“Awalnya, panggung simulasi ini direncanakan akan dibangun di Changhua. Namun, karena jalinan jodoh yang belum mendukung, ditambah keterbatasan lokasi dan ukuran panggung, akhirnya dipindahkan ke Aula Jing Si Qingshui. Panggung yang dibangun di Aula Jing Si Qingshui ini hanyalah panggung simulasi. Jika dibandingkan dengan panggung di Taipei Dome, ukurannya hanya sekitar seperempatnya,” kata Zhang Fu-jin, relawan Tzu Chi.

“Di antara tim konstruksi yang membangun panggung, ada anak muda yang baru berusia 38 tahun, bahkan ada seorang ahli yang sudah berusia 72 tahun dengan pengalaman lebih dari 30 tahun,” kata Zhou Ming-zhong, relawan Tzu Chi.

“Pada tanggal 19 April tahun ini, seluruh tim penanda posisi berkumpul di Aula Jing Si Kaohsiung untuk mengikuti pelatihan pemasangan. Setelah pembangunan selesai pada akhir bulan Mei, kami mewariskan pengalaman, tahapan kerja, dan teknik yang telah dipelajari di Aula Jing Si Kaohsiung kepada tim penanda posisi di Aula Jing Si Qingshui,” kata Chen Ming-tong, relawan Tzu Chi.

“Meski hanya sebuah pementasan singkat, kita harus membangun tekad dan ikrar agar Master dapat melihat keteguhan tekad dan ikrar kita. Hendaknya kita bersama-sama menjalankan ikrar,” ucap salah seorang relawan Tzu Chi.

Hendaknya setiap orang dapat saling bergandengan tangan untuk melangkah bersama ke arah yang sama, yaitu jalan pencerahan yang diajarkan oleh Buddha. Inilah doa yang saya panjatkan setiap hari dan pesan yang selalu saya sampaikan.

Sepanjang hidup ini, saya memiliki banyak kekhawatiran. Sebelum meninggalkan keduniawian, kekhawatiran itu sudah ada. Bukan noda batin, melainkan kekhawatiran. Saya khawatir ketika melangkahkan kaki untuk menjalani kehidupan sebagai kaum monastik, apakah arah yang saya pilih sudah benar. Jika arahnya menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Jadi, ketika hendak mengambil langkah pertama, tekad di dalam hati harus benar-benar mengarah pada jalan yang benar.

Hingga hari ini, perjalanan itu telah berlangsung hampir 70 tahun. Enam puluh tahun adalah perjalanan saya menjalankan misi Tzu Chi. Sepuluh tahun sebelumnya adalah masa ketika saya memantapkan tekad untuk mengarah pada jalan yang tepat.

Saya pernah membangun tekad dan ikrar bahwa setelah memasuki kehidupan di vihara, saya harus menguasai segala hal, memahami setiap kata dalam Sutra secara akurat, dan mewariskan Dharma di dunia. Itu bukanlah sesuatu yang mudah. Namun, selama kita bersiteguh pada arah yang kita tuju dan memiliki tekad, maka tidak ada hal yang sulit.

“Kali ini, wilayah Taiwan Tengah benar-benar berupaya membimbing generasi muda. Kami ingin mengajak kaum muda untuk bersama-sama menjadi saksi sejarah dan meneruskan silsilah Dharma. Jadi, kami mengundang generasi kedua dan ketiga Tzu Chi untuk ikut berpartisipasi,” kata Chen Pin-ru, elawan Tzu Chi.

“Keluarga Kakak Zeng Deng-zhang terdiri atas empat generasi. Ada 14 anggota keluarganya yang berpartisipasi dalam pementasan adaptasi Sutra. Meski beliau telah berusia lebih dari 70 tahun, masih ada pamannya yang juga ikut bergabung sehingga terwujud partisipasi empat generasi dalam satu keluarga,” pungkas Chen Pin-ru.

Enam puluh tahun telah berlalu. Kini, kita dapat melihat bagaimana ajaran Buddha diwariskan dari generasi ke generasi. Lebih dari 2.500 tahun telah berlalu sejak Buddha hadir di dunia ini.

Buddha bukan hanya datang pada masa itu untuk menyampaikan Dharma kepada kita. Buddha pernah berkata, “Ajaran-Ku tidak akan pernah lenyap. Meski pada akhirnya Aku mencapai Nirvana, tetapi ajaran-Ku tidak akan lenyap.” Kita harus percaya bahwa Buddha akan terus datang kembali.

Mungkin, pada masa lampau, kita sudah pernah mendengar ajaran Buddha. Oleh karena itulah, kini, begitu mendengar ajaran Buddha, hati kita langsung terbuka dan merasa sukacita. Dengan begitu, kebijaksanaan kita pun terus bertumbuh. Kita pun dapat sepenuh hati dan penuh semangat membimbing makin banyak orang untuk bergabung.

Saat ini, Dharma berpadu dengan kemajuan teknologi. Hidup pada masa ini, kita sangatlah dipenuhi berkah. Saya selalu mendoakan diri sendiri dan merasa sangat dipenuhi berkah karena dapat lahir pada zaman ini. Sarana transportasi sangat memadai dan teknologi berkembang begitu pesat.

“Setiap kali terjadi bencana, baik di dalam maupun luar negeri, melalui pemberitaan di media, saya selalu melihat kehadiran insan Tzu Chi. Itulah kesan saya terhadap Tzu Chi. Namun, saya tidak pernah terpikir untuk mengenalnya lebih dalam,” kata Lin Quan-yu, relawan pementasan.

“Hingga tahun lalu, adik saya ikut berpartisipasi dalam pementasan Pemberkahan Akhir Tahun 2025. Dari situlah rasa ingin tahu saya muncul. Saya bertanya-tanya, kekuatan seperti apa sebenarnya yang membuat begitu banyak orang rela mengorbankan waktu setelah pulang kerja dan hari libur mereka untuk berlatih? Inilah pertanyaan saya waktu itu,” lanjut Lin Quan-yu.

“Karena itu, saya kemudian menonton seluruh video pementasan saat Pemberkahan Akhir Tahun 2025 yang ada di internet dan menyadari jejak cinta kasih dan welas asih yang telah ditinggalkan Tzu Chi selama ini,” pungkas Lin Quan-yu.

Tzu Chi telah melakukan begitu banyak hal demi masyarakat. Kita sering membawa bantuan bagi Taiwan. Sesungguhnya, banyak orang menderita di berbagai negara juga tengah menunggu bantuan kita. Jadi, hendaknya kalian bersungguh-sungguh dan tetap menjaga arah Tzu Chi agar selalu benar. Apa yang kita lakukan ialah menyebarkan Dharma dan berbuat kebajikan. Kita sangatlah dipenuhi berkah. Terlebih lagi, kampung halaman Buddha hingga kini masih menghadapi begitu banyak kesulitan.

Kita perlu mengenal kampung halaman Buddha dan memahami mengapa Beliau memilih untuk meninggalkan keduniawian meski kehidupan di istana penuh kenikmatan. Alasannya ialah karena kenikmatan itu hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan, sedangkan rakyat hidup dalam penderitaan. Ketika melihat kehidupan yang penuh dengan penderitaan, kesengsaraan, dan kemiskinan di luar istana, Beliau tidak sanggup lagi menikmati kemewahan. Belas kasih-Nya pun terbangkitkan.

Beliau memahami bahwa bantuan materi semata tidak ada gunanya. Jadi, Beliau bertekad mencari kebenaran sejati untuk disampaikan kepada semua orang. Beliau ingin mengajarkan bagaimana melenyapkan kegelapan batin, kemelekatan, dan ketamakan agar setiap orang dapat saling menjaga dengan kekuatan cinta kasih. Jadi, sekarang giliran kita untuk membangkitkan hati Buddha.

Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Pada masa lampau, Buddha Sakyamuni mencari tahu tentang kebenaran di dunia, lalu menjelaskan suka dan duka kehidupan beserta prinsip kebenaran yang terkandung di dalamnya. Beliau juga membabarkan kebenaran alam semesta agar kita dapat memahaminya.

Kini, di era yang teknologi berkembang begitu pesat, selama kalian memiliki tekad, akan jauh lebih mudah untuk mendalaminya. Hari ini, ada generasi muda dan para relawan senior yang hadir di sini. Mengenai apa yang kita lihat hari ini, hendaknya kita semua bersungguh hati.

Kita harus teguh tak tergoyahkan … (Hingga masa yang tak terhingga.) Hendaknya kita terus melangkah maju. (Kami bisa melakukannya.) Baik.

Hendaknya kita membangkitkan tekad yang teguh tak tergoyahkan hingga masa yang tak terhingga. Jadi, hendaknya kita bersungguh hati agar ajaran Buddha dapat tersebar luas di dunia. Kita harus berikrar untuk terus mempraktikkannya. Kita tidak cukup hanya bertekad, tetapi juga harus benar-benar mempraktikkannya.

Meneladan hati Buddha dan mengarah ke jalan pencerahan

Mendalami kebenaran sejati dan membangkitkan hakikat kebuddhaan

Mewariskan silsilah Dharma dari generasi ke generasi

Mempraktikkan ikrar untuk menyebarkan Dharma ke seluruh dunia

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 29 Juli 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 31 Juli 2026