Melihat adanya “Toko Cinta Kasih”, saya merasa sangat tersentuh. Para anggota komite kitalah yang menggalang Toko Cinta Kasih. Pada awalnya, saya sempat berpikir, “Apakah sekarang kita perlu turun ke jalan untuk menggalang dana?” Namun, setelah melihat Toko Cinta Kasih, saya baru benar-benar tersadar, “Ini adalah hal yang benar. Mengapa dahulu cara ini tidak terpikirkan oleh saya?”
Selama ini, saya mengira semuanya sudah berjalan dengan baik dengan adanya para komite Tzu Chi dan donatur. Saat ini, para donatur bisa berdonasi melalui sistem transfer. Dengan begitu, komite cukup mengetahui bahwa para donaturnya telah berdonasi tanpa perlu lagi setiap hari berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Cara berdonasi melalui transfer memang sangat baik. Namun, jika ada lebih banyak interaksi antarmanusia, akan terjalin rasa kedekatan. Saat bertemu, kita dapat membagikan tentang peristiwa yang terjadi di bulan itu dan bagaimana Tzu Chi memberikan bantuan. Ketika kita bertemu dan saling berbagi, akan terjalin rasa kasih sayang.
Kita harus berupaya agar jumlah donatur terus bertambah dari hari ke hari dan membuat mereka dapat memperkenalkan Tzu Chi kepada orang lain. Kekuatan cinta kasih harus terus diwariskan. Dengan begitu, dunia akan dipenuhi berkah. Kita harus menyerukan kepada banyak orang untuk bersama-sama menyucikan hati manusia. Ketika hati setiap orang dipenuhi berkah, kita pun dapat menciptakan berkah bagi dunia. Itulah yang disebut dengan energi berkah.

Belakangan ini, saya selalu mengingatkan kalian tentang energi berkah. Jika ingin setiap keluarga dipenuhi berkah, setiap orang hendaknya bersumbangsih. Jika seluruh anggota keluarga memiliki pandangan yang sama tentang Tzu Chi dan bersedia menyisihkan 1 atau 5 dolar NT setiap hari, itu sudah sangat baik. Dengan tekad seperti ini, tetes demi tetes kebajikan akan mengairi bumi.
Segala sesuatu tumbuh dari bumi. Jika bumi memperoleh tetesan air yang mengairinya, benih-benih berkah yang ada di dalam bumi akan terus bertunas. Baik pohon besar, rerumputan, maupun biji-bijian, semuanya tumbuh di atas bumi yang sama. Yang paling penting ialah benih kebajikan di dalam hati setiap orang harus terus dipupuk. Ketika benih itu telah ada, kita akan mampu menggarap ladang batin kita sendiri. Jika ladang batin telah digarap dengan baik, kita pun dapat menciptakan berkah bagi dunia.
Segenggam padi yang ditabur di atas tanah akan menghasilkan panen yang melimpah, kebutuhan pangan masyarakat pun akan tercukupi sehingga kita tidak perlu lagi melihat orang-orang menderita kelaparan. Penderitaan akibat kelaparan sungguh tak terkira. Jadi, hendaknya kita bersungguh hati.
Kini, komunikasi melalui video sudah makin mudah sehingga kita dapat melihat lebih banyak hal. Transportasi pun makin mudah sehingga bantuan dapat dikirim dengan cepat ke berbagai tempat. Jadi, hendaknya kita terus menyerukan kepada lebih banyak orang untuk berbuat baik.
Di dalam hati dan pikiran kita harus ada bekal, yaitu kebijaksanaan dan hati yang bajik. Dengan hati yang bajik dan kebijaksanaan, kita akan selalu mengingat berbagai kisah yang baik. Saat berkumpul dan berbicara dengan orang lain, kita dapat membagikan kisah-kisah tersebut kepada mereka. Ini sama halnya dengan menabur benih kebajikan. Orang-orang akan berkata, “Ternyata ada kisah seperti itu. Apa yang kalian lakukan sangatlah baik. Apakah saya juga boleh turut berpartisipasi?” Demikianlah kita menggalang donasi.

Kita berharap orang-orang dapat berdonasi sedikit demi sedikit, tidak perlu langsung dalam jumlah yang besar. Kita cukup berkata, “Anda cukup menumbuhkan niat baik hari demi hari,” atau “Apakah Anda ingin menjadi donatur bulanan?” Dengan begitu, mereka akan menjadi donatur kita.
Berdonasi secara daring juga merupakan sarana yang sangat baik. Namun, yang paling penting ialah menggalang hati. Kita harus membantu mereka melihat penderitaan yang ada di dunia. Ketika menerima informasi, mereka akan tergerak untuk ikut berpartisipasi. Melalui pesan singkat di telepon seluler, kita dapat mengajak mereka untuk mencurahkan perhatian. Inilah cara menyucikan hati manusia. Hanya dengan beberapa kata sederhana, semua orang dapat melakukan kebajikan. Jadi, saya berharap setiap Bodhisatwa dapat bersumbangsih dengan cinta kasih. Kita cukup menggerakkan jari tangan kita saja.
Terima kasih, Bodhisatwa sekalian. Kita semua telah bersungguh hati. Ketika melihat tempat-tempat yang begitu jauh, saya juga melihat begitu banyak orang berkumpul untuk saling berbagi dan mendengarkan Dharma.
“Harapan utama kami ialah agar para penerima bantuan makin memahami Tzu Chi. Kami juga ingin mereka memahami bagaimana beras yang mereka sisihkan selama beberapa bulan terakhir dimanfaatkan oleh Tzu Chi untuk membantu orang-orang yang membutuhkan,” kata Zhang Ai-bin, relawan Tzu Chi Singapura.
“Tzu Chi mengajari kami untuk berani melangkah maju, berbuat lebih banyak, dan ketika memiliki kemampuan, kami juga harus membantu orang lain,” kata Abdullaha Miya, Warga.

Setiap bulan, mereka mengumpulkan beras dari program celengan beras. Adakalanya, kita melihat mereka mengumpulkan beras. Setiap bulan, orang-orang datang dengan membawa celengan beras, lalu menuangkannya satu per satu hingga membentuk tumpukan seperti bukit.
Meski di antara mereka ada yang hidup dalam kemiskinan, setiap hari mereka tetap menyisihkan segenggam beras dari panci nasi mereka. Dari beras yang dapat mengenyangkan perut mereka, mereka menyisihkan segenggam terlebih dahulu. Mereka hanya makan 80 persen kenyang. Makan 80 persen kenyang justru paling sehat. Jadi, bersumbangsih dengan cinta kasih tidak hanya menciptakan berkah, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh dan batin. Inilah cara menciptakan berkah bagi masyarakat.
Jadi, kita harus lebih banyak memberikan apresiasi terhadap kisah-kisah seperti ini. Jika kita membagikan beberapa kalimat di media sosial, teman-teman yang membacanya akan berpikir, “Ini sangat mudah, saya pun bisa melakukannya.”
Bahkan, kepada teman yang sudah lama tidak berjumpa, cukup kirimkan sebuah pesan singkat untuk membangkitkan cinta kasih dalam hatinya. Inilah yang disebut dengan menyucikan hati manusia dan menciptakan keharmonisan di dalam masyarakat. Inilah bentuk pendidikan dengan kekuatan yang paling besar. Hanya dengan sedikit menggerakkan jari, kita sudah bisa menciptakan berkah bagi dunia. Saya merasa sangat bersyukur.
Memahami prinsip kebenaran dalam setiap peristiwa untuk menumbuhkan kebajikan
Menggarap ladang batin dan terjun ke tengah masyarakat
Makan cukup 80 persen kenyang dan bersumbangsih dengan cinta kasih
Menghimpun tetes demi tetes kebajikan hingga menjadi berkah tak terhingga
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 26 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 28 Juli 2026