“Pertama-tama, kita harus bertanya kepada anak-anak apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu, kita memikirkan bagaimana guru memandang peristiwa tersebut. Terakhir, kita merenungkan apakah kejadian ini memberikan pengaruh terhadap diri kita atau apakah ada tindakan yang lebih baik yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak,” kata Ong Sim Ying, Guru SD SJKC Kwang Hwa.

“Saya berharap ke depannya, dalam perjalanan karier sebagai guru, saya dapat lebih merendahkan hati dan memahami mengapa siswa berperilaku demikian, bukan justru terus-menerus menyalahkan siswa atas permasalahan yang terjadi,” kata Teo Swee Hvey, Guru SD SJKC Chong Cheng.

“Pendidikan bukan sekadar menuntut anak-anak untuk berubah, tetapi guru juga harus bersedia berubah. Cinta kasih harus disertai dengan prinsip dan tutur kata harus disertai dengan ketegasan. Dengan begitu, kita benar-benar dapat bertumbuh bersama anak-anak,” kata Teh Take Hong, Guru SD SJKC Kim Sen.

Pendidikan sering saya sebut sebagai “Proyek Harapan”. Pendidikan bertujuan menciptakan insan berbakat. Jadi, pendidikan yang dilakukan guru ialah mendidik manusia.

Ikrar pertama harus dijalankan dengan kerja keras. Dalam mendidik orang, kita harus memiliki kekuatan cinta kasih. Bagaimana kita dapat mewujudkan proyek cinta kasih ini untuk menciptakan insan berbakat? Kita harus mewariskan ajaran dan membina insan berbakat.

“Selama menjalani pendidikan keperawatan, dia sudah bekerja paruh waktu sebagai perawat di unit kami. Berbagai hal yang harus dilatih selama masa praktik sudah dikuasainya melalui pekerjaan paruh waktu tersebut. Dia juga telah menyelesaikan pembelajaran selama 2 bulan masa percobaan ketika masih menjalani pendidikan sarjana terapan. Jadi, kami mengatakan bahwa dia lulus masa orientasi dan mulai bertugas secara resmi dalam waktu 1 bulan,” kata Cha Fang-yu, Kepala Perawat Ruang Gastroenterologi RS Tzu Chi Hualien.

“Kondisi ekonomi keluarga kami memang tidak begitu baik. Saya berharap dapat menggunakan kedua tangan ini untuk membantu lebih banyak orang yang membutuhkan. Sejak kecil, keluarga kami telah menerima bantuan Tzu Chi. Jadi, Ayah berharap saya dapat tumbuh di bawah pendampingan tim Tzu Chi dan menjadi pohon besar yang membantu tunas-tunas kecil lainnya,” kata Jiang Yu-han, Perawat RS Tzu Chi Hualien.

“Master pernah berkata bahwa kita harus menjadi orang yang bersedia membantu orang yang membutuhkan. Kalimat ini selalu menjadi motivasi yang mendukung saya dalam pekerjaan klinis. Meski saya baru menjalani profesi ini selama 1 hingga 2 tahun, perjalanan ini sungguh tidak mudah. Namun, melalui proses yang penuh perjuangan, saya belajar untuk bertumbuh dan bertahan.”

Dalam pendidikan, kita harus terlebih dahulu membuat anak-anak memahami bahwa mereka harus bersungguh-sungguh. Untuk bisa bersungguh-sungguh, mereka harus belajar mengatasi berbagai hal. Jika ingin bersungguh-sungguh tanpa mengatasi kesulitan dan hanya menunggu segala sesuatu tersedia, itu tidaklah benar. Bagaimana kita membina insan berbakat? Para guru memiliki lingkungan yang baik dan tempat yang aman. Semua orang memiliki keharmonisan.

Dalam lingkungan seperti ini, tidak heran orang-orang dari luar yang berkunjung selalu berkata bahwa suasana di sini sangat baik. Bukan hanya lingkungannya, suasananya pun sangat baik. Namun, apakah lingkungan dan suasana benar-benar baik? Ini semua bergantung pada apakah orang-orang di dalamnya dapat merasakan keharmonisan tersebut. Bagaimana kita dapat mewujudkan lingkungan dan suasana yang begitu baik ini untuk mendidik insan berbakat di seluruh dunia?

Para guru harus senantiasa menjalin keharmonisan. Apa yang diterima dan dipelajari siswa dari guru, termasuk tindakan, ekspresi, dan lainnya, semuanya menjadi teladan bagi mereka. Guru adalah teladan bagi siswa. Dengan begitu, suasana di seluruh sekolah secara alami akan menjadi harmonis. Setiap kali insan Tzu Chi datang berkunjung dan melihat pendidikan kita, mereka memberikan banyak pujian. Saya merasa sangat bersyukur. Inilah yang disebut dengan ketulusan. Kesungguhan dapat menciptakan suasana damai dan harmonis di seluruh sekolah.

Sesungguhnya, saya tahu bahwa pendidikan kita benar-benar baik karena para siswa telah menjadi bukti terbaik. Ketika mereka kembali, sikap, tutur kata, dan perilaku mereka sangat sopan. Kita harus mengajarkan siswa bagaimana memahami perasaan orang lain dan bertindak sesuai prinsip. Kita harus membuat mereka memahami bagaimana mengenali perasaan dan bersungguh-sungguh menjalankan prinsip yang dipelajari.

Segala sesuatu bermula dari “kebenaran”. Dari kekosongan sejati muncul eksistensi ajaib. Sekilas semuanya tampak kosong, tetapi ketika kita mengamatinya dengan sungguh-sungguh, semuanya memiliki eksistensi ajaib. Inilah prinsip kebenaran. Demikian pula, ketika ingin melakukan sesuatu, jika kita hanya berpikir tanpa bertindak, semuanya tetap kosong. Namun, ketika kita benar-benar berpikir, lalu melaksanakannya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh, itulah eksistensi ajaib yang sesungguhnya. Semua ini membutuhkan hubungan antarmanusia dan pemikiran yang benar.

Pendidikan bertujuan untuk mengajari setiap orang agar memiliki pemikiran yang benar. Inilah tanggung jawab kita. Tentu saja, kita ingin menghasilkan berbagai hal yang indah. Untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan, kita memerlukan peralatan. Tanpa peralatan, kita tidak dapat mengukir dan membentuk sesuatu menjadi indah dan menakjubkan. Semuanya tentu membutuhkan sarana dan kita harus menghargainya.

Dalam pendidikan sehari-hari, kita mengajarkan siswa untuk memiliki rasa syukur. Baik terhadap barang maupun manusia, jika kita senantiasa mencurahkan perhatian dan cinta kasih, semuanya akan berjalan harmonis. Keharmonisan adalah hal yang paling berharga. Kesopanan adalah penerapan prinsip kebenaran. Dalam penerapan kesopanan, keharmonisan adalah hal yang paling berharga. Inilah ajaran Konfusius.

Pendidikan bertujuan untuk mewujudkan harapan agar dunia menjadi harmonis dan bahagia. Inilah yang disebut masyarakat yang damai, yang merupakan berkah bagi dunia. Dalam agama Kristen Protestan dan Katolik, semuanya berbicara tentang injil. Saya berbicara tentang pedoman Bodhisatwa dunia. Setiap orang hendaknya mengembangkan sifat dasar kemanusiaannya.

Buddha berkata bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk tiada perbedaan. Buddha juga berkata bahwa Beliau bukan satu-satunya yang dapat mencapai pencerahan. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan. Setiap orang dapat mencapai pencerahan karena setiap orang adalah Buddha. Namun, untuk mencapai kebuddhaan dari kehidupan awam, diperlukan sebuah jalan.

Belakangan ini, saya sering mengatakan bahwa jalan tersebut adalah jalan menuju cinta kasih yang berkesadaran, yaitu Jalan Bodhisatwa. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan. Pencerahan itu harus jelas dan tidak samar. Itulah yang disebut dengan “kesadaran”. Sifat dasar setiap orang itu murni dan penuh cinta kasih. Jadi, hendaknya kita mendidik dengan cinta kasih.

Dalam pendidikan, kita harus membangun teladan dan keteladanan itu ada pada guru. Di dunia ini terdapat banyak kesulitan. Ketika menghadapi kesulitan, bagaimana kita mengatasinya? Dari tidak ada menjadi ada, dari miskin menjadi kaya, semuanya membutuhkan usaha. Jika menghadapi kesulitan dalam proses tersebut, bagaimana kita mengatasinya? Inilah perjalanan hidup dan pendidikan karakter. Nilai pendidikan harus diwujudkan melalui ketulusan hati dalam bersumbangsih.

Membangun teladan melalui proyek harapan

Membina karakter bajik dan pemikiran yang benar

Pengetahuan adalah kekayaan; keharmonisan adalah harta berharga

Membangkitkan cinta kasih berkesadaran dengan sifat hakiki yang murni

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 04 November 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta

Ditayangkan Tanggal 06 November 2026