https://www.youtube.com/watch?v=YCZaQVy_foY
Kita sungguh harus menggenggam waktu yang ada. Di dunia ini, segala sesuatu terwujud seiring berjalannya waktu. Tahun ini, Tzu Chi telah berusia 60 tahun. Dalam waktu lebih dari 40 tahun, Tzu Chi merampungkan empat misi satu per satu. Ini sangat tidak mudah.
Yang membuat saya makin bersyukur dan kagum ialah kita semua dipenuhi berkah karena misi amal kita bisa memperoleh dukungan dari orang-orang di Taiwan pada saat itu. Jika tidak, bagaimana bisa praktik donasi 50 sen mendukung pencapaian Tzu Chi hingga seperti sekarang? Saya berharap sistem pendidikan kita juga dapat berbagi kisah celengan bambu dengan murid-murid kita.
Janganlah kita meremehkan kebajikan kecil, lalu tidak melakukannya. Setiap orang hendaknya tahu untuk memandang penting kebajikan, terlebih niat baik. Saat berjalan, jika kita tidak sengaja menendang batu, kaki kita mungkin tidak sakit, tetapi kita harus meminta maaf pada batu itu. Perlu diketahui bahwa batu yang tertendang oleh kita mungkin tengah kesakitan hingga berguling ke tempat yang jauh. Bukankah kita seharusnya meminta maaf padanya?
Kita harus mengasihi segala sesuatu di dunia ini. Baik yang bernyawa maupun tidak, segala sesuatu di dunia ini memiliki kehidupan. Sesuatu itu disebut memiliki kehidupan ketika dapat membawa manfaat bagi umat manusia. Saat kita menggunakan sesuatu, berarti ia memiliki manfaat. Apakah batu itu tidak memiliki manfaat? Sesungguhnya, pembangunan dan pembentangan jalan yang memberi kita atap untuk berlindung dan jalan untuk ditapaki, semuanya membutuhkan pasir dan batu.
Membangun sebuah gedung sekolah tidaklah mudah. Setelah mendirikan gedung sekolah, kita mulai memikirkan tenaga pendidik. Sesulit apa pun, pembangunan gedung sekolah pasti akan rampung. Yang terpenting ialah tenaga pendidik dan didikan mereka.
Setelah memiliki guru, selanjutnya ialah bagaimana kepala sekolah membangun tradisi sekolah. Tradisi sekolah sangatlah penting. Dari apa yang kita dengar sekarang tentang pendidikan yang kita berikan, kepala sekolah sangat bersungguh hati dan para guru pun mengerahkan segenap hati dan tenaga. Saya sungguh sangat bersyukur atas misi pendidikan kita di Tainan. Singkat kata, kita harus menjalankan sekolah dengan sungguh-sungguh.

Sekolah dasar dan menengah merupakan fondasi pendidikan anak-anak. Kita harus bersungguh-sungguh membangun fondasi yang kokoh. Kita harus memandang penting pendidikan budi pekerti. Dengan demikian, saat masuk perguruan tinggi, murid-murid akan lebih stabil.
“Saat saya duduk di bangku kelas 4 SD, ayah saya terkena strok sehingga keluarga kami kehilangan tulang punggung. Ibu saya adalah imigran asal Indonesia dan tidak bisa membaca aksara Tionghoa sehingga mengalami banyak kesulitan dalam mencari pekerjaan,” kata Qiu Zi-jun, Lulusan tahun ini.
“Di saat seperti inilah, kami mengenal Tzu Chi. Bibi Mei-ya dan Paman Guo-xing berkunjung ke rumah kami untuk mencurahkan perhatian. Mereka benar-benar memberikan banyak bantuan. Mereka membantu ibu saya mencari pekerjaan dan menjemput saya dan adik saya saat pulang sekolah. Mereka benar-benar menyatu dengan kehidupan kami. Bibi Mei-ya terus berupaya hingga akhirnya saya bisa masuk SMA Tzu Chi, ungkap Qiu Zi-jun.
“Di SMA Tzu Chi, saya selalu diperhatikan oleh para guru seperti anak mereka sendiri. Mereka menjaga kami setiap hari. Saat duduk di bangku SD, saya penuh keluh kesah. Setelah saya bersekolah di Tzu Chi, berbagai niat baik ditanamkan dalam hati saya. Saya bersyukur kepada para guru dan teman sekolah yang membuat saya menjadi orang yang jauh berbeda dan bisa membawa manfaat bagi orang lain,” lanjut Qiu Zi-jun.
Qiu Zi-jun melanjutkan “Saya juga ingin berbagi kisah kelas bimbel. Saat duduk di bangku SD, prestasi saya benar-benar ketinggalan. Bibi Mei-ya merasa bahwa saya tidak bisa dibiarkan seperti itu dan segera mencarikan kelas bimbel untuk saya. Kelas 1 SMA, saya mendapat peringkat 1 di kelas. Kata Master, pendidikan anak-anak tidak boleh ditunda. Saya merasa bahwa sayalah penerima manfaat terbesar dalam sistem pendidikan Tzu Chi.”
“Di sini, saya ingin bersyukur kepada Master. Saya telah berikrar untuk terus menapaki Jalan Bodhisatwa Tzu Chi di masa mendatang. Kelak, saya akan bergabung menjadi anggota Tzu Ching dan perlahan-lahan menjadi bagian dari Tzu Chi. Di sini, saya juga berikrar untuk menjadi murid Master kelak,” pungkas Qiu Zi-jun.

Saya sungguh bersyukur sekolah kita dijalankan dengan baik. Para guru kita mendidik murid-murid seperti mendidik anak sendiri. Saya sering berkata bahwa guru hendaknya memperlakukan murid bagaikan anak serta menyayangi, mengasihi, dan melindungi mereka. Kalian semua telah melakukannya.
“Selama 12 tahun dari SD, SMP, hingga SMA, saya memperoleh banyak pengalaman di Tzu Chi karena mengikuti berbagai kegiatan relawan. Saya pun belajar untuk senantiasa membina rasa sukacita di dalam hati, menghargai segala sesuatu yang saya miliki, dan terus bersumbangsih bagi masyarakat,” kata Shu Luo-qing, Lulusan tahun ini.
Murid-murid kita sungguh luar biasa. Mereka terlihat sangat rapi dan tertib. Saya hendak mengingatkan para guru dan kepala sekolah kita sekarang bahwa kita harus mempertahankan tekad awal. Apa yang kita lihat merupakan peringatan terbaik bagi kita.
Kita juga harus bersungguh hati mendengar apa yang orang tua murid katakan. Kita berharap dapat mendengar orang tua murid berkata, “Anak saya bersekolah di SMA Tzu Chi Tainan. Saya sangat bersyukur kepada para guru di sekolah.” Kita bukan mengejar nama ataupun reputasi. Kita harus benar-benar memiliki kualitas seperti itu. Sekolah kita memang memiliki kualitas seperti itu. Sekolah kita bersungguh hati memberikan pendidikan sehingga orang tua murid dapat merasa tenang. Inilah pencapaian misi pendidikan kita.
Yang terpenting, kita mengajari murid-murid bukan agar mereka menjadi pintar, melainkan menjadi bijaksana. Kita harus memandang penting kebijaksanaan. Dengan adanya kebijaksanaan, barulah kita bisa menjadi teladan budi pekerti. Tanpa kebijaksanaan, yang ada hanyalah tampilan luar. Jadi, saya sangat berharap kita dapat membina teladan budi pekerti.

Teladan budi pekerti merupakan pendidikan seumur hidup. Dengan demikian, barulah murid-murid akan menyerap ajaran ke dalam hati serta tahu untuk menghormati guru dan mementingkan ajaran. Menghormati guru dan mementingkan ajaran juga harus dilakukan seumur hidup. Kita hendaknya bersyukur kepada guru seumur hidup. Demikianlah pandangan orang-orang dahulu tentang budi pekerti dan moralitas. Guru merupakan kebanggaan muridnya seumur hidup.
Intinya, kita harus mendidik murid-murid agar tahu untuk bersyukur. Saat murid-murid tahu untuk bersyukur, masyarakat di masa mendatang akan penuh harapan. Saya sangat berharap dalam pendidikan di sekolah dasar dan menengah, kita dapat menggunakan orang baik sebagai materi. Hendaklah kita senantiasa membahas kisah orang baik dan menggunakannya untuk memberikan pendidikan. Kini, dalam pendidikan anak-anak, semua ini sangat dibutuhkan.
Menghargai segala sesuatu di dunia dan menyebarkan niat baik
Senantiasa mempertahankan tekad awal dan membawa manfaat bagi semua makhluk
Membangun tradisi sekolah dan membina budi pekerti
Bersyukur kepada para guru yang merupakan kebanggaan murid
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 27 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 29 Juli 2026