“Saya menyampaikan kepada semua bahwa jika ingin membersihkan lingkungan sekolah agar anak-anak dapat segera kembali bersekolah, kita membutuhkan tenaga dari setiap orang tua dan juga para siswa. Setelah mendengarnya, mereka pun merespons dan menyatakan akan kembali ke sekolah keesokan harinya untuk melakukan kegiatan pembersihan,” kata Su Qi-feng, relawan Tzu Chi Malaysia.
“Yayasan Tzu Chi hadir bersama kami di sini. Mereka memberikan dukungan dalam berbagai aspek sehingga kami merasa sangat senang. Kami berharap pada hari Rabu depan, para siswa sudah bisa kembali bersekolah. Jadi, kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Tzu Chi. Kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semuanya,” kata Gyanu Thapa Magar, Kepala Sekolah Menengah Bageshwori.
Segala sesuatu di alam semesta senantiasa membabarkan Dharma. Baik ekosistem alami maupun lingkungan buatan manusia, semuanya terus menyampaikan Dharma. Apa yang disampaikannya adalah prinsip kebenaran tentang fase terbentuk, berlangsung, rusak, dan hancur. Kehidupan manusia juga melewati fase lahir, tua, sakit, dan mati. Semua ini dapat dilihat dengan mata kita. Setiap saat, bahkan dalam setiap momen yang begitu kecil, semuanya terus berlalu dan berubah.
Kita sering kali tidak menyadari berlalunya waktu, terlebih lagi tidak menyadari bagaimana lingkungan di sekitar kita perlahan menghilang. Kita hanya merasa bahwa hari-hari terus berlalu. Kita terus mengejar waktu. Ketika saya mengatakan akan berbicara selama beberapa puluh menit, begitu waktunya habis, saya akan membungkuk dan meninggalkan mimbar. Tidak peduli berapa banyak ajaran yang bermakna tersimpan di dalam pikiran seseorang, ketika waktunya habis, ajaran yang tersimpan harus ditinggalkan begitu saja.

Kita tidak tahu, ketika tiba giliran saya untuk berbicara di kesempatan berikutnya, apakah saya masih dapat menyampaikan dengan benar apa yang telah saya persiapkan sejak minggu lalu untuk dibagikan minggu ini. Mungkin saya merasa bahwa kejadian yang saya alami kemarin justru lebih baik untuk dibagikan hari ini. Jadi, apa yang telah dipersiapkan sejak minggu sebelumnya sering kali digantikan oleh pengalaman yang baru saja terjadi. Inilah ketidakpastian dalam Dharma. Dalam kehidupan, kita mengalami hal seperti ini setiap hari.
Ada begitu banyak Dharma dan semuanya terus berubah seiring waktu. Waktu dalam kehidupan berlalu begitu cepat. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari waktu. Jadi, dalam menghadapi berbagai persoalan di dunia, hendaknya kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Anda dan saya sama-sama memiliki kehidupan. Kita semua datang ke dunia dan masing-masing memiliki misi dalam kehidupan. Hendaknya kita lebih bersungguh hati.
Di Dunia Saha yang penuh dengan Lima Kekeruhan ini, kita hadir untuk membimbing semua makhluk. Penderitaan semua makhluk bukan hanya penderitaan mendasar dalam kehidupan, seperti lahir, tua, sakit, dan mati. Setiap orang memiliki penderitaan yang berbeda-beda. Kita lahir dari keluarga yang berbeda dan hidup dalam lingkungan yang berbeda. Semua bergantung pada jalinan jodoh masing-masing.
Ketika masih kecil, Anda memiliki kondisi keluarga dan pengajaran sendiri, sementara saya juga memiliki kondisi dan pengajaran keluarga saya sendiri. Pendidikan yang diberikan setiap keluarga itu berbeda, begitu pula lingkungan sosial yang kita jalani. Pada akhirnya, kehidupan setiap orang memang berbeda. Namun, selama beberapa puluh tahun terakhir, saya telah mendirikan Tzu Chi. Hingga saat ini, Tzu Chi telah berjalan selama 60 tahun.

Ketika melihat para relawan Tzu Chi yang telah senior, saya sering berkata, “Anda sudah bergabung lebih dari 30 tahun,” atau, “Anda sudah bergabung lebih dari 40 tahun.” Ketika mendirikan Tzu Chi, saya sering membabarkan Dharma di aula altar utama. Saat itu, Shao-wen membuat sarung tangan dan dari hasilnya, saya dapat membeli alat perekam. Ketika berbicara, saya harus menekan tombol itu sendiri.
Terkadang, saya lupa menekan tombolnya. Saya terus berbicara dan berbicara. Tiba-tiba, saya baru teringat bahwa bagian yang baru saja saya sampaikan itu lupa direkam. Dalam satu kesempatan ceramah, tentu saya tidak mungkin mengulanginya dari awal. Yang bisa saya lakukan hanyalah segera menekan tombol rekam, tetapi saat itu saya sudah berbicara setengah jalan. Jadi, Dharma yang terekam pun menjadi tidak lengkap.
Namun, pada zaman itu, semua orang tetap mendengarkannya dengan antusias. Meski ketika saya mulai berbicara, rekamannya sudah tidak ada bagian awal dan orang-orang mendengarkannya mulai dari tengah, mereka tetap dapat memperoleh pemahaman. Jadi, Sutra Ksitigarbha masih tersimpan dan kembali diperdengarkan. Meski rekamannya tidak memiliki bagian awal, ketika saya sendiri mendengarnya, saya merasa mendapat banyak pemahaman.
Saya pun berpikir, mungkin memang inilah jalinan jodoh saya. Mungkin memang sudah ditakdirkan bahwa pada zaman ini, inilah Dharma yang harus saya sampaikan agar setiap orang dapat memahaminya dan mengerti apa yang ada di dalam hati saya. Jadi, meski ucapan saya terkadang tidak memiliki awal dan hanya ada akhir, mereka tetap dapat memahami apa yang ingin saya sampaikan.
Semuanya begitu sejalan dengan saya. Ketika saya mengatakan bahwa kita harus melakukan sesuatu, semuanya mendengarkan dengan saksama. Mereka memahami bahwa saat itu saya ingin menjalankan aksi bantuan. Pada masa itu, setiap orang mulai menyisihkan 50 sen. Saat pergi membawa keranjang sayur, mereka akan mengingat untuk menghemat 50 sen.

Pada masa itu, relawan Tzu Chi belum banyak. Ketika makin banyak orang mendengarkan ceramah saya, makin banyak pula yang mempraktikkan semangat 50 sen. Hingga sekarang, praktik 50 sen telah berjalan selama 60 tahun. Itulah modal awal Tzu Chi. Hendaknya kita terus mengembangkan nilai kehidupan.
Dahulu, 50 sen memang hanya memiliki nilai 50 sen. Namun, sekarang 50 sen itu dapat menghasilkan sesuatu yang tidak ternilai. Inilah kehidupan manusia. Ketika sesuatu dapat memberikan manfaat, di situlah letak nilai dan keberhargaannya. Jadi, dalam kehidupan di dunia ini, kehidupan kita masing-masing harus mampu mewujudkan nilai kita pada zaman ini.
Belakangan ini, saya sering mengatakan kepada relawan Tzu Chi bahwa kita harus menginventarisasi nilai kehidupan. Sejak 2 tahun lalu hingga tahun lalu, saya terus mengingatkan para relawan Tzu Chi bahwa setiap orang harus menginventarisasi nilai kehidupan. Hampir setiap minggu pada hari ini, saya selalu menyampaikan hal tersebut kepada semuanya.
Saya sendiri pun selalu menginventarisasi nilai kehidupan setiap hari. Tidak peduli relawan Tzu Chi dari daerah mana yang datang dan berbagi laporan, ketika melihat mereka menginventarisasi kehidupan, saya merasa bahwa hal tersebut juga merupakan wujud nilai kehidupan saya.
Memahami ketidakkekalan dan mendalami Dharma yang menakjubkan
Cinta kasih terus mengalir melewati masa-masa yang penuh tantangan
Membangun niat baik mendalam dengan praktik 50 sen
Kebajikan tak terhingga diwujudkan dengan welas asih dan kebijaksanaan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 06 September 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 08 September 2026