“Hingga saat ini, Kompleks Tzu Chi Yilan telah dikunjungi oleh 65 grup atau lebih dari empat ribu orang. Belakangan ini, yang agak istimewa ialah kunjungan saudara se-Dharma dari Pingtung. Di Yilan, sebagian relawan tinggal di tempat yang jauh. Saat kompleks ini baru diresmikan, kami berpikir bahwa ini adalah ladang pelatihan yang harus kami jaga Bersama,” kata Zhang Bi-mao, relawan Tzu Chi.

“Kami sangat bersyukur kepada para relawan yang tinggal lebih dekat. Ketika relawan yang tinggal lebih jauh tidak bisa datang, yang dekat akan berinisiatif untuk menggantikan mereka. Contohnya, untuk berjaga pada malam hari dan menjaga keamanan lingkungan sekitar, mereka berinisiatif untuk membentuk tim patroli. Kami sangat bersyukur pada mereka,” pungkas Zhang Bi-mao.

“Setiap orang yang datang untuk memarkir kendaraan di ladang pelatihan kita harus melewati pintu utama kita. Kami menyapa mereka dengan ramah meski tidak kenal. Master mengajari kita untuk menyambut setiap orang dengan tangan terbuka,” kata Wu Shun-wang, relawan Tzu Chi.

“Tahun ini, saat kami untuk pertama kalinya memperingati Tahun Baru Imlek di sana, banyak orang yang berkunjung. Kami menyambut semua orang dengan ramah dan mempersilakan mereka untuk minum teh, minum kopi, atau makan camilan. Demikianlah kami menjalin jodoh baik dengan orang-orang,” pungkas Wu Shun-wang.

“Tim amal dan tim administrasi kita selalu membuat ladang pelatihan ini terasa hidup. Mengenai hal ini, mohon Master tenang. Kami selalu berupaya dalam hal ini. Saya juga ingin melaporkan kepada Master tentang empat pohon bodhi yang saya sampaikan kepada Master tahun lalu. Keempat pohon ini ditanam di empat ladang pelatihan kita, yakni Kompleks Tzu Chi Yilan, Kantor Perwakilan Tzu Chi Yilan, Kantor Perwakilan Tzu Chi Luodong, dan Perkebunan Cinta Kasih. Keempat pohon ini tumbuh dengan indah sekarang. Jadi, benih Bodhi Master sangatlah kuat,” kata Wu Hong-tai, relawan Tzu Chi.

“Semoga pohon bodhi yang berwujud ini mengandung benih Bodhi Master. Semoga benih ini tak hanya bertumbuh di ladang pelatihan, tetapi juga di dalam hati kita,” pungkas Wu Hong-tai.

Saya sangat sukacita. Benih Bodhi telah ditabur di dalam hati setiap orang. Hendaklah kalian menjaga pohon Bodhi di dalam hati ini agar bertumbuh dengan subur. Bangkitkanlah ketulusan untuk menjaga ladang pelatihan kita. Mari kita menggunakan kesungguhan hati dan cinta kasih untuk memperkuat suasana pelatihan di ladang pelatihan kita. Inilah yang paling saya harapkan.

Berhubung telah lanjut usia, saya sangat ingin mendengar dan melihat bahwa kalian bersungguh hati menjaga ladang pelatihan kita. Ini akan membuat saya sangat tenang. Jadi, daripada hanya berkata, “Master, tenanglah,” lebih baik kalian melakukan praktik nyata dengan tulus. Saat melihat apa yang kalian lakukan, saya tentu akan merasa tenang.

“Kami ingin memperkenalkan struktur tim antisipasi bencana Hexin kami. Dengan adanya struktur dan pembagian tugas yang jelas, saat membutuhkan sesuatu, kita tahu siapa yang harus dicari sehingga kerja sama pun menjadi lebih lancer,” kata Lin Yu-zhu, relawan Tzu Chi.

“Kini, terjangan topan makin sering terjadi. Selain itu, guyuran hujan deras berdurasi singkat juga makin sering. Di tengah kondisi seperti ini, kami berharap dengan latihan kami dalam keseharian, saat dibutuhkan, kami dapat bergerak dengan cepat untuk mencurahkan perhatian kepada warga,” kata Cai Li-hui, relawan Tzu Chi.

Yilan dan Hualien sangatlah dekat. Yang paling berharga ialah kesatuan hati dan tekad kalian. Pikirkanlah, kalian telah puluhan tahun bersumbangsih. Sejak membangkitkan tekad awal hingga sekarang, kalian bisa dengan lantang berkata, “Master, tekad saya masih sama. Saya bertekad untuk menapaki Jalan Tzu Chi hingga selamanya dari kehidupan ke kehidupan. Saya tidak akan keluar dari Jalan Tzu Chi di dunia.”

Saya ingin memberi tahu kalian tentang ikrar saya. Saya tidak ingin terlahir di Tanah Suci Barat. Saya berikrar untuk kembali ke alam manusia karena hanya di alam manusialah kita dapat menapaki Jalan Bodhisatwa dan mencapai kebuddhaan. Kita harus memulai langkah menuju arah yang benar serta tekun dan bersemangat dalam setiap langkah.

Seberapa jauh kita akan melangkah bergantung pada seberapa panjang Jalan Bodhisatwa ini. Kita tidak perlu bertanya berapa lama lagi kita harus melangkah. Kita hanya perlu terus melangkah maju dan melatih kekuatan kaki kita di Jalan Bodhisatwa. Jadi, kita menapaki jalan yang benar. Makin jauh kita berjalan di jalan yang benar, makin banyak pula kita menjalin jodoh baik.

Namun, janganlah kita mengeluh sibuk. Jika sibuk, kita hendaknya menginspirasi lebih banyak orang untuk menghimpun kekuatan yang lebih besar. “Saya sibuk sekali, bisakah Anda membantu saya?” Dengan berkata demikian, kalian mungkin bisa membimbing seseorang. Ini harus kita lakukan dengan ketulusan.

Belakangan ini, saya sering berkata bahwa kita harus senantiasa membina ketulusan. Inilah jalan menuju kebuddhaan. Tanpa ketulusan, meski diri kita sangat hebat, bagi orang-orang itu bagaikan angin lalu. Kita hendaknya seperti angin sepoi-sepoi yang membawa kesejukan. Di dunia yang orang-orang sering merasa tertekan ini, kita hendaknya mengembuskan angin sepoi-sepoi agar para praktisi dapat bernapas lega. Demikianlah Bodhisatwa sejati membina lebih banyak Bodhisatwa dengan hati Bodhisatwa.

Kita hendaknya tidak hanya menapaki Jalan Bodhisatwa tanpa berpikir untuk menjaga jalan ini dan orang-orang yang menapakinya. Kita harus bertekad dan berikrar untuk terus membentangkan dan menjaga jalan ini agar bisa ditapaki oleh orang-orang. Inilah Bodhisatwa sejati.

Setiap kali berkunjung ke Yilan, saya merasa seperti pulang ke rumah dan merasa sangat tenang. Jadi, saya harap kita dapat menjaga atmosfer seperti ini. Di Yilan, menjalin jodoh baik secara luas sangatlah mudah.

Saya sangat bersyukur kita memiliki jalinan jodoh untuk menjalankan Tzu Chi di era ini. Kini, akses transportasi sangat memadai. Berbicara dengan saya juga sangat mudah, bisa dilakukan lewat telekonferensi karena saya duduk di sini setiap hari. Jadi, tidak ada sekat di antara kita.

Saat saya ingin melakukan sesuatu, para relawan kita pun bisa memahaminya. Kapan pun ingin melakukan telekonferensi, kita bisa melakukannya, sangat mudah. Kita sangat beruntung bisa terlahir di era teknologi ini. Saya juga sangat bersyukur Jalan Tzu Chi dapat dibentangkan di era ini. Jadi, saya sangat sukacita.

Setelah mendengar apa yang saya katakan, kalian akan tahu bagaimana membentangkan jalan. Kalian hendaknya melapangkan hati, membentangkan jalan yang lebih luas, dan lebih banyak menjalin jodoh baik. Kalian juga bisa memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari Amerika Serikat, Jepang, Jerman, atau negara lainnya yang kembali ke Hualien.

“Jika kalian ingin berkunjung ke daerah lain, jangan lupa untuk datang ke Su’ao.” Kalian bisa memperkenalkan daerah kalian dan mengajak mereka untuk berkunjung. Ini disebut menjalin jodoh Dharma secara luas. Singkat kata, berhubung kehidupan kita dipenuhi berkah, kita hendaknya menjalin jodoh baik dengan semua orang di seluruh dunia. Hendaklah kita menggenggam jalinan jodoh yang ada.

Menapaki Jalan Tzu Chi dengan tekad pelatihan yang teguh

Berikrar untuk mencapai Bodhi di alam manusia

Menghimpun kekuatan kebajikan dengan ketulusan bagai angin sepoi-sepoi

Menjalin jodoh Dharma secara luas dan membimbing semua makhluk

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 11 September 2026

Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia

Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela

Ditayangkan Tanggal 13 September 2026