“Sebagian relawan dan staf badan misi luar negeri juga turut terlibat dalam pementasan adaptasi Sutra. Saya merasa bahwa karena semuanya sedang mendalami ajaran yang benar melalui Sutra Makna Tanpa Batas dan Sutra Teratai, hati setiap orang pun menjadi makin teguh dan tidak tergoyahkan dalam menghadapi berbagai kondisi di luar,” kata Lü Ci Rang, relawan Tzu Chi.

“Hati kami selalu sangat mantap dan tenang. Setiap orang benar-benar harus menggunakan Dharma untuk menyatukan semua orang. Menurut saya, jika tidak ada Dharma, jalan ini benar-benar tidak akan terbuka. Jika jalan tidak terbuka, hati kita juga tidak akan terbuka,” kata Lin Zhi-hui, relawan Tzu Chi.

“Bagaimana agar jalan ini dapat terbuka? Kita harus mengikuti langkah Master dan terus membuka Jalan Bodhisatwa. Benar-benar ada begitu banyak “kota jelmaan” yang sedang menanti kita. Saya hanya ingin mengucapkan dua kata, yaitu terima kasih. Sepanjang hidup ini, saya tidak memiliki penyesalan. Saya akan terus menjalankan misi Tzu Chi,” pungkas Lin Zhi-hui.

Melihat kalian semua kembali dengan penuh sukacita untuk membagikan Dharma, saya pun merasa sukacita. Saya hanya menyampaikan ajaran Buddha dan kalian dapat langsung menjalankannya. Terlebih lagi, ajaran itu dapat benar-benar meresap ke dalam hati kalian. Bukan hanya meresap ke dalam hati diri sendiri, tetapi yang terpenting ialah harus meresap juga ke dalam hati semua makhluk. Jadi, ketika menghadapi semua makhluk di dunia, dalam hati saya, semua orang adalah Bodhisatwa.

Mendengar kalian berbicara membuat saya merasa sukacita. Hal itu membuat hati saya terasa rileks dan tidak ada beban. Berbagai urusan di dunia internasional merupakan beban yang berat di pundak saya. Namun, dengan adanya kalian semua, meski beban di pundak ini memang berat, kekuatan yang menopangnya juga sangat besar. Sejak saya meninggalkan keduniawian dan berjuang demi ajaran buddha dan semua makhluk, para relawan kita merupakan kekuatan terbesar saya.

Saya dapat melihat relawan Tzu Chi tampil dan bergerak bersama dengan langkah kaki yang selaras. Pakaian yang dikenakan juga seragam dan rapi. Ketika berbicara, topik kalian tak jauh-jauh dari Buddha dan ajaran-Nya. Bagaimana mungkin saya tidak merasa sukacita? Sekarang, saya sudah terbiasa dengan usia saya. Kekuatan fisik memang terus berkurang seiring berjalannya waktu. Stamina saya sudah sangat menurun.

Namun, demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk, saya tidak boleh kehilangan kekuatan. Di mana kekuatan itu berada? Ada pada orang-orang yang saya lihat, yaitu kalian semua. Kalian memanfaatkan pementasan adaptasi Sutra ini untuk bernyanyi dan melantunkan Sutra. Ini berbeda dengan dahulu, ketika hanya saya yang membabarkan Dharma. Setelah saya membabarkannya, apakah kalian masih mengingatnya? Saya tidak tahu.

Kali ini, Sutra yang pernah saya babarkan telah kalian lantunkan. Sutra yang dilantunkan juga harus dipraktikkan. Setelah mempraktikkannya, kalian harus mengingatnya di dalam hati. Jika tidak, nanti gerakan kalian tidak akan selaras. Jadi, ingatlah dan simpanlah Dharma di dalam hati. Inilah yang disebut menyerap Dharma ke dalam hati.

Kita semua sangat dipenuhi berkah. Kita terlahir pada zaman yang sama. Kita pun memiliki tekad yang sama. Jadi, ketika saya berbicara, kalian harus mendengarkan. Ketika Ci Yue memberikan arahan, kalian harus bersedia melakukannya. Meski tangan sudah tidak dapat diangkat tinggi, kalian tetap harus terus mengangkatnya hingga tangan terasa sakit, bahkan sampai lupa rasa sakit itu. Inilah kekuatan yang sesungguhnya.

Dahulu, kita tidak merasa sakit karena tidak memiliki kekuatan. Setelah berlatih, kita benar-benar memiliki kekuatan fisik. Setelah berlatih dan merasakan rasa sakit, terbentuklah kekuatan. Kekuatan nyata yang ada di dalam tubuh kita hendaknya dikerahkan lewat pikiran dan tindakan. Saya menonton televisi setiap hari. Belakangan ini, saya terus melihat pemandangan seperti ini. Semua orang berdiri dengan sangat rapi dan berlatih setiap hari. Ini sama seperti di vihara.

Setiap hari, setelah bangun pagi, kita melantunkan Sutra. Saat melantunlkan Sutra, setiap orang melakukannya dengan penuh ketulusan. Dengan sendirinya, para pelindung Dharma dan makhluk surgawi akan datang mengelilingi ladang pelatihan kita. Dahulu, saya sudah pernah mengatakannya. Kini, suara Dharma terdengar di setiap sudut jalan. Untuk berlatih, kalian memutar suara Dharma agar dapat mendengarnya.

Kita melantunkan Sutra di dalam hati dengan mengikuti suara Dharma. Dengan begitu, seluruh ruangan dipenuhi Dharma dan ketulusan hati setiap orang. Jadi, setiap sudut jalan di sekitar kita dapat menjadi ladang pelatihan. Di mana-mana ada pelindung Dharma dan makhluk surgawi yang melindungi ruang tempat kita berada. Ketika lingkungan aman, dunia pun akan aman. Semoga setiap orang berada dalam kedamaian.

Bodhisatwa sekalian, saya sangat berterima kasih kepada kalian. Saya telah melihat bagaimana kalian berlatih dengan semangat, sungguh-sungguh, dan tulus. Melihat kalian harus mengulanginya lagi dan lagi, saya sesungguhnya merasa tidak sampai hati. Namun, saya juga merasa sangat dipenuhi berkah. Mengapa murid-murid saya mau melakukan ini semua? Mengapa semuanya mau terlibat dalam pementasan adaptasi Sutra? Karena semuanya adalah insan Tzu Chi.

Insan Tzu Chi adalah mereka yang dengan sepenuh hati melakukan apa yang ingin saya lakukan. Ketika satu tangan bergerak, seribu tangan ikut bergerak. Setelah berlatih seperti ini, mereka dapat menampilkan Bodhisatwa Avalokitesvara Berlengan Seribu dengan sangat rapi. Jadi, rasanya setiap hari ada ribuan tangan yang berlatih gerakan Bodhisatwa Avalokitesvara.

Jika gerakan tangan ini tidak dilakukan dengan rapi, sosok Bodhisatwa Avalokitesvara tidak akan terlihat indah. Insan Tzu Chi memiliki ketulusan. Dengan tekad dan ikrar, secara alami, gerakan semuanya akan menjadi rapi dan penuh kekuatan. Jadi, saya yakin bahwa kalian pasti bisa melakukannya.

Saat kita mengangkat tangan di sini, orang-orang di seluruh dunia ikut bergerak. Ketika kita merekam, bernyanyi, dan berlatih di sini, orang-orang di seluruh dunia dapat melihatnya lewat telekonferensi. Jadi, ketika satu tangan bergerak, seribu tangan akan ikut bergerak. Ketika kalian membuka mulut dan berbicara, seluruh dunia dapat mendengar dan melihat kalian.

Menyerap Dharma dan membentangkan jalan cinta kasih

Menyatukan kekuatan dan selaras dalam setiap gerakan

Membangun tekad yang sama untuk meneruskan ikrar bajik

Melantunkan Sutra dan menampilkan isyarat tangan dengan tulus

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 22 September 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 24 September 2026