagaimana mungkin saya menyerah? Saya pun terus mendampingi mereka dari dekat,” kata Nguyen Thi Huynh Nhu, relawan Tzu Chi.

“Saya ingin melaporkan kepada Master bahwa tahun ini beliau sudah mengikuti pelatihan. Terima kasih atas berkat dan kekuatan yang Master berikan kepada kami. Kami berikrar di hadapan Master untuk terus berusaha dengan tekun. Saya percaya, selama kita memiliki ajaran Buddha, pasti ada jalan untuk mengatasi setiap persoalan. Terima kasih atas dukungan Master,” pungkas Nguyen Thi Huynh Nhu.

Dengan adanya ajaran Buddha, kita akan memiliki kebijaksanaan. Kita juga harus menjaga diri agar tidak terluka dan tidak menyakiti orang lain. Kita harus benar-benar berusaha menyelesaikan segala sesuatu hingga mencapai hasil yang sempurna. Inilah keberhasilan.

Anda telah membimbingnya. Selanjutnya, ia dapat memperlakukan suaminya dengan lebih baik sehingga suaminya dapat terinspirasi juga. Dengan begitu, mereka dapat bersama-sama menapaki Jalan Bodhisatwa dengan tekun dan bersemangat.

“Bencana di dunia sangatlah banyak. Kami sebagai tim bahasa asing tidak akan pernah menyerah. Tim Bahasa Asing Kaohsiung akan terus bergerak bersama. Go, go, go! Kami akan menginventarisasi kehidupan, menggali makna yang lebih dalam, tekun dan pantang menyerah menjalankan misi Tzu Chi, dan bersama-sama menyebarkan Dharma melalui bahasa asing. Menyebarkan cinta kasih tanpa batas negara, saya bersedia.”

Melihat dan mendengar semua ini membuat saya merasa sukacita. Tentu saja, semuanya terasa begitu dekat di hati saya. Saya berharap setelah kembali ke tempat masing-masing, kalian tetap sering berkumpul. Gunakan bahasa yang kalian kuasai untuk berbagi Kata Renungan Jing Si. Terjemahkan Kata Renungan Jing Si ke dalam berbagai bahasa asing dengan baik. Terjemahannya pun harus tepat dan sesuai makna aslinya.

Jika memungkinkan, sebaiknya diterjemahkan kalimat demi kalimat agar orang dari negara lain dapat memahaminya. Ini merupakan suatu pahala yang besar. Dengan begitu, mereka dapat memahami bahwa Tzu Chi dan ajaran Buddha tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.)

Bahasa asing menjadi jembatan untuk mewariskan silsilah Dharma

Kata Renungan Jing Si menuntun langkah Bodhisatwa

Mendalami Sutra dan memperluas jangkauan internasional

Menyebarkan semangat Tzu Chi secara luas

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 03 Oktober 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 05 Oktober 2026