“Kami akan menyerap Dharma Jing Si ke dalam hati dan mewujudkan budaya humanis lewat tindakan. Tzu Chi telah berjalan selama 60 tahun. Kami akan selalu hadir untuk mengemban tanggung jawab dan mewariskan jiwa kebijaksanaan kepada 50 generasi. Kami mohon Master tidak perlu khawatir.”
Semua orang memiliki hati, tekad, dan ikrar yang sama. Saya merasa sangat terhibur dan penuh sukacita. Saya juga merasakan bahwa sejak kehidupan-kehidupan lampau, kita telah menjalin begitu banyak jodoh baik. Bukan hanya saya, kalian semua juga demikian.
Setelah bergabung dengan Tzu Chi, kalian telah menjalin banyak jodoh baik. Semua yang memiliki jalinan jodoh baik ini memiliki tekad yang sama. Semuanya bersama-sama mengikuti kegiatan bedah buku dan berbagai kegiatan Tzu Chi serta mengunjungi orang yang membutuhkan. Jika direnungkan, kita semua adalah orang-orang yang hidup dalam berkah. Seandainya tidak bergabung dengan Tzu Chi, mungkin kita sendiri tidak akan menyadari bahwa kita dipenuhi berkah. Kita hanya terus merasa kurang dan ingin menuntut lebih.
Bahkan, di antara suami dan istri pun sering muncul perasaan bahwa pasangan masih berutang kepada kita. Kita terus berharap pasangan melakukan lebih banyak hal atau memberikan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Di antara suami dan istri saja selalu ada rasa tidak cukup, bagaimana ketika berhadapan dengan begitu banyak orang?
Manusia selalu sibuk mempermasalahkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Jika terus seperti ini, kita hanya akan terus menjalin jodoh yang tidak baik dengan orang lain. Kita harus memahami bahwa bertemu dengan orang yang tidak memiliki jodoh baik merupakan hal yang sangat menyakitkan. Hati akan mudah dipenuhi dengan kemarahan. Baru melihat orang itu saja, hati sudah merasa tidak senang. Inilah kebiasaan buruk semua makhluk.
Berhubung kita telah menapaki jalan Tzu Chi untuk melatih diri, langkah pertama dalam pelatihan diri kita ialah menyingkirkan kebiasaan memandang orang lain dengan rasa tidak suka. Kita harus mengintrospeksi diri karena pelatihan diri yang masih belum cukup.

“Ada begitu banyak hal yang ingin saya lakukan, tetapi juga ada begitu banyak noda batin. Ada banyak hal yang terasa tidak sesuai dengan pandangan saya. Namun, saya bersyukur karena bertemu dengan banyak mitra bajik,” kata Xie Wen-fang, Direktur Operasional Jing Si Culture Selangor dan Kuala Lumpur.
“Salah seorang Bodhisatwa membimbing saya dengan berkata bahwa saya harus percaya, setiap Bodhisatwa yang bergabung di Tzu Chi itu sangat mencintai semangat Jing Si. Hanya saja, setiap orang memiliki cara yang berbeda sehingga muncullah berbagai noda batin,” lanjut Xie Wen-fang.
“Beliau juga mengingatkan bahwa sebagai generasi yang lebih muda, justru kitalah yang harus mencari cara untuk membangun komunikasi dan menjaga satu sama lain. Dengan cara itulah, keharmonisan dapat terwujud. Kini, saya perlahan-lahan belajar bagaimana cara tercepat untuk mengubah pikiran buruk menjadi jalinan jodoh baik,” pungkas Xie Wen-fang.
Dalam melatih diri, kita harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik. Ketika kita memiliki jalinan jodoh baik dengan banyak orang, apa yang kita sampaikan pun akan lebih mudah diterima. Jadi, kebajikan kita harus diwujudkan sedemikian rupa sehingga setiap kata yang kita ucapkan terdengar menyejukkan hati. Inilah pentingnya menjalin jodoh baik.
Setelah jodoh baik terjalin, bahkan ketika kita menyampaikan sesuatu yang kurang menyenangkan, orang lain tetap dapat menerimanya karena kita saling memahami. Inilah yang disebut sahabat sejati. Di antara kita harus terjalin hubungan seperti itu agar dapat berbicara dengan terus terang.
Namun, kita semua adalah makhluk awam. Berapa banyak orang yang benar-benar dapat saling memahami? Saat berbicara dengan orang lain, kita harus menggenggam jalinan jodoh untuk melatih diri. Jadi, saya sering mengingatkan agar kita dapat bersikap penuh pengertian.

Ketika seseorang menunjukkan ekspresi yang kurang bersahabat, hendaknya kita tetap bersikap penuh pengertian. Anggaplah orang itu sebagai cermin yang memantulkan diri kita. Mungkin saja kita juga pernah menunjukkan ekspresi yang sama kepada orang lain. Hendaknya kita mengintrospeksi diri.
Demikian pula ketika mendengar perkataan yang menyakitkan, kita hendaknya segera mengintrospeksi diri dan berpikir, “Apakah kata-kata saya juga pernah melukai hati orang lain?” Begitulah cara kita mengintrospeksi diri. Inilah yang disebut dengan melatih diri.
Kita semua adalah makhluk awam. Jadi, kita harus selalu mengingat bahwa kita masih terus melatih diri. Ketika ada orang yang memuji kita, hendaknya kita berterima kasih karena apa yang kita lakukan mendapat pengakuan dan toleransi. Jika ada yang mendoakan kita, kita juga harus berterima kasih kepada mereka.
Sebaliknya, ketika melihat seseorang memasang ekspresi yang kurang bersahabat, kita harus lebih berhati-hati. Jangan sampai perkataan kita kembali menyinggung perasaannya. Jika satu simpul persoalan belum terurai lalu kita menambah simpul yang baru, bukankah ikatan itu akan makin kusut? Jadi, hendaknya kita selalu berhati-hati. Sebisa mungkin jangan sampai menambah simpul persoalan.
Jika kita pernah memiliki kesalahpahaman dengan seseorang, kita harus berusaha memahami dan menguraikannya. Inilah yang disebut mengurai kebencian. Ketika kebencian dapat dilepaskan, jalinan jodoh baik pun akan terjalin kembali. Kita semua hanyalah makhluk awam. Jadi, hendaknya kita bersungguh hati. Saya selalu mengingatkan kalian untuk bersungguh hati. Bukan hanya setelah mendengar Dharma, tetapi juga ketika berinteraksi dengan orang lain.

Dalam interaksi dengan orang lain, kita hendaknya membuat orang lain merasa sukacita. Jangan membuat orang lain merasa tidak senang karena kata-kata kita yang melukai hatinya. Meski kita tidak bermaksud demikian, orang yang mendengarnya bisa saja menafsirkan dengan cara yang berbeda. Melukai hati orang lain itu sangat mudah. Saya berharap semuanya benar-benar memahami bahwa cara kita berbicara sangatlah penting.
Seperti saya saat ini, berbicara pun sudah terasa berat. Suara saya mungkin tidak lagi merdu, tetapi ketulusan saya tetap tidak berubah. Jadi, saya berharap kalian selalu mengingatnya. Mungkin suatu saat kalian akan menjumpai seseorang yang perilakunya kurang menyenangkan. Anggaplah ia sebagai guru dan bersyukurlah padanya. Mungkin ia tidak bermaksud apa-apa, tetapi jika hati kita terusik, itulah saatnya kita mawas diri.
Jika kita mulai merasa tidak menyukai seseorang, berarti kita belum berhasil menjalin jodoh baik dengannya. Jadi, kita harus belajar untuk merasa sukacita ketika bertemu siapa pun. Sambutlah setiap orang dengan hati yang penuh rasa syukur dan sukacita. Dengan begitu, kita sedang membina hati kita sendiri. Itulah hati seorang praktisi.
Meski orang itu tidak memiliki hubungan dengan kita dan kita belum pernah berbicara dengannya, kita bisa merasa sukacita ketika bertemu dengannya. Dengan begitu, ketika orang lain melihat kita, mereka pun akan merasa sukacita. Apakah kalian mengerti? (Mengerti.) Baik. Kata-kata ini sangatlah berharga. Saya berharap kalian mengingatnya dengan baik.
Dharma harus didengarkan setiap hari. Jangan lagi menjadikan jarak sebagai alasan untuk tidak mendengarkan Dharma. Sekarang, kita telah memiliki teknologi yang canggih. Jadi, hendaknya kalian mendengarkan Dharma setiap hari.
Amarah muncul ketika keinginan tidak terpenuhi
Mengintrospeksi diri dan tekun melatih diri
Melenyapkan kebencian dengan sikap pengertian dan lapang dada
Menjalin jodoh baik dan mewariskan semerbak kebajikan
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 22 Juli 2026
Sumber: Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah: Hendry, Marlina, Shinta, Janet, Graciela
Ditayangkan Tanggal 24 Juli 2026