“Dari Stasiun Kereta Luye ke Kuil Wangmu, jaraknya sekitar 3 kilometer. Saat itu, Master sambil membawa kitab Sutra dan barang-barang lainnya. Master berkata bahwa beliau sampai terjatuh 3 kali. Mengapa begitu? Karena jalanan saat itu hanya berupa jalan yang dilalui kereta lembu,” kata Liu Wen-rui, relawan Tzu Chi.
“Sejarah yang diceritakan para bibi membuat kami seolah-olah mengalami perjalanan itu secara langsung. Saya merasa bahwa ini sangatlah bermakna. Kami juga makin memahami akar Tzu Chi. Ternyata, banyak sistem Tzu Chi sudah mulai dirancang sejak masa itu, bahkan sejak Master masih muda,” kata Li Yi-bang, Senior Tzu Ching.
“Sebelum datang ke sini, kami sudah mempelajari berbagai bahan, baik dari catatan sejarah maupun dari kisah yang diceritakan sendiri oleh Master. Kami mendengar tentang perjalanan Master ketika pertama kali datang dari Taichung ke Taitung, keinginan beliau untuk melatih diri, serta perjalanan selama berpindah-pindah tempat di Taitung,” kata Hong Xiang-yu, Senior Tzu Ching.
Memang benar, waktu, sejarah, dan kisah merupakan bagian penting dalam kehidupan kita. Waktu adalah sejarah dan sejarah adalah kehidupan. Kehidupan menciptakan begitu banyak hal bagi masyarakat dan dunia. Ada suka, duka, pertemuan, dan perpisahan. Jadi, kehidupan manusia itu begitu berwarna.
Tentu saja, kehidupan juga tidak lepas dari penderitaan. Namun, ada pula kebahagiaan. Jadi, kita perlu memilih bagian mana yang ingin kita lihat. Da Ai TV menghadirkan banyak kebahagiaan. Namun, ketika kita menyalakan televisi, kita juga dapat melihat begitu banyak penderitaan di dunia. Jika kehidupan tidak ada penderitaan dan hanya berisi kebahagiaan, pada akhirnya, kita bisa terjebak dalam kekacauan.
Jadi, kesedihan, penderitaan, kebahagiaan, dan sukacita perlu hadir secara seimbang. Masing-masing memiliki porsinya. Lalu, bagaimana memilihnya? Kita dapat mengumpulkan berbagai sisi kehidupan tersebut menjadi satu. Dengan begitu, kehidupan menjadi penuh warna. Namun, yang terpenting ialah kita harus memilih kehidupan yang benar-benar tepat untuk dijalani.

“Tzu Chi tidak pernah absen ketika terjadi bencana besar di berbagai belahan dunia. Kami merasa sangat beruntung dapat menjadi benih pertama Tzu Chi di Polandia. Terlebih lagi, dalam waktu yang singkat, kami telah membantu lebih dari 1 juta warga Ukraina. Melalui misi amal ini, masyarakat mulai mengenal Tzu Chi dan perlahan-lahan menjadi akrab dengan Tzu Chi,” kata Zhang Shu-er, relawan Tzu Chi Polandia.
“Dua program ini ialah menyediakan makan siang bergizi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan mengunjungi lansia yang hidup sebatang kara. Biasanya, tempat-tempat yang membutuhkan bantuan justru sering terabaikan. Melalui kerja sama dengan Tzu Chi, sumber daya yang dibutuhkan dapat benar-benar disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Kami sangat berterima kasih,” kata Piotr Mieloch, Wali Kota Sroda Wielkopolska.
Memiliki Da Ai TV adalah hal yang sangat baik. Saya merasa bahwa Empat Misi Tzu Chi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam misi amal, kita dapat melihat bahwa penderitaan di dunia sangat banyak. Kita tidak sampai hati melihatnya sehingga menjalankan misi amal.
Bagaimana kita dapat membantu mengatasi penderitaan dan mengubahnya menjadi kebahagiaan? Bagaimana kita dapat mengubah penderitaan tersebut sehingga kehidupan mereka menjadi lebih sejahtera? Hanya dengan mendidik dan membimbing mereka. Kita harus membuat mereka memiliki keterampilan atau memberikan dukungan secara batin agar mereka dapat membangkitkan tekad dalam diri.
“Di Nepal, berdasarkan informasi dari Dewan Sertifikasi Nasional, belum pernah ada organisasi yang mendukung begitu banyak perempuan seperti ini. Sertifikat ini memiliki makna yang sangat besar. Pada awalnya, para perempuan ini bahkan tidak bisa menggunakan gunting dan tidak bisa menghitung. Untuk pertama kalinya, mereka berani keluar dari desa. Sebelumnya, tidak ada yang percaya bahwa mereka mampu melakukan semua ini,” kata Wang Ci Wei, relawan Tzu Chi Malaysia.
“Master terus mengingatkan kami untuk membantu mereka bangkit dari keterpurukan dan memberikan arah dalam kehidupan mereka,” pungkas Wang Ci Wei, relawan Tzu Chi Malaysia.
“Dahulu, saya tidak percaya diri. Bahkan, saya tidak memiliki keberanian untuk berdiri sendiri. Namun, hari ini, saya merasa bahwa saya bisa hidup mandiri. Setelah mendapatkan sertifikat, saya bisa membuka dan mengelola usaha di mana pun. Saya juga bisa mendapatkan penghasilan dari sana. Saya dapat merawat keluarga dan memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri,” kata Anita Harijan, Peserta kelas menjahit Tzu Chi.

Semua ini adalah hal-hal yang perlu kita lakukan. Jadi, semua yang bekerja di Da Ai TV hendaknya bersungguh hati dan harus terus mengemban peran untuk mendidik.
Belajar tidak pernah ada akhirnya. Semua hal merupakan bagian dari proses belajar. Mengajar dan belajar memang ada batas usianya, tetapi pendidikan yang dihadirkan Da Ai TV tidak mengenal batas. Kapan pun, kita harus mengamati berbagai peristiwa dunia dengan saksama. Kita juga harus makin memahami masyarakat dan kebudayaan yang ada di dalamnya.
Saya sangat berterima kasih kepada Profesor Li Ming-liang yang saat itu kembali ke Taiwan. Ketika beliau datang dan duduk bersama saya, saat pertama kali kami bertemu, beliau berkata, “Master, Anda ingin menjalankan pendidikan. Apa harapan Master? Apa yang ingin kita lakukan melalui pendidikan ini?” Saya berkata, “Sebelum berbicara tentang pendidikan, saya sangat ingin mengembangkan budaya humanis.” Beliau bertanya, “Apa yang disebut budaya humanis?” Saya menjawab, “Yang biasa kalian sebut sebagai budaya.”
Beliau berkata, “Budaya adalah budaya. Mengapa disebut budaya humanis?” Berhubung beliau baru kembali dari Amerika Serikat, saya menjelaskan kepadanya, “Budaya humanis adalah budaya yang kita bicarakan. Budaya mencakup berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat, termasuk pertanian, industri, dan pendidikan. Saya menyebutnya sebagai budaya humanis karena ada unsur ‘manusia’ di dalamnya. Budaya humanis menekankan nilai dan kualitas manusia. Jadi, kita menyebutnya sebagai budaya humanis.”
Saya juga berterima kasih karena beliau mengatakan bahwa konsep ini dapat diterapkan dengan baik di sekolah. Dalam pendidikan Tzu Chi, pembelajaran yang berkaitan dengan kebudayaan dapat kita sebut sebagai budaya humanis. Masyarakat pada umumnya menyebutnya sebagai budaya, sedangkan kita menyebutnya sebagai budaya humanis.
Budaya dapat berubah dan berkembang mengikuti kondisi serta kehidupan masyarakat. Namun, budaya humanis tidak berubah. Kita harus tetap berdiri teguh dan menjaga arah yang benar. Nilai-nilainya bersifat abadi. Jadi, saya berkata kepadanya, “Kita ingin mengembangkan budaya humanis, bukan sekadar budaya.”

Sejak awal berdirinya Da Ai TV, kita telah menggunakan istilah budaya humanis. Pada masa itu, banyak orang menyebutnya sebagai budaya. Namun, sejak kita menggunakan istilah “budaya humanis”, kini makin banyak orang memahami maknanya. Budaya humanis memiliki prinsip kebenaran yang mendalam. Jadi, Saudara sekalian, kita semua adalah insan berbudaya humanis.
Sebagai insan berbudaya humanis, kita harus menjadi teladan. Ketika staf Da Ai TV menjalankan tugas di luar, mereka selalu tampil sederhana. Penampilan mereka pun terlihat seragam, umumnya dengan warna putih dan biru tua. Melalui citra yang kita tampilkan, orang-orang dapat memahami lebih dalam tentang budaya humanis.
Saya berterima kasih kepada setiap badan misi. Setiap orang yang bergabung di dalamnya telah menjalankan peran dengan begitu selaras. Semuanya tertata dengan baik. Terima kasih. Saya sangat berterima kasih kepada para Bodhisatwa dalam misi budaya humanis. Hendaknya kita mencurahkan segenap hati untuk menyucikan hati manusia dan mewujudkan keharmonisan masyarakat. Inilah tujuan terbesar dari misi budaya humanis.
Hendaknya semuanya ingat untuk menyucikan hati manusia dan mewujudkan keharmonisan. Inilah nilai tertinggi dari misi budaya humanis. Nilai ini bersifat abadi. Ini bukan seperti menyelenggarakan sekolah yang memiliki angkatan demi angkatan, lalu semuanya berakhir ketika para siswa lulus. Kita justru harus terus memperpanjang jalinan kasih sayang dan memperluas cinta kasih agung.
Saya berharap misi budaya humanis Tzu Chi dapat diteruskan hingga masa depan, bahkan dapat bertahan selama ratusan tahun. Inilah harapan kita semua. Terima kasih.
Misi budaya humanis merekam berbagai peristiwa dunia
Media menjadi cermin bagi pendidikan yang tiada akhir
Mengubah cara pandang untuk menenteramkan masyarakat
Memperpanjang kasih sayang dan menuju masa depan dengan cinta kasih agung
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 26 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 28 September 2026