“Murid-murid Jing Si Yilan bersyukur atas bimbingan Master. Kami semua sangat patuh pada Master. Kami menjaga tekad, menjalankan ajaran, dan bersatu hati menjaga ladang pelatihan. Kami bersedia menjalankan Tzu Chi dari kehidupan ke kehidupan.”
Saya bersyukur kalian bertekad dan berikrar untuk menapaki Jalan Bodhi dari kehidupan ke kehidupan. Saat ini, saya hendak mengingatkan kalian untuk senantiasa berada di Jalan Bodhi. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik, terima kasih. Kalian secara khusus kembali untuk menemui saya dan menenangkan hati saya. Saya sangat memahami niat baik kalian. Saya menerimanya dengan penuh rasa sukacita dan syukur. Jalinan jodoh sungguh tidak terbayangkan.
Saya bersyukur lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Pangeran Siddhartha melepas status sebagai pangeran dan melatih diri hingga mencapai pencerahan. Dengan hati yang hening dan jernih, Beliau mendengar suara napas bumi. Di tengah keheningan, Beliau mendengar simfoni yang merdu dari alam. Ini disebut suara batin. Inilah tataran tertinggi dalam pelatihan diri. Jadi, bukan melatih diri hingga seperti tertidur dan tidak merasakan apa-apa. Dengan hati yang sangat murni, Beliau mendengar suara yang sangat halus dan menakjubkan. Suara ini sangatlah halus.
Saat orang-orang berbagi kisah dan pengalaman, saya selalu bersungguh hati mendengarkan. Saya mendengar suara kalian yang tulus dan menyatu dengan suara alam semesta. Hendaklah kita selamanya mengingat suara yang menakjubkan ini. Setelah mendengar suara ini, kita harus menapaki Jalan Bodhi dari kehidupan ke kehidupan.

Bodhi adalah pencerahan. Kita mengerahkan begitu banyak upaya untuk kembali pada kesadaran hakiki kita. Untuk mencapai kesadaran ini, kita harus belajar. Tanpa kesungguhan hati, kita tidak akan bisa mempelajari sesuatu secara tuntas, hanya bisa mempelajari garis besarnya. Kita bisa mendengar perkataan orang-orang dan melihat segala sesuatu di dunia ini, seperti gunung dan sungai. Inilah mata yang jeli, mata yang sangat sehat dan bisa melihat dengan jelas. Namun, bagaimana dengan mata batin kita?
Dalam melatih diri, yang penting ialah berlatih hingga bisa melihat dengan mata batin. Karena itulah, saya hendak memberi tahu kalian bahwa suara yang halus dan menakjubkan tadi dapat membuka mata batin kita. Dalam pelatihan diri Buddha, pada momen mencapai pencerahan, mata batin-Nya terbuka sehingga fisik dan batin-Nya menjadi sangat murni.
Fisik dan batin yang murni bisa dikatakan dengan mudah, tetapi sangat halus dan menakjubkan. Yang halus dan menakjubkan ini tidak terlihat. Apakah kalian melihat mikrofon ini? (Ya.) Namun, tidak ada satu bagian pun yang merupakan mikrofon itu sendiri. Perpaduan berbagai suku cadanglah yang membentuk mikrofon ini sehingga ia dapat berfungsi.
Saat saya berbicara di sini, kalian yang berada di sana pun dapat mendengarnya, bahkan orang-orang di tempat yang jauh pun dapat mendengar suara saya dengan jelas. Semua ini berkat berbagai jenis materi yang sangat kecil.
Kini, teknologi sangatlah maju. Kita dapat menghimpun banyak ilmu pengetahuan dan tenaga banyak orang. Ini tidak bisa diwujudkan oleh satu orang saja. Agar suatu benda dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik, kita dapat membimbing orang-orang untuk belajar selangkah demi selangkah. Asalkan bersungguh hati dan bersedia untuk belajar, kita dapat mengakumulasi pengalaman seiring waktu.

“Pada pukul 6 pagi setiap harinya, kami selalu mengikuti kebaktian dan menghirup keharuman Dharma,” kata Tan Boon Tiong, relawan Tzu Chi.
“Master memberi tahu kita bahwa kita harus terjun ke tengah masyarakat,” kata Leong Suet Hong, relawan Tzu Chi.
“Belakangan ini, kami menjangkau Assam untuk mengadakan pembagian bantuan. Saya pun makin menyadari bahwa mempelajari ajaran Buddha sungguh harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,” kata See Paik Lan, relawan Tzu Chi.
“Ini pertama kalinya saya berpartisipasi dalam penyaluran bantuan internasional bersama relawan Tzu Chi. Ini adalah sebuah kesempatan emas untuk bersumbangsih bagi komunitas dan masyarakat,” kata Bishal, relawan.
“Saya sangat bersedia untuk pergi ke Assam. Duduk di rumah dan berdoa juga baik, tetapi terkadang, kita harus bergerak untuk membantu mereka. Saurav, relawan.
Jika kita berniat untuk belajar, tetapi hanya mendengarkan kisah orang lain tanpa terjun secara langsung, kita tidak akan memperoleh pencapaian dan tidak akan bisa menyerap apa pun. Jadi, Jalan Bodhisatwa harus ditapaki. Kita terus belajar sambil berjalan hingga akhirnya tersadarkan atau tercerahkan. Kalian semua yang hadir hari ini telah menapaki jalan ini.

Saya terus mengulas tentang Jalan Bodhisatwa selama puluhan tahun ini. Kalian sudah sangat senior. Saya sering berkata bahwa kalian telah membentangkan jalan yang sangat rata. Kini, saat saya menjelaskan tentang Jalan Bodhisatwa kepada kalian, kalian dapat langsung memahaminya. Saya telah menjelaskan kebenaran ini dengan sangat jelas, apakah kalian bisa memahaminya? Jika belum bisa memahaminya, kalian harus mempelajarinya kembali dari awal.
Bagi kita para makhluk awam, perjalanan di Jalan Bodhisatwa sangatlah panjang. Kita harus menempuhnya kehidupan demi kehidupan hingga familier dengan Jalan Bodhisatwa ini. Dengan demikian, secara alami kita akan terus kembali untuk mewujudkan satu hal, yakni membimbing semua makhluk.
Hendaklah kita terus membimbing orang yang berjodoh. Jangan melewatkan satu orang pun yang berjodoh dengan kita. Jika melewatkan satu orang, berarti misi kita belum terlaksana dengan sempurna. Jadi, saat orang itu juga terbimbing, barulah misi kita terlaksana dengan sempurna. Dengan demikian, barulah kita dapat menapaki jalan ini dengan lancar. Jika tidak, kita tidak akan tercerahkan. Kita hanya bisa berhenti di tempat.
Jadi, kita harus menggunakan hati yang murni seperti anak-anak untuk belajar dengan tekun. Kita belajar untuk menjadi Bodhisatwa, tetapi belum mencapai pencerahan. Demikianlah kita belajar hingga tersadarkan.
Mendengarkan suara yang halus dan menakjubkan untuk membangkitkan hakikat sejati
Belajar hingga tersadarkan dengan mata batin yang jeli
Tekun melatih diri dan teguh menjalankan praktik di Jalan Bodhisatwa
Membimbing semua makhluk secara sempurna dengan hati yang murni seperti anak-anak
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 Oktober 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta
Ditayangkan Tanggal 31 Oktober 2026